
Part 6
Fito melempar lembaran foto di hadapan Prita. Prita yang tersudut tak banyak bicara. Wajahnya merah padam, dia hanya mampu menunduk tanpa mampu menatap Fito.
"Jawab aku, apa ini yang kamu bilang kerja, hah?!"
"Sekarang apa maumu?" tanya Prita dengan sedikit meninggi.
"Kamu bertanya apa mauku? Kamu harusnya sadar, Prita. Yang harusnya bertanya itu aku, bukan kamu!" Sengit Fito.
"Aku jenuh, Fit. Aku ingin bebas."
"Oke, kalau itu maumu. Aku akan talak kamu sekarang juga. Tapi ingat! Kamu tidak mendapatkan apa-apa dariku, karena aku tidak memiliki anak darimu."
"Loh, enggak bisa begitu, dong. Harta harus di bagi dua."
"Oke, kita bagi dua. Sekarang kamu jawab pertanyaan aku. Selama lima tahun kamu menjadi istriku dan menyandang gelar nyonya Fito, apakah kamu pernah memperlakukan aku sebagai seorang suami? Apakah kamu pernah merawatku saat aku sakit, dan apakah kamu pernah sekedar memberikanku air putih untuk menyambutku pulang? Enggak, kan? Terus dengan enteng kamu minta harta bagi dua? Sungguh gila. Gila, benar-benar gila kamu, Prita!"
Terjadi pertengkaran sengit antara Prita dan Fito. Sebenarnya Fito sudah mengetahui perselingkuhan istrinya. Namun, baru sekarang dia membeberkan semuanya, saat dirinya mendapati Prita seranjang dengan pria lain.
Malam itu Fito begitu marah dengan Prita, untuk menenangkan amarahnya, Fito menyambar kunci mobil dan meninggalkan kediamannya yang megah. Entah kemana Fito akan pergi, dia hanya mengikuti kemana arus memberhentikannya kemudian.
...💞...
Hujan begitu deras, Dara menatap jendela dari sudut ruang tamu yang tidak terlalu besar itu.
"Mama nunggu siapa, sih?" tanya Fira penasaran.
"Mama enggak nunggu siapa-siapa, kok, Nak."
Fira lalu menghampiri Dara, ibu dan anak itu sama-sama menatap jendela dan menikmati hujan yang begitu deras.
"Loh, itu, kan mobilnya Om Fito." Tunjuk Fira.
Dara yang melamun, kini tersadar bahwa mobil itu sudah cukup lama terhenti di depan rumahnya. Buru-buru Dara meraih payung, dan menghampiri mobil sport yang bertengger di depan rumahnya. Dara mengetuk kaca mobil yang tertutup rapat, kemudian seseorang membuka kaca mobil tersebut.
"Apa aku boleh mampir?"
Melihat wajah Fito yang pucat, Dara begitu iba, timbul pertanyaan di benak Dara.
"Kamu kedinginan, masuk lah, aku buatkan teh madu untuk menghangatkan."
Fito lalu keluar dari dalam mobil dengan sigap Dara mengarahkan payung pada Fito. Kini, meraka berada di bawah satu payung yang sama dengan Fito merangkul tubuh Dara tanpa penolakan sedikitpun.
"Masuk," ucap Dara pada Fito ketika mereka sudah berada di depan rumah.
"Suami kamu, ada?" tanya Fito penuh selidik.
Dara tidak menjawab, dia memilih meninggalkan Fito yang sudah duduk di ruang tamu.
"Om Fito...," ujar Fira girang.
__ADS_1
"Eh, anak cengeng." Goda Fito jahil.
"Ihh, Fira, gak cengeng, Om."
Fito lalu mengacak rambut Fira gemas. Sementara dari balik dinding dapur, Dara merasakan degupan jantungnya yang maha dahsyat. Tak lama teh madu pun siap untuk ia sajikan di hadapan Fito.
"Fir, sudah jam delapan. Ayo bereskan buku-bukumu, habis itu lekas tidur, ya."
"Yah, Mama, enggak asik, nih."
"Sudah malam, ayo, tidur sana," ucap Fito halus pada Fira.
Gadis remaja itu kemudia beranjak dengan berat hati. Iya, Fira masih ingin berlama-lama dengan Fito. Berada di dekat Fito membuat Fira merasa nyaman.
...💞...
Fito terus menatap cangkir yang ada di hadapannya. Tatapannya sendu seolah beban berat menghinggapinya.
"Kamu kenapa, Fit?"
Fito tersentak dengan pertanyaan Dara, sejenak kemudian dia menghembuskan napasnya dengan berat.
"Aku harus bagaimana, Ra?"
"Bagaimana apanya?" tanya Dara bingung.
