Janji Suga

Janji Suga
Menjauh


__ADS_3

Di sini aku menjadi peran utama dalam drama kehidupan, Dalam sebuah akhir cerita hanya ada dua kemungkinan happy ending or sad ending.


Semua percuma mau kau peran utama ataupun peran pendukung kau tak akan pernah tau akhir ceritamu kecuali sang penulis.


Jangan jadi orang yang paling menderita kalau kau tak tau bagaimana orang lain menjalankan hidupnya dengan penuh tipu daya.


Di sekolah terlihat seperti biasa, Zie masuk karena bekas yang ada di mukanya hilang.


"Ternyata dia sudah masuk, baguslah." Saat Suga masuk kelas dan langsung melihat Zie sudah duduk di kursinya.


Saat istirahat Zie sengaja menghindari Suga,  saat dia melihat Suga dan rombongannya ada di depan sana Zie langsung putar balik tapi Suga sudah melihat sosok Zie.


"Zie...,  Zie...,  Zie...," Sahut Suga yang mengundang puluhan pasang mata yang ada di sekolah itu melihat Zie yang terlihat jelas menghindari Suga.


"Dasar psikopat,  dia mau aku mati karena malu, kenapa juga dia harus memanggil namaku sekencang itu sih." Zie langsung berlari tak sanggup menghadapi situasi yang semakin ribet.


"Sejak kapan lo, akrab sama Zie." Sahut Lukas iya memang satu kelas juga satu angkatan dengan Suga dan Zie.


"Gak akrab sih tapi unik ajah namanya, singkat." Jawab Zie sekenaknya.


"Cuma itu, murid-murid di sini lebih dari 200 siswa dan lo hanya melirik Zie si jenius di kelas kita." Jawab Lukas yang seakan tak percaya seorang Suga akan memperlakukan perempuan sampai sejauh itu kecuali kupu-kupu malam.


"Jadi apa yang lo mau untuk jawabannya, lo gak akan percaya kan." Menatap mata Lukas dengan rasa jengkel karena di curigai dengan hal yang gak penting bagi Suga.


Di kelas ada seorang cowok yang cukup tampan, dia adalah anggota osis sekaigus teman Zie, dia bernama Elang Biktono.


Aku memanggilnya Ebik, aku cukup akrab dengannya, dia juga yang memberikan aku pinformasi tentang sekolah, agar aku tidak ketinggalan.


"Zie, kemana lo kemarin? Lo gak sakitkan? " Bahasanya sedikit kasar dan tegas tapi dia adalah orang yang paling perhatian terhadap Zie.


"Gak, aku hanya mau bolos ajah, bosen." Aku juga menganggap Ebik sebagai sahabat baik, aku bisa menjadi diriku sebenarnya tapi aku masih menyembunyikan cerita suramku.


"Udah mulai nakal ajah." Ebik mengacak-ngacak rambutku.


"Ebik.... rambutku." Seruku mencoba menghentikan tangan Ebik tanpa menyadari di hadapan kami sudah ada Suga yang melihat kedekatan kami seperti orang pacaran.

__ADS_1


Ebik yang tidak kenal ataupun tidak mau kenal dengan Suga tidak menggubris kehadirannya dia semakin asik mengacak-acak rambutku sambil tertawa.


"Ebik, rambutku rusak." Aku menatap Ebik dengan sebal lalu pergi berpapasan melewati Suga yang masih terdiam.


"Kenapa sih denganmu Zie, kenapa kau tak mau Suga melihatmu dekat dengan orang lain seakan aku ingin menjelaskan apa yang terjadi, tapi untuk apa? bodoh... dia gak akan peduli."


Mungkin inilah yang rasa yang memang tak bisa di atur kepada siapa kau harusnya merasakan.


.


Suga menatap tajam Ebik, tapi sang Ebik tidak ( r. apapun karena dia merasa tak kenal dan tak dekat dengan Suga.


Saat Ebik ingin melangkah pergi karena tak ada lagi urusannya dia berlama-lama di situ.


"Kau, Siapanya Zie ?" Tanya Suga yang membuat langkah Ebik berhenti.


Kini mereka saling berhadapan dan seperti ada aura membunuh.


"Gue pacarnya." Dengan bangga dan tersenyum seakan dia paling beruntung memiliki Zie.


Ebik yang awalnya sangat semangat mendengar Suga menghina Zie berubah menjadi emosi tapi Ebik adalah sosok cerdas yang bisa menahan amarahnya di tempat umum ini.


"Rendah ! Oh selera tuan Suga tinggi iya, kupu-kupu yang berkeliaran di luar, indah sih tapi tidak hanya satu bunga yang dia hinggapi. Begitukah yang kau maksud tinggi, Suga. Aku lebih memilih sang ratu yang siap membantu dan menemani sang raja dan raja yang baik hanya mempunyai satu ratu tidak lebih." Ebik tertawa lalu pergi.


"Sial." Suga terlihat sangat marah.


Para tamu sudah pergi ke negara asalnya kini hanya ada Suga dan Zie.


Zie sibuk membersihkan apartemennya Suga dan kebetulan Suga sudah ada di ruang belajarnya sedang menonton flim di leptopnya.


Mulutnya sibuk mengunyah, tangannya sibuk mengupas dan matanya masih setiap pada flim yang dia tonton.


Zie yang membersihkan ruang itu mulai kesal karena Suga membuang sebarangan kulit kacang yang ia makan.


Padahal Zie sudah membersihkannya dan dia sudah memberikan tempat kotak sampah tepat didekatnya untuk tempat kulit kacangnya tapi tanpa rasa berdosa dia membuang sembarang kulit kacang itu.

__ADS_1


"Suga, ayolah... jangan buang kulitnya sembarangan. Kapan aku selesai mengerjakan ini semua, kalau kau melakukannya lagi dan lagi jadi percuma aku membersihkannya." Suga melihat Zie yang kesal memutar kursi kerjanya yang seperti kursi kantoran bisa di putar-putar dan menghamburkan kacang ke atas hingga kacang itu berjatuhan dan berhamburan di lantai.


Kursinya semakin kencang berputar hingga maju ke arah Zie.


Zie yang tertabrak oleh kursinya Suga goyah kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke pangkuan Suga, seketika mereka tatap-tatapan.


Melihat Rambut Zie yang menutupi sebagian wajah Zie, Suga menyingkirkannya ke arah belakang telinga Zie lalu menatapnya lebih dalam.


"Zie, maukah play denganku." Suaranya sangat candu membuat Zie merasa hal yang menggebuh-gebuh tapi otaknya masihlah murni.


"Play, bermain?" Tanya Zie dengan tatapan tak mengerti.


"Main, main games?" Pemikiran Zie.


"Sexs." Jawab singkat Suga tapi bisa menjelaskan pertanyaan yang ditanyakan Zie dan Zie mulai merasakan hal yang aneh di tempat ia duduk.


Zie yang mendengar dan merasa ada yang aneh langsung berdiri dengan cukup susah juga.


"Kau gila Suga." Menatap Suga dengan tatapan benci.


"Aