Janji Suga

Janji Suga
Di Balik Reputasi Yang Baik


__ADS_3

Semua memakai topeng dan sangat sempurna dalam memainkan perannya.


Duniaku bagaikan dunia yang semu tak nyata hanya tipuan belakang.


Banyak orang memuja-muja keluargaku dan irih ingin menjadi diriku,  tapi kau tau aku saja benci hidup seperti ini.


Harus tersenyum di hadapan kamera,  harus berlagak mempunyai segalanya,  harta, kebahagian, kehormatan dan ke harmonisan sempurna bukan.


Tapi itu semua bohong,  aku hanya mempunyai diri sendiri yang berusaha menjadi mandiri walau bukan golongan mandiri tentang uang tapi mandiri tanpa perhatian orang tua ataupun teman-teman yang terdekat.


.


Suga pergi ke suatu ruangan yang sama sekali tak ku tau itu ruangan apa, dia kembali dengan membawah kota obat  dan aku sadar itu untuk mengobati lukaku ini.


"Gak mungkin aku nunjuki luka ini,  aku yakin dia akan berpikir dan bertanya-tanya tentang luka ini." Zie memikirkan kemungkinan yang terjadi.


"Aku akan mengobatinya di rumah." Zie yang tau tujuan Suga langsung berkata itu tanpa tau apakah kota obat itu untuk mengobatinya.


"Ikuti perintah gue." Dia duduk di hadapan Zei.


Jantung bergetar, percayalah rasa takut itu sangatlah menyiksa.


"Aku belum saja memulai kenapa kau keringat dingin, gulung lenganmu." Suga menyingkirkan tangan Ncim dari lengannya agar dia bisa mengobatinya.


Tapi sepertinya tak memungkinkan untuk mengobatinya tanpa sedikit memperlihatkan pundaknya,  Suga takut lukanya semakin membesar.


"Tapi.... " Kata-kata Zie langsung di potong dengan Suga.


"Gak ada kata tidak ataupun tapi." Menatap Zie dengan tatapan tajam seakan tak suka kalau Zie melawan perintahnya.


Aku membenci menjadi orang yang sangat tak berdaya apa lagi di hadapan orang angkuh ini.


Bayangkan kami hanya berdua, kami laki-laki dan perempuan akankah ada setan di ruangan ini.


Akan jadi apa aku nanti.


Perlahan Zie membuka kancing bajunya yang bagian atas lalu sedikit menaikkannya agar bagian lengan dan pundaknya terlihat dan itu membuat semakin mudah untuk mengobati.


Dan terlihatlah bekas luka beretan atau memar merah di pundaknya dan lebih parah lagi ternyata lengannya Zie memang sudah terluka dan sedikit di balut dengan kain tipis jadi kalau ada tekanan membuat lukanya membuka lagi.


Suga yang melihat itu sangat geram tanpa sadar dia mencengkram kota obat itu dengan kuat untuk melampiaskan rasa kesalnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan perempuan lemah ini." Membatin dalam hati.


Sedangkan Zie sekarang tertundu takut,  malu akan apa yang sudah di lihat Suga.


Melihat itu Suga menarik nafas lalu mulai membuka kain yang tadinya di balut pada luka lengan yang sepertinya luka yang lebih besar dari luka memar pundaknya dan takutnya luka ini bukan hanya di pundak tapi ada di bagian lain juga tapi Suga tak bisa berbuat lebih dalam karena dia sadar yang dihadapannya itu perempuan.


"Aku tau rasanya, kau tak ingin ada satu orangpun memandangmu menyedihkan ataupun rendah,  lebih baik aku diam seakan tak melihat hal ini." Suga membatin dan berpikir dia harus tetap diam untuk cukup membantu Zie.


Karena ini luka lama yang terbuka lagi seperti ada rasa perih.


"Ahhhwww...," Terlihat sekali Zie kesakitan.

__ADS_1


"Tahanlah sebentar." Suara Suga sangat lembut, dia juga meniup luka yang sudah di beri saleb untuk mencegah iritasi atau infeksi lalu membalutnya perlahan dengan kasa yang baru.


Bukan hanya luka di lengan saja dia obati tapi luka memar yang merah  di pundaknya juga di obati.


"Ahhhh...," Beberapa kali Zie berteriak gak berdaya karena rasa sakit itu.


Tapi tak ada satu pun kata yang menyinggung ataupun bertanya tentang penyebab luka itu.


"Sudah selesai, kau bisa pergi."


"Bagaimana dengan Beasiswaku ?"


Dia tidak mau sia-sia datang ke sini.


"Aku akan mengurusnya, besok sudah beres. Cepatlah pergi,  aku capek." Tanpa ragu Suga mengatakan itu seperti dia mengusir Zie.


"Baiklah dan terimakasih sudah mengobatiku."


"Emmmhhh...," Jawaban tersingkat bukan.


