Jangan Lagi Menangis Mama

Jangan Lagi Menangis Mama
salah perkiraan,,


__ADS_3

Hari hari terus berganti,tanpa terasa 1 bulan terlewat sudah,keadaan masih belum banyak yang berubah,Dinda masih terus belajar ,berusaha melakukan tugasnya sebagai seorang istri,sementara Yoga tidak sama sekali melakukan tugasnya sebagai suami.


Tak ada nafkah untuk Dinda,hanya Usman ayah mertuanya yang menyuruh Zaida untuk menyisihkan uang dan diberikan pada Dinda,untuk membeli kebutuhannya.


Zaida walaupun terlihat judes dan membenci Dinda,tapi hatinya terkadang baik,uang yang dikirim Usman betul betul diberikannya pada Dinda,karena dirinya sadar jika wanita hamil pasti menginginkan sesuatu atau membutuhkan sesuatu,perlahan sikapnya pun tak sejahat seperti kemarin kemarin,melihat perut Dinda yang kian membesar dan menantunya itu seringkali terlihat begitu kecapaian,Zaida sedikit merasa curiga,masa iya kandungannya sudah sebesar itu usianya baru masuk 6 bulan,Zaida berpikir sesaat.


"Dinda,kemari kamu" panggilnya sore itu


Dinda pun mendekat "iya bu?"


"berapa sebenarnya usia kehamilanmu itu? ibu lihat sepertinya tidak sesuai dengn perkiraanmu" Zaida menatap wajah Dinda dengan seksama


Dinda sedikit berpikir "Dinda gak pernah hitung bu,karena dari dulu haid Dinda tidak teratur" jawabnya kemudian dengan suara pelan


"belum pernah kamu periksa?" tanya Zaida lagi


Dinda menggeleng lemah.


"Baiklah,ganti baju kamu sekarang,kita ke bidan" ajaknya


Dinda gegas masuk ke kamar dan berganti pakaian,kemudian keluar menyusul ibu mertuanya yang telah siap menunggunya di teras.


"jalan jalan sore bu Zaida?" sapa bu Ratih,tetangga mereka yang sedang menyapu teras


"nganterin menantu saya ke bidan bu" jawab Zaida


"waah beruntung sekali kamu Dinda punya mertua baik seperti bu Zaida,diperhatikan begitu" ucap bu Ratih lagi


Dinda hanya mengangguk sambil mengulum senyum


setelah mereka pergi,wajah bu Ratih berubah,


'heleh,di depan orang aja sok baik,kasihan si Dinda' gumamnya

__ADS_1


Karena sebenarnya tetangga sudah mengetahui bagaimana sikap Zaida pada menantunya dan bagaimana sikap Yoga sebagai suaminya pada Dinda.


mereka seringkali menasehati Yoga yang masih suka terlihat nongkrong di depan gang bersama pemuda pemuda yang statusnya masih perjaka,,beberapa tetangga juga pernah melihatnya bermain judi di kampung sebelah.tapi jika ditegur pasti Yoga yang akan marah dan tidak terima,makanya para tetangga mendiamkan saja,yang penting itu bukan bersama anak mereka.


***


"ini usianya sudah sekitar 28 minggu bu" bu bidan memeriksa kembali dengan seksama,


"berarti sekitar 7 bulanan ya bu bidan?" tanya Zaida


"betul sekali bu" jawab bu bidan sambil menoleh pada Zaida lalu kembali menatap Dinda


"tapi ibunya kelihatan lemas sekali,banyak istirahat ya bu,kurangi sedikit aktifitas yang berat apalagi kalau napas sudah terasa sesak,saya akan beri ibu vitamin penambah darah" bu bidan mulai menulis di buku berwarna pink,kemudian menyodorkan buku itu beserta vitamin kepada Dinda


"teruskan minum susu ya bu,makan makanan bergizi dan jangan lupa minum vitaminnya serta istirahat yang cukup,bulan depan silahkan periksa lagi ya bu,ini bukuny" bu bidan tersenyum pada mereka berdua


Dinda terdiam namun tetap membalas senyum bidan itu,susu? sejak kapan dirinya minum susu? bahkan makan makanan bergizi pun tak tentu,tergantung apa yang dimasak Zaida hari itu.


