
Part 7
Burung-burung bernyanyi merdu, matahari mengintip dengan malu-malu. Pagi itu Dara sudah berkutik di dapur, membuatkan sarapan untuk dirinya dan juga Fira.
Nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang menjadi menu sarapan pagi itu, dan menu itu juga adalah menu kesukaan Fira.
Tepat pukul 06.30 WIB, Dara mengantar Fira menuju sekolah, setelah itu Dara bergegas menuju gedung pencakar langit di kawasan Mega Kuningan.
Dara tiba di ruang kerjanya. Namun, ia di kejutkan dengan buket bunga yang terletak di atas meja kerjanya. Dara mengambil sebuah amplop berwarna ungu muda di selipan bunga itu, kemudian jemarinya mulai menelanjangi amplop tersebut.
^^^Aku tidak butuh banyak bicara^^^
^^^Aku hanya butuh mendampingmu sampai habis usiaku. ^^^
^^^-Fito-^^^
Entah sedih entah bahagia, Dara hanya mampu menatap dan terus menatap buket bunga yang ada di hadapannya.
Dreet... Dreett...
Dara dikejutkan dengan bunyi ponselnya yang nyaring, sebuah panggilan telepon dari cinta masa lalunya menyadarkan Dara dari lamunan.
"Hallo, Fit," sapa Dara ketika sambungan telepon terhubung.
"Sudah kamu terima bunganya, Ra?"
"Sudah."
"Lalu?" tanya Fito.
"Maksudnya Lalu?" tanya Dara bingung.
"Apa enggak ada ucapan untukku?"
"Ahh, maaf, aku hampir melupakannya. Terima Kasih, ya, Fit."
"Terima kasih? Untuk apa?"
"Untuk bunganya."
"Kok, terima kasih?"
"Lalu aku harus bilang apa, Fit?"
"Berikan aku vitamin sebelum aku memulai aktivitasku."
__ADS_1
"Vitamin? Kamu sakit?" tanya Dara khawatir.
"Hahaha, kamu terlalu polos, Ra. Maksudku, berikan aku kata-kata puitismu agar aku semangat untuk menjalani hariku."
"Ohh...."
"Mulai hari ini, aku akan menghubungimu setiap pagi, atau bahkan setiap detik karena kamu harus membayar rasa rinduku selama belasan tahun tanpamu."
Dara hanya terdiam terpaku, entah jawaban apa lagi yang harus ia berikan pada Fito. Namun, dalam lamunnya terjawab satu tanya yang tak Fito dengar, bahwa hati dan rindu Dara hanya milik Fito seorang.
Sejak enam belas tahun dan sejak Fito melanjutkan studynya di Singapura, dan sejak Dara menyadari bahwa di rahimnya ada nyawa yang hidup, sejak saat itu Dara tidak pernah menggantikan posisi Fito di hatinya. Bahkan saat semua bibir bertanya tentang siapa ayah biologis Fira, Dara hanya menjawab bahwa ayah Fira seorang pria yang baik.
Dara tidak pernah menikah dengan lelaki manapun. Di hatinya, Dara percaya bahwa Fito akan kembali suatu saat nanti. Dan kini, Fito benar-benar kembali, kembali bersama kenangan yang tak pernah hilang sedikitpun.
...💞...
Langit mulai gelap, lampu-lampu di Ibu Kota mulai menerangi. Saat waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Dara masih berada di jalan. Namun naas, mobil yang di kendarai Dara tiba-tiba mati. Dara mulai panik, beruntung dia berada di jalur kiri.
Dara turun dari mobilnya, dan membuka kap mobil dengan segera. Saat kap terbuka, gumpalan asap menyebar. Dara panik. Kemudian Dara menghubungi bengkel langgananbya. Namun sayang, bengkel itu tidak menjawab panggilan Dara. Sadar dengan malam yang semakin larut, Dara kembali masuk kedalam mobil.
Di tengah rasa takut bercampur bingung, Dara bingung harus menghubungi siapa? Fira? Ahh..., Tidak, gadis itu pasti akan mengomeli Dara dan memaksa Dara untuk membeli mobil baru. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba seluler Dara berbunyi merdu. Dalam hitungan detik, Dara tampak terlihat tenang.
