
"Ck,,kaya tidur bareng nenek nenek"
seketika Dinda yang baru akan terpejam membelalakkan kedua matanya,ada rasa panas menjalar di hatinya hingga terasa membuat panas kedua bola matanya.
Dinda berbalik memunggungi Yoga,tak terasa air matanya mengalir dari kedua sudut matanya,Dinda terisak pelan,namun Yoga seakan tak peduli,membiarkan istrinya begitu saja tenggelam dalam kesedihan.
"Ya Allah ampuni aku" lirih Dinda nyaris tanpa suara.
***
Gubrak,,
Dinda tersentak terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara gaduh diluar,,diliriknya jam yang tergantung di dinding kamar itu,matanya membulat sempurna saat melihat jarum jam menunjukkan pukul 7 lebih 15 menit,,pantasnya sudah terang,batinnya.
"Astaghfirullahal'adzim" gegas Dinda bangkit dan segera keluar kamar menuju dapur.
"waaah,,baru bangun tuan putri?" belum sampai di dapur,teriakan Zaida mengagetkannya
"ckckckck,,perempuan jam segini baru bangun,kecapek an?" sindir Zaida dengan senyum sinis
Dinda hanya diam sambil berusaha tersenyum,ingin menjawab tapi panggilan alam tak bisa ditolak,hasrat ingin buang air kecil begitu tak dapt ditahannya,,gegas Dinda berlari menuju kamar mandi.
"iiih,,orang tua lagi ngomong main ditinggal aja,selain pemalas,ternyata punya jiwa gak sopan juga" Zaida mengumpat sambil memperhatikan anak menantunya itu sampai menghilang di balik pintu kamar mandi.
"apa sih bu,pagi pagi udah ribut aja,bikin seret rezeki tau" Usman,ayah Yoga menegur istrinya dari ruang keluarga
"kalo sampe kita seret rezeki,tuh salahin penghuni baru rumah ini yang pemalas" Zaida mendelik ke arah Dinda yang baru keluar dari kamar mandi
Dinda yang mendengar ucapan Zaida hanya tersenyum,pura pura tidak mendengar apa apa.
"apa yang harus saya lakukan bu?" tanya Dinda dengan sopan.
Zaida menatap sinis ke arahnya
"banyak pekerjaan dirumah ini ya,gak perlu nanya harus ngapain,itu lantai belum disapu,belum di pel,baju baju belum dicuci,piring piring numpuk juga blm dicuci,bangun pagi makanya jadi bisa liat gimana keadaan rumah" Zaida mulai
mengomel pada Dinda
__ADS_1
"kasih tau pelan pelan aja bu,gak usah pake nada tinggi begitu" tegur Usman
"dibaikin nanti malah ngelunjak,lagian dia juga orang luar pak,ngapain pake dibaik baikin,numpang ya harus tau diri" jawaban Zaida terasa menusuk hati Dinda namun sekuat mungkin ditahannya laju air mata yang hampir keluar dari kedua pelupuk matanya.
"dia itu menantumu,istri anakmu,sama seperti anakmu juga Zaida,jangan bicara seperti itu"
"sudah,jangan dengarkan ibumu,sarapan saja dulu Din" Usman memberikan perintah pada Dinda.
Dinda menuruti perkataan Usman dan mulai sarapan sementara Zaida mencebik kesal,tak terima karena suaminya membela orang lain ,apalagi orang itu sama sekali tidak dia sukai.
Selesai sarapan Dinda memulai pekerjaannya,menyapu,mengepel,mencuci piring dan mencuci baju,beruntungnya mencuci baju menggunakan mesin cuci sehingga dirinya tidak sampai sangat kelelahan.
Dinda tersenyum lega melihat pekerjaannya yang telah selesai semua,
"habis nyuci Din?" sapa bi Rugai yang lewat di halaman belakang tempat Dimda menjemur baju
"iya bi" Dinda tersenyum manis
"jangan capek capek,kamu lagi hamil" seakan tau apa yang baru saja dilakukan Dinda dirumahnya
"justru karena hamil,jadi harus banyak gerak biar gak susah pas lahiran" tiba tiba Zaida muncul dari pintu dapur,bi Rugai hanya meliriknya saja,kemudian kembali menatap Dinda lembut,
"iya bi" Dinda mengangguk sambil tersenyum.
