
Langit yang pekat, malam selalu membuat dunia seolah tanpa batas, bintang, bulan dan lampu-lampu di penjuru kota berkolaborasi dan itu membuat Fito merasa lebih nyaman untuk sendiri menghabiskan waktu dan menikmati malam penuh bintang.
Fito menatap botol berisikan bunga lavender yang telah mengering. Ditatapnya botol itu dengan tatapan sendu penuh pengharapan. Iya, segala doa dan harapan Fito ada di dalam botol tersebut, sebuah cinta tersimpan disana.
Dimana dia? Lirih Fito berbisik.
Fito kembali mengadah menatap langit, seolah dia bertanya pada bulan dan bintang yang setia menemaninya. Namun, sekeras apa dia bersuara langit tak juga menjawab.
Angan Fito lalu kembali kemasa lalu, masa dimana dia bersama gadis yang di carinya selama ini.
13 tahun yang lalu
Bel pulang sekolah pun berbunyi, satu persatu para siswa mulai meninggalkan kelas masing-masing, tak terkecuali Fito dan Dara, kedua siswa itu pun meninggaljan sekolah bersamaan.
"Ra, kamu mau langsung pulang, gak?" tanya Fito tanpa ragu.
"Sebenarnya, sih, enggak. Tapi, aku gak ada tempat tujuan, Fit."
"Ikut aku, yuk!"
"Kemana, Fit?"
"Udah ikut aja, nanti kamu pasti suka."
Fito pun menggenggam tangan Dara dan membawanya berlari menuju suatu tempat yang sejak lama Fito ingin membawa Dara kesana. Dua remaja itupun berlari menerjang terik matahari siang itu. Sesampainya di sebuah perkebunan Fito mengajak Dara ke sebuah rumah kaca, Dara tampak bahagia kala itu, mata indahnya menatap hamparan luas bunga lavender.
"Indah banget, Fit," pekik Dara kegirangan.
"Kamu suka?"
"Suka banget, makasih, ya."
Dara menikmati aroma lavender, matanya tak sedikitpun berpaling pada bunga bunga berwarna ungu itu. Iya, lavender begitu canti secantik gadis bernama Dara Amira Fatiyah.
Fito menemani Dara mengelilingi rumah kaca itu, menikmati lavender dan menghirup wanginya. Fito, dia begitu menyayangi Dara, cinta pertamanya di bangku SMA.
*
__ADS_1
Para siswa menikmati pemandangan Candi Prambanan tak terkecuali dengan Fito dan Dara, sejoli itu begitu menikmati Prambanan. Diam-diam rasa sedih hinggap di hati dua sejoli itu. Iya mereka bersedih karena perjalanan wisata ini merupakan wisata perpisahan untuk para siswa, dan setelah ini dunia perkuliahan menanti mereka. Fito begitu resah, karena dalam hitungan hari dia akan meninggalkan pujaan hatinya ke Singapur, dan LDR pun segera tercipta. Sesungguhnya Fito tak ingin pergi meninggalkan Dara seorang diri, dan sampai detik ini pun Fito juga masih belum mengatakan rencananya tersebut pada Dara.
Fito tak ingin membuat dara bersedih dan Fito juga tak ingin membuat dara ragu akan jarak dan perpisahan mereka nantinya. Tapi Fito menyadari bahwa cepat atau lambat dirinya harus menceritakan semua itu pada Dara.
Langit tak lagi terang, warna jingga kini datang menghias cakrawala. Para siswa meninggalkan Prambanan dengan beragam cerita dan kenangan masing-masing.
"Kapan-kapa kita balik lagi kesini, ya, Fit."
Fito hanya menggangguk dengan sambil tersenyum, bibirnya ingin berkata tapi seolah terkunci rapat.
"Ra, kamu jadi kuliah di Bandung?"
Akhirnya kali ini Fito bertekad untuk mengatakan rencana kepergiannya pada Dara.
"Jadi. Kita ke Bandung sama-sama, kan, Fit?"
"Ra, misalnya aku enggak jadi ke Bandung, kamu gak'papa, kan?"
"Maksud kamu, Fit?"
"Jadi, kita bakal LDR?"
"Aku janji, aku kan pulang setiap libur semester. Kamu mau nunggu aku, kan, Ra?"
"Fit, kamu tau aku enggak suka LDR. LDR cuma buang-buang waktu, Fit."
Fito pun berusaha keras meyakinkan Dara bahwa dia akan tetap setia. Perlahan Fito berbicara pada gadis yang di cintainya, dan akhirnya Dara luluh untuk melepas Fito, LDR pun semakin dekat pada mereka. Senja itu Fito berjanji pada Dara akan kembali membawa gadis itu ke rumah kaca lavender.
*
Hari keberangkatan Fito pun semakin dekat, dua sejoli itu seperti enggan untuk berpisah. Sore itu langit tampak mendung, Fito dan Dara baru saja beranjak dari rumah kaca lavender. Tak lama setitik air membasahi mereka dan kemudian hujan pun turun dengan derasnya.
Fito menggenggam tangan Dara dan membawa gadis itu menerjang hujan yang semakin deras. Tak jauh dari situ terdapat sebuah villa milik keluarga Fito. Fito membawa Dara ketempat itu.
"Kita neduh disini dulu, ya, Ra. Maaf sudah membuatmu kehujanan. Suatu hari aku enggak akan lagi membuatmu kehujanan seperti ini."
"Gak'papa, Fit. Ini hari terakhir kita, dan ini kenangan kita sebelum kita terpisah."
__ADS_1
"Kita enggak benar-benar terpisah, Ra."
Kemudian hening tercipta. Fito merasa kesal ketika Dara mengucapkan perpisahan. Iya, mereka memang akan berpisah, tapi cinta mereka tidak terpisah. Hanya jarak yang memisahkan keduanya, dan demi masa depan yang indah maka kepahitan harus di rasa.
"Aku sayang sama kamu, Ra, aku pasti pulang dan mencari kamu lagi."
Seolah enggan untuk berpisah, Dara memeluk Fito dengan begitu erat. Fito pun membalas pelukan Dara, kemudian pelukan itu berubah menjadi sebuah tuntutan.
Hujan menjadi saksi, petir pun menggelegar, langit seolah mengamuk menyaksikan sejoli itu menciptakan sebuah dosa, dosa yang meninggalkan jejak setelahnya, dosa yang meninggalkan bekas setelahnya.
Dara menangis setelahnya, entah tangisan apa yang ia ciptakan kini. Entah penyesalan, entah takut, dan entah bahagia. Dia hanya mampu menangis dan menyesali perbuatan bodohnya.
"Jangan takut, Ra, aku akan tanggung jawab. Aku enggak akan ninggalin kamu," ucap Fito menenangkan.
"Tapi aku...."
"Enggak ada kata tapi, Dara. Semua sudah terjadi, dan aku tidak akan melepaskan semuanya. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku."
Dara sedikit lebih tenang, entah mengapa dia teramat tenang, mungkin ia menikmati semuanya, kenikmatan dunia sesaat dan dosa yang telah diciptakannya.
*
Dara melepas Fito di bandara, dan sebelum pria itu benar-benar melangkah pergi, Fito memberikan botol kecil berisi hiasan bunga lavender. Botol biru milik Fito dan botol ungu milik Dara, cinta mereka berlambang bunga lavender.
"Simpan botol ini baik-baik, ya, Ra. Ini adalah lambang cinta kita. Kalau aku sudah sukses nanti akan kubuatkan kamu rumah kaca lavender yang besar."
"Aku enggak butuh itu, Fit. Aku cuma butuh kesetiaanmu."
"Pegang janjiku, Ra. Hanya kamu, dan untukmu aku kembali."
Perpisahan tak lagi dapat di hindari, kini tiba saatnya Fito melangkah pergi menggapai impiannya. Singapur dan Jakarta, betapa waktu begitu tega menghadang.
Dara menatap punggung Fito hingga pria itu menghilang dan tak terlihat lagi. Air matanya kini menetes tanpa mampu untuk berhenti. Dara, hatinya begitu takut kehilangan, tapi dia menguatkan hatinya bahwa Fito akan kembali hanya untuknya.
Dan kini tiba waktunya untuk menggapai impian masing-masing dengan LDR dan cinta yang menjadi semangat keduanya.
T.B.C
__ADS_1