Janji Sebuah Lavender

Janji Sebuah Lavender
Tanya Fito


__ADS_3

Part 5


"Om, dulu Mama itu gimana, sih?" selidik Fira pada Fito.


"Mama itu seperti Fira sekarang. Rambut hitam, lurus danΒ  panjang sebahu."


"Cantik, gak, Om?"


"Hemmm, lumayan."


"Cantikan mana sama Fira, Om?"


"Mungkin cantik Fira."


Gadis itu lalu tersenyum manja pada Fito,Β  Dalam hitungan jam Fira sudah sangat dekat dengan Fito. Namun, diam-diam Fito menyadari suatu hal.


"Fir, Om boleh tanya, gak?"


"Apa, Om?"


"Ini hari minggu, Fira kenapa enggak jalan dengan mama dan papa?"


"Yaelah, Om. Fira aja enggak tau wajah papa seperti apa, mama bilang, papa lagi belajar di luar negri dan butuh waktu lama untuk ketemu Fira. Mama bilang, kalau Fira juara satu terus, mama akan mempertemukan Fira dengan papa saat usia Fira tujuhbelas nanti."


"Memangnya Fira enggak pernah ketumu papa?"


"Enggak pernah, Om. Bahkan sekalipun."


"Sekalipun?" tanya Fito menegaskan.


"Iya, Om."


"Fir, Om boleh minta sesuatu, gak?"


"Apa, Om?"


"Hari ini, Fira mau nemenin Om jalan-jalan, gak?"


"Hemm... Tapi jangan sampai malam, ya, Om. Nanti mama marah."


"Ok, Cantik."


Fito lalu mengacak gemas rambut Fira dengan tatapan yang masih tertuju pada wajah gadis itu. Kali ini Fito menyadari bahwa gadis itu mirip dengannya. Mata coklat itu, hidung mancung itu, dan tanda lahir di kening Fira yang tertutup poni, itu adalah milik Fito. Iya, semuanya milik Fito, bahkan hobi yang dimiliki Fira adalah hobi Fito. Dan dari penyelidikan dasarnya itu Fito mengetahui bahwa nama belakang Fira adalah nama belakang Fito. Penasaran dan rasa ingin tahu pun semakin menggelitik.


...πŸ’ž...


Hari itu Fito menuruti segala keinginan Fira. Apa pun yang Fira inginkan Fito berikan. Fira pun menikmati waktunya bersama Fito.


"Eh, ketemu Fira anak haram," ucap seorang anak remaja.


Fito yang mendengar itu merasa kasihan pada Fira, lalu dia mencoba tenang walau kenyataannya Fito ingin menggampar remaja itu.

__ADS_1


"Aku bukan anak haram, Anggi!" ucap Fira berang.


"Terus mana ayahmu? Kok, gak pernah datang kesekolah? Selalu mamamu yang datang."


Fira tidak menjawab pertanyaan Anggi, dirinya memilih berlari dan menjauh dari Anggi.


Fito membiarkan gadis itu menangis sambil berjongkok. Perlahan Fito meraih tubuh Fira, di sandarkan remaja itu pada pelukannya. Fito memeluk hangat Fira, dan tangis Fira pun semakin tumpah di pelukan Fito.


"Kenapa, sih orang-orang bilang aku anak haram? Aku punya papa, kan, Om? Kenapa, sih mereka gak mau berteman sama Fira, padahal Fira gak pernah jahatin mereka, Om. "


Fito begitu iba, dia mengerti kesedihan Fira.


"Fira bukan anak haram, Fira juga bukan anak yang jahat. Fira anak baik. Kalau Fira mau, Fira boleh anggap Om seperti papa Fira. Besok, Om akan jemput Fira pulang sekolah, boleh, kan?"


"Om, kenapa Om baik banget?"


"Karena Om teman mama dan papa, Fira. Sebenarnya Om kesini itu di suruh sama papa Fira untuk jagain Fira."


"Papa? Papa Fira dimana, Om?"


"Papa Fira ada disini, tapi dia lagi sibuk banget. Kalau Fira mau lihat papa, Fira boleh liat Om semau dan sepuas Fira."


"Tapi, kan, Om bukan papa Fira."


