Janji Suga

Janji Suga
Ikuti perintahku


__ADS_3

Zie merasa penat dan tenagahnya sudah terkuras dengan tugas yang sudah dia kerjakan.


Dia melihat Suga dan seorang perempuan berhadapan sedang berbicara.


"Muak banget gue lihat tuh orang,  tapi gue mau ngumpul tugas ilmiah gue. Apa besok ajah iya,  gak jangan takut Zie kalau lo takut dia akan tau  lo sedang menghindari dia."


Tetap maju walaupun dia tau kemungkinan  besar orang itu akan mengganggunya.


.


Awalnya fokus suga masihlah pada perempuan itu tapi saat dia menyadari ada sosok yang lewat dia melirik.


"Ehhhh..., stop." Suara Suga sedikit tinggi hingga perempuan yang di hadapannya terkejut.


"Kenapa sih lo Suga." Tanya perempuan itu.


Tapi Suga tak mempedulihkannya lalu membelakangi perempuan itu hanya untuk menghadap ke arah Zie yang memang langsung berhenti.


"Lo hanya lewat,  gak ngerasa bersalah lo." Dengan nada biasa saja.


Zie menoleh dan menatap Suga dengan tatapan tak suka.


"Emang salah, gue lewat sini,  gak ada nih tulisan gue lewat harus lapor sama lo." Jawab Zie yang lagi-lagi akan dia sesali.


"Oke,  itu mau lo." Menatap Zie dengan tatapan tajam.


Zie pergi dengan badan yang tegap untuk menunjukkan kalau dia tidak terpengaruh dengan semua tindakkan  Suga.


"Siapa sih dia Suga? " Perempuan itu bertanya dan terlihat sangat imut.


"Udahlah, gak usah ikut campur sana ke kelas lo." Kata-kata Suga bagaikan perintah bagi perempuan cantik itu.


Perempuan itu adalah keponakan Suga dan tak lain juga temannya saat SD dulu.


Perempuan itu kini sangat cantik, tinggi, putih dan yang terpenting dia sangat menyukai Suga tapi lain dengan Suga yang menganggap perempuan ini hanya sebagai adiknya.


Perempuan itu bernama Ayuki queenra yang biasa di panggil Yuki.


"Suga..., masih saja kau dingin. Aku sangat merindukanmu tak bisa kau seperti dulu saat kita masih kecil tapi itu semua tak akan terulang kau akan menjadi suga es yang sangat dingin." Sebelum benar-benar pergi dia menatap Suga dengan sendu.


.


Saat mau pulang Zie di panggil salah satu guru untuk pergi ke kantor.


"Ada apa ini?  Tumben banget aku di panggil ke kantor,  perasaanku kok gak enak iya." Zie mulai berjalan ke arah kantor sedangkan di sudut sana ada senyum sinis terlihat jelas.


"Gue gak mau ada satu orangpun yang gak dengeri gue." Memainkan ponselnya.


"Tok....  Tok.... "


Dengan perlahan Zie mengetok pintu agar tidak terlalu mengganggu yang ada di dalam ruangan itu.


"Masuk." Suara berat dan terdengar sangat tegas.


Setelah masuk barulah Zie tau kalau yang menyuruhnya masuk adalah kepala sekolah.

__ADS_1


"Iya pak,  tadi bapak memanggil saya? " Tanya Zie.


"Iya benar bapak yang memanggilmu,  Bapak ingin menyampaikan sesuatu padamu terkait beasiswa yang Zie dapatkan."


"Ada apa dengan beasiswaku pak?" Tanya Zie mulai takut .


"Beasiswamu di cabut karena kemauan direktur sekolah ini."


Zie sangat terkejut dengan berita iya pak kepala sekolah sampaikan.


"Apa alasannya pak,  apakah saya berbuat salah atau melanggar peraturan." Suara Zie bergetar.


"Sebenarnya kamu tidak berbuat kesalahan ataupun melanggar aturan tapi Suga mengusulkan untuk mencabut beasiswamu, karena keluarganya pemegang saham terbesar. Bagaimanapun kami tak bisa berbuat apa-apa Zie." Pak kepala sekolah terlihat sangat menyesal karena tak bisa berbuat apa-apa.


"Baiklah pak,  saya butuh waktu untuk coba menyelesaikan masalah ini. Saya permisi pak." Zie pergi dengan raut muka sangat frustasi.


Berjalan perlahan dengan pikiran yang memenuhi otaknya.


"Gue gak bisa kehilangan beasiswa ini,  gak ada lagi harapan masa depan gue. Gak boleh gue harus bertemu dengan Suga kalau perlu gue berlutut." Zie langsung berlari ke arah kelas berharap Suga belum pergi.


Sesampainya disana dia tak melihat satu orangpun tapi ada pesan tertulis di papan tulis dengan beserta alamat yang gak tau itu alamat siapa.


Gue tunggu lo.


Jalan Zeo no 999. Apartemen no 11.


.Suga.


"Dia sengaja,  tapi aku juga yang bodoh sudah berani bermain api,  seharusnya kau sadar Zie kau tak akan bisa melawan seorang pangeran. " Zie menggedor meja, dia sangat menyesali andai saja dia bisa mengembalikan waktu dan memeprbaikinya mungkin dia tak akan dikenal oleh seorang Suga dan hal ini tidak akan pernah terjadi.


.


Sampai ke tempat alamat yang di tujuh.


Terlihat lingkungan Apartemen yang sangat bagus, luas dan berkelas.


"Benarkah ini apartemennya,  waaahhh...,  rumahku saja hanya sebagian kecilnya,  dia memang sangat kaya tapi dia sangat kejam." Ncim menggerutut lalu mulai mencari no Apartemennya.


"Ini  no 11, gue harus bisa dapati beasiswa gue lagi."


Menekan tombol beberapa kali.


Beberapa saat bunyi pintu perlahan terbuka.


Dan benar saja yang keluar dan yang membukakan pintu adalah sang tuan rumah itu sendiri.


"Lama banget lo berpikir,  masuk."


Setelah mengucapkan itu Suga langsung kembali masuk ke dalam.


"Zie, lo harus tahan dan turuti apa perkataannya demi beasiswa lo,  berlutut-berlutut gue. Yang penting gue berhasil mencegah tercabutnya beasiswaku." Batin Zie yang mencoba tenang.


Perlahan dia melangkah masuk ke tempat yang sangat asing baginya pasalnya ini perdana.


"Duduk,  dan kalau lo haus ambil sendiri minum itu ada disana." Menunjuk ke arah dapur mini yang ada di tempat itu yang kebetulan berdekatan dengan ruang tamu yang memang terlihat mini juga.

__ADS_1


"Tidak terimakasih." Jawab Zie dan duduk berhadapan dengan Suga.


Zie tak mau duduk dekat Suga, karena itu membuatnya semakin menderita.


"Tapi kenapa dia terlihat lebih lembut dan ramah cara bicaranya tidak seperti waktu di sekolahan." Zie mebatin dan sesekali melirik Suga.


Untuk beberapa saat kami hanya diam, dia sibuk dengan ponselnya sedangkan aku masih bingung merangkai kata untuk mengatakan agar dia mengabulkan keinginanku.


"Kau...," Panggil Suga yang masih fokus ponselnya.


"Iya,  ada apa ?" Zie langsung menjawab panggilan Suga.


"Bisa membuat kopi campuran susu hangat." Menatap Zie untuk memastikan jawaban Zie.


"Bisa."


"Tolong buatkan,  aku tak bisa, pembantuku sedang cuti." Nada suaranya seperti sewajarnya orang minta tolong walaupun raut mukanya masih saja datar.


"Baiklah." Zie segera membuatkannya.


Zie membawah secangkir kopi susu hangat sesuai pesanan Suga.


Saat Zie ingin meletakkan cangkir ke meja tepat di hadapan Suga.


Tiba-tiba Suga menahan Zie dengan mencengkram lengan Zie.


"Ahhhwww...." Rintihan yang memang terlihat sangat menyakitkan dari Zie dan hal itu membuat Suga melepas cengkramannya.


"Lebay banget kau,  seperti ini saja. Itu hanya cengkaraman yang tak ada apa-apanya." Tersenyum picik.


Cekraman yang tadi di buat Suga ditutupi oleh tangan Zie tapi bekas cengkraman yang tertutup baju seragam dan juga tangan Zie terlihat ada warna merah yang baru muncul yang membuat Suga fokus pada warna merah itu.


"Darah.... " Mata Suga fokus pada darah yang sudah tembus pada baju Zie.


Suga mendekat untuk memastikan luka pada lengan Zie tapi justru Zie mundur selaras langkah Suga yang ingin mendekat.


"Berhenti, aku gak mau kau melihat ini." Mendengar penolakan Zie Suga sadar itu adalah kesalahannya dia menuruti apa yang di katakan Ncim.


"Baiklah, tapi sepertinya kita harus ke rumah sakit,  darah itu terlihat cukup membuatku risih."


"Gak perlu,  kau tidak usah peduli cukup kau dengarkan apa yang akan aku sampaikan ini." Menatap Suga dengan tatapan memohon.


"Maafkan aku yang sudah berani atau membuatmu tersinggung.  Tolong jangan cabut beasiswaku." Zie mulai berlutut di tempat.


"Aku membuang semua harga diriku di hadapanmu dan aku mohon berpihaklah padaku keberuntungan." Doa yang di panjat Zie dalam hatinya.


Suga yang melihat itu terdiam sejenak.


"Kalau kau memang mau pencabutan Beasiswa itu di batalkan,  ikuti perintahku." Menatap Zie dengan tatapan menatang.


Tanpa berpikir panjang Zie menjawabnya.


"Baik."


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2