Jangan Lagi Menangis Mama

Jangan Lagi Menangis Mama
siapa yang mau di ruqyah??


__ADS_3

"Bangun,aku lapar,siapkan makanan" Yoga menepuk nepuk kaki Dinda yang ditutupi selimut,Dinda mengerjap ngerjapkan matanya setengah sadar,kemudian melihat ke arah jam dinding,netranya langsung berpaling ke arah Yoga begitu tersadar jika saat ini sudah pukul 01.00 malam.


"kakak darimana jam segini baru pulang?" tanya Dinda


"jangn banyak tanya,aku minta siapkan makanan,aku lapar" Yoga melotot dengan mata yang merah


'ngantuk apa mabuk? koq matanya merah' batin Dinda


"cepat" Yoga membentak membuat Dinda ketakutan dan segera berlari ke dapur


saat Dinda sibuk menggoreng telur dadar,Yoga sudah duduk manis di meja makan,begitu Dinda menyodorkan telur itu,segera Yoga mengambil nasi dengan porsi banyak dan melahap makanannya dengn rakus,tapi yang membuat Dinda agak heran,sambil makan Yoga tampak cengar cengir padahal tidak ada hal yang lucu saat itu,namun Dinda hanya sebatas memperhatikan saja,takut untuk berkomentar,karena sepertinya kondisi Yoga sedang tidak baik.


"aku mau lanjut tidur lagi ya kak,nanti piringnya letakkan saja di wastafel" Dinda memberi tahu tapi tak mendapat tanggapan apapun dari Yoga yang tampak menikmati sekali makannya itu.


Dinda berbalik ke kamarnya lagi sambil terus terpikir apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya sampai kelakuannya seperti itu,padahal siang tadi baik baik saja walaupun wajahnya selalu masam,tak terasa matanya kian berat dan Dunda pun kembali terlelap.


hingga subuh menjelang,Dinda meraba raba kasur disebelahnya,kosong,tak ada siapapun,kemana suaminya? masa iya sepagi ini sudah bangun? tapi ya biarlah kalaupun sudah bangun,malah bagus kan? biasanya bangun menjelang Dzuhur atau bahkan menjelang Ashar.


Dinda perlahan turun dari ranjang untuk ke kamar mandi setelah mengikat rambut panjangnya terlebih dahulu,ketika membuka pintu alangkah kaget dirinya mendapati suaminya telentang di bawah meja ruang televisi,Dinda mendekati suaminya itu kemudian melihat apakah masih bernapas,hahaha,ya kali aja udah out kan pikirnya.


ternyata Yoga hanya tertidur,tapi bagaimana bisa tidurnya di tempat seperti itu.


Krieetttt,,


Dinda mendongak saat mendengar kamar tidur mertuanya terbuka,sama dengan dirinya tadi,Zaida pun terbelalak melihat putranya telentang dengan posisi setengah badan di bawah meja


"kenapa dia?" Zaida mendekat


"gak tau bu,semalem kak Yoga pulang jam 1 terus minta dimasakin,pas dia makan,Dinda tinggal tidur,kirain bakal nyusul,eh tau nya malah tidur disini" Dinda menjelaskan secara rinci kejadiannya

__ADS_1


Zaida menghela napas berat,


"jangan jangan kumat lagi" sahut Zaida sambil bertolak pinggang


"kumat? kak Yoga sakit bu?" Dinda menatap wajah ibu mertuanya itu seakan meminta penjelasan,namun Zaida segera mengalihkan pembicaraan,


"sudah biarkan saja dulu dia disitu nanti juga bangun sendiri,kamu mau mandi kan,sana nanti subuhnya kesiangan" Zaida melihat ke arah handuk yang tersampir di bahu Dinda,dan juga dia tau menantunya itu sekarang rajin beribadah,sehingga membuat hatinya pun luluh dan tak ingin berbuat yang tidak baik,apalagi di rahim sang menantu ada calon cucunya yang memang harus dia jaga seperti pesan dari suaminya sebelum berangkat berlayar.


"tapi kak Yoga.."


