
Aku irih padamu, kau punya segalanya. Punya teman-teman yang sangat hebat, punya apartemen menyerupai rumah impianku yang memeng sampai sekarang masih jadi impian.
Punya uang, kekuasaan dan juga kehormatan, sedangkan aku.
.
Setelah aku membereskan apartemen Suga aku berpamitan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 22.20.
"Permisi, saya pulang dulu." Zie
"Aku antar ajah, udah malem." Seru Jhope semangat.
"Nih, masih ada sisa makanan, masih bersih. Kalau mau iya ambil kalau lo gak mau nanti buang di luar." Suga memberikan bungkusan.
Jhope dan Zie pergi.
Zie akhirnya di antar Jhope, di dalam mobil.
"Itu makanan masih baru kok, nyung Suga memang ke gitu. Sok-sokan jahat aslinya sih baik banget." Jhope mengendarai mobilnya sesekali melirik Zie untuk mengetahui mimik wajah Zie.
Zie karena penasarannya membuka kotak makan itu. Benar sekali makanan yang ada di dalam kotak masih tersusun rapi.
"Tolong katakan pada Suga terimakasih." Zie.
"Lebih baik katakan sendiri. Oh iya namamu siapa?" Jhope.
"Zie."
"Oh, umur berapa sekarang." Jhope
"17 tahun." Zie
"Iya ampun, masih tua gue. Umur gue 19 tahun." Zie hanya tersenyum menanggapinya.
"Berhenti di sini saja." Salah satu halte bus yang memang sudah dekat dengan rumahnya.
"Kok di sini ?" Jhope.
"Iya, aku mau mengambil barang titipanku." Jawab Zie sedapatnya.
"Aku tunggu sampai kau selesai." jhope.
"Gak perlu, rumahku dekat dari sini bisa jalan kaki langsung tiba di rumah." Zie.
"Oke baiklah, sampai jumpah besok." Sikap Jhope yang sangat baik dan ramah membuat Zie merasa bersalah telah berbohong pada Jhope.
"Aku gak mau lebih dalam berurusan dengan Suga. Apalagi dia tau rumah gue. Astaga udah jam segini." Zie harus berlari untuk menghemat waktunya.
Aku membuka pelan pintu.
"Kalau jam segini ayah sih belum pulang." Batinku mulai masuk dengan santai.
"Sudah seperti pelacur kau, anak gak tau diri." Di ruang tamu duduk ayahnya dengan keadaan mabuk.
Mata memerah, menggenggam botol kaca minumam keras yang hampir habis.
"Ayah..., ayah mabuk lagi." Menghampiri ayahnya untuk membantu menuntun ke kamar.
"Singkirkan tanganmu itu." Mendorong Zie lalu menamparnya sangat kerang hingga muncullah cap dari tangan sang ayah bewarna kemerah-merahan d1 i wajah Zie.
Perih sekali itulah yang kurasa, mendapat perlakuan yang sangat kasar dari ayahku.
Aku gak tau kenapa ayahku sangat membenciku.
__ADS_1
Kalau memang dia tidak mau aku ada di dunia ini kenapa tak dari dulu saat aku belum mengenal apapun di bumi ini.
Mungkin itu lebih baik dari pada dia selalu memukulku dan mengata-ngataiki dengan perkataan tidak pantas.
Mentalku sudah hancur dan ketakutan yang selalu aku rasakan tapi aku masih menganggap kau adalah rumah terbaik ayah.
Hanya kau yang ku miliki ayah tapi kenapa rumah ini seperti neraka bukan seperti rumah yang seharusnya tempat berlindung, berteduh dan tempat ternyaman.
Zie berusaha bangkit walaupun rasa perih di wajahnya masih terasa dan mencoba nyadarkan ayahnya yang sudah di kuasai alkhol.
"Ayah, sudahlah ayo istirahat." Zie mencoba berbicara secara baik-baik dan perlahan.
"Sudah aku katakan jangan panggil aku ayah." Suara ayahku meninggi dan dia sangat marah.
Kemarahannya di ikuti dengan botol pecah berhamburan karena ayah melemparnya asal.
"Piaaarrrrrr........ "Suara botol yang pecah.
Salah satu pecahan tadi terlempar dan mengenai leher Zie.
Ada goresan yang membuat leher sebelah kanan Zie berdarah untungnya itu hanya goresan yang kecil tidak dalam.
Karena merasa takut dengan kemarahan ayahnya dan terkejut dengan suara benturan botol itu Zie langsung berlari ke kamar tanpa dia rasakan kakinya mengenai taburan kaca yang ada di lantai.
