
Part 3
Dara menumpahkan segala kesedihannya ketika wanita itu sudah berada di balik kemudi hatinya bahagia, tapi di sisi lain dia pun sakit hati. Iya, Dara sakit hati melihat cincin yang melingkar di jari manis Fito. Saat sekali lagi dirinya membayangkan kembali wajah Fito, dan cincin kawin itu, Dara tak mampu membendung air matanya, hatinya begitu sakit, dia kecewa.
Drett...dret...
Ponsel Dara bergetar nama Fira tertera di layar. Dara segera menghapus air matanya, agar putrinya tak melihat kesedihan di wajah Dara.
"Hallo, Sayang," sapa Dara ketika sambungan vidio call terhubung.
"Mama, lagi dimana?"
"Mama mau balik ke kantor, Nak."
"Memangnya Mama dari mana? Terus sama siapa?"
Dara tersenyum ketika gadis remaja itu bertanya begitu detil. Gadis itu, dia memang begitu protektif pada Dara. Ketika Dara pulang telat waktu, ketika Dara merintih karena magh-nya kumat, dan ketika Dara terlihat murung, Fira akan menasehati Dara seperti ibu menasehati anaknya.
"Mama habis nganter kerjaan Mama, Nak."
"Buku bacaan Fira sudah banyak yang habis, Ma. Fira sepi, nih."
"Oh iya, Mama lupa kalau ada janji mau belikan buku, ya sudah, hari sabtu kita ke gramed, ya."
"Bener, ya! Awas kalau Mama lupa lagi."
"Iya, cintaku, Mama gak akan lupa kali ini. Ya udah, Mama balik ke kantor dulu, ya. Fira jangan lupa belajar jangan baca novel terus."
Gadis manis beranjak dewasa itu bernama Fira Amara Kusuma. Harta yang paling berharga milik Dara, apa pun akan dia pertaruhkan demi buah hatinya tercinta.
...💞...
Dara masih saja memikirkan Fito, dari lubuk hatinya dia masih sangat penasaran siapa wanita yang di nikahi Fito, dan benarkah Fito telah melupakannya?
Enambelas tahun, apakah kamu melupakan semua yang terjadi di antara kita? Gumam Dara.
Enambelas tahun yang lalu
__ADS_1
Fito terus saja menghubungi Dara yang sedang melanjutkan study di Bandung. Fito, dia tidak melupakan janjinya, pria itu menepati janjinya. Namun, di sisi lain keadaan Dara cukup memprihatinkan. Perutnya semakin hari semakin membesar, dia tak lagi mampu menutupi kehamilannya. Iya, wanita itu sedang berbadan dua. Sebenarnya ingin memberitahukan Fito, tapi Dara mengurungkan niatnya. Dara tak ingin merusak impian Fito, Dara tak ingin menghancurkan Fito. Cintanya pada Fito begitu besar, dan pengorbanan pun tercipta. Demi impian Fito, Dara rela menanggung sebab dan akibatnya.
Tepat di semester dua, Dara menghilang. Nomernya tak lagi aktif, bahkan orang tuanya pun menjual rumah mereka karena malu. Dan tidak lama setelah itu, Dara harus kehilangan sang ayah.
Sejak kepergian ayah, Dara selalu merutuki diri, dia menyalahkan dirinya sendiri. Dua bulan setelah kematian sang ayah, Dara melahirkan seorang putri yang begitu cantik. Bayi itu di beri nama Fira Amara Kusuma, buah cintanya bersama Fito.
Saat Fira berumur dua minggu, ibunda Dara sempat berusaha memisahkan Dara dengan Fira, beruntung Dara mengetahui rencana sang ibu untuk meletakkan Fira kecil di panti asuhan. Sejak saat itu Dara memilih hidup terpisah dari sang ibu demi menyelamatkan Fira agar terus bersamanya.
...💞...
Hari pun berlalu dengan sangat cepat, Dara melakukan pekerjaan apa pun demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan Fira. Saat Siang Dara kuliah, dan sepulang kuliah dia berkerja di sebuah restoran cepat saji, bahkan sampai menjadi tukang cuci pun ia lakukan demi kelangsungan hidup.
