
"Dinda,kemari" teriak Zaida dari arah ruang televisi
tergopoh gopoh Dinda menghampiri ibu mertuanya itu,takut dimarahi jika sampai lelet seperti biasanya,tapi melihatnya tergopoh gopoh seperti itu justru membuat ibu mertuanya melotot
"jalan saja pelan pelan,tak usah buru buru begitu,nanti jatuh" walaupun nada bicaranya tinggi tapi terdengar ada kekhawatiran disana,Dinda merasakan sedikit keanehan tapi buru buru ditepisnya.
"ini buat kamu" Zaida menyodorkan satu kantong kresek besar berwarna putih
Dinda memperhatikan kantong itu dengan seksama 'bukankah ini salah satu kantong belanjaan yang tadi ?' gumam Dinda
"kenapa bengong?" tanya Zaida membuat Dinda gelagapan,
"eh e-enggak bu,gak papa" jawab Dinda cepat sambil memegang bungkusan itu
"besok ibu belikan termos kecil untuk diletakkan di kamarmu,sekalian ibu juga akan membelikan buah buahan untukmu"
Zaida mengucapkan kata kata itu dengan nada biasa namun terdengar seperti luar biasa di telinga Dinda dan ternyata bukan hanya Dinda tapi Ria dan Dedi pun berpikiran sama,dua bocah itu menganga memperhatikan Zaida yang tiba tiba berubah baik pada Dinda
"apa? kalian lihat apa?" Zaida mendelik pada kedua anaknya
keduanya pun langsung tertawa
"ibu tumben" Dedi membuka mulutnya
"tumben apanya?" Zaida balik bertanya
"tumben baik sama kak Dinda" Ria berucap dengan polosnya
"memang kapan ibu pernah jahat? kalian saja yang menilai seperti itu,padahal ibu ini seperti malaikat" Zaida menangkupkan kedua tangannya di dada
Ria dan Dedi memutar bola mata malas mendengar ucapan Zaida,membuat Dinda terkekeh.
"sudah,sudah,berisik sekali kalian ini"
"bawa barang barangmu itu masuk ke kamar" perintah Zaida pada Dinda yang langsung diangguki menantunya itu.
***
Dinda mengeluarkan satu persatu barang dari dalam kantong kresek itu,ada banyak macam biskuit dan cemilan ringan,dan apa ini?
'susu ibu hamil' gumam Dinda
ada beberapa kotak susu khusus untuk ibu hamil di dalamnya,Dinda tersenyum senang 'ternyata ini maksudnya tadi ingin membelikan aku termos,biar bisa minum susu di kamar,gak susah mondar mandir' batin Dinda dengan senyum sumringah sambil memeluk kotak kotak susu itu.
Esok harinya Zaida benar benar membelikan termos air panas dan buah buahan untuk Dinda,terlihat juga Zaida belanja sayur sayuran serta ikan dan daging untuk stok beberapa hari ditemani oleh bi Rugai.
Dinda membantu ibu mertuanya itu membersihkan bahan bahan makanan dan menyimpannya di kulkas.
__ADS_1
Dinda jarang sekali masuk ke dapur,semenjak kejadian sebulan yang lalu,Zaida tak lagi mengijinkan Dinda memasak,tugas memasak adalah tugasnya sementara Dinda mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.
bi Rugai mengusap bahu keponakan mantunya itu,sambil mengangguk dan tersenyum
"duduk saja" perintahnya dan Dinda pun menurut
tok,tok,tok
"Assalamualaikum"
suara di depan pintu utama membuat semua mengalihkan pandangan ke arah ruang depan.Dinda beranjak untuk membukakan pintu.
"Waalaikumsalam"
"ibu" teriaknya tak percaya
"Dinda,apa kabar kamu nak?" tanya Yanti sambil memeluk putri tercintanya
"Alhamdulillah Dinda baik bu,bang Zul"Dinda bergantian menyalami ibu dan abangnya dengan takdzim
Zaida pun ikut melihat ke ruang tamu,penasaran dengan suara ribut ribut di depan.