"nanti juga dia bangun sendiri,dia cuma tidur bukan sakit atau mati,sudah,biarkan saja"


Gegas Dinda menuruti perintah ibu mertuanya itu.


Setelah selesai mandi dan melakukan ibadah wajib nya,Dinda segera keluar kamar untuk membantu mertuanya mengerjakan pekerjaan rumah.


"kamu nyapu saja Din,gak usah ngepel,harus banyak istirahat,itu hamilmu sudah gede,jaga kesehatanmu,ssusu sudah diminum?" tanya Zaida penuh perhatian


dan yang dilakukan Zaida adalah perhatian,bukan kemarahan seperti yang selama ini dirinya dapatkan.


Setelah memasukkan baju baju kotor ke dalam mesin cuci,Dinda kemudian mengambil sapu dan mulai menyapu lantai rumah itu dari ruang tengah sampai ke teras depan,rumah berlantai 2 itu cukup besar jika harus dibersihkan atas dan bawah,namun Zaida memberikan keringanan,Dinda hanya menyapu bagian bawah saja,sementara lantai atas dibersihkan sendiri oleh Ria atau Agung,karena kamar mereka adanya di lantai 2.


Dinda melewati bagian kepala Yoga yang setengah berada di lantai sementara bagian perut hingga kaki ada di atas karpet di bawah meja,sungguh akan mengundang tawa siapapun yang melihatnya.


"kamu sapu saja sekalian kepalanya itu" sentak Zaida membuat Ria serta Dedi yang sedang menikmati sarapan mereka kemudian tertawa,tak ada rasa kaget seperti yang dirasakan Dinda ketika melihat suaminya tergeletak seperti itu.


"pasti mabok lagi ya?" ucap Dedi polos


Zaida melotot pada Dedi membuat Dedi seketika terdiam sementara Dinda terus melakukan aktifitasnya hingga menyapu ke teras.Dinda belum tau sama sekali jika sebenarnya Yoga seperti itu karena sedang mabuk.

__ADS_1


Agung turun dari lantai atas untuk pergi bekerja,walupun hanya bekerja sebagai bartender tapi Agung adalah pemuda yang cukup rajin,tak ingin bermalas malasan dan hanya mengandalkan harta orang tua seperti abangnya,Yoga.


seketika langkahnya terhenti saat melihat Yoga tergeletak di ruang televisi,


"mulai lagi dia bu?" Agung menoleh ke arah ibunya


Zaida hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng lemah,sebenarnya dia tak menyangka kelakuan buruk Yoga tak berubah sama sekali,awalnya dirinya mengira jika dengan menikah maka Yoga bisa berubah menjadi lebih baik apalagi sebentar lagi putranya itu akan segera memiliki seorang anak,nyatanya kelakuannya tetap saja sama seperti sebelum menikah.


Zaida menghela napas pelan


'semoga setelah memiliki anak,dia bisa berubah' gumamnya pelan namun masih terdengar oleh Agung.


"kalau sudah mendarah daging mana bisa berubah,bu,harus di ruqyah itu" seloroh Agung dengan emosi


"siapa yang harus di ruqyah?" Dinda tiba tiba muncul dari ruang tamu masih membawa sapu


Agung dan Zaida saling melirik


"tuh yang lagi kerasukan setan kak" jawab Agung sekenanya.


Zaida hanya diam tak menimpali sama sekali


"sini Din,sarapan dulu,jangan sampai menahan lapar" ajak Zaida


Dinda gegas mencuci tangannya dan kemudian mendekati sang ibu mertua untuk ikut sarapan bersama.


"yang sabar ya kak ngadepin setan" seloroh Agung yang sama sekali tak dimengerti oleh Dinda.


"Agung,,biarkan kakak iparmu makan dengan tenang" Zaida mendelik tak suka

__ADS_1


"dan biarkan yang dibawah meja itu mati dengan tenang" sahut Agung sambil beranjak dan pergi keluar rumah.


Zaida hanya menggeleng pelan melihat kelakuan anaknya itu, sementara Dinda hanya diam tak mengerti.


__ADS_2