
Fito sudah berada di perkarangan rumah Dara, dengan wajah yang berseri dia melangkahkan kakinya turun dari mobil Ford berwarna merah. Fira langsung memekik kegirangan ketika netranya menangkap Fito yang berjalan dengan begitu gagah.
"Wih, Om Fito kren banget!" ujar Fira memuji.
"Iya, dong, siapa dulu? Om nya Fira,"
Mereka pun melakukan tos tanda kekompakan. Selanjutnya Fira mengajak Fito untuk menemui Dara. Di hadapan Dara, Fito memberikan sebuah kunci mobil.
"Nih."
Dara mengambil kunci tersebut dan meletakkannya di atas nakas.
"Loh, kok ditaruh di sini?"
"Lah, terus mau dimana?" tanya Dara bingung.
"Hemm...." Fito merangkul Dara lalu mengajaknya menuju mobil itu terparkir.
"Mobil baru?" tanya Dara datar.
"Mobil kamu 'gak bisa diperbaiki. Sebagai gantinya aku berikan ini untukmu."
__ADS_1
"Fit, aku gak bisa nerima ini. Ini terlalu berlebihan, Fito."
"Apanya yang berlebihan? Enggak ada yang berlebihan, Ra. Udah, yuk, coba mobilnya!"
Dara tampak ragu, ditatapnya Fito sekali lagi. Namun, Fito malah membukakan pintu sambil memberikan isyarat agar Dara masuk dan mencoba hadiah dari Fito.
"Ma, bagaimana kalau kita jalan-jalan aja?" usul Fira.
"Ide bagus itu," timpal Fito semangat.
"Sepertinya Mama enggak diizinkan untuk memilih, nih?" tanya Dara putus asa ketika sadar anaknya telah menjadi sekutu Fito.
...💞...
Ditengah kebahagiannya dekat dengan Dara, Fito kembali mendapatkan kerikil dalam hidupnya. Kerikil itu adalah Prita. Prita kembali datang dan memohon agar Fito memaafkannya. Namun, Fito menolak dengan tegas. Fito enggan untuk memulai kembali dengan Prita karena sedari awal hatinya hanya untuk Dara dan selalu ada Dara.
"Aku janji, aku akan menjadi istri yang baik, Fit. Aku akan melayanimu dengan sungguh-sungguh."
"Lupakan, Prit. Aku akan tetap menceraikanmu."
"Fit, tapi aku menyesali semua kesalahanku, dan aku sungguh-sungguh, Fit."
__ADS_1
"Terimakasih tentang kesungguhanmu. Tapi, maaf. Kita tidak bisa lagi untuk bersama. Kesalahanmu terlalu fatal, dan aku pantang memakan sisa orang lain."
"Kamu tidak bisa seenakmu, Fit...."
"Seenakku katamu? Siapa yang berselingkuh di antara kita? Siapa yang menodai janji suci pernikahan? Aku? Apakah aku? Harusnya kamu sadar diri, dengan siapa kamu pergi dan dengan siapa kamu tidur, padahal setatusmu masih istriku. Apakah salah jika aku menolak untuk rujuk? Tidak, aku tidak salah. Sekarang kamu datang dan memohon pengampunanku. Dulu, saat kamu bersama pria itu, apakah kamu pernah memikirkan aku? Tidak pernah, Prita!"
"Fit, izinkan aku untuk menjadi istri yang baik, Fit."
"Kamu bukan takut untuk menjadi janda. Tapi, kamu takut menjadi miskin. Tenang! Aku akan membantu biaya hidupmu selama kamu belum mendapatkan penggantiku."
"Fit!..."
"Maaf, aku masih banyak kerjaan, bisa kamu pergi sekarang?!"
"Tapi, Fit...."
"Diyah, tolong bawa Ibu Prita keluar dari ruangan saya!"
Fito begitu murka. Sebenarnya dia tidak tega terhadap Prita. Tapi, Prita telah menghancurkan semuanya, termaksud pengharapannya untuk memiliki seorang anak.
Fito begitu prustasi, dan bersamaan itu pula ponsel Fito berdering. Wajah yang penuh kemarahan itu dengan seketika berubah mencair. Ya, Fito tampak bahagia ketika nama Dara tertera di layar ponselnya.
__ADS_1