"eh besan" sapanya sambil menyalami ibu Dinda juga abangnya
"berdua aja?" Yanti mengangguk
"Ria buatkan minum" perintah Zaida
"biar saya saja bu" Dinda menawarkan diri
"kamu disini saja Dinda,biar Ria yang melakukannya" ucap Zaida
Dinda menurut dan kembali duduk
"kebetulan sekali besan kemari,padahal kami ada niat untuk berkunjung kesana sekalian memberikan kabar" Zaida membuka obrolan
Yanti menatap Zaida dengan seksama
"kabar apa bu?" tanyanya penasaran
"itu soal kehamilan Dinda" jawab Zaida
"kemarin saya bawa Dinda ke bidan untuk periksa,ternyata betul perkiraan saya bahwa Dinda salah perhitungannya"
"maksudnya salh gimana bu?" Yanti makin penasaran
"jadi begini,kan Dinda bilangnya usia kandungannya itu sekitar 5 bulanan waktu itu,berarti kan harusnya baru masuk 6 bulan,tapi ternyata usia kandungannya sudah jalan 7 bulan bu" jelas Zaida panjang lebar
__ADS_1
"owh jadi begitu" sahut Yanti sambil mengelus perut Dinda yang terlihat sudah sangat membuncit
"lalu maksud saya,kita harus merayakan 7 bulanan Dinda sesuai adat kita,begitu bu" ungkap Zaida dengan menggebu gebu
"saya sih terserah besan saja bagaimananya" ucap Yanti
"kalo diadakan disini saja gimana bu?" tanya Zaida
"boleh bu,silahkan,saya ikut saja,nanti soal biayanya,saya dan suami saya akan bantu" jawab Yanti sumringah
"owh kalau masalah itu gampanglah,nanti tinggal kita atur aja ya bu" Zaida tertawa pelan
Dinda merasakan ibu mertuanya itu sejak kemarin sikapnya begitu aneh,tapi Dinda tak berani berkomentar, 'biarkan sajalah,kan lebih baik seperti ini,tak ada tekanan batin' ucapnya dalam hati.
sementara abangnya, Zul ,memperhatikan raut wajah adiknya itu,kenapa tampak kebingungan menatap mertuanya seperti itu? batinnya,apakah adiknya bahagia dirumah itu.tapi kata kata itu hanya mampu diucapkan di hatinya saja.
Dan secara tiba tiba Yoga masuk tanpa mengucap salam,membuat semua terperangah dengan kelakuannya
"oh ada tamu" ucapnya,namun bukannya menyalami mertua dan iparnya,malah dia ngeloyor masuk ke kamar
Yanti dan Zul saling berpandangan kemudian menatap Dinda dengan pertanyaan,namun Dinda segera mengalihkan pembicaraan.
"apa kabar ayah bu?"
"maaf Dinda belum sempat datang kerumah,Kak Yoga sibuk akhir akhir ini,rencananya bulan depan kamu mau berkunjung kerumah" sengaja Dinda bicara panjang lebar agar ibu dan kakaknya tidak memikirkan tentang Yoga barusan
Zaida pun kelihatan gelisah karena merasa tidak enak dengan besannya,ingin memarahi Yoga di depan mereka terasa tidak mungkin,akhirnya Zaida hanya menahan emosinya menunghu sampai besannya pulang.
"baiklah kalau begitu,ibu mau pamit dulu ya Din"
"ini ibu bawakan makanan kesukaan kamu dan beberapa camilan,ibu hamil kan pasti cepat lapar,dimakan ya nanti" ucapnya sambil mengelus rambut putrinya itu
Dinda mengangguk dan mengucapkan terima kasih
"dimana Yoga?" tiba tiba Yanti bertanya membuat Dinda terperangah
"ah,eee,kak Yoga lagi istirahat bu,kecapek an mungkin" padahal Dinda takut Yoga menolak untuk datang jika dipanggil
Zaida pun hanya diam saja merasa tidak enak hati
"kalau ada apa apa jangan sungkan bilang sama abang ya" ucap Zul saat Dinda mencium tangan nya dengan takdzim
"iya bang" sahutnya dengan mata berkaca kaca
Zul merasakan betul ada yanh tidak beres dengan adiknya itu namun tak dapat mengungkapkannya,hanya menunggu adiknya bicara saja.
keduanya pun berpamitan dan berjalan pulang,Dinda tetap berdiri di teras sambil memperhatikan punggung orang orang tercintanya itu hingga menghilang dari pandangan.
__ADS_1
"Yoga,keluar kamu!!" teriakan Zaida membuyarkan lamunan Dinda dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat ada apa.