
Seusai mereka menonton film, Amar terlihat menuju dapur, membuat dua gelas coklat panas juga segelas kopi untuknya.
Amar menyodorkan kedua gelas coklat panas pada dua gadis yang masih duduk bersandar beralaskan karpet berbulu dengan setoples camilan di pangkuan mereka.
"Wah, perhatian sekali manusia es ini, terimakasih kak" ucap Mala dengan senyum lebar, sedangkan Amar hanya mendengus
"Terimakasih" ucap Sasa dengan senyum lembutnya. Amar pun ikut tersenyum mendengar ucapan Sasa
"Aku bahkan juga baru tau jika manusia es ini bisa tersenyum seperti itu" ucap Mala menatap wajah kekasih sahabatnya itu
"Makan saja camilanmu, dan lekas lah menjadi gemuk dan semakin jelek agar tak ada lelaki yang mau denganmu" olok Amar dan memilih berlalu menuju dapur mengambil kopi miliknya, mengabaikan segala umpatan Mala padanya
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, Mala lebih dulu memasuki kamar, sedangkan Sasa masih menemani Amar duduk di balkon menatap langit malam dengan sesekali tertawa kecil saat mereka membagi beberapa kisah.
"Segeralah tidur, aku akan pulang setelah ini" ucap Amar pelan, memeluk Sasa dari belakang dan mengurungnya dalam dekapan hangatnya.
"Tak ingin menginap? ini sudah larut malam" tanya Sasa
"Seharusnya kau mengajakku menginap ketika kita berdua saja, bukan saat ada temanmu yang cerewet dan bermulut menyebalkan itu" gerutu Amar dan di hadiahi kekehan Sasa
"Jadi, menginap tidak"
"Tak perlu, aku akan pulang" ucap Amar mengeratkan pelukannya
"Tapi, beri aku ciuman selamat malam" lanjut Amar yang memutar tubuh Sasa menjadi menghadap dirinya lalu meraih tengkuk Sasa dan mulai mencium Sasa dengan kelembutan yang memabukkan.
***
"Hati-hati dijalan kak" ucap Sasa mengantar kepergian sang kekasih
"Aku pulang dulu, love you"
"more" jawab Sasa singkat dan berlalu memasuki apartemen miliknya dan secepatnya ikut bergelung di balik selimut bersama Mala yang tampak telah berlabuh merengguk indahnya dunia mimpi.
08.00 AM
Weekend, waktu yang tepat untuk berlibur dan memanjakan diri atau hanya bersantai menikmati waktu luang. Dua anak gadis itu masih nampak betah bergelung dalam selimut hangat walau sinar matahari telah menampakkan diri.
Sebentar saja, sedikit lagi. Mata cantik mereka masih dalam proses menerima silaunya cahaya yang masuk.
"Umm, bangun La, Mala"
"5 menit Sa"
"Ya udah aku mandi dulu" ucap Sasa yang mulai bangkit lalu segera menuju kamar mandi. Seusai mandi, Sasa melihat Mala yang masih asyik memejamkan mata tanpa mau perduli dengan keadaan sekitar.
__ADS_1
Setelah membangunkan Mala, Sasa melangkah menuju dapur untuk membuat sarapan pagi ini. Sarapan sederhana yang sekiranya mampu membuat perut terisi.
"Sa, Kak Ayas terus mencarimu Minggu lalu, katanya pesan yang dia kirim padamu tak pernah mendapat balasan darimu bahkan telfon darinya"
"La, kau kan tau kak Amar tak suka jika aku dekat dengan kak Ayas, aku memang sengaja tak membalas pesan kak Ayas, kau kan juga tau Minggu lalu aku bagaikan tawanan kak Amar" ucap Sasa tersenyum
"Dasar manusia es itu"
"Sebenarnya aku juga tak enak hati pada kak Ayas tetapi sikap dan perhatian kak Ayas seakan terlalu berlebih padaku, terkadang aku juga merasakan tak nyaman bersamanya"
"Sa, kak Ayas itu menyukaimu sedari dulu, jadi wajar jika dia perhatian padamu, bahkan sebelum kau kembali pada manusia es itu kak Ayas berharap kau bisa menerimanya, tapi kau lebih memilih kembali bersama Kak Amar, itu yang membuat kak Ayas masih saja tak rela"
"Aku tak pernah bisa menyukainya La, hatiku seakan hanya berlabuh pada kak Amar, aku mencintainya La, sangat" ucap Sasa dengan sesekali tersenyum ketika mengingat kenangan indahnya bersama sang kekasih
"Aku tak berhak berharap agar kamu menyukai pria lain, jika hatimu telah tertuju pada satu pria, aku hanya berharap kebahagiaanmu lah yang terpenting.
