Janji Suga

Janji Suga
Jenius vs Bad


__ADS_3

Ini bercerita tentang ke hidupan remaja yang sudah di luar batas.


Ini adalah sekolah internasional, murid-murid  di sini dari golongan para elit kalaupun tidak dari golongan elit pasti golongan anak cerdas.


Di sini yang paling berkuasa akan ke kayaannya adalah Suga Valtora dan yang lain biasanya memanggilnya Suga.


Dia anak paling kaya sekaligus pemilik 2 perusahan besar yang sangat terkenal dan yang lebih membuatnya semakin istimewa adalah dia adalah anak tunggal dan tentunya pewaris tunggal dari keluarga milliard itu.


Banyak yang menggandrunginya membuatnya menjadi idamanan semua kaum hawa.


"Mingir." Katanya dengan nada sombong pada siswi yang bernama Zie.


Nama aslinya Akura Ziekay dan biasanya di panggil Zie.


Zie anak yang tidak pernah tersangkut masalah apapun dalam sekolahnya,  dia anak yang taat peraturan dan tak banyak orang yang tau tentang Zie mereka hanya tau kalau Zie adalah pribadi yang baik dan sangat ramah pada teman-teman yang lain.


Zie yang gak mau memperbesar masalah kecil jadi masalah yang besar langsung minggir tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Gak ada lagi melirik nih anak,  sombong banget." Tambahnya lagi yang membuat Zie semakin sedikit tersulut emosinya tapi dia hanya melirik dan menatap Suga dengan tatapan tidak suka.


"Kayaknya anak ini gak takut sama sekali dengan gue,  yang lain setelah aku katakan itu langsung menunduk tapi dia menatap mataku dengan sangat berani,  menarik." Suga membatin dengan menunjukkan senyum tipis di salah satu sudut bibirnya yang membuat itu terlihat menyebalkan.


Kulitnya yang putih seputih susu, pupil mata bewarna hitam sedikit ada campuran abu-abu kontras dan gayanya yang sangat oke di tambah tatapan tajamnya yang membuat orang yang lawan bicaranya jadi ciut kena mental tapi lain pada Zie yang sama sekali tidak pernah takut pada sosok es menyebalkan itu.


"Oke...,  oke...,  kau bisa terus." Jawab Suga untuk mencairkan suasana yang memang memanas.


Saat Zie duduk dan mencoba menenangkan diri.


"Gila iya lo, natap Suga gitu. Cuma lo yang berani natap tuh orang dengan tatapan mau gelut. Dia itu cowok terkaya, pewaris 2 perusahaan besar di negara ini. Gue takut lo akan dapat masalah sama tuh anak." Getar getir saat menjelaskan seakan dia sudah tau apa yang akan terjadi nanti.


"Udahlah gak usah dipikirkan hal yang belum terjadi,  jalanih ajah."


Jawab Zie dengan pasrah lalu menidurkan kepalanya ke meja dengan membelakangi Suga agar dia tidak melihat tampang sang pembuat onar.


Mereka berdua adalah dua orang yang berbeda dengan julukkan yang berbeda juga.


Zie dikenal dengan anak terjenius disana dengan segudang prestasi sedangkan Suga adalah anak terkaya dan paling di segani apa lagi statusnya sebagai pewaris tunggal dari 2 perusahaan besar di negara ini membuat semua orang segan padanya termaksud guru-guru.


Yang membuat hal-hal yang seharusnya di Tegur tapi tidak untuk  Suga, jika dia yang melakukannya pasti memaklumi atau di anggap hal yang wajar.


Ketidak adilan sangat terlihat bukan, tapi begitulah hukum alam dan semua siswa ataupun siswi sadar dan tetap mengikutinya.


Kalau begini siapa yang bodoh guru,  murid atau takdir.

__ADS_1


.


Jam pelajaranpun dimulai,  kini gaya duduk Mereka berdua seakan bertukar.


Suga mulai lemas seakan tak punya tulang, hampir setengah bagian badannya dia sandarkan ke meja lalu menidurkan kepalanya dan mencoba menutup matanya, tidak ada yang marah. Semua orang yang ada di situ seperti menganggap Suga tidak ada.


Sedangkan lain dengan Zie seakan bangkit dan terlihat sorotan mata yang berkobar-kobar sangat berbeda iya orang jenius.


Zie.


Aku harus tetap menjaga reputasiku dan terus mencoba mengejar targetku.


Aku bukan dia yang terlahir dari sendok emas, perunggu saja tak pernah ku rasakan, yang bisa kudapat hanyalah nasib yang tidak beruntung dan sampai sekarang aku jalani.