Fito lalu tersenyum dan membalikkan tubuh Fira pada dinding mall yang berlapis kaca.


"Tuh liah, mata, hidung, bahkan tanda lahir kita sama, iya, kan?" hibur Fito pada Fira.


Fira pun kembali ceria, beruntung Fito mampu menenangkan gadis itu dengan cerita karangannya.


...πŸ’ž...


Hari itu Fira sangat bahagia, semua kemauannya di turuti oleh Fito. Namun sayang, Fito harus kembali berpisah dengan Fira, padahal hatinya sangat enggan.


"Fir, Om boleh kan, kapan-kapa main kerumah Fira?"


"Boleh, lah, Om. Om kan temannya Mama dan Papa."


"Makasih, ya, Fir. Kalau begitu kita pulang, ya. Nanti Mama marah, loh."


"Om, boleh titip pesan untuk Papa, enggak?"


"Apa?"


"Papa harus pulang saat Fira ulang tahun, ya, Om."


Fito lalu mengangguk dengan pasti, tak ada keraguan dari dirinya untuk menyanggupi permintaan Fira.


Langit yang mulai jingga, mengantarkan mereka pada perpisahan yang sejatinya tidak di harapkan oleh Fito.


...πŸ’ž...

__ADS_1


Malam yang pekat menemani Fito dalam kesendirian yang begitu abadi. Dirinya kembali mengenang Fira, ada sebuah pertanyaan besar yang hinggap di benak Fito.


Dara menghilang enambelas tahun yang lalu, kemudian usia Fira juga enambelas tahun. Apakah itu mungkin? Apakah Dara menghilang karena dia tersiksa karena aku? Dan aku penyebab dari semuanya? Oh Tuhan...


Fito tampak frustasi ketika memikirkan kemungkinan yang terjadi. Terlebih semua yang ada di diri Fira adalah miliknya. Fito semakin penasaran.


Drett... Drett...


Ponsel Fito bergetar, tanda sebuah pesan masuk pada ponselnya. Fito membuka benda mungil itu, sebuah pesan dari Dara yang melarangnya untuk bertemu dengan Fira.


"Kenapa aku tidak boleh menemuinya? Apa ada yang salah?" balas Fito.


Tidak lama ponsel Fito kembali berbunyi, kali ini Dara menghubungi Fito lewat sambungan telepon.


"Ada apa, Lavender?"


"Tolong jangan dekati Fira, dia masih terlalu kecil."


"Hei, apa kamu pikir aku akan memperkosanya? Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, Ra."


"Tolong, Fit. Biarkan aku tenang bersama anakku."


"Tunggu, umur berapa kamu menikah, dan umur berapa kamu mengandung Fira?"


"Fit...."


"Saat aku melihat gadis itu, aku seperti melihat kamu. Tapi, saat aku melihatnya dengan jelas, dia sangat mirip denganku. Tanda lahir itu, mata coklat itu...."


"Lupakan! dia bukan anakmu, Fit."


"Padahal aku belum bertanya, tapi kamu seolah sudah menjawabnya."


"Berhenti untuk semuanya, atau aku akan pergi dari kehidupanmu untuk selamanya."


Fito tidak menjawab ucapan Dara, tapi entah mengapa dirinya begitu yakin bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Dara.


Dan telepon itu menjadi telepon yang meninggalkan rasa penasaran yang teramat besar untuk Fito. Semakin dirinya penasaran, maka Fito akan segera mencari tahu semuanya.


Aku tidak pernah melupakan sedikit pun tentangmu, dan aku juga tidak pernah melupakan apa yang telah kuperbuat padamu dulu, dosa terindah yang sungguh tidak akan pernah aku lupakan, karena aku menikmati semua yang terjadi di antara kita.


Lalu apakah salah jika aku ingin menebus segalanya?


Apakah salah jika aku bertanya tentang segala hal.


Kenapa kamu begitu sulit untuk aku rengkuh, padahal aku sangat merindukanmu, aku masih sangat mencintaimu. Bahkan aku tidak pernah membuang secuil tentangmu.


T. B. C


#festivalliterasi


#PraAPNB2021

__ADS_1


#Najmubooks


__ADS_2