
Rumah keluarga Yoga sudah tampak sibuk,para tetangga berdatangan untuk membantu mempersiapkan semua keperluan acara 7 bulanan Dinda,walaupun masih ada saja gonjang ganjing yang membahas tentang pernikahan mereka yang baru berjalan satu bulan lebih tapi sudah menggelar acara 7 bulanan,bagi keluarga Yoga tak masalah,toh memang keadaannya seperti itu,yang sudah sudah ya sudahlah seperti kata Ayu Ting Ting,
wkwkkwkwk
"sudah beres semua dek Gai?" Zaida menyentuh lengan bi Rugai
"eh kakak,sudah semua kak,Alhamdulillah,tinggal acaranya saja" bi Rugai tersenyum
"baiklah,terima kasih banyak ya bantuannya" Zaida tersenyum puas,bi Rugai hanya mengangguk dan ikut tersenyum
"ngapain sih pake acara acara segala,bikin ribet aja" Yoga mengomel sendiri di dalam kamar,sementara Dinda cuek saja sambil melipat pakaian.
"pasti kamu kan yang mempengaruhi ibu,atau ini semua karena ulah ibu kamu?" Dinda menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada Yoga
"tidak ada yang meminta ibu mu untuk melakukan ini,baik aku ataupun ibuku atau siapapun,semua ini atas kemauan ibumu sendiri" jawab Dinda menahan emosi,
enak saja menyalahkan,mungkin bisa diterima kalau Yoga hanya menyalahkan Dinda tapi jika sudah membawa bawa orang tua tentu tak akan bisa diam saja.
"aaah,padahal belum tentu juga itu anakku" sahut Yoga ketus
"lalu bagaimana jika ini benar adalah anakmu?"
Yoga menatap sinis ke arah Dinda namun Dinda menanggapinya santai
"yang jelas kalau bukan anak ku,kau pasti akan ku tendang dari rumah ini" Yoga menggertakkan gigi
"dan jika benar ini anakmu,maka kau akan menyesali semua ucapanmu,dia di dalam sini mendengar semua perkataanmu,dan jangan salahkan aku jika nanti anakmu ini akan membencimu,meskipun harapanku sebenarnya tidak" Dinda menunjuk perutnya kemudian tersenyum santai pada Yoga
"hah!" Yoga memasang ancang ancang untuk menerkam Dinda,hanya sekedar menakuti saja,memang lidahnya tajam tapi sejauh ini tak pernah dia berani memukul istrinya itu,sekalipun dia merasa ingin,karena kesal.
Yoga melangkah keluar kamar meninggalkan Dinda sendiri,Dinda hanya menggeleng pelan,
'kenapa aku bisa sangat mencintai laki laki seperti ini Ya Allah,apa rahasiamu dibalik semua ini' Dinda membatin
__ADS_1
***
Tibalah di hari acara 7 bulanan itu,rumah keluarga ramai tampak mulai ramai,tenda yang tidak terlalu besar itu penuh dengan tamu undangan,meski hanya warga sekitar dan keluarga namun acara itu berlangsung meriah.
Walaupun Yoga kadang menampakkan wajah masam tapi tak memberi pengaruh apapun pada acara itu,
"waah bayinya laki laki" teriak seorang tamu undangan yang menyaksikan acara belah kelapa muda,tampak Yoga membelah tept di tangah tengah yang katanya artinya anaknya adalah laki laki sementara jika menyamping maka anaknya perempuan.
Kedua keluarga tampak sumringah,hanya Yoga saja yang berwajah datar,meskipun sesekali tampak tersenyum pada beberapa orang saja.
Yoga tidak sadar jika abang iparnya,Zul ,sejak tadi memperhatikannya dengan tatapan sinis.
'awas saja kau berani menyakiti adikku' batinnya
Zul bisa menangkap jika pernikahan adiknya itu tidak bahagia,entah darimana perasaan itu,mungkin feeling dari pertalian darah antara mereka,sehingga perasaan itu begitu kuat.
Selesai acara,satu persatu tamu dan keluarga pulang,hanya menyisakan beberapa saja untuk membereskan rumah itu.
Dinda sudah berada di kamar sejak tadi setelah melepas keluarganya pulang,
Yoga yang mengendap masuk ke dalam kamar pun tak dia sadari
"memang dasar kebo" umpat Yoga sambil menatap ke arah istrinya yang tertidur di ranjang
Yoga terus mengendap menuju lemari kecil tempat dirinya biasa menyimpan kaset,tangannya bergerak menelusup di antara kaset kaset itu,dan akhirnya
"ketemu" ucapnya pelan dengan wajah sumringah
disimpannya benda mirip rokok tapi ukurannya lebih ramping itu ke dalam kotak rokok yang disimpan di dalam kantong celananya jeans nya.
Dinda tetap saja tak menyadari apa yang dilakukan suaminya barusan karena tidurnya memang begitu pulas.
***
__ADS_1
"lama amat lu Ga,sampe kering dari tadi kita nungguin disini"
Yoga menghempaskan bokongnya di lantai pondokan di tengah sawah itu sambil menyeringai pada temannya yang barusan mengomel itu.
"nih,yang kering begini pasti lu suka" jawabnya sambil mengeluarkan benda mirip rokok tadi dari kotak rokoknya
"emang ini yang dari tadi ditunggu" jawab temannya dengan senyum sumringah
langsung saja benda mirip rokok itu dibakar dan dihisap bergiliran.
"Dinda,Yoga kemana?" seketika Dinda terbangun ketika mendengar suara panggilan ibu mertuanya dari depan pintu.
"gak tau bu,dari tadi Dinda tidur jadi gak ngeliat" jawab Dinda sambil membukakan pintu kamarnya
"owh kamu tidur? tadi Ria bilang Yoga masuk kamar,ibu ada yang mau diintain tolong,ibu kira masih dikamar,ya sudah kamu mandi sana,sudah sore,gak baik lagi hamil mandi mendekati maghrib"
"owh iya bu,sekalian Dinda juga belum sholat Ashar,lupa karena ketiduran"
Zaida mengangguk mengiyakan dan segera melenggang menuju dapur
setelah mandi dan Sholat Ashar Dinda bersimpuh di atas sajadahnya, berdoa memohon ampunan pada Tuhan atas semua kesalahan dan dosa dosanya,dia sadar dosanya begitu besar,namun ampunan Allah juga luas bukan?
semua kembali lagi kepada keyakinan,yakin saja Allah pasti memberikan ampunan pada hambanya yang betul betul bertaubat dan berusaha memperbaiki dirinya.
Bukankah tak ada manusia yang luput dari perbuatan khilaf dan dosa?
Dinda membereskan mukena dan sajadahnya lalu diletakkan di tempat semula,
perutnya yang semakin membesar membuatnya tak bisa bergerak bebas,dielusnya perut buncitnya itu,
'gak lama lagi kamu akan melihat dunia ini sayang,mama harap kamu menunjukkan pada papa mu bahwa kamu memang anaknya,ya sayang' Dinda bergumam sendiri,kemudian dirasakannya sedikit tendangan dari dalam,
'aw' Dinda sedikit kaget
__ADS_1
'kamu setuju ya sayang?' ucapnya kemudian sambil tertawa kecil menatap perutnya dan kembali mengelus nya dengan lembut,meskipun usianya masih 17 tahun namun jiwa keibuannya sudah mulai tampak.