Aku masuk di sekolah berkelas ini awalnya ingin membanggakan ayahku yang satu-satunya orang tua yang aku miliki karena ibuku sudah lama meninggalkanku.


Tapi apa daya ini semua sia-sia kini targetku berubah aku ingin mengubah masa depanku agar aku keluar dari lembah yang gelap dan dalam ini.


Terkadang aku menyalahkan nasib, Tuhan, ibu, ayah dan diriku sendiri.


"Kenapa aku mempunya ibu yang amat egois yang tega sekali meninggalkan anak kandungnya ?"


"Kenapa aku mempunyai ayah yang begini?"


Dan terlintas dalam otakku.


"Kenapa aku dilahirkan di dunia ini kalau harus menjalani penderitaan yang bagiku tak ada hentinya."


Sudah sejauh ini Zie selalu bertahan hidup seakan tak ada apa-apanya hidup di dunia ini.


Lihat pakaiannya bersih,  rapi seperti anak yang lain.


Dia juga terkadang pergi ke kantin walau hanya membeli 2 bukus permen agar orang melihatnya seperti anak murid sewajarnya.


Padahal kenyataannya dia tidak punya uang, dia harus bekerja sepulang sekolah untuk mendapatkan uang tabungan yang terkadang dia pakai untuk menunjukan kalau dia anak yang bahagia seperti anak yang lain.


Sebagai gantinya dia terus berusaha agar dia bisa sekolah tanpa biaya sepeserpun tapi iya memang sulit apa lagi banyak sekali yang pintar ataupun Jenius.


Sebisa mungkin dia menghindari masalah karena jika dia tersandung sedikit masalah itu akan berakibat fatal pada masa depannya yang selama ini dia jaga.


.


.

__ADS_1


Saat istirahat Suga berdiri dan mendekat ke arah Zie.


"Ikut gue !" Menatap Zie datar tetap diam menunggu reaksi Zie.


"Pergi." Jawab Zie singkat dan Zie tidak menangapi Suga melainkan dia tetap fokus pada tugas yang tadi diberikan Guru sebagai tugas di rumah.


Suga yang mendapatkan perlakuan itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Zie.


"Lo,  mau memulai perang dengan gue." Lalu dia berdiri menatap Zie tajam.


Tatapan itu sukses membuat raut muka Zie takut.


Suga melihat itu sekilas tersenyum picik lalu pergi meninggalkan Zie yang seakan mematung.


"Gila lo Zie,  kenapa lo tadi melakukan hal bodoh itu,  kalau karena hal ini gue harus kehilangan pendidikan gue gimana." Zie meratapi kebodohan tindakan yang telah dia lakukan.


Dia tau Suga itu sangat kuat dan sangat berpengaruh di sekolahan ini.


"Gue yakin bentar lagi gue harus angkat kaki dari tempat ini." Zie mengacak-acak rambutnya frustasi.


.


"Gila tu Zie, dia ngusir Suga tadi. Bisa mampus tu Zie" Suara bising terdengar samar-samar.


.


"Dasar,  sok berani tapi penakut juga, hahaha....  Lihat mukanya yang merah itu kok terlihat gemes iya.  Pada hal gue kan cuma asal ngomong ajah." Suga tersenyum mengingat bagaimana muka takutnya Zie.


"Suga...," Suara yang merdu terdengar sangat lembut seakan sedang bernyanyi.


Suga hanya menoleh dan melihat sosok itu semakin mendekat lalu memeluknya.


Suga bukan tipe yang langsung tersenyum manis lalu menyambut pelukkannya dia hanya diam tidak menolak ataupun membalas pelukkan hangat itu.


Perempuan itu melepas pelukkannya lalu tersenyum manis pada Suga.


"Sejak kapan kau ada di sini?" Suga dengan datar tidak membalas senyuman gadis cantik itu.


"Baru tadi,  kau sudah tau aku sudah lama sekali ingin satu sekolahan denganmu. Lihat aku sudah lulus di sana dengan waktu 2 tahun jadi aku ingin sekolah disini." Perempuan itu tanpa ragu bercerita pada Suga walaupun dia tau Suga menanggapinya dengan datar.


"Kau adalah orang yang paling bodoh,  sudah lulus tapi kau mengulang 1 tahun lagi hanya untuk pindah kesini."


Suga menganggap remeh perempuan itu lalu membuang tatapannya ke samping agar tak melihat perempuan itu.

__ADS_1


"Ehhh..., ingat aku orang jenius bisa lulus dalam waktu 2 tahun hanya dirimu yang mengatakan kalau aku bodoh." Menangapi omongan Suga dengan cemberut.


__ADS_2