Jangan Lagi Menangis Mama

Jangan Lagi Menangis Mama
Dinda pindah kerumah mertua


__ADS_3

"Sudah siap?" Zaida masuk ke kamar Yoga untuk melihat kesiapan putranya itu,


"sudah bu" Yoga tersenyum menatap cermin sambil merapikan kembali letak peci putihnya,pemuda itu merasa tampan dengan setelan berwarna putih tulang yang dikenakannya.


rombongan mobil iring iringan pengantin pun melaju pelan membelah jalan raya menuju rumah calon mempelai wanita.


***


Sementara itu Dinda duduk terpaku di depan cermin,menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


"kenapa melamun neng?" tegur MUA sambil tersenyum


"deg degan ya?"goda nya lagi


Dinda tersipu malu,memang sejak tadi pikirannya menerawang jauh,antara percaya dan tidak,dirinya saat ini betul betul akan menikah dengan Yoga,laki laki yang begitu dicintainya,ada rasa haru sekaligus rasa takut namun Dinda berusaha untuk meredamnya.


"rombongan mempelai pria sudah datang" seseorang memberitahukan dari balik pintu kamar pengantin yang sedikit terbuka.


gegas MUA itu kembali merapikan kebaya berwarna senada dengan yang dikenakan Yoga,model kebaya yang mengikuti lekuk badan terasa agak sesak dikarenakan perut Dinda yang sedikit membuncit.


Yanti masuk ke kamar dan sesaat menatap takjub wajah putrinya "kamu cantik sekali nak" netranya berkaca kaca


Dinda meraih jemari tangan wanita paruh baya itu dan menggenggamnya erat kemudian menciuminya berharap menemukan kekuatan disana.


"saya terima nikah dan kawinnya Adinda Febrianti binti Nurdin Alwi dengan mas kawin 6 gram emas dibayar tunai"


"sah,sah"


Alhamdulillah


Akhirnya semua bisa menarik napas lega,entah karena gugup atau bagaimana,Yoga harus mengulang ijab qabul sebanyak 3x,hal itu sontak saja membuat dirinya menjadi bahan gunjingan para undangan yang hadir di ruangan itu.


setelah ijab qabul dan segala macam prosesi adat selesai,kini Dinda dan Yoga duduk bersanding di pelaminan menghadapi ratusan tamu undangan.

__ADS_1


Dinda lebih banyak menunduk,menyembunyikan wajahnya dalam dalam,merasa jika banyak pasang mata menatapnya dengan tatapan aneh sementara Yoga justru bersikap sebaliknya,terus melempar senyum ke arah tamu undangan membuat Dinda sedikit merasa jengah.


akhirnya acara yang melelahkan itu selesai juga,Dinda menghela napas lega lalu kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya sedangkan Yoga tampak asik menyambut dan menyalami tamu tamu yang terlambat datang.


"orang tua dari mempelai laki laki sudah pada pulang,koq gk pada pamitan ya" mulai terdengar gonjang ganjing dari mulut mulut julid ibu ibu tetangga,


kembali Dinda menghela napas berat,dirinya dan Yoga sudah melepaskan segala atribut mereka dan kini mereka sedang duduk berdua di dalam kamar penganti.


"Bener keluarga kamu sudah pulang?" Dinda menoleh pada Yoga yang sedang selonjoran di atas ranjang


"iya,tadi pamitan sama aku pulangnya" jawab Yoga santai


"koq gak pamit ke keluarga aku sih?" Dinda memasang wajah cemberut


"ibu tadi keliatan udah capek banget,lagian kenapa sih,kaya masalah banget" Dinda melongo mendengar kata kata suaminya barusan


dengan mendengkus kesal Dinda beranjak kemudian keluar dari kamar


"mau kemana kamu?" tanya Yoga


***


"Saya pamit mau mengajak Dinda pulang bu" di hari kedua setelah pernikahan mereka dilangsungkan,Yoga ingin segera mengajak Dinda pulang kerumahnya.