Zaida menyetir mobilnya menuju arah pulang,tak ada obrolan di sepanjang perjalanan,mereka hanya diam.


tiba tiba mobil itu diberhentikan Zaida di tepi jalan di depan toko grosir yang cukup besar.


"tunggu disini" perintahnya pada Dinda


Dinda hanya mengangguk paham dan memperhatikan Zaida hingga menghilang ke dalam toko itu.


setelah beberapa saat,Zaida kembali ke mobil dengan membawa 2 kantong belanjaan yang ukurannya cukup besar,membuka pintu tengah dan meletakkan semua belanjaannya


di kursi,kemudian masuk kembali ke kursi kemudi.


Dinda hanya diam saja memperhatikan,Zaida tak mengucapkan sepatah katapun pada Dinda,mereka tetap diam hingga sampai dirumah.sejak dari gang depan sampai kerumah,Zaida sendiri yang membawa barang barang itu,melarang Dinda untuk membantunya,Dinda sedikit merasa aneh namun tak berani membantah perintah mertuanya itu.


"hhhhh,akhirnya sampai" Zaida meletakkan barang belanjaannya di teras

__ADS_1


"Dinda bantu ya bu" saat akan menyentuh kantong itu Zaida berteriak


"eeeh jangan sentuh itu,panggilkan saja Ria kemari" ucapnya sambil mengibas ngibaskan tangannya pada Dinda


Dinda yang sudah mulai terbiasa dengan siko mertuanya itu hanya diam dan menurut saja,melangkah masuk untuk memanggil adik iparnya.


"Ria,ibu memanggilmu"


"dimana kak?" tanya Ria


"di teras" jawab Dinda


"oke"


Ria melangkah keluar kemudian masuk lagi sambil menyeret kantong kresek putih berukuran besar itu,


"berat dek?" Ria menggeleng


"bisa diatasi kak" Sambungnya lagi sambil tersenyum,,Dinda pun tersenyum melihat adik iparnya itu


hal itulah yang membuatnya mampu bertahan berada dirumah itu,walaupun ibu mertuanya kadang tidak baik dan suaminya pun bersikap sangt tidak baik tapi ketiga adik iparnya serta ayah mertuanya sangat baik kepadanya.


seringkali bila Zaida memarahi Dinda,maka Agung,Ria dan Dedi akan dengan sigap membelanya begitupun dengan Usman karena mereka tau Dinda tidak pernah membuat ulah,hanya memang Zaida saja yang kelewat cerewet.


Tak jarang pula Agung yang usianya diatas Dinda 1 tahun itu dengan berani ikut campur membela sang kakak ipar saat sang abang berbuat kasar pada istrinya itu.


mereka tau Dinda itu sangat baik bukan hanya pada mereka tapi pada para tetangga juga,jika adik adik Yoga butuh bantuan saat mengerjakan tugas sekolah,Dinda yang mengajari mereka,setiap pagi pun Dinda yang membantu menyiapkan keperluan sekolah mereka,karena itulah,mereka sangat menyayangi Dinda dan melindunginya.


Sementara Dinda sendiri melakukan semua itu karena sejujurnya dirinya merindukan adik adiknya,Dinda merindukan keluarganya, semenjak menikah dirinya belum pernah kembali kerumah mengunjungi keluarganya.


Yoga tak pernah mau bila Dinda mengajak silaturahmi kerumah orang tuanya,sementara Dinda tak mungkin pergi kerumah orang tua nya sendirian,takut mereka akan berpikiran yang tidak tidak ,Dinda sangat menghindari hal itu,karena dirinya sangat ingin menjaga kehormatan suaminya dimata keluarganya,terbukti dengan Dinda yang tak pernah mengadu pada keluarganya perihal dirinya yang diperlakukan tidak baik sejak awal dirinya datang kerumah itu.


Dinda menutup rapat mulutnya,berusaha selalu terlihat baik baik saja di depan siapapun,padahal banyak tetangga yang tau bagaimana luka hatinya semenjak berada dirumah itu menjadi istri Yoga,termasuk sepupu sepupu Yoga yang dahulunya juga berteman dengan Dinda saat mereka masih berpacaran,mereka paham betul tabiat Yoga namun tak ada yang berani ikut campur selama bukan Dinda yang meminta pertolongan pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2