
Aku sangat bersyukur terhadap sesuatu yang ku kira rahmad tapi nyatanya itu hanya siksaan.
Benar katanya sesuatu kebahagiaan atau hal baik itu pasti ada harganya.
Pulang sekolah saat kelas sudah sepi.
"Kau tidak ada ponsel." Suga
"Memang aku tak punya." Zie
"Benarkah kau semiskin itu." Suga
Zie hanya dia karena memang faktanya dia miskin.
"Baiklah, datang jam 7 ke apartemen yang kemarin." Suga
"Iya." Zie
"Beruntung jam 7 jadi gue masih bisa kerja." Zie membatin.
.
Kehidupan kami seperti biasa-biasa saja dan kami berdua memang seperti tidak saling mengenal ataupun akrab.
Tepat setelah bekerja jam 6 Zie selesai dan langsung berangkat ke apartemennya dengan kendaraan bus.
Di perjalanan dia memakan sebungkus roti karena dia yakin dia tak akan sempat makan malam nanti.
.
Lain dengan Suga saat pulang sekolah di dekat parkiran.
"Suga.... " Panggil beberapa orang yang tak lain rombongannya.
"Emmmhhh...," Jawab Suga singkat.
"Minum yok, Lukas ulta." Ajak salah satu dari mereka.
"Sekarang."
"Iyalah Suga gak mungkin tahun depan, beda lagi konsepnya bro."
Merekapun langsung berangkat, tentunya kalau Suga sudah bersama rombongannya minum-minum akan lupa dengan rencana awalnya.
Apa lagi Suga tahan dengan minuman yang Alhkolnya cukup tinggi.
"Gila Suga udah 2 gelas tapi belum ada tandanya dia mabuk." Sahut salah satu mereka yang memang sudah mulai mabuk.
"Lo yang ngajak minum lo juga yang teler duluan." Jawab Suga dengan tatapan meremehkan.
"Ayolah gak usah berdebat, gimana kita cari cewek ajah." Tambah yang lain.
"Emmmhhh...,"
Tak lama datanglah gadis cantik perawakan tinggi iya cukup setra tinggi dengan Suga, dengan kulit kuning langsat serta kelopak mata yang lentik ditambah pupil mata bewarna hitam sempurna membuatnya terlihat semakin seksi.
"Hallo, nama saya Jessi."
__ADS_1
"Apa gerangan cewek cantik mau berkenalan dengan saya." Sedikit tersenyum lalu meminum minumanya dalam sekali teguk.
"Saya bekerja di sini, siapa tau kau membutuhkan jasa." Suga seketika tersenyum menghina tapi karena perempuan ini sudah ahli dalam profesinya dia tidak tersinggung lagi.
"Tidak di pungkiri bukan, yang kesini rata-rata bertujuan untuk mencari kesenangan, tak ada yang salah dengan tawaranku saat berada di tempat ini." Jawab perempuan itu dengan senyum.
"Saya tidak berkata apa-apa, apalagi mengatakkan anda salah." Tersenyum ramah.
"Mulut manis anda tidak mengatakannya tapi tatapan dan senyuman anda secara tidak langsung mengatakannya." Membalas senyuman Suga dengan sangat berani.
"Aku suka dirimu, kau bisa atur kamar nomor berapa." Suga mengedipkan salah satu matanya untuk menggoda Jessi.
Jessi tersenyum lebar lalu mencondongkan diri ke arah Suga.
"Dengan senang hati." Mengatakan dengan sangat pelan tapi penuh penghayatan serta tatapan menggodanya.
Akhirnya Suga jatuh dalam lubang dosa.
Di kamar yang cukup mewah dengan gekor berdominasi warna gelap menambah aura Suga.
Sudah sudah menghabiskan 2 botol minuman dengan konsetrasi alkhol yang tinggi.
"Kau terlihat sangat cantik." Suga terlihat sangat agresib dengan langsung memeluk Jessi dari belakang dan langsung mencium tengkuk Jessi.
Terlihat jelas jejak merah pekat di situ dan seketika suhu yang dingin karena ac berubah menjadi panas.
Suga mendorong tubuh Jessi ke kasur besar berukuran king dan warnanya hitam sangat nyaman kesannya tenang tapi kalau begini mana bisa dia tenang.
Suga mulai membuka jaketnya, iya dia ke sini menggunakan celana lepis serta baju kaos di balut dengan jaket abu-abu.
"Ahhhwww...,"
"Ahhhhahhh.... "
Suara Zie dengan pelafalan yang sama, itu selalu teriang-iang dalam otaknya.
"Ahhh..., sakit banget kepalaku."
Suga selalu menyangkalnya dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Apa, apa aku sudah gila kenapa bocah itu yang selalu terbayang olehku, atau dia sudah mengguna-guna diriku." Suga membatin dalam seadaan 20 persen tingkat kesadarnya karena dia sudah mabuk berat.