Lima tahun berlalu, akhirnya Dara lulus dari universitas. Walaupun tidak lulus pada tepat waktu, tapi dia bangga karena dapat menyelesaikan pendidikannya dengan kerja kerasnya.
Berkat kepintarannya, Dara mendapatkan pekerjaan di kota Jakarta, dan dia pun kembali ke kota penuh kenangan antara dirinya dan Fito. Dara bekerja dengan sangat tekun, dan delapan tahun kemudian Dara di pilih menjadi sekretari pribadi Arya Hernanto, seorang pemilik prusahaan properti terbesar. Perekononian dara sudah cukup baik, bahkan dari gajinya dia mampu membeli sebuah mobil walau hanya sebatas mobil second.
Waktu terus berlalu, Fira kecil tumbuh dewasa. Seringkali dia bertanya siapa dan dimana ayahnya, namun Dara mengatakan bahwa ayah Fira sedang bekerja dan itu butuh waktu yang lama untuk bertemu Fira. Dara juga menjanjikan pada putri semata wayangnya itu, jika Fira mendapatkan ranking satu berturut-turut, Dara akan membawa Fira bertemu dengan ayah kandungnya, meskipun Dara tak tahu kemana dia akan membawa Fira kelak, siapa laki-laki yang bersedia mengaku bahwa dia adalah ayah biologis Fira. Namun, dalam hati Dara terus berdoa bahwa Fira akan melupakan ucapan Dara.
Hingga akhirnya dara mendengar pengusaha muda bernama Damar Fito Kusuma. Dara merasa tak asing dengan nama itu, hatinya bergejolak hebat ketika Arya Hernanto menyuruhnya membawakan surat perjanjian kerjasama untuk Damar Fito Kusuma.
Apakah itu dia? Benarkah dia? Ahh, tidak! Itu bukan dia, ada ribuan nama yang sama dengan wajah yang berbeda di dunia ini. Gumam Dara meyakinkan hati padahal sejatinya dia berharap bahwa nama itu adalah milik sesorang yang begitu di cintainya.
...💞...
"Selamat malam," sapa Dara ramah.
"Malam, kamu belum tidur?"
"Maaf dengan siapa?"
"Kamu lupa suaraku?"
"Fito?"
"Apa aku mengganggu?"
"Ada apa?" tanya Dara berusaha meredam tangisnya.
__ADS_1
"Aku ingin bicara, Ra."
"Maaf, untuk masalah pekerjaan bisa di bicarakan besok, Pak Fito."
"Aku gak bahas pekerjaan, aku hanya ingin tahu, kemana kamu selama ini?"
"Mama, ayo tidur." Tiba-tiba Fira datang memanggil Dara.
"Sebentar, Nak. Mama terima telepon dulu, nanti Mama nyusul ke kamar."
"Maaf, Pak Fito, ini sudah malam. Terimakasih, selamat malam."
"Tunggu, Ra. Aku ingin bertanya satu hal." Cegah Fito sebelum Dara mematikan teleponnya secara sepihak.
"Mau tanya apa?"
"Apa itu anakmu?"
"Maksudmu?"
"Ahh, enggak... Pasti hidupmu jauh bahagia di banding denganku. Ya sudah, salam untuk suami dan anakmu. Selamat malam Lavender-ku."
Dara menangis ketika Fito menutup sambungan telepon itu, kini Dara sadar bahwa Fito tidak benar-benar melupakannya, dia masih mengingat lavender. Iya, lavender lambang cinta Fito dan Dara.
Aku bertahan karena cintaku padamu.
Kini kamu datang tanpa mampu aku duga.
Kali ini pertemuan kita di waktu yang salah.
Semua terjadi di saat kamu sudah berdua dan aku pun juga berdua. Berdua dengan buah cinta kita.
Kali ini aku tidak berharap banyak karena kutahu itu adalah mustahil.
Aku tak bisa bersanding denganmu karena aku hanya butiran debu masa lalumu yang mungkin sebagian besar telah kamu lupakan dengan atau tanpa sengaja.
Aku lavendermu, sampai kini masih menyimpan kenangan tentang kita.
__ADS_1
Aku lavendermu, yang bersedia terluka demi kebahagianmu.