"sudah sarapan?" Dinda mengangguk pasti
"owh ya sudah,bibi lanjut ya mau belanja ke warung dulu.
"eh eh tunggu,sekalian ajak dia juga belanja,sekalian biar tau letak warung biar besok besok bisa pergi sendiri" Zaida mencegat langkah bi Rugai
"ayo Din" ajak bi Rugai
"sebentar bi" gegas Dinda berbalik dan masuk kerumah untuk mengembalikan ember yang tadi dipakainya,lalu keluar lagi menyusul bi Rugai
"nih duitnya" Zaida menyodorkan selembar uang berwarna biru pada Dinda
"mau beli apa aja bu?" tanya Dinda dengan suara pelan
__ADS_1
"beli sayur sama ikan" Dinda mengangguk paham dan berjalan mengimbangi langkah bi Rugai
"kamu yang sabar ya Din" suara bi Rugai memecahkan lamunan Dinda
"eh iya bi,Dinda gak papa koq" jawab Dinda berusaha menyembunyikan perasaan hatinya,namun bi Rugai seolah mengerti apa yang tengah dirasakan keponakan mantunya itu.
"Yoga belum bangun?" tanya bi Rugai disela sela langkah mereka
"belum bi" jawab Dinda sambil menggeleng pelan
"semoga aja dia bisa berubah setelah menikah" gumam bi Rugai pelan namun masih bisa terdengar oleh Dinda,Dinda tak menyauti lagi,tapi dalam hatinya berucap 'semoga saja'
Dinda tak lepas tersenyum dan menyapa orang orang yang mereka lewati sepanjang perjalanan menuju warung,,
"eh ada penganten baru" sapa seorang ibu ibu setelah Dinda dan bi Rugai sampai di warung,sudah ramai ibu ibu berada disana,sebagian sedang memilih sayuran sebagian lagi sibuk berghibah,kebiasaan ibu ibu di perkampungan kalo bertemu di warung.
"selamat pagi bu" sapa Dinda ramah sambil tersenyum manis.
"pagi juga,Zaida pasti enak enakan tuh dirumah,udah ada yang disuruh suruh sekarang" celetuk ibu ibu yang lain sambil tertawa
"hush kamu ini,ngomong asal aja" tegur ibu yang lain
"kalo mau ada yang disuruh suruh,ya kawininlah si Rudi anakmu,biar bisa nyantai kamu dirumah" sambung ibu yang lain lagi
"mana ada yang mau sama Rudi,pengangguran sejati begitu" ucap yang lain lagi dan mengundang tawa semua yang berada disana.
"lah si Yoga juga sama tuh,si Dinda mau mau aja,entah emang mau atau bego,ya gak Din?" Dinda hanya nyengir tak menanggapi ucapan yang sedikit menyinggung perasaannya itu.
"semua kembali lagi ke jodoh bu" bi Rugai membela Dinda,membuat semua yang ada disana bungkam dan sibuk dengan aktifitas merek sebelumnya.
setelah selesai dan membayar,bi Rugai dan Dinda berpamitan untuk duluan pulang.
"disini emang begitu Din,namanya juga di kampung" bi Rugai tertawa kecil
"iya bi,nanti juga pasti terbiasa" balas Dinda dan mendapat anggukan dari bi Rugai
"Dinda duluan bi" Dinda berpamitan saat sudah sampai di belakang rumah mertuanya.
__ADS_1
bi Rugai berlalu menuju kerumahnya yang letaknya persis di belakang rumah Zaida.
Dinda masuk dari pintu belakang,dan langsung menuju dapur kemudian menyusun semua belanjaannya ke dalam wadah masing masing,mencuci yang perlu dicuci dan menyimpan yang belum akan dipakai,meskipun harus celingak celinguk mencari tapi apa yang dicarinya,langsung didapatkannya.