Janji Sebuah Lavender

Janji Sebuah Lavender
Hadiah


__ADS_3

Part 8


Bunga-bunga itu terlihat tampak segar dan rapih. Bagaimana tidak, sang pemilik baru saja merapihkan pot-pot itu dan menatanya ulang di perkarangan yang tidak terlalu besar. Usai merapihkan tanaman, Dara berpindah menuju dapur mungilnya. Jemarinya membuka kulkas dan melihat apa saja yang masih tersisa untuk di olah menjadi santapan pagi itu.


"Fir, mau sarapan apa, Nak?"


"Terserah Mama aja. Apa pun yang Mama masak, Fira pasti suka."


Tok... Tok...


"Fir, coba lihat! siapa yang datang?" printah Dara pada putri semata wayangnya.


Fira pun menuruti perintah Dara untuk melihat siapa tamu yang bertandang kerumahnya.


"Mama, ada Om Fito."


Saat Dara ingin menuju ruang tamu. Namun, Fito lebih dulu berada di dekat Dara.


"Kamu masak apa?"


"Kok pagi banget? memangnya kamu enggak di cari Prita?"


"Prita enggak pernah perduli kemana aku pergi, dan dengan siapa aku pergi. Dia hanya perduli dengan nominal rupiah yang kukirimkan kerekeningnya. Lagi pula, sejak malam itu Prita tidak lagi tinggal denganku. Dia memilih tinggal di apartemen sambil menunggu sidang perceraian kami."


Dara hanya mampu terdiam tanpa melanjutkan banyak tanya padahal dia ingin bertanya lebih banyak.


"Ra, kamu masak apa? Aku lapar."


"Belum tau, aku masih bingung," jawab Dara kembali menatap isi kulkasnya.


"Aku ingin sayur bayam, pergedel jagung, dan ayam bumbu," ucap Fito setelah ikut melihat isi kulkas Dara.


"Hah?" tanya Dara heran.


"Boleh ya, aku makan disini, lagi." Pinta Fito.


Tanpa bersuara Dara langsung mengeluarkan bahan untuk di olah, sementara Fito, dia asik mengamati Dara dari meja makan tempatnya berada.


Saat asik menatap Dara yang sibuk dengan asap masakannya, Fito tertuju pada sebuah album photo yang terletak di sebuah almari kaca yang terletak di tengah rumah mungil milik Dara.


Fito mengambil album tersebut, membukanya lembar demi lembar. Hanya terdapat foto Dara dan juga Fira. Fito mengamati Fira kecil.


"Itu Fira waktu bayi, Om. Imut, kan?" tanya Fira dengan senyumnya yang lebar.


"Fira, kok, gak mirip mama?"


"Kata mama, Fira mirip papa, Om."

__ADS_1


"Oh Begitu. Papa Fira pasti tampan."


"Kata mama, papa ganteng banget, Om."


Entah mengapa Fito tersenyum malu ketika mendengar penuturan Fira. Fito merasa Dara memujinya.


"Hayo ngomongin apa? Pasti ngomongin Mama, ya?" tanya Dara dengan piring berisi ayam goreng pesanan Fito.


"Wangi banget, aku jadi tambah lapar."


Dara menyendoki nasi kedalam piring, memberikannya sayur, ayam goreng dan juga perkedel jagung. Piring itu telah terisi penuh kemudian ia letakkan di hadapan Fito. Tidak menunggu printah, Fito langsung menyantap masakan Dara dengan begitu lahap. Dara yang melihat Fito menyukai masakannya begitu bahagia.


"Om, kalau lapar, Om kesini aja. Masakan Mama enak, loh, Om."


"Emang Om boleh kesini sering-sering, Fir?"


"Boleh, lah, Om."


"Nanti kalau papa Fira marah, gimana?"


"Papa aja gak pulang-pulang, Om. Telepon pun enggak pernah. Mungkin papa juga enggak tau kalau Fira sudah sebesar ini."


Dara tak bergeming sedikitpun. Dirinya memilih diam dan menyembunyikan rahasia besar itu rapat-rapat. Sementara Fito, dia merasa berdosa saat Fira mengatakan hal itu. Sejak bertemu dengan Fira entah mengapa Fito merasa dekat, merasa bahwa Fira adalah bagian dari dirinya.