Aku akan tetap mendukungmu asal itu membuatmu bahagia Sa"
"Terimakasih La, sudah menjadi sahabat terbaikku" ucap Sasa terharu lalu memeluk Mala gemas
"Tapi, jika sampai manusia es itu menyakitimu dan membuatmu menangis lagi, aku akan menjadi orang pertama yang membuat perhitungan padanya" ucap Mala yakin. Dan merekapun tertawa lepas
***
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri"
"Pagi ma" ucapnya dengan senyum lebar melihat kedatangan sang mama
"Ada apa dengan putra mama ini, tak biasanya seperti ini"
"Tak ada ma, hanya saja.." ucap Amar tak melanjutkan kalimatnya
"Hanya saja" ulang mama Amar
"Aku hanya sedang memikirkan seseorang"
"Oh, ternyata putra mama ini sedang jatuh cinta" ucap mama Amar dengan nada dibuat-buat
"Tapi tunggu dulu, bukannya kamu ini kan suka sekali berganti-ganti pasangan" lanjut mama Amar kali ini dengan nada acuh
"Kali ini berbeda ma, dia berbeda. Dia membuat Amar merasakan indahnya cinta dengan kesederhanaan, cinta yang tulus, bukan seperti lainnya yang hanya mencintai Amar karena ketampanan dan kekayaan Amar"
"Jadi, kapan kamu akan mengenalkannya pada mama"
"Nanti ma, pasti akan Amar kenalkan pada mama, mama tunggu saja"
__ADS_1
***
Weekend telah berlalu, waktunya kembali pada realita. Sasa terus berjalan setengah berlari mengabaikan teriakkan panggilan dari arah belakangnya, ia hanya berharap lelaki itu tak lagi mengejarnya dan menyerah, namun siapa sangka jika lelaki itu malah terus mengejarnya dan menarik lengan Sasa sehingga acara jalannya berhenti lalu mulai berbalik menatap lelaki itu.
"Sa, kenapa kau menghindari ku" ucap Ayas dengan nada terluka
"Kak, hanya saja kak Amar tak suka bila aku dekat dengan kak Ayas, aku juga tak ingin kak Amar marah dan berakhir memukul kak Ayas lagi" ucap Sasa memelas
"Sa, apa tak pernah ada tempat di hatimu untukku, sampai-sampai kau kembali pada pria ******** itu" ucap Ayas kali ini dengan emosi
"Kak, sakit" rintih Sasa ketika lengannya terasa sakit karena genggaman tangan kak Ayas yang mengencang
"Maaf Sa, aku tak sengaja"
"Kak, maaf aku tak pernah bisa menyukai kak Ayas, aku menganggap kak Ayas seperti kakak bagiku, dan juga jangan lagi mengatakan kak Amar pria buruk di depanku" hardik Sasa dengan nada kecewa atas ucapan Ayas
Sedangkan itu, seorang lelaki yang nampak memperhatikan dari ujung akhirnya mendekat dengan wajah menahan amarah, setelah melihat wajah kekasihnya yang sempat merintih kesakitan
Dengan emosi, Amar mendekat dan akan melayangkan bogem mentah pada Ayas, namun Sasa yang merasa ada seseorang mendekat langsung sedikit menengok kebelakang dan menemukan Amar yang diliputi amarah, dengan segera Sasa berlari dan memeluk Amar kuat-kuat, menahan agar tak menerjang Ayas
"Kak, sudah, aku tak apa"
"Kak Amar, ayo kita pergi" ucapan Sasa seolah tak sampai pada Amar, Amar terus saja berusaha melepas pelukan Sasa dan ingin segera menerjang Ayas yang masih diam namun menatap nyalang pada Amar
Sasa yang mulai kewalahan akan tenaga Amar akhirnya dengan terpaksa menarik tengkuk Amar dan mencium rakus bibir Amar, berharap caranya kali ini akan membuat Amar memperhatikannya dan mengurangi emosi Amar tak perduli dengan sekitar yang terlihat banyak para mahasiswa yang lalu lalang
Dan berhasil, Amar seketika berhenti meronta dan sepenuhnya menjadi terfokus pada bibirnya yang tengah dilumat rakus kekasih hatinya. Tak ingin melewatkan kesempatan, Amar menekan punggung Sasa agar lebih menempel padanya dan mulai membalas serta mengambil alih kepemimpinan ciuman panas mereka.
Ayas yang melihatnya mau tak mau merasa kalah dan iri pada Amar lalu membuang pandangannya, bahkan banyak mahasiswa lain yang berhenti dan menyaksikan adegan mereka.
Setelah puas, Amar menyeringai melihat respon Ayas yang terluka lalu menyudahi ciuman panas mereka. Sasa terlihat menggemaskan bagi Amar dengan kondisi wajah memerah dengan tatapan redup serta nafas yang memburu setelah ciuman mereka.
"Berhenti mendekati kekasihku!!" hardik Amar lalu merangkul Sasa posesif meninggalkan Ayas yang masih mematung
__________
Terimakasih sudah membaca ❤️
jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen , rating 5 dan vote 😚
like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰
dan jika mau, kalian bisa mampir ke ceritaku yang lainn... judulnya
'Barcelona I love you' & 'Endless love'
__ADS_1
Maaciwww
bye bye..