Janji Sebuah Lavender

Janji Sebuah Lavender
Reuni tak Terduga


__ADS_3

Part 2


Hiruk pikuk Kota Jakarta sungguh sangat melelahkan. Kendaraan pun saling berpacu, bunyi klakson dan polusi tak terelakkan. Fito asik menikmati itu semua dari ruang kerjanya yang berada di lantai tiga. Tiba-tiba lamunan Fito di buyarkan oleh dering telepon dari receptionis.


"Ya?" tanya Fito dari sabungan telepon.


"Siang, Pak. Ada telepon dari Bu Prita, boleh saya sambungkan?" tanya receptionis itu sopan.


"Ya."


Tak lama telepon pun tersambung dengan Prita. Tampak aroma tak bersahabat dari wajah Fito saat wanita itu mengganggu aktivitasnya.


"Fit, siang ini aku berangkat, ya. Oh iya, selama aku disana kamu jangan hubungin aku, karena aku kerja bukan jalan-jalan. Ya udah, gitu aja, ya. Bye."


Tanpa menunggu jawaban dari Fito, Prita langsung mematikan teleponnya, dan Fito sudah paham dengan sifat wanita yang selama lima tahun menjadi istrinya itu. Iya, Prita adalah istri Fito, istri yang tidak pernah di cintai sedikit pun, dan istri yang tidak pernah mencintai Fito sedikit pun. Rumah tangga Fito sangat hambar, Prita tidak pernah melayani Fito layaknya istri melayani suami, kecuali urusan ranjang.


Fito mendambakan seorang anak. Namun, Prita enggan. Dengan terang-terangan Prita menolak permintaan Fito, dan Prita pun tidak pernah lupa untuk menggunakan KB. Fito mulai bosan, dan entah dengan Prita.


Dari supir Prita, Fito sering mendengar bahwa Prita berkencan dengan pria lain. Namun, Fito enggan untuk bertanya, dia memilih untuk mengumpulkan bukti terlebih dahulu. Dan Fito tahu dengan pria mana istrinya itu pergi.


...💞...


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya Fito untuk meninggalkan kantor dan kembali ke rumah yang terasa dingin dan sepi. Sebenarnya Fito enggan untuk pulang karena tak ada siapa pun yang akan menyambutnya pulang. Tidak ada istri, apalagi anak. Hanya Mbak Mirah yang setia menyambutnya pulang, menyiapkannya minum, dan memasak untuk Fito. Terkadang Fito ingin merasakan masakan Prita, jangankan memasak, membedakan mana jaha dan lengkuas pun Prita tak tahu. Namun, sedingin apa pun rumah Fito, tetapi pria itu merasa nyaman, karena Fito meletakkan banyak bunga lavender di halaman rumahnya. Lavender, mengingatkan dia pada seorang gadis yang begitu di rindukan.


"Sudah pulang, Pak?"


"Iya, Mbak."


"Mau langsung makan atau istirahat dulu, Pak?"


"Nanti aja, Mbak, saya istirahat dulu."


"Baik, Pak. Nanti kalau mau makan bilang saya saja, biar saya panaskan lauknya."


"Mbak istirahat aja, biar saya panasin sendiri nanti."


"Baik, saya permisi dulu, Pak."


Fito pun mengangguk ramah pada asisten rumah tangganya itu, dan selanjutnya langkah tegapnya membawa Fito pada perkarangan luas yang terdapat bunga lavender.

__ADS_1


Dimana kamu pemilik hatiku? Lirih Fito.


Dret...dret...


Ponsel Fito bergetar, segera di raih ponsel yang terletak di sakunya. Dari Diyah ternyata. Sekertaris Fito yang memberitahukan bahwa besok sekertaris Pak Arya akan datang menyerahkan laporan kerja sama yang telah Fito dan Pak Arya sepakati.


"Suruh datang jam 10," balas Fito pada Diyah.


Usai membalas pesan sekretarisnya itu, Fito kembali pada lavendernya, bunga yang berarti untuknya, bunga yang menyimpan banyak kenangan untuknya. Senja itu sama seperti senja sebelumnya, hanya menatap lavender bertemankan sepi dan rindu yang kian memuncak.


...💞...


Langit kembali terang, Fito masih membaringkan tubuhnya tanpa mau untuk beranjak. Dia begitu lelah, tapi aktivitas menantinya dengan segera. Di lirik jam yang bertengger di dinding kamarnya jam menunjukkan pukul 06.35 WIB. Fito duduk di tepi ranjang, menatap jendela dan menyapa sang surya.


Selamat pagi cintaku, semoga kamu selalu bahagia di atas segala rinduku. Bisik Fito dengan senyum getir.


Setelah menyapa rindunya, Fito memilih berolahraga sejenak. Rutinitas rutin sebelum ia berangkat ke kantor.


"Pagi, Pak Fito. Hari ini mau sarapan apa, Pak?


"Nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang, Mbak Mir."


"Baik, Pak."


...💞...


Tak terasa waktu terus berputar, dan tiba waktunya untuk bersiap menuju aktivitas yang sesungguhnya. Fito melajukan mobil sport itu menuju Jalan Gatot Soebroto. Dan sial, ternyata lalu lintas masih padat merayap, dan Fito terjebak di sebuah kemacetan panjang. Dalam sebuah kemacetan tiba-tiba ponsel Fito berdering, tertera nama Diyah pada layar ponselnya.


"Pagi, Pak. Maaf, Ibu Amira, sekretaris Pak Arya sudah di tempat, Pak."


"Tunggu sebentar, Dy. Saya sedang terjebak macet."


"Baik, Pak."


Fito pun mematikan teleponnya, dia menatap arlogi di tangan kirinya. Waktu masih menunjukkan pukul 09.25 WIB.


Loh, katanya jam sepuluh? Baru jam segini, kok udah datang?


Fito kembali meraih ponselnya untuk menanyakan kepada sekeretarisnya. Namun, saat ingin menghubungi Diyah, kendaraan itu satu persatu mulai beranjak perlahan, dan Fito pun melajukan mobilnya dengan segera. Beruntung jarak kantor Fito lumayan dekat, kurang dari dua puluh menit pria gagah itu sudah tiba dan segera memasuki kantornya dengan tergesa. 

__ADS_1


"Dy, katanya jam sepuluh? Ini belum jam sepuluh, loh?" tanya Fito dengan tatapan selidik pada sekretarisnya itu.


"Beliau datang lebih awal, Pak. Karena takut terjebak macet."


"Ya, sudah. Dimana orangnya?"


"Sudah di ruangan, Pak."


Fito pun segera menuju ruang kerjanya, di sana sudah menggu seorang wanita yang duduk dengan begitu anggun.


"Selamat pagi, Bu Amira, maaf, sa...."


Fito terkejut ketika wanita itu melihat kearahnya.


"Fito?" Dara pun tak kalah terkejut. Baik Dara mau pun Fito, keduanya tidak ada yang mampu menduga bahwa mereka kembali di pertemukan.


Fito duduk di samping wanita itu, wanita yang di cintai dengan segenap hati, wanita yang di inginkannya dengan begitu sangat yang menggebu.


"Kenapa kamu menghilang? Bagaimana kabarmu? Apa kamu hidup dengan bahagia?"


Ternyata feelingku tepat. Dia, dia pria yang aku cintai, pria yang aku tunggu dengan segenap hatiku.  Gumam batin Dara sedih.


"Maaf, Pak Fito, saya datang kesini untuk mengantarkan perjanjian kerja sama perusahaan kami dengan prusahaan Bapak," tutur Dara dingin.


Fito tak bergeming sedikitpun, dia masih asik menatap wanita itu dengan sangat lekat. Fito seolah ingin menghentikan waktu, menuntaskan rindunya pada Dara yang begitu di cintainya.


"Jawab aku! kenapa kamu menghilang, mematahkan semua pengharapanku?"


Aku menghilang, karena aku tidak ingin mengganggu studymu di saat engkau menitipkan benihmu di rahimku. Gumam Dara sedih.


"Maaf, Pak Fito. Masa lalu kita sudah berakhir," ucap Dara sambil melirik cincin yang bertengger di jari manis Fito. Begitupun Fito, dia pun juga melihat cincin di jari manis Dara.


"Baik kalau begitu. Sebagai teman lama, boleh kita reuni sebentar? Ya, anggap saja reuni kecil-kecilan. Karena waktu kita sangat panjang untuk perencanaan ulang proyek yang akan kita bangun," ucap Fito beralasan.


Dan ternyata Fito berhasil menahan Dara sedikit lebih lama untuk berada di dekatnya. Dan Fito sangat fokus membicarakan proyek yang akan dia kerjakan. Namun, tidak dengan Dara, dia begitu sibuk memperhatikan Fito, rindunya, cintanya ada di depan mata. Sejujurnya Dara ingin memeluk Fito, namun sekuat hati dia menahan rasanya, menahan rindunya karena Fito telah berdua.


T. B. C


#Festifalliterasi

__ADS_1


#PraAPNB2021


#najmubooks


__ADS_2