
Part 4
Fito terus mendekati Arya, rekan bisnisnya. Dari Arya, Fito mendapatkan info penting tentang Dara. Dan sejak saat itu Fito terus saja memperhatikan Dara dengan caranya.
Seperti siang ini, Fito sudah berada di cafe yang terletak satu gedung dengan perusahaan milik Arya. Di raihnya ponsel yang ia letakkan di atas meja, kemudian jemarinya mulai mengetikkan sebuah kalimat dan kemudian dia kirimkan ke nomer yang dia tuju.
Fito masih terus menatap ponselnya, menantikan balasan pesan dari seseorang yang begitu dia harapkan kehadirannya. Lima menit, duapuluh menit, bahkan tigapuluh menit, Fito masih tidak mendapatkan balasan. Fito lalu memilih untuk menghubungi orang tersebut melalui sambungan telepon, dan orang tersebut menolak panggilan Fito.
Rasa penasaran semakin menggelayut, dengan akal yang sangat panjang akhirnya Fito menghubungi nomer telepon kantor Arya dan telepon itu langsung tertuju pada Dara.
"Kenapa gak angkat telepon aku, sih, Ra?" tanya Fito ketika telepon itu mulai tersambung.
"Maaf, saya sedang bekerja, Pak Fito."
"Ini udah jam duabelas, Dara Sayang. Emang kamu gak makan siang?"
"Enggak! Maaf, kalau tidak ada...." Belum selesai Dara melanjutkan kalimatnya, Fito segera memotong pembicaraan Dara.
"Turun sekarang, atau aku yang ke atas?"
"Fit, aku gak mungkin nemuin kamu. Kisah kita udah berakhir, Fito!"
"Kenapa? Apanya yang gak mungkin? Turun sekarang, atau aku akan berteriak dan bilang kesemua orang kalau...."
"Kamu gila, Fito!"
"Kamu yang membuatku gila, kamu yang membuat aku sekarat dan hampir mati, Dara!"
"Kamu dimana?"
"Cafe, dekat loby."
"Tunggu aku disana!"
Fito lalu tersenyum puas, dirinya berhasil membujuk Dara turun untuk menemuinya. Dan tidak lama wanita itu pun benar-benar datang menemui Fito.
Sedangkan Dara, dia terkejut ketika semangkok soto dan segelas lemon tea telah tersaji di meja itu. Fito, dia masih sangat hapal menu favorit Dara.
__ADS_1
"Duduk! jangan ngelamun aja."
"Ada perlu apa?"
"Makan dulu, biar ngobrolnya konsen."
Dengan hati-hati, Dara duduk tepat di hadapan Fito. Dara tidak berani untuk menatap, dirinya hanya mampu menunduk menyembunyikan perasaannya yang kian membuncah.
"Aaa... Buka mulutmu." Fito menyodorkan sesendok nasi kehadapan Dara.
"Apa-apaan, sih, kamu, Fit?"
"Mangkanya makan."
Dara menggambil sendok miliknya dari tangan Fito. Namun, Fito enggan memberikan. Fito memaksa menyuapkan nasi kedalam mulut Dara. Dan setelah berdebat sebentar akhirnya Dara membuka mulutnya.
...💞...
Fito menatap Dara yang sedang menikmati makan siangnya, sesekali mata mereka saling beradu. Dara berusaha bersikap wajar dan dingin, walau kenyataannya Dara menghangat. Tidak dengan Fito, dia begitu menikmati setiap detik kebersamaan dirinya dengan Dara.
"Sebenarnya kamu mau apa, Fit?" tanya Dara.
"Kabarku baik, seperti yang kamu liat," jawab Dara datar.
"Terus?" tanya Fito penasaran.
"Ngomong-ngonong anakmu sudah berapa, Fit?" tanya Dara mengalihkan pembicaraan.
"Hemm...." Fito gusar.
"Kenapa? Apa aku gak boleh tau?"
"Bukan, Ra. Istriku menolak untuk memiliki anak. Dia tidak mau hamil dan menyusui. Dia bilang payudaranya akan kendur kalau dia menyusui. Usia pernikahanku sudah lima tahun, dan aku belum pernah merasakan rasanya menjadi suami yang sesungguhnya."
Dara mendengarkan cerita Fito dengan seksama. Diam-diam Dara merasa iba pada pria yang memberikan banyak kenangan untuknya itu.
Dengan istrimu, kamu tidak memiliki anak. Tapi, denganku kamu memilikinya. Gumam Dara sedih.
__ADS_1
"Oh iya, berapa usia anakmu, Ra?"
"Enambelas," jawab Dara tanpa pikir panjang.
"Enambelas? Berarti kamu menghilang lalu kamu menikah?"
Dara tersadar dengan ucapan Fito yang mulai menyelidik, buru-buru Dara mencari alasan untuk meralat omongannya. Dan bersamaan itu pula ponsel Dara berbunyi. Sekilas Fito melihat walpaper pada ponsel Dara, foto seorang gadis kecil yang tak asing di ingatan Fito.
Seprtinya aku pernah melihat wajah itu, tapi dimana? Gumam Fito.
"Fit, maaf, aku harus naik ke atas. Trimakasih untuk makan siangnya."
"Kapan-kapan temani aku ngobrol lagi, ya."
Dara tersenyum tanpa arti, kemudian gadis itu pun pergi meninggalkan Fito seorang diri.
...💞...
Waktu terus berputar, dan hari pun terus berganti. Fito masih terus mencari alasan untuk dekat dengan Dara. Masih banyak tanya di benak Fito dan Dara masih sulit untuk di telisik. Dari pertemuan ke duanya dengan Fito, Dara lebih berhati-hati saat menjawab pertanyaan Fito, tak jarang dia menggantung tanya Fito tanpa mau untuk menjawabnya.
Siang itu Fito merasa jenuh menghabiskan weekend hanya berdiam diri di rumah dengan setumpuk kenangan yang membuatnya sepi. Akhirnya Fito memutuskan untuk mencari sebuah buku di gramedia. Netra Fito asik menatap barisan buku yang tersusun rapih. Namun, netranya menatap seorang gadis yang asik membaca sebuah buku tebal di genggamannya. Fito merasa mengenal sosok itu, sosok yang begitu dia cintai. Iya, gadis itu begitu mirip dengan Dara saat Dara berada di bangku SMA, dan kemudian Fito teringat walpaper ponsel Dara. Tanpa ragu, Fito pun mendekati gadis remaja itu.
"Permisi, Dek. Pengemarnya Tere Liye, ya?" tanya Fito basa basi.
Fira mendongakkan wajahnya seketika. Di tatapnya wajah pria yang ada di hadapannya, kemudian dia tampak berpikir keras.
"Maaf, Om siapa, ya? Kayanya Fira pernah liat Om, tapi dimana, ya?"
"Kenalin, nama Om, Fito. Dulu, om satu sekolah dengan seorang wanita cantik bernama Dara Amira Fatiyah. "
"Ohh, pantes. Iya, Fira baru ingat, Fira ngeliat Om di album sekolahnya Mama."
Fira dan Fito, mereka begitu akrab seolah mereka pernah bertemu sebelumnya. Fira banyak bercerita, itu adalah kesempatan Fito untuk mencari tahu lebih dalam tentang Dara.
T. B. C
#Festifalliterasi
__ADS_1
#PraAPNB2021
#najmubooks