Zie langsung mengunci pintu kamarnya dia langsung duduk dibalik pintu dengan memeluk dirinya, mencoba membuat perlindungan diri untuk dirinya sendiri.
"Emmmhhhh..... "
Tangisnya pecah karena takut atau karena hal lain, dan yang tak bisa dia ungkapkan.
Terus air matanya mengalir hingga sesekali dia senggugukan kehabisan nafas karena rasa sesak didadanya.
"Ayah salah apakah aku, kenapa ayah tega memperlakukan aku begini. Aku anak ayahkan." Berkata lirih.
"bukkk.... bukkk... " Pintu di gedor kencang.
Zie merasa takut dan lebih mempererat pelukkannya.
"Buka, anak sialan."
"dhukk..., dhukkk... "
"Buka.... "
Zie tak mau di pukuli, dia tetap diam tan menutup mulutnya hingga tengisannya tak terdengar.
Karena tak mendapat tanggapan apapun ayahnya pergi.
Zie tau itu dari suara langkah kaki yang semakin menjauh.
Zie masih terus menangis hingga dia lelah dan tertidur di balik pintu.
.
Ke esokkan harinya Zie terbangun dari tidurnya.
Zie merasa sangat lemas ternyata menangis menguras banyak tenaga iya.
Zie bangun pukul 5 pagi swperti biasa. Dia langsung keluar dari kamar.
"Auu..." Saat berjalan terasa sangat sakit.
Zi melihat telapak kakinya ada beberapa bekas luka.
__ADS_1
Iya luka dari akibat dia ijak beling tadi malam.
Dia sediki memincangkan kakinya agar luka itu tidak ada tekanan yang menyebabkan kakinya semakin.
Zie langsung membersihkan lukanya dan mengobatinya dengan salep seadanya.
"mmhhh..." Dia menahan rengekan karena rasa sakit agar ayahnya tidak terbangu.
Setelah selesai dia mulai membereskan rumah yang memang sudah penuh dengan pecahan botol itu.
Rutinitasnya seperti biasa setelah selesai beres-beres rumah dia bergegas mandi dan siap-siap mau berangkat sekolah.
Tetapi saat dia sedang berkaca dia melihat bekas tamparan merah lebam di sebelah pipinya dan luka goresan di lehernya masih terpampang jelas membuat di lemas seketika.
"Kenapa sih luka ini tidak hilang tadi malam, harus bagaimana ini aku." Menangis bertanya pada bayangan dirinya sendiri yang ada di kaca.
Zie membuka baju dan menggantikan dengan baju yang di pakai sehari-hari.
Dan mencari sesuatu yang cocok untuk menutupi leher dan wajahnya.
Akhirnya dia memakai kajet yang mempunyai kerah panjang yang bisa menutupi seluruh bagian lehernya dan memakai masker.
Zie berusaha keras sebisanya agar tak ada yang tau akan bekas luka.
"Aku harus kemana ini, gak mungkin aku terus di rumah nanti ayah akan bangun, aku takut dia akan mengamuk lagi seperti tadi malam." Zie seperti mempunyai ketakutan tak jelas pada ayahnya.
"Kalau aku ke sekolah ibu guru pasti menyuruhku untuk membuka jaket, apalagi di musim panas ini." Zie sangat bingung hingga dia memutuskan untuk pergi ke apatemen Suga untuk lebih cepat membersihkannya agar dia bisa cepat pulang nanti.
.
Suga sudah berangkat sekolah dan melihat Zie tidak terlihat.
"Ke mana anak itu, katanya anak paling pinter dan taat peraturan kenapa dia bolos sekolah ini." Suga menelpon no Zie beberapa kali tapi tak ada satupun di angkatnya.
"Anak ini mulai berani sama gue." Gerutut Suga saat di kelas.
.
Sedangkan Zie masuk ke rumah Suga.
Yang lain sedang santai dengan ke giatan masing-masing.
RM sedang olaraga
Jimin, JK dan V sedang nonton.
Jin sedang masak.
Jhope sedang mengerjakan sesuatu di ruang kerja Suga.
"Artis iya." Seru Jimin, JK dan V dengan polosnya yang melihat cara pakaian Zie.
"Bukan, aku Zie. Aku hanya ingin membersihkan apartemen ini.
"Oh, nuna Zie." Jawab Jimin.
"Zie... Bukan nuna Zie." Jawab Zie yang tidak mau namanya di tambah-tambah.
"Bukan begitu Zie. Nuna arti dalam bahasa korea itu kakak." Jin membawahkan makanan untuk menyiapkannya di meja makan yang tak jauh dari ruang dimana Jimin, JK dan V Menonton.
"Benar nuna." Jawab JK.
"Oh."
__ADS_1