
Yoga tiba tiba muncul di depan pintu kamar saat Dinda baru saja menyelesaikan kewajiban 5 waktunya, dengan wajah sembab Yoga masuk begitu saja lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, "baru bangun kak?" tanya Dinda sambil melirik ke arah jam dinding
"emang kenapa? bawel lu ya" jawab Yoga ketus
Dinda hanya diam saja saat sudah mendengar ucapan seperti itu,tak mau jadi ribut panjang,apalagi jika Yoga sudah mengelauarkan kata 'lu gue',ah sudahlah,lebih baik mengalah saja.
"kakak mau makan? dari pagi kan belum makan?" tanya Dinda lagi
"bisa gak sih gk usah banyak omong,berisik,sana lu" bentak Yoga
Dinda pun tak menghiraukan lagi,gegas keluar dari kamar menuju ruang tengah bergabung dengan ibu mertua dan adik iparnya.
"kenapa dia teriak teriak begitu?" tanya Zaida yang mendengar suara anaknya membentak Dinda
"Dinda cuma nawarin makan bu" jawab Dinda singkat
Zaida menggeleng geleng kesal,
"lain kali kalo dia pulang dalam keadaan begitu,jangan diajak ngomong,diamkan,atau tinggalkan"
"sudah,makan buah kamu,itu di kulkas" perintah Zaida
Dinda pun segera bangkit menuju dapur
"Dedi minta ya kak" Adik iparnya itu tersenyum menggemaskan
"siapp" sahut Dinda sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
setelah selesai mengupas buah apel,Dinda kembali mendekati ibu mertua dan adik iparnya,tapi baru saja satu gigitan..
"waaah,enak enakan ya makan buah disitu,bukannya ngurusin suami,gak tau suami laper apa?" teriaknya pada Dinda
Seketika Dinda menghentikan aktifitas mengunyahnya, dan sesaat saling tatap dengan Zaida
"tadi kan aku sudah menawari tapi kakak malah marah"
"banyak alasan kamu,siapin cepet,aku udah laper" teriaknya lagi
"gak bisa ngomong pelan aja apa kamu Ga?" Zaida memasang raut wajah tak suka
"sama dia mah gak bisa bu,budeg,harus diteriakin terus" Yoga menjawab sekenanya sambil duduk di kursi meja makan dengan mengangkat satu kakinya
__ADS_1
Zaida menggeleng geleng dengan kesal
"kamu itu ya,udah pulang mabok,dirumah kerjanya cuma bentak bentak orang aja,coba cari kerja sana,kamu itu sudah punya istri,Yoga" Zaida mengomel
Prangggg,,
Piring berisi nasi yang baru saja diberikan oleh Dinda langsung dilempar ke lantai,pecahannya pun sedikit mengenai kaki Dinda membuat semua yang ada disitu berteriak panik karena mendengar teriakan Dinda,kecuali Yoga yang masih duduk santai seolah tidak terjadi apa apa
"Yogaaaa,memang sudah gila kamu!!" teriak ibunya,sambil berlari mendekati Dinda yang sedang merintih akibat terkena serpihan beling,bi Rugai pun yang sedang menyapu halaman rumahnya segera berlari masuk lewat pintu belakang rumah kakaknya itu begitu mendengar suara benda pecah dan teriakan,beberapa orang tetangga yang mendengar keributan dirumah itupun ikut keluar namun tak berani masuk ke dalam rumah Zaida,hanya memperhatikan dari depan rumah mereka saja,sambil menguping.
Dinda terdengar menangis karena merasakan sakit dari luka akibat beling beling kecil yang menancap di kakinya itu,Zaida berusaha mencabut beling beling kecil itu dibantu bi Rugai
"Dedi,ambilkan kotak P3k cepat" teriak Zaida
Dedi langsung berlari secepat mungkin masuk ke kamar ibunya dan keluar kembali membawa kotak P3K di tangannya.
lekas Zaida membersihkan darah dari luka luk a di kaki Dinda dan memberinya betadine.