Fito lalu mengeluarkan selembar foto dari sakunya dan menyerahkannya pada Dara. Dara yang melihat foto tersebut merasa kasihan, Dara tahu bahwa wanita itu adalah istri Fito.
"Sebenarnya aku tahu kalau istriku bermain di belakangku. Tapi, aku tidak mengira bahwa perselingkuhannya sudah sejauh itu...."
"Kalau kamu ada di posisiku, apa yang kamu lakukan, Ra?"
"Aku akan bertahan, dan berusaha memaafkan."
"Tapi aku gak mau memakai barang yang sama dengan orang lain. Pantang bagiku untuk berbagi, Ra."
Dara memilih untuk diam. Andaikan dirinya berada di posisi Fito, mungkin Dara akan memilih perceraian. Karena pantang untuk memakan sisa orang lain. Saat sedang asik mendengarkan cerita Fito, tiba-tiba Dara mendengar sesuatu dari arah Fito. Sontak Dara bertanya...,
"Kamu belum makan?" tanya Dara iba.
Fito hanya menggelenkan kepala sambil memegangi perutnya yang berbunyi merdu. Cacing-cacing di perut Fito sudah berdemo, menuntut hak untuk segera di isi. Dara segera bangkit dari duduknya, menyiapkan menu yang masih tersisa di meja makan.
"Ayo makan dulu, kebetulan masih ada lauk. Enggak apa-apa, kan kalau makan ini?" tanya Dara khawatir.
Fito yang melihat udang balado dan setengah piring cap cay pun langsung tergiur. Pria itu pun duduk di kursi meja makan, dengan sigap Dara meletakkan sepiring nasi di hadapan Fito.
Apa seperti ini cara istri melayani seorang suami? Tanya Fito dalam batinnya.
"Makan yang banyak," ucap Dara.
"Kamu enggak ikutan makan?" tanya Fito.
__ADS_1
"Aku sudah makan dengan Fira."
Selanjutnya hanya hening yang tercipta. Fito menikmati hidangan yang di sugukan Dara. Sementara Dara menikmati Fito yang melahap masakannya.
"Suami kamu pasi betah punya istri yang jago masak kaya kamu, Ra."
"Hah?"
"Iya, suami kamu pasti sering muji masakan kamu. Masakanmu enak, Ra. Kapan-kapan aku boleh nyicipin masakan kamu lagi, gak?"
"Kalau kamu sudah selesai makannya, cepat lah pulang. Ini sudah malam, Fit."
Tak tahu harus menjawab apa, bibir Dara hanya mampu untuk menyuruh Fito untuk pulang. Padahal sejatinya Dara masih ingin berada di dekat Fito, Dara takut membiarkan Fito seorang diri. Karena saat ini Fito sedang kalut karena rumah tangganya di ujung tanduk.
...💞...
Hujan tak lagi turun, tapi mengapa air mata masih saja mengalir? Entah apa yang di pikirkan Dara, malam itu setelah kepergian Fito, dirinya begitu sedih yang tak tertahan. Hanya bayang Fito yang menguasai tanpa mau pergi.
Sebenarnya Dara ingin menghubungi Fito, sekedar bertanya apakah Fito sudah berada di rumah atau belum. Berkali-kali kalimat tanya ia ketikkan. Namun, Dara belum mengizinkan kalimat itu sampai di ponsel Fito. Dalam tanya yang beradu dengan kesedihan, tiba-tiba ponsel Dara berdering. Nama Fito tertera di layarnya. Tanpa menunggu lama, Dara langsung menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Hallo," sapa Dara.
"Kamu belum tidur?"
"Kamu udah di rumah?"
"Ternyata kamu mencemaskan aku, Ra?"
"Aku enggak bisa tidur. Aku takut sesuatu terjadi. Pikiranmu sedang kacau, Fit."
Fito tertawa renyah. Ada rasa bahagia ketika Dara mengutarakan perasaannya.
"Mulai besok, saat aku mulai membuka mata, aku akan nengirimkan pesan untukmu, agar kamu tidak khawatir lagi."
"Dasar Fito aneh," ledek Dara.
"Tidurlah, aku akan menemanimu, Ra."
"Menemani?" tanya Dara bingung.
"Iya, teleponnya jangan di matikan, aku ingin menemanimu tidur, Ra. Karena kamu takut gelap."
"Kamu masih ingat semuanya?" tanya Dara lirih.
"Tidak ada yang aku lupakan sedikit pun tentangmu, Dara."
Dara tersenyum bahagia, dan sejurus kemudian, air matanya jatuh perlahan. Dara merasa bersalah karena Dara pernah berpikir bahwa Fito melupakan dirinya dan kenangan mereka.
T. B. C
#Najmubooks
__ADS_1
#Festivalliterasi
#PraAPNB2021