Jangan Lagi Menangis Mama

Jangan Lagi Menangis Mama
jadi kamu tidak mencintaiku??


__ADS_3

Dinda tergugu di kamar,,bahunya naik turun karena terisak isak,pilu sekali mendengarnya namun tidak bagi Yoga,jangankan iba,justru dirinya merasa risih dengan suara tangisan Dinda.


"berisik,apa sih yang lu tangisin?" Yoga bertanya dengan nada ketus,


Dinda hanya menoleh sesaat,kemudian melanjutkan lagi tangisannya,hatinya belum merasa lega meluapkan rasa sakit hatinya yang hanya bisa disalurkan dari tangisan.


"aaaah,,pusing gue,gak bisa tidur dengan tenang" teriak Yoga emosi lalu melangkah keluar kamar sambil membanting pintu.


Dinda tak bergeming,masih tetap dengan tangisannya,tangannya ******* ***** guling yang saat itu ada dipelukannya


"ibu" lirihnya pilu


***


Sementara di rumahnya,Yanti yang sedang duduk di depan televisi bersama Nuning ibunya,mendadak perasaannya menjadi tidak enak.


"kamu kenapa Yan?" tegur Nuning ketika melihat putrinya itu tampak gelisah.


"gak papa bu,cuma lagi kepikiran Dinda" jawabnya dengan tatapan kosong dan sendu


"baru sehari dia dirumah mertuanya,kamu doakan saja yang baik baik untuk anakmu itu Yan,jangan berpikir yang tidak tidak" Nuning meremas jemari Yanti,menguatkan hati putrinya itu.


"jangan karena pikiranmu terfokus pada Dinda,lalu kebutuhan anak anakmu yang lain kamu abaikan" sambungnya lagi


Dinda adalah anak kedua dari empat bersaudara, dia masih memiliki satu kakak laki laki yang saat ini sedang kuliah dan dua adik perempuan yang masing masing masih duduk di bangku SMA dan SD.


Dinda sangat dekat dengan abangnya Zul dan adik bungsunya yang bernama Rani,sementara dengan adik yang satunya Wulan,Dinda tidak terlalu dekat,mungkin karena usia mereka yang hanya terpaut 1,5 tahun saja,membuat mereka lebih sering bertengkarnya daripada akurnya.


Tatapan mata Yanti menerawang jauh,pikirannya tak juga tenang,seperti ada sesuatu yang sedang terjadi pada putrinya itu,dia bisa merasakannya,mungkin karena ikatan darah antara ibu dan anak sehingga membuatnya selalu terhubung secara batin dengan putra dan putrinya,jika ada suatu hal yang tidak baik sedang terjadi pada mereka maka Yanti pun juga akan ikut merasakan.

__ADS_1


"Dinda itu masih kecil bu, belum bisa apa apa dan belum mengerti apa apa,aku takut dia diperlakukan tidak baik oleh mertuanya" lirih Yanti


"itu hanya ketakutanmu saja Yan,karena belum terbiasa jauh dari anakmu"


"tidak bu,ini bukan sekedar dari rasa takut,tapi perasaanku betul betul tidak enak,aku takut terjadi sesuatu pada Dinda" sangkal Yanti


"Yanti,dengarkan ibu nak,Dinda itu sudah menikah,sudah memiliki kehidupannya sendiri,berikan dia waktu untuk belajar mandiri,Dinda sudah milik suaminya,kamu sudah tidak berhak lagi atas kehidupannya sekarang,yang perlu kamu lakukan hanya mendoakannya,sementara ini cukup lakukan itu saja"


"ingat,doa seorang ibu bisa menembus langit" sambung Nuning lagi


Yanti menatap sendu wajah ibunya,kedua netranya sudah basah oleh air mata,


Nuning meremas jemarinya,menyalurkan kekuatan untuk putri tercintanya itu,membuat Yanti menghambur ke dalam pelukan ibundanya tercinta,menumpahkan segala kegelisahan hatinya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.