Sedangkan Jessi mulai menggoda Suga lebih lanjut dengan mulai mencium leher Suga dengan serangan bertubi-tubi tapi Suga langsung memberi isyarat untuk berhenti.
Jessi langsung menurutinya dan langsung bangkit.
"Kenapa?" Jawab pelan Jessi yang sepertinya merasa buruk.
"Ini yang salah ada pada diriku, tenang saja aku akan tetap membayarmu tapi bisakah kau mengantarku ke apatemenku. Sepertinya aku sudah benar-benar mabuk. Aku tidak bisa mengendarai mobilku." Memegang kepalanya yang memang sudah mulai sakit.
"Baiklah, tapi apa kau percaya padaku sepenuhnya hingga kau tak canggung meminta tolong padaku."
"Tidak usah kau khawatiri sesuatu yang tak berkaitan dengan hidupmu nona, kita jalani bagian kita masing-masing saja." Memberikan kunci mobil pada Jessi.
"Aku suka cara berpikirmu, semoga nanti di lain waktu aku bisa bertemu denganmu." Suga hanya mengangguk.
.
__ADS_1
Sampailah Suga dan Jessi di apatemen Suga dan tepat di depan pintu apartemen Suga ada seseorang yang masih memakai seragam sekolah dengan perawakan lebih pendek dari Suga tapi hanya sekitar 4 cm.
"Waww, kau mencari seseorang?" Tanya Jessi yang masih menopang Suga yang sudah mulai tak sadarkan diri.
"Aku mencari majikanku yang lupa memberi kunci kamarnya padahal aku ingin bekerja." Menatap Suga dengan tatapan marah.
"Oh kau bekerja di tempat ini, bisa bantu aku masuk." Jessi memngode untuk membuka pintunya.
Tapi Zie sama sekali tidak tau, dengan refleks Suga membuka sandi pintunya.
Setelah terbuka Zie segera membantu Jessi untuk membopok Suga untuk masuk.
"Dimana ini kita letakkan ?" Zie melihat situasi.
Karena jujur Zie tidak tau di mana kamar Suga.
"Di sofa saja." Sahut Zie yang sadar kalau semakin lama kesadaran Suga semakin menipis dan itu menambah beban berat yang harus mereka angkat.
"Saya permisi dulu, itu semua barangnya." Jessi berpamitan pada Zie dengan ramah, Ncim membalas dengan senyum ramah juga.
Sekarang hanya mereka berdua saja yang ada di apartemen itu.
"Aku tarik kata-kataku yang pernah mengatakan kau baik, sepertinya kau hanya balas dendam padaku. Kau sudah kelewatan mengerjaiku suga. Lihat sudah jam 12 malam dan kau baru datang, kau tau sudah berapa lama aku menunggunya 5 jam 30 menit waktuku terbuang sia-sia." Melampiaskan amarah pada Suga yang sudah terlelap tak sadarkan diri.
Zie menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan untuk mencoba mengontrol kemarahannya.
"Sudahlah, lebih baik aku segera selesaikan memnersihkan rumah ini agar aku bisa segera pulang, jika sudah jam 2 ayah pasti akan pulang."
Zie segera membersihkan apartemen itu.
"Tak ada yang sangat berat dalam membersihkan apartemen ini hanya debu saja yang cukup banyak tapi yang lain seperti tak pernah bergerak saja kecuali kamar, tempat seperti kerja kantoran dan ruang tamu ini yang sepertinya sering di gunakan."
Dan ada ruangan yang membuatnya kagum adalah tempat khusus kumpulan lukisan yang baginya indah sekali.
"Apakah orang sombong dan dingin itu yang melukis ini, kenapa aku merasa itu tidak mungkin." Melihat lukisan yang terlihat sangat cerah dan hangat.
Jam menunjukkan jam 1 malam dan pekerjaannya sudah selesai saat Zie berniat ingin pulang.
"A...ir, air...." Suaranya tidak begiti jelas tapi tangannya seakan melambai-lambai tak menentu untuk menggapai sesuatu yang tidak ada.
"Oke, oke raja." Sahut Zie kesal karena harus menundanya.
Saat Zie ingin membantu Suga untuk meminumnya Zie merasakan suhu tubuh Suga lebih tinggi dari suhu tubuh seseorang yang sehat.
"Ma...ma, mama... " Suga dengan keadaan masih tak sadarkan diri terus mengigok dan memanggil mama-mama.
"Apakah kau merindukan ibu, aku juga. Apakah ibumu juga meninggalkan dirimu." Zie tanpa sadar meneteskan air matanya.
Zie dengan lembut dan penuh perhatian mengganti baju Suga lalu memberikan Suga obat lalu memndahkan ke kamar.
"Aku harus pergi semoga kau baik-baik saja dan kau cepat sembuh." Zie membenarkan selimut dan memeriksa kening apakah masih panas.
"Panasnya mulai turun."
Zie pergi meninggalkan Suga.
Happy Reading.
__ADS_1