
"ekheeemm"
suara deheman yang cukup keras dan disengaja itu membuat Dinda terlonjak kaget,entah sejak kapan Zaida berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.
"kaya ngeliat setan aja kamu" Zaida mendelik tak suka
'emang ibu kaya setan' jawab Dinda dalam hati tak mungkin diucapkan langsung,walaupun sebenarnya ingin,wkwkwkk
"belanja apa aja kamu tadi?" tanya Zaida
"itu bu" Dinda menunjuk ke arah meja dapur tanpa menjelaskan
Zaida mendekat dan memeriksa wadah wadah serta kantong kresek yang tergeletak di atas meja
"heeemm" kembali Zaida berdehem sambil manggut manggut
"ok,sekarang kamu masak semua bahan bahan ini untuk makan siang" ucap Zaida santai
"ma-masak bu?" Dinda terbelalak ,mulutnya menganga tak percaya pada apa yang diucapkan ibu mertuanya barusan.
"iya masak,kenapa begitu?" sentak Zaida begitu melihat ekspresi Dinda yang seakan terkejut
"ma-mau dimasak apa?" tanya Dinda gelagapan
"inisiatif kamu lah,begitu aja pake nanya,inget ya harus ada sambel,soalnya orang dirumah ini pada doyan sambel"
"awas aja kalo gak enak" ancam Zaida sambil melirik Dinda lalu melenggang keluar dari dapur.
tinggallah Dinda sendirian dalam kebimbangan,
'Ya Allah aku harus gimana?' ucapnya dalam hati,sesaat dirinya terdiam,lalu kemudian,,
'bi Rugai' tiba tiba nama itu terlintas di pikirannya,segera Dinda menuju pintu belakang,namun saat akan melangkah ke pintu belakang,suara tinggi Zaida membuat langkahnya terhenti seketika.
"mau kemana kamu?"
"e-eh anu bu" Dinda gelagapan
"anu anu apa? tadi saya suruh kamu apa? malah mau kabur" teriak Zaida
"nggak bu,anu Dinda mau.."
"gak ada alasan,cepat kerjakan apa yang tadi saya suruh" bentak Zaida,membuat Dinda langsung bergegas kembali ke dapur.
'aku harus gimana?' Dinda menggigit bibir sambil memilin milin ujung baju piyamanya.
air matanya hampir saja lolos terjatuh tapi berusaha ditahannya sekuat mungkin,
"gak papa Dinda,kamu pasti bisa" ucapnya menguatkan hati
setelah meraup oksigen sebanyak banyaknya kemudian menghembuskannya dengan sekali tiupan,sebuah lengkungan terbit di wajah cantiknya, 'pasti bisa' gumamnya.
__ADS_1
"apapun yang akan terjadi terjadilah,kun fayakun,Bismillah" ucapnya dengan penuh percaya diri.
segera diambilnya bahan bahan yang tadi dibelinya,kemudian dicuci bersih dan Dinda mulai memasak,sebisanya.
beberapa saat kemudian,
'selesai' gumamnya sambil tersenyum dan menepuk nepukkan kedua telapak tangannya.
dengan wajah sumringah Dinda menata hasil masakannya di atas meja makan,kemudian menutupnya dengan tudung saji.
'ok,sekarang mandi dulu,udah acem' gumamnya sendiri sambil melirik sekali lagi ke arah dapur,takut ada sesuatu yang tertinggal atau terlupa.
perlahan langkahnya menuju ke ruang tengah,lalu melongok ke ruang tamu,tidak ada siapa siapa disana,pintu kamar mertuanya tertutup rapat,jam segitu memang kedua adik iparnya Ria dan Dedi sedang bersekolah,sementara adik iparnya yang satu lagi bernama Agus,kamarnya ada di lantai 2 rumah itu,dan sejak semalam Dinda belum melihat adik adik iparnya itu.
krieettt,,
Dinda membuka pelan pintu dan masuk ke kamarnya,netranya menangkap sosok suaminya sedang duduk di pinggir ranjang sambil menghisap rokok,lekas Dinda membuka jendela dan mengibas ngibaskan asap rokok yang sudah memenuhi ruangan,
"jangan merokok di dalam kamar dong kak" Dinda memberi tahu dengan suara sepwlan mungkin
"apaan sih lu" Yoga mendelik tak suka
"kan aku lagi hamil,asap rokok gak baik buat aku dan buat bayi kita" Dinda berbicara masih dengan suara pelan
"bayi elu,,sok ngatur lu" sentak Yoga kemudian beranjak dan berjalan keluar kamar
Dinda hanya menghela napas sambil menggeleng pelan,,
"udah seger,sekarang beres beres dulu" gumamnya sambil membereskan kamarnya yang berantakan,saat akan berniat menyusun baju bajunya yang masih tersimpan di dalam tas,tiba tiba dari arah dapur,,,
"Dindaaaaaaaa..."