Zie langsung membenarkan pakaiannya lalu segera keluar.


Saat tak ada satu orangpun.


"Ahhh,  shit." Melempar bantal sofa ke  sembarang arah lalu menarik rambut frustasinya.


"Sial... Ada apa denganku, kenapa aku menjadi tak karuan sepert ini hanya dengan melihat pundaknya, lengan yang jelek penuh dengan luka dan kenapa teriakannya memenuhi pendengaranku."


Suga meneguk seluruh kopi yang tadi di buat Zie dalam sekali teguk setelah itu dia menggeleng cepat lalu tersenyum kecut.


Suga sedang sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri.


Janganlah sok tau tentangku karena aku saja tak paham dengan diriku sendiri,  bagaimana sebenarnya aku ini apa lagi kalian yang hanya melihat sisi sempurna ataupun sisi burukku.


.


"Dari mana ajah Zie kok baru datang." Zie langsung pergi ke tempat dia kerja.


Dia bekerja sebagai penjaga dan mengangkut barang-barang tokoh.


"Maaf bibik,  tadi ada tugas sekolah jadi saya telat datang kesini." Menunduk merasa bersalah.


"Baiklah,  tapi bayaranmu tidak penuh."


"Baik bibik."


Majikkannya sangatlah perhitungan dia tidak mau di rugikan sepeserpun dan dia mau menerima pekerja yang masih sekolah karena bayarannya lebih kecil dari pada pekerja pada umumnya.


Skip keesokan hari di sekolah.


Saat Zie baru masuk kelas.


"Zie lo tadi di cari kepala sekolah. Dari kemari lo di cari terus amankan." Tanya salah satu teman sekelasnya dan tak lain teman dekatnya yang bernama Hasan Zibrial.

__ADS_1


"Aman kok San,  gak usah khawatir." Zie tersenyum.


Zue adalah sosok lembut tapi hanya terhadap beberapa orang saja dan itu termaksud Hasan.


"Ah...,  lihat di depan cowok dia tebar pesona banget tapi di depanku dia teriak dan menatapku dengan  tatapan membunuh." Dari jauh terlihat Suga tak sengaja memperhatikan mereka berdua.


Reputasinya terlihat sangat baik bukan, tak ada yang tau luka-luka di balik seragam itu selain Suga.


Orang lain melihat Zie sebagai anak yang mengagumkan apa lagi dia sangat pintar banyak yang ingin menjadi dia.


"Kau telah bekerja keras Zie." Tersenyum yang tidak bisa di tebak arti dari senyuman itu.


.


"Selamat Zie beasiswamu tetap di tanganmu,  dan ini ada untukmu." Kepala sekolah memberikan aplop yang sepertinya isinya kertas juga.


"Saya buka disini pak  ?"


"Tidak perlu Zie? Itu pesan pribadi untukmu."


"Pesan pribadi ?" Zie masih belum sadar dan masih berpikir.


"Suga." Tiba-tiba otaknya menyebut satu nama itu.


"Terima kasih pak, saya permisi pak."


Dia berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah lalu pergi ke belakang ruangan kepala sekolah untuk melihat sebenarnya apa isi surat itu.


Saat dia membuka dan membaca isi surat itu.


"Ahh...,  apa-apaan surat perjanjian ini."Setelah selesai membaca segenap isi perjanjian itu.


"Iya surat perjanjian." Suara yang tak asing siapa lagi kalau bukan Suga.


"Suga." Refleks menyebut nama itu.


"Yap,  kau tau semua dan apapun itu ada harganya."  Tersenyum menang.


"Dari mana sih dia tau aku ada disini ?" Tanya Zie dalam hati.


"Tapi kau taukan aku tak bisa menginap di apartemenmu,  aku punya rumah."


"Yang mengatakan kau tak punya rumah siapa ?" Melirik Zie dengan tatapan tak berdosa.


"Aku akan membersihkan apartenmu tapi aku tak bisa menginap,  tolong berilah sedikit keringanan pada diriku."


"Baiklah,  aku ingin tau dulu seberapa   bersihnya kau bisa membersihkan apartemenku, jika cukup bersih kau bisa pulang tapi jika aku merasa belum bersih kau tidak boleh pulang sebelum bersih."


"Baiklah." Jawab Zie semangat dan merasa bersyukur padahal dia tidak tau akan ada apa kedepan mengancamnya.


Mendengar itu Suga langsung pergi terlebih dahulu.


"Setidaknya ini lebih baik,  tapi kalau di pikir-pikir dia tak sejahat yang terlihat,  buktinya dia tidak bertanya luka apa yang ada di pundak, lenganku dan juga dia tak menyebarkan pada siapapun. Makasih" Sekilas tersenyum  menatap punggung Suga yang semakin lama semakin jauh dan akhirnya menghilang.

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2