"pulang?" Yanti dan beberapa anggota keluarga Dinda merasa terkejut mendengar penuturan Yoga barusan


"harusnya kan dijemput sama keluarga kamu?" tanya Nuning,ibunda Yanti menatap ke arah Yoga yang duduk di seberang mereka


"biar sama saya saja nek,keluarga saya mungkin sedang banyak urusan" jawab Yoga


"seharusnya peraturannya begitu,tapi kalau kalian memaksa ya sudah,terserah" Yanti berbicara dengan ketus,karena merasa harga diri putrinya diinjak injak oleh keluarga Yoga,namun tak ada yang bisa dirinya perbuat karena sekarang Dinda sudah sah menjadi istrinya Yoga.


Dinda hanya menunduk terdiam,tak tau harus berkata apa,walaupun dirinya merasa takut namun bukankah seorang istri harus mengikuti kemanapun suaminya pergi.

__ADS_1


Yanti menatap wajah putrinya dengan tatapan sendu,,ada rasa tidak tega melepaskan putri tercintanya itu pergi kerumah mertuanya,


tangisnya kembali pecah saat Dinda mencium tangannya dengan takdzim,Yanti memeluk putrinya erat seakan tak mau terpisah,17 tahun sang putri selalu berada disisinya walaupun tak selalu ada dalam dekapannya namun pasti setiap hari dirinya bisa mendengar suara juga menatap wajah anaknya itu,dan dirinya sudah kehilangan moment itu,Dinda harus pergi mengikuti suaminya.


"kamu jaga diri ya nak disana,ada apa apa yang terjadi jangan pernah sungkan untuk memberi tahu kami" Dinda mengangguk pelan,Yanti membelai wajah dan rambut putrinya itu dengan air mata yang berderai.


Dinda dengan langkah gontai berbalik menuju mobil Yoga yang sudah menunggunya setelah berpamitan dengan seluruh keluarganya,


"udah jangan cengeng" sentak Yoga ketika Dinda sudah naik ke mobil.


"kaya mau pisah jauh aja,padahal tinggal naik angkot doang udah sampe,dasar lebay"


Dinda terhenyak mendengar ucapan Yoga,kata katanya seperti orang yang tak punya hati,namun Dinda merasa malas untuk berdebat dan memilih untuk diam saja.


Tak hanya Dinda,,Beny juga Adon sepupunya yang duduk di kursi depan saja sedikit kaget mendengar apa yang diucapkan Yoga barusan,mereka hanya saling tatap kemudian menggeleng gelengkan kepala.


Sesampainya dirumah,Yoga langsung melenggang masuk menuju kamarnya tanpa membwa apa apa sementara Dinda masih berdiri di depan pintu utama sambil menenteng tas yang cukup besar,berisi barang barang kebutuhannya,beruntung tadi Beny mau membantu membawakannya dari depan gang.


Sunyi,tak ada sambutan apapun dari keluarga Yoga,Zaida yang berdiri di depan pintu ruang tengah hanya menatap Dinda dengan tatapan tak suka,


"sudah datang? simpan barang barangmu di kamar Yoga" ucap Zaida ketus dan kemudian menghilang dibalik dinding


"sini aku bawain" Beny menawarkan bantuan,namun Dinda menolak secara harus


"gak papa Ben,makasih banyak kalian udah bantu aku tadi" Dinda tersenyum manis menatap kedua sepupu suaminya itu,namun Beny membalas tatapannya dengn tatapan iba.


'semoga kamu baik baik saja Din' ucap Beny dalam hati


"masuklah,istirahat,aku sama Adon juga mau pulang" Dinda mengangguk dan setelah mengucapkan terima kasih dirinya kemudian menutup kembali pintu rumah itu.


"ngapain aja sih,lama banget" Yoga menatap nyalang ke arah istrinya yang melangkah masuk ke kamar miliknya.


"Beny sama Adon pamit,gak enak dibiarin aja" jawab Dinda pelan

__ADS_1


"alesan" balas Yoga ketus


Dinda hanya diam tak menjawab kemudian melangkah menuju kamar mandi yang terletak di dapur, setelah selesai bersih bersih,Dinda kembali ke kamar,mengganti bajunya dengan daster agar nyaman kemudian merebahkan diri di sebelah Yoga yang dipikirnya sudah terlelap.


__ADS_2