"apa sih bu?pagi pagi udah gaduh aja" Usman keluar dari kamarnya yang bereseberangan dengan kamar Dinda dan Yoga
"lihat ini pak,lihat" teriak Zaida pada suaminya
Dinda yang berlari tergopoh gopoh menghampiri begitu mendengar namanya dipanggil.
Usman dan Zaida menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan,
"ini semua kamu yang masak Din?" tanya Usman pelan
belum sempat Dinda menjawab,Zaida langsung menyela
"ya siapa lagi,emang pernah ibu masak seperti ini untuk kalian?" Zaida melirik sinis ke arah Dinda
"sini kamu,sini cepat!" bentak Zaida lagi
cepat Dinda menghampiri tanpa banyak bertanya lagi
"apa ini ha? apa?" Dinda hanya melongo tak mengerti dengan pertanyaan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"lihat ini,ikan utuh begini langsung kamu goreng"
"sayur bayam ini juga,kamu apain sampe aer dan minyaknya segini banyak tapi gk ada bumbu apa apa"
"dan ini,ini apa?"tanya Zaida sambil mengangkat mangkuk kecil berisi cabai yang di uleg kasar
"sambel bu" jawab Dinda dengan polosnya
Zaida membanting mangkuk kecil itu ke atas meja,menimbulkan suara berdenting keras ketika bersentuhan dengan kaca meja makan,untung saja tidak pecah.
"ini yang kamu sebut makanan ha?" Zaida menoyor kepala Dinda dengan kencang hingga membuat Dinda sedikit terhuyung ke samping
"bodoh,bodoh,bodoh" Zaida memukul mukul lengan Dinda cukup keras sehingga membuat Dinda mengaduh.
"sakit bu" ucapnya dengan nada memelas sambil menitikkan air mata
"udah bu udah,gak harus pake kekerasan begitu juga,Dinda itu lagi hamil" Usman mulai tak tega melihat cara istrinya memperlakukan menantunya seperti itu
"lagian ibu juga salah,harusnya ibu ajarin dulu baru dilepas " sambungnya lagi
"halaaaaah,,dasar dianya aja yang manja,gak bisa apa apa" balas Zaida ketus
Dinda tergugu diam terpaku di tempatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun
"memang ya dasarnya bodoh,bisanya cuma nangis aja" Zaida kembali menoyor kepala Dinda dengan gemas membuat Dinda makin tergugu
"Zaida,cukup" kali ini Usman sedikit tegas
"belain aja pak,belain,sekalian makan tuh semua yang menantumu ini masakin" sahut Zaida dengan emosi
"bapak bilang cukup bu,cukup,malu di dengar tetangga,pagi pagi udah ribut aja"
"ada apa sih ribut ribut?" Yoga muncul dengan tiba tiba
"liat nih kelakuan istrimu,lama lama dia nyuguhin racun buat kita" matanya mendelik sadis pada Dinda
Dinda hanya terdiam dan terus menunduk sambil menyeka jejak air mata di pipinya
"siapa yang masak?"
"masih nanya lagi,apa pernah ibu nyuguhin makanan begini untuk kalian?ha?" ucap Zaida dengan nada tinggi
"tanya tuh istri kamu,dari apa otaknya dibuat,jadi orang koq tolol amat" tunjuk Zaida pada Dinda
"kalo begini sih mending si Neneng kemana mana,udah cantik,body nya bagus,sopan,pinter masak lagi,gak kaya dia,bisanya cuma nyusahin" Zaida mulai membanding bandingkan dengan nada yang sinis sambil melangkah dengan kaki yang sengaja dihentak hentakkan masuk ke dapur.
Yoga menatap Dinda dengan tatapan dan senyuman yang mengejek,membuat Dinda makin dalam menekuk wajahnya.
"masuk ke dalam Dinda,biar ibumu yang membereskan" Usman memberikan perintah
"iya pak" balas Dinda dengan raut wajah sedihnya.
__ADS_1