Jadi, Dia Atau Siapa?

Jadi, Dia Atau Siapa?
Chapter 9


__ADS_3

Hari berlalu begitu saja tanpa permisi. mengganti hari yang lalu dengan lembaran baru yang akan kembali terisi penuh dengan pengalaman. Hari ini, hari yang Amar janjikan pada kedua orang tuanya. Tepat, malam ketika acara ulangtahun pernikahan kedua orangtuanya, Amar akan memperkenalkan Sasa pada pada mereka. Dan kini, Amar tengah mengendarai mobilnya menuju Apartemen Sasa, ia akan membawa Sasa menuju salah satu butik dan juga salon rekomendasi mamanya langsung. Ia sungguh tak sabar untuk segera melangkah ke jenjang lebih lebih serius dengan Sasa, walau setidaknya hanya perkenalkan dengan orangtuanya terlebih dulu.


Amar menekan tombol bel apartemen Sasa beberapa kali namun tak kunjung ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Amar menghela nafas panjang lalu mulai menekan pin apartemen Sasa.


Amar berjalan perlahan memasuki apartemen kekasihnya itu, matanya menyapu sekeliling tempat tinggal Sasa.


Amar mendekat ke arah balkon saat melihat seluit dari arah sana. Ia tersenyum saat melihat Sasa yang sepertinya tengah melamun dengan menggunakan headset.


'Pantas saja' pikir Amar.


Amar meletakkan Jas miliknya pada sandaran sofa, juga mengendorkan dasi dan melepas kaitan kancing teratas kemejanya.


Amar mendekat kearah Sasa lalu menelusupkan kedua tangannya dan memeluknya dari belakang.


Sasa memekik tertahan saat merasakan ada tangan yang tiba-tiba memeluknya. Sasa lantas menoleh kepalanya dan menemukan Amar yang tersenyum hangat padanaya.


"Kak Amar mengejutkanku!" adunya memanyunkan bibir.


Amar terkekeh geli lalu mencubit gemas pipi Sasa.


"Aku sudah membunyikan bel apartemen milikmu beberapa kali, namun tak kunjung ada respon, lalu aku masuk dan menemukanmu melamun di sini. Apa yang sedang kau pikirkan? hmm"


"Tak ada, aku hanya gugup untuk acara nanti malam" ucapnya sembari menyandarkan kepalanya pada dada Amar dan memandang kota dari atas balkonnya.


"Hey, apa yang kau takutkan.. tak perlu gugup! orangtuaku tak mengigit" goda Amar


"Kak! aku serius"


"Aku juga serius sayang.. segeralah bersiap, sudah saatnya kita pergi" ucap Amar seraya mendorong bahu Sasa hingga sampai di depan kamar Sasa. Sasa terkekeh kecil lalu memandang Amar.


"Beri aku waktu 30 menit"


"Kenapa lama sekali"


"Itu hanya sebentar!"


"Ah baiklah wanita memang makhluk lamban, aku memahami itu" olok Amar dengan memalingkan tubuhnya namun sudut matanya tampak mengintip.


"Kak...." ucap Sasa penuh penekanan


Amar terkekeh geli melihat kekasihnya yang siap meledak karena olokannya.


"Baiklah-baiklah.. cepatlah, ku tunggu di ruang tengah"


Setelah 30 menit berlalu, Sasa akhirnya keluar dari kamarnya. Dengan segera, mereka langsung pergi menuju butik untuk memilih gaun, dan dilanjutkan menuju salon.


"Apa ini tak terlalu berlebihan kak?" tanya Sasa yang merasa tak enak hati.


Namun Amar hanya tersenyum dan mengusap-usap pipi Sasa.


"Kau pantas mendapatkan yang lebih dari ini" ucap Amar

__ADS_1


Sasa memutar bola matanya jengah lalu terkekeh geli.


"Baiklah yang mulia"


"Tolong buat bidadariku ini semakin cantik" ucap Amar pada salah seorang pegawai salon yang memang berdiri tak jauh dari mereka.


"Percayakan pada saya" ucapnya percaya diri. Amar pun mengangguk dan menduduki sofa yang tak jauh dari tempat Sasa.


***


"Bagaimana menurut kak Amar"


"Cantik" ucap Amar yang masih terpesona dengan tampilan dari kekasihnya.


"Kak!


"Hei..


"Kak Amar!"


"Oh, iya kenapa? hmm.."


"Kenapa jadi melamun"


"Tidak, bukan begitu.. aku hanya terlalu terpesona padamu" senyumnya


"Ayo, kita harus segera berangkat acara akan dimulai setengah jam lagi" lanjutnya


***


"Terimakasih banyak rajaku" balas Sasa terkekeh kecil.


Amar merangkul pinggang Sasa dan mengajaknya untuk segera melangkah memasuki gedung tempat acara kedua orangtuanya.


Beberapa kali mereka berpapasan dengan para kolega dari Amar juga para karyawan. Dan dengan senang hati pun, Amar mengenalkan Sasa pada mereka sebagai keakasihnya, bahkan mengenalkannya sebagai calon istrinya. Sedangkan Sasa hanya menanggapinya dengan senyum malu.


"Aku ingin mengenalkanmu pada orangtuaku sekarang, tapi sepertinya mereka tengah sibuk mengurus para tamu undangan yang lain" senyum Amar saat menjelaskannya.


"Tak apa, masih ada banyak waktu malam ini" balas Sasa tersenyum.


"Selamat malam tuan Amar" sapa seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal miliknya.


"Ah selamat malam tuan Septian, terimakasih telah berkenan untuk datang" ucap Amar ramah.


"Haha, tentu saja saya harus datang, ini adalah acara penting kolega saya, bagaimana bisa saya tak hadir.. Ah iya perkenalkan ini adalah putri saya Thalia" ucapnya seraya memperkenalkan putrinya yang sedari tadi berdiri tepat di belakangnya.


Amar memasang wajah datar tanpa senyum saat Thalia maju mendekat dan mengulurkan tangannya.


"Senang bertemu denganmu kak Amar, aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini" sapanya.


Amar terus terdiam tanpa mau membalas ucapan Thalia, namun tak elak tangannya membalas uluran tangan Thalia. Setidaknya, dirinya harus bersikap profesional. Tak enak jika mengabaikan uluran tangan dari anak koleganya.

__ADS_1


"Jadi kalian saling mengenal?" tanya Septian dengan raut bahagia


"Iya pah, kami satu kampus sebelum kak Amar lulus terlebih dahulu" ucap Thalia bersemangat.


"Wah, bukankah ini takdir! haha"


"Ah iya, perkenalkan dia Sasa calon istri saya" ucap Amar merangkul pinggang Sasa mesra. Sasa hanya tersenyum tanpa mau mengulurkan tangannya.


"Wah, saya tidak menyangka anda telah memiliki calon istri" ucap Septian canggung


Amar hanya tersenyum dan berpamitan untuk menyapa para tamu yang lainnya. Septian pun mengiyakan dan membiarkan Amar dan Sasa pergi berlalu meninggalkan mereka.


"Pah! hanya aku yang boleh menjadi istrinya!" kesal Thalia


"Sabarlah sayang, papah akan berusaha untuk membuatmu menjadi istrinya" ucap Septian optimis.


***


"Kau ingin sesuatu?" tanya Amar


"Umm sepertinya sepotong cake strawberry itu lezat" ucap Sasa seraya memandang cake yang berada tak jauh darinya


"Tunggu dan duduk disini, akan ku ambilkan untukmu"


"Baiklah, jangan terlalu lama" Amar mengangguk dan melangkah menjauh.


Baru sesaat Amar meninggalkan Sasa, ada seorang lelaki yang mendekati Sasa, menyapanya dan mengajaknya berkenalan. Sasa yang awalnya ragu akhirnya menjabat tangan lelaki itu sebagai kesopanan.


"Kau datang sendiri?" tanya pria tampan bernama Natan itu.


"Tidak,...


"Natan! disini kau rupanya, ayo kita berkumpul di sana" sela salah seorang teman Natan.


"Maaf, sepertinya saya tak bisa menemanimu lebih lama, saya permisi" ucap Natan dengan raut menyesal.


"Tak apa" ucap Sasa singkat.


Natan pun pergi meninggalkan Sasa yang masih menunggu Amar datang. Dan tak lama, Amar pun kembali seraya membawa sepotong cake strawberry dengan segelas jus.


"Maaf merepotkan mu kak" sesal Sasa


"Tak ada kata repot untuk ratuku"


Belum sempat Sasa meraih piring kecil dengan sepotong cake itu dari tangan Amar, ponsel Sasa berdering menginterupsinya.


Sasa meraih ponselnya dan menatap layarnya. Terlihat kontak bertuliskan kata "Ibu" memanggilnya.


___________


yuhuu... haiii makasih udah baca~

__ADS_1


jangan lupa like , komen dll ..


__ADS_2