"Halo, Fit."
"Sudah di rumah, Ra?"
"Kenapa kamu enggak telepon aku? Dimana kamu sekarang?"
"Aku di Mampang."
"Ya sudah, sekarang kamu masuk kedalam mobil. Kunci semua pintu. Kalau ada orang tidak di kenal, jangan di layani."
"Di sini sepi banget, Fit."
"Aku udah di mobil, menuju kesana. Kamu yang tenang, ya."
Dara menuruti semua yang Fito katakan. Sambil menunggu Fito, Dara menyandarkan kepalanya di balik kemudi. Hatinya terus berdoa agar Fito segera datang.
Kurang dari satu jam, Fito sudah berada di belakang mobil Dara. Segera mungkin pria itu menghampiri Dara yang hamir mati ketakutan. Fito mengetuk kaca mobil Dara. Dara yang ketakutan tampak terkejut. Namun, saat netranya menangkap sosok Fito, Dara merasa begitu lega.
"Kamu enggak papa, kan?" tanya Fito khawayir.
"Aku enggak papa, aku cuma takut aja."
Fito lalu memeluk Dara, memberikan kenyamanan untuk wanita itu.
__ADS_1
"Lain kali kabari aku. Apa pun dan kapan pun. Saat kamu merasa sulit, aku orang pertama yang harus kamu hubungi. Kamu mengerti, Ra?"
Dara mengangguk tanda pasrah. Dia tak bergeming apa lagi menolak. Dirinya sadar, untuk situasi sesulit apapun, mungkin hanya Fito yang mampu dia andalkan.
Tidak lama, mobil Dara pun di derek oleh bengkel langganan Fito. Beruntung bengkel langganan Fito melayani selama 24 jam, dan Dara tidak lagi merasa khawatir.
"Kamu takut banget, ya?" tanya Fito ketika mereka sudah bersama.
"Ini pengalaman pertama aku," jawab Dara dengan menyembunyikan isak tangisnya.
Sadar dengan kesedihan Dara, Fito membelai lembut kepala Dara dengan segenap rasanya yang tertahan.
"Mobilmu sudah aman, kamu juga sudah sama aku. Sudah jangan nangis. Nanti Fira khawatir kalau dia sampai tahu mamanya nangis."
...💞...
Dara menuju kamar Fira, gadis itu sudah terlelap dengan mimpi indahnya. Dara menatap Fira yang terpejam. Di kecupnya kening Fira, dan Dara kembali menatap Fira setelahnya.
Kamu memang sangat mirip dengannya. Matamu, hidungmu, dan tanda merah di dahimu, semua miliknya. Kamu tahu, Nak? Kamu tidak membawa secuil pun yang kumiliki di dirimu. Iya, semuanya yang kamu punya adalah miliknya. Itu sebabnya aku selalu menjagamu. Bisik batin Dara.
Dara tersadar akan sesuatu, dirinya lalu meraih ponsel yang berada di dalam tasnya. Dara mengetikkan sebuah kalimat dan mengirimnya untuk Fito. Tidak lama Dara mendapat balasan pesan pertanyaan dari Fito.
"Kamu suka warna putih, merah atau hitam?"
"Merah, lebih berani dan menghoda," jawab Dara tanpa rasa curiga.
"Besok kamu libur, kan? Aku mau minta tolong."
"Minta tolong apa, Fit?"
"Anterin aku ke showroom."
"Ok." Balas Dara singkat tanpa banyak tanya.
"Ya sudah, kamu istirahat, ya. Salam untuk Fira."
"Iya, besok aku sampaikan, kebetulan Fira sudah tidur."
Malam itu terasa panjang bagi Dara. Entah apa yang terjadi jika seandainya Fito tidak menghubunginya. Mungkin Dara akan semalaman berada di dalam mobil sampai menunggu bengkel langganannya menjawab teleponnya. Ahh, entahlah.
T. B. C
#Festivalliterasi
#PraAPNB2021
__ADS_1
#Najmubooks