"semenjak ada dia hidup gue jadi sial!" teriak Yoga
"kamu sendiri yang membuat hidupmu jadi sial,jangan menyalahkan orang" balas Zaida
Tak terbayangkan perasaan Dinda saat itu,air matanya mengalir dengan deras,bukan karena menangisi rasa perih di kaki nya,itu tak seberapa baginya,tidak akan sampai membuatnya menangis, tapi karena hatinya,iya hatinya begitu terluka dalam akibat tajamnya kata kta suaminya barusan.
"Istighfar Yoga,dia itu istrimu" teriak bi Rugai juga
"bibi gak usah ikut campur,dia memang istriku jadi aku berhk melakukan apapun ssesuka hatiku,bahkan jika aku mau membunuhnya,itu adalah hak ku" teriaknya lantang.
"siapa yang mau kau bunuh?!" tiba tiba suara bariton terdengar dari arah ruang tamu
"siapa yang mau kau bunuh?ha?" teriak Agung dengan lantang
"bilang ke aku,siapa?" Agung mendekat dengan langkah cepat dan menarik leher baju Yoga membuat Yoga ikut terangkat,matanya berkilat karena emosi,seketika membanting Yoga ke samping membuat Yoga terhuyung dan hampir jatuh.
"kamu mau membunuh? bunuh ibumu ini Yoga,bunuh!!" teriak Zaida sambil menangis
Yoga terdiam tak berkutik,dia memang takut pada adiknya yang tubuhnya lebih tinggi dan kekar,jika dibandingkan dengan dirinya yang sedikit kecil dan kurus kerempeng,jelas tak akan menang.
"kenapa diam?!" sentak Agung ketika melihat Yoga hanya berdiri diam,namun wajahnya terlihat merah padam menahan amarah
"kalau memang merasa jantan,hadapi aku,ayo lawan aku,dasar banci!!" Agung berteriak sambil menggulung lengan baju dan membuka kancing atas baju kemeja seragm kerjanya.
__ADS_1
Yoga tampak menciut melihat Agung semakin mendekati dirinya,gegas Yoga mengambil langkah seribu,lari keluar meninggalkan keluarganya,entah kemana.
saat Agung akan mengejar,Zaida melarangnya
"sudah Gung,biarkan saja"
Agung menyugar rambutnya kasar kebelakang,,
"memang dasar setan sampai kapanpun tetap akan menjadi setan" umpat Agung
"Kak dinda kenapa bu?" tanyanya begitu melihat kaki Dinda yang sedang dioles betadine oleh bi Rugai,sementara Zaida masih terisak sambil memegangi bahu Dinda
"kakak gak papa Gung,tadi piring nya jatuh" Dinda berusaha menutupi
"dilempar piring sama bang Yoga,bang" ujar Dedi yang sedang duduk di sofa depan televisi
"memang dasar setan,biar betul betul ku bunuh dia" ucap Agung sambil berbalik akan mengejar tapi Zaida dan Dinda sama berteriak melarang sehingga Agung menghentikan langkahnya dan dengan perasaan kesal bergegas naik ke kamarnya.
"biar aku yang bersihkan kak" bi Rugai menawarkan diri untuk membersihkan beling beling serta nasi yang berserakan di lantai
Zaida mengangguk sambil berjalan menuntun menantunya mengantarkannya masuk ke kamar.
tak lama kemudian Zaida keluar lagi
"semoga saja tidak infeksi" ujarnya pelan
"semoga tidak kak,ini sudah bersih,aku pamit pulang ya kak" ucap bi Rugai sambil melangkah menuju pintu belakang
"terima kasih banyak dek" sahut Zaida lirih.
bi Rugai hanya mengangguk kemudian keluar dari pintu belakang menuju rumahnya.
"Bang Yoga ngamuk lagi bu?" tanya Mimi anak sulung bi Rugai yang menunggunya di teras untuk mendapatkan info tentang ribut ribut barusan.
"kasian Dinda,dapet suami titisan dajj*l begitu" ucapnya lagi
"huust kamu ini,gk usah ikut campur urusan mereka,diam saja" sanggah bi Rugai
"hmmmmm" Mimi menyerucutkan bibirnya
"baru juga mau mulai ghibah" lirihnya pelan
__ADS_1