"Ibu menangis?" suara Rani membuat tangisannya terhenti


"ibu kenapa menangis?" Rani dengan wajah polosnya kembali bertanya


"ibu kan dah gede,gak boleh cengeng" ucap bocah itu lagi


"kamu udah gede belum?" tanya Nuning mencairkan suasana


"sudah,makanya adek udah gak cengeng lagi" sahutnya dengan suara yang menggemaskan


Yanti mencium dan memeluk putrinya itu,


"iya ibu udah gak nangis lagi sekarang,tapi janji ya Rani gak boleh nakal" Yanti mencubit gemas hidung mancung putri bungsunya itu


"janji bu" teriak Rani dengan suara lantang sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membuat Nuning dan Yanti kembali tertawa melihat tingkahnya.

__ADS_1


***


Hari sudah beranjak malam,Dinda belum juga terlelap,dua matanya masih jelas menatap langit langit kamar,jemarinya pelan mengusap usap perutnya yang sudah terlihat membuncit itu,


'maafkan mama nak,mama pernah hampir membunuhmu,mama pernah melukaimu,mama berjanji mulai saat ini mama akan menjagamu,merawatmu dan memperjuangkan kehidupanmu' gumamnya lirih


"tidur lu,ngapain sih jam segini masih melek aja,besok harus bantuin ibu,nanti dimarahin lagi,koq gak kapok kapok" tajam kata kata Yoga membuat Dinda hati Dinda terasa perih,tak ada sedikitpun pembelaan dari suaminya ini untuknya.


"kak,apa kakak sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya nya dengan suara pelan hampir seperti bergumam


Yoga mendongak memperhatikan wajah istrinya itu


"sebelum terbukti itu anak siapa,tidak akan ada kata cinta,paham kamu?" Yoga membetulkan posisi tidurnya


"lalu kakak menikahi aku untuk apa?" tanya Dinda lagi,masih dengan suara pelan,entah apa yang membuatnya merasa takut jika berhadapan dengan Yoga,begitu takutnya hingga mengeluarkan suarapun seperti tidak berani,hal itu yang membuat Yoga menjadi besar kepala dan semakin menginjak injak harga dirinya.


Namun yang disadari Dinda saat ini ,Yoga adalah suaminya, Dinda selalu mengingat pesan ayahnya ketika malam akan menikah


"ingat nak,kamu adalah milik suamimu,pandai pandailah mengambil hatinya agar dia selalu menyayangimu dan ingat satu hal,sesulit apapun hidupmu,jangan pernah mencuri uang suamimu,terima berapapun yang dia berikan,hargai dia,jadilah istri yang penurut dan hormat pada suami dan kedua mertuamu seperti kau menghormati ibu dan ayahmu"


pesan dari Nurdin,ayahnya itu selalu terngiang ngiang di telinganya,Dinda memang selalu mematuhi perintah ayahnya,hanya saja lemah imannya dan rasa penasarannya membuat dia terjebak dalam pergaulan yang salah.


Dinda selama ini begitu pandai menyembunyikan perbuatannya,ajakan temannya selalu saja dituruti,seperti beberapa kali bolos sekolah hanya untuk nongkrong atau pergi malam hari dengan melompat dari jendela kamarnya,kelakuannya tidak pernah diketahui Yanti dan Nurdin,mereka percaya saja karena saat dirumh Dinda tetap belajar,sholat dan mengaji.


Yang paling fatal adalah gaya berpacarannya yang keluar batas,itu juga karena pengaruh Yoga yang sudah cukup dewasa dan berpengalaman dengan banyak wanita,sementara Dinda mengikuti saja karena kepolosan dan keluguannya,dan Yoga dengan jahatnya memanfaatkan itu sehingga membuat Dinda kehilangan masa depannya yang seharusnya masih panjang dan cerah.


"mau tau aku menikahimu untuk apa? biar aku gak dipenjara karena sudah menghamili kamu,paham?"


"jadi kakak udah gak cinta sama aku?" Dinda mulai menitikkan air mata

__ADS_1


"cinta? cih,anak itu pun belum tentu anak aku,dan ingat,jika memang terbukti itu bukan anak aku,kubikin kamu menyesal menyesal seumur hidup karena sudah menjebak aku,paham?!" Yoga menarik selimutnya dan berbalik memunggungi Dinda membuat hati Dinda serasa remuk tak lagi berbentuk.


'kejam sekali kamu kak' batinnya


__ADS_2