"Oh iya, Om. Nanti siang mau temani Fira, gak, Om?"


"Fira pingin ngerasain rasanya jalan dengan papa, Om."


"Waduh, ceritanya Om mau di sewa, nih?"


"Emang Fira bisa sewa Om Fito jadi papanya Fira?"


"Hemm... Bisa apa enggak, ya?" tanya Fito sambil pura-pura berpikir.


Gadis bernama Fira itu lalu beranjak dari meja makan menuju kamar meninggalkan Fito dan Dara yang masih terdiam dengan tanda tanya besar. Tidak lama kemudian Fira kembali dengan membawa celengan bergambar Hello Kity.


"Fira gak tau jumlahnya berapa, Om. Tapi Fira ngumpulin ini untuk beli waktunya papa sedikit aja. Fira ingin di peluk papa, Om. Tapi sekarang Fira pake ini untuk bayar Om Fito karena Fira pingin sewa Om Fito untuk jadi papa Fira walau hanya satu hari. Om Fito mau, kan jadi papa pura-puranya Fira?"


Dara dan Fito, keduanya sama-sama tertegun mendengar ucapan Fira. Mata Fito mulai mengembun. Sebisa mungkin Fito menahan agar butiran kristal itu tidak menetes begitu saja.


"Fira gak usah bayar Om Fito. Om gak mau uangnya Fira. Tapi, Om mau minta satu hal sebagai gantinya."


"Apa itu, Om?"


"Fira harus jadi anak yang baik, nurut sama mama. Fira juga harus jadi anak yang kuat, Om gak mau lihat Fira nangis seperti kemarin. Kalau ada yang jahatin Fira, Fira harus bilang sama Om Fito, Om akan lawan mereka."


"Iya, Fira janji Fira enggak akan nangis lagi."

__ADS_1


"Bagus. Kapan pun Fira mau sewa Om, Om pasti siap. Sekarang Om boleh peluk Fira, gak?"


Fira pun langsung menghambur kedalam pelukan Fito. Butiran bening yang sedari tadi di tahan Fito akhirnya jatuh tanpa mampu di bendung.


...💞...


Fito melihat-lihat mobil yang di tawarkan oleh seles. Masih terekam di ingatannya bahwa Dara menginginkan warna merah.


"Fir, bagus, ga?" tanya Fito pada Fira.


"Kren, Om."


"Suka gak?"


"Suka, Om."


"Fir..," Dara memberikan isyarat pada Fira.


"Om Fito, kan cuma tanya, Ma."


"Iya, tapi enggak sopan."


"Apa, sih, kamu, Ra? Sini Fir, sama Om aja. Kan Om lagi di sewa jadi papa satu hari, Fira jangan jauh-jauh dari Om," ucap Fito sambil menarik tangan Fira lembut.


"Om, emangnya Om beli mobil untuk siapa, sih?" Selidik Fira.


"Ada deh, kalau di kasih tau bukan suprise dong namanya."


"Ihh, nyebelin."


"Pokoknya bantuin Om milih aja, ya."


"Harus warna merah, ya, Om?"


"Sepertinya begitu, Fir. Kata dia warna merah itu berani."


Setelah puas melihat, akhirnya Fito menjatuhkan pilihan pada mobil yang di pilih Fira. Masalah harga tak jadi soal, asalkan Fito bahagia, semua tak jadi masalah.


Usai memilih sebuah mobil, Fito menuju sebuah mall besar di kawasan Jakarta Barat. Fito menepati janjinya pada Fira, untuk jadi ayah sehari.


Fira tampak begitu bahagia, dia begitu menikmati saat-saat kebersamaannya dengan Fito. Bahkan Fira juga meminta Fito dan Dara untuk melakukan Photo Box.


"Fit, terima kasih, ya, sudah bersedia menjadi papa seharinya Fira."


Fito tidak membalas ucapan Dara padahal dia ingin sejali bertanya tentang siapa ayah biologis Fira. Namun, Fito memilih untuk diam karena Fito sadar, Dara tidak akan pernah mau untuk menjawab pertanyaannya itu.


Hari semakin senja, setelah puas bermain, kini tiba saatnya Fito kembali membawa Dara dan Fira untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2