
Matahari yang menyilaukan menyambutku dengan penuh antusias dari sela-sela fentilasi.
"Emmmhhh,,,," Badanku seirama dengan kepalaku yang mulai tak karuan berbelok ke kanan dan ke kiri secara cepat karena merasa terganggu.
Mataku awalnya masih setia tertutup tapi karena gangguan itu tak kunjung hilang akupun perlahan membuka sedikit kelopak mataku.
Aku melihat cahaya yang sangat terang, iya seperti cahaya ilahi.
"Terang banget." Dan kesadaranku mulai kembali.
"Gila jam berapa ini." Aku langsung terduduk tapi hal itu yang membuat kepalaku sakit sekali.
"Aahhh, kepalaku." Sahutku yang masih merasa lemas.
Suga adalah tipikal orang yang mabuk lalu keesokan harinya gak ingat apa yang telah terjadi.
Iya seperti sekarang dia sama sekali gak ingat pernah ketemu Jessi.
Perlahan dia mulai bangun dan berjalan.
Suga melihat sekitarnya sudah bersih.
"Ternyata dia sudah membersihkan semuanya, kapan dia datang kenapa aku tak bertemu dengan anak itu."
Dia langsung pergi mandi tanpa memperhatikan meja makannya yang mini itu.
Setelah selesai dia berniat bersiap-siap memakai baju tapi ada sesuatu yang dia lihat yang membuatnya berhenti.
"Siapa yang menyiapkan susu dan roti ini." Suga pun melihat sebuah note di tempat yang sama.
"Saya menyiapkan sarapan ini, cepatlah bangun kalau tidak kau akan terlambat."
#Zie
"Ahh, anak ini dari mana dia tau pasword rumahku." Suga tanpak tidak suka tapi tetap dia minum dan makan.
Suga dengan santai berangkat ke sekolah jika yang lain sudah berlari-lari karena keterlambatannya lain dengan Suga berjalan menujuh kelas bergaya seperti model.
"Oh Tuhan, kenapa aku harus masuk dalam dunia yang ada anak itu sih." Zie menatap benci banget sama Suga tapi saat Suga menatap balik Zie.
Zie langsung tersenyum manis seakan sangat senang melihat Suga masuk sekolah.
Saat pelajaran Zie sangat serius memperhatikan pelajaran tapi dengan santainya Suga melemparnya dengan kertas yang di gulung kecil hingga terasa kalau mengenai Zie.
Zie menoleh ke Suga dan mengangkat kedua pundaknya hingga membulatkan matanya.
Bahasa tubuh.
"Ada apa?" Zie sangat kesal tapi dia membutuhkan Suga jadi dia akan menahannya.
Suga hanya menunjuk kertas yang sudah berakhir di lantai.
Zie narik nafas lalu memungut kertas itu.
__ADS_1
"Gue laper, nanti belikan hotdog, gue gak suka lebih suka gurih dari pada pedes." Zie yang membacanya langsung menggenggam kertas itu kencang lalu baru dia berbalik menampilkan senyum lalu mengangguk.
Indah bukan ketidak berdayaan ini bagi Suga lain bagi Zie yang sangat berharap ini mimpi buruk.
Saat istirahat datang.
"Zie yok ke perpus." Temannya mengajaknya tapi ada yang meliriknya dan memperagakan dia sangat lapar dengan memegang perutnya.
"Aku ada urusan lain kali saja aku ke perpus."
Zie langsung pergi ke kantin untuk membeli pesanannya.
"Gue bisa-bisa bangkrut ini kalau dia terus menyuruhku tanpa membayarnya." Zie menatap senduh uang yang hanya sepeser itu kan kini di rampok dengan pereman tengil lagi.
.
"Enaknya ngerjai dia gimana lagi iya, tapi susah banget menghubungi dia, kayak zaman kuno ajah lempar-lemparan surat. Gue kayaknya harus membeli ponsel untuknya, biar makin seru." Tersenyum sambil melihat ponselnya.
"Suga...," Sahut teman-teman tongkrongannya yang biasa.
"Budek ini telinga gue, pelankan suaramu." Sahut Suga menajamkan tatapannya tanda dia benar-benar terganggu.
"Oke-oke."
"Oh iya, gimana semalam? Berapa kali lo ? Gue lihat sendiri loh tu cewek seksi banget lagi." Mendengar hal itu yang lain tertawa sedangkan Suga seperti orang linglung yang memang gak tau atau lebih tepatnya gak ingat sama sekali.
"Ngomong apa sih lo ?"Suga terus menyangkal.
"Gila lo, habis lo nikmati malam yang menyenangkan lo lupai, bangsat banget lo. Jangan gitu juga Suga." Kalimat itu sangat-sangat jelas dan Zie mendengar semua itu membuatnya berpikir hal yang negatif bukan.
"Astaga dia memang bajingan, dan gue terikat dengannya seperti ini. Gue akan hidup di neraka kali ini. Gue bener-bener jijik dengan perbuatannya." Merasa jijik dengan Suga.
Dia langsung melangkah mendekat lalu meletakkan makanan pesanannya dengan cukup kasar di hadapan Suga lalu menatapnya dengan tatapan benci.
"Ini pesenan lo." lalu pergi melangkah meninggalkan Suga dan yang lain.
"Tunggu, cepet banget lo mau pergi." Sahut Suga yang melihat sifat Zie mulai aneh.
"Gue mau ke toilet, lo mau ikut." Sahut Zie yang terdengar judes.
"Kenapa tuh bocah, kok sifatnya langsung berubah 180 derajat." Berpikir dan melihat Zie telah menghilang dari jangkauan matanya.
"Sebenarnya gue gak ingat sama sekali, kebiasaan gue kalau udah mabuk memang sama sekali gak ingat apa-apa." Berkata pelan.
"Serius, lo mabuk. Seorang Suga mabuk." Mereka seakan tak percaya dan mengejek Suga.
"Terserah lo percaya atau enggak."Memain kan ponselnya.
.
Pulang sekolah bertemulah Suga dan Zie di dekat parkiran.
"Heiii.... " Panggil Suga.
__ADS_1
Zie menatap tajam Suga dengan tatapan marah.
Zie mendekat ke arah suga.
"Hei.., lo, kau. Aku punya nama Suga, tapi kau selalu memanggil dengan sebutan itu."
"Sayangnya memang aku gak mengenal namamu makanya aku memanggil dengan sebutan, hei, lo, kau." Menjelaskan dengan sangat santai.
"Iya udah gak usah manggil gue, gampangkan."
Suga menarik tangan Zie agar lebih mendekat tanpa sepengetahuan Zie.
Jarak Suga dan Zie sangat dekat.
"Ada apa sih dengan lo? Kok sifat lo jadi seaneh ini." Suga berkata lembut.
"Lihat sorot matanya dia sangat tajam, sepertinya dia sangat membenciku. Tatapan ini seperti tatapan orang lain terhadapku, Aku pikir anak ini berbeda tapi dia sama ajah. Pasti dia irih terhadap kehidupanku dan ingin memanfaatkanku." Suga membatin selagi masih menatapnya.
"Dasar berengsek kalau gak karena Beasiswa gue, pasti gue udah tinju tampang sok ganteng lo. Seandaikan membunuh gak berdosa lo adalah orang pertama yang ingin gue bunuh." Zie juga membatin karena merasa tertekan harus berurusan dengan orang seperti Suga.
"Sifat gue emang dari dulu ke gini, gak ada yang berubah, lo ajah yang baru sadar akan sifat gue ini."
"Oh iya, dari mana lo tau kata sandi apartemen gue?" Mulai pembicaraan dengan serius.
"Bukannya semalam lo yang bukai sendiri dan ngomong ke gue buka iya tinggal buka. " Tersenyum tipis karena Zie muak dengan Suga.
"Bermalam dengan wanita itu pasti dia ingat setiap menitnya atau bahkan setiap detiknya. Sangat drama banget sih." Membatin Zie.
"Gue yang buka ? Gue juga yang nyuruh lo" Suga semakin bingung dan tidak percaya.
"Iyalah, menyangkal terus ajah loh. Iya karena itu gue bisa masuk tadi pagi. Gue kan tugasnya beresi apartemen lo jadi iya sekalian gue buat sarapan untuk lo." Zie mengatakan sebenarnya tapi Suga menatap penuh dengan curiga.
"Kok gue masih gak percaya."
"Ahh... Jangan-jangan lo punya dua keperibadian. Kemaren malam gaya lo sok-sokan banget dan sekarang kayak orang lugu yang bersih dan gak berdosa."
"Tungguh-tungguh kok lo kayaknya nyolot banget. Lo dendam sama gue." Menatap Zie dengan tatapan kesal.
"Gak kok." Memutarkan bola matanya agar tak bertemu dengan tatapan Suga.
"Iya udah nih, buat lo agar gue semakin mudah nyuruh-nyuruh lo."
Memberikan sebungkus barang ke Zie.
"Apaan ini." Melihat bungkus plastik biasa.
"Iya buka, lo nyuruh gue yang bukai."
"Enggaklah." Zie membuka bikisan itu dan dia melihat ponsel merek apple 12x.
"Lo serius ini untuk gue, ini mahal loh." Zie mempertanyakan menatap Suga gak percaya.
"Gak usah geer, itu untuk kerja juga."
__ADS_1