Jadi, Dia Atau Siapa?

Jadi, Dia Atau Siapa?
Episode 5


__ADS_3

"Amar, apakah kau ada waktu sore ini" tanya seorang gadis bernama Thalia. Amar mengangkat sebelah alisnya.


"Apa urusannya denganmu" ucap Amar sinis lalu melanjutkan langkahnya menuju kelasnya pagi ini.


Thalia mengepalkan tangannya kesal atas jawaban ketus Amar. Thalia sangat menyukai Amar sedari dulu, namun Thalia selalu saja menerima penolakan dari Amar. Saat tahu bahwa Amar berpacaran dengan Sasa, Thalia amat sangat kesal dan marah, sungguh Thalia heran dengan Amar karena lebih memilih berpacaran dengan Sasa yang menurutnya biasa saja dari pada memilih dirinya yang jelas-jelas menurutnya lebih cantik dari pada Sasa.


Thalia terus saja memandang kepergian Amar tanpa bergerak seinci pun, ia sungguh merasa kesal dengan sikap dingin Amar padanya. sungguh Thalia ingin merebut dan membuat Amar menjadi seutuhnya miliknya hanya miliknya dengan cara apapun.


Amar memasuki kelas bisnis yang mungkin menjadi kelas terakhirnya sebelum dirinya menjalani sidang minggu besok dan hanya tinggal menunggu waktu wisudanya.


"Gimana skripsi lo" tanya Aldo saat melihat Amar memasuki kelas dan duduk tepat di sampingnya.


"Minggu depan sidang " ucap Amar santai sembari memainkan ponselnya.


"Rencana, lo bakalan lanjut ke mana" tanya Aldo lagi.


"Kemana aja yang penting ada Sasa" jawab Amar santai, lalu mulai fokus pada dosen yang mulai mengajar.


Aldo yang mendengar penuturan Amar hanya dapat menepuk jidat dengan sifat temannya itu.


***


Sudah seminggu ini kak Amar terus mengantar jemputku kuliah walau kak Amar terus sibuk mempersiapkan sidangnya. Syukurlah sidang skripsi kak Amar berjalan lancar, dan sekarang kak Amar mulai sibuk dengan perusahaan miliknya dan orangtuanya. Walaupun begitu, kak Amar selalu menyempatkan diri untuk sekedar mengajakku jalan atau makan malam bersama. Aku menjadi semakin mencintainya, sangat.


"Susah banget sih Sa mau ketemu sama kamu" gerutu Mala


"Masa sih, enggak ah.. ketemu ya ketemu aja" ucap Sasa sedikit acuh dan fokus pada makanannya.


Mala menghela nafas panjang dan menopang dagunya dengan tangan di atas meja kantin. lalu menatap Sasa lekat.


"Kau selalu bilang tak bisa keluar, sedang keluar, sedang sibuk saat aku mengirim pesan mengajakmu keluar" jelas Mala sedikit kesal


Sasa mengerutkan keningnya.


"Kapan kau mengajakku keluar, aku bahkan tak menerima pesanmu satupun Minggu ini" tanya Sasa heran, karena sepertinya dirinya sama sekali tak menerima pesan apapun dari teman dekatnya itu.


Mala mendengus lalu menunjukan pesan percakapan antara dirinya dengan Sasa di ponsel miliknya.


Sasa mengernyit heran dan berfikir. Pesan ini memang menuju nomor ponselnya, serta ada balasan pesan dari ponselnya, tetapi Sasa sama sekali tak pernah merasa menerima atau membalas pesan Mala.


Ingatan Sasa pun bergulir pada tanggal di mana Mala mengirimkan pesan padanya. Sepertinya dirinya tau apa yang sebenarnya terjadi, Sasa tertawa kecil tanpa memperdulikan Mala. Mala menatap heran pada Sasa yang tiba-tiba tertawa sendiri.

__ADS_1


"Kamu enggak kerasukan arwah penasaran kan Sa?" tanya Mala sedikit bergidik ngeri melihat kelakuan Sasa


Sasa yang mendengar ucapan Mala seketika menampakkan wajah datarnya dan tanpa aba langsung memukuli pundak Mala karena mengatainya kerasukan arwah penasaran.


"Awww Aww sakit Sa, aku hanya bercanda, salahmu sendiri yang tiba-tiba tertawa sendiri" ucap Mala mengaduh menjelaskan.


Sasa lalu hanya terkekeh geli.


"Sebenarnya, Kak Amar selalu menahan ponselku ketika kami bersama, Quality time" ucap Sasa sedikit berbangga diri.


Mala memutar bola matanya jengah.


"Ternyata bodyguard tampanmu yang membalas pesanku" ucap Mala menegaskan kenyataan dengan nada malas. sedangkan Sasa hanya tertawa ringan.


"Sorry" ucap Sasa dengan puppy eyes nya


huh cukup! Mala gemas dengan temannya yang satu ini.


"Kau harus menemaniku berbelanja seharian ini" ucap Mala memerintah tanpa mau penolakan


Sasa tersenyum "Baiklah yang mulia ratu"


seketika mereka berdua tertawa tanpa mau memperdulikan sekeliling mereka.


"Kak, tidak usah menjemput ku hari ini, aku akan pergi dengan Mala . dirinya marah karena kakak yang membalas pesannya Minggu lalu"


Amar


"Dasar temanmu itu, baiklah berhati-hati lah, setelah sampai apartemen kabari aku. Have fun love"


__________


Mala terus menggelayut pada sebelah lengan Sasa hingga di depan pintu apartemen Sasa.


"Aku akan menginap di tempatmu" ucap Mala melenggang memasuki apartemen Sasa.


Sasa hanya pasrah mengikuti semua tingkah dan kemauan Mala seharian ini. Lagi pula ia menikmatinya.


Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Sasa dan Mala masih asik dengan acara menonton film romansa khas para wanita dengan cerita yang terkadang membuat mereka berderai air mata.


'........'

__ADS_1


Suara bel apartemen Sasa berbunyi, Sasa bangkit dari posisi nyamannya dan bergegas menuju pintu masuk apartemen miliknya.


"Ya, sia... Kak Amar, kenapa di sini" ucap Sasa yang sedikit terjeda karena tak menyangka.


"Apa tak boleh, aku mendatangi apartemen kekasihku ketika aku merindukannya" tanya Amar dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Bu..bukan begitu" ucap Sasa dengan memanyunkan bibirnya.


"Jangan memanyunkan bibirmu seperti itu, aku jadi ingin memakan habis bibirmu itu" Ucap Amar tepat di depan bibir Sasa, yang dapat Sasa rasakan deru nafas hangat milik Amar.


Amar telah siap menyerang bibir Sasa


"Siapa Sa, kenapa kau lama sekali"


Namun , Mala tiba-tiba saja datang dan merusak suasana.


"Ternyata bodyguard posesif mu yang datang" ucap Mala malas dan menarik Sasa menjauh dari Amar.


Amar berdecak kesal dan memutar bola matanya jengah. Mala sungguh perusak suasananya. Ia pun menahan sebelah tangan Sasa.


Amar dan Mala pun terlibat adu mata , mata mereka saling menatap tajam sebagai peringatan.


"Hei, kau! pergilah" usir Amar ketus


"Enak saja, kau saja yang pergi! aku yang lebih dulu kemari" jawab Mala tak mau kalah.


Sasa yang melihat Teman dan kekasihnya terus adu mulut hanya diam tak berkutik dengan perasaan jengah, sungguh Amar dan Mala tak pernah bisa akur sejak dulu.


"Kalian, berhentilah. Ayo Kak, jangan terus menerus di depan pintu, kita menonton film saja bersama" ucap Sasa pada akhirnya dan menarik kedua lengan manusia - manusia itu.


Selama dalam acara menonton, Amar dan Mala masih saja tak henti-hentinya ribut dengan hal sepele, contohnya. Ketika Amar menguasaiku dengan memelukku erat dari samping kananku, Mala terlihat cemburu dan berusaha melepaskan pelukan Amar pada Sasa. lalu Mala berbalik memeluk Sasa dari arah kiri secara posesif dan tak memperbolehkan Amar menyentuh Sasa sedikitpun.


Amar yang mulai jengah dengan sikap sahabat kekasihnya akhirnya mengalah dan memilih merebahkan dirinya di pinggiran sofa dengan masih memperhatikan kekasihnya asyik menonton film yang sedang mereka putar.


Amar menyunggingkan senyum samar, ia merasa tenang, bahwa kekasihnya memiliki sahabat seperti Mala yang siap ikut melindunginya.


____________


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen dan vote 😚

__ADS_1


like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis ....


bye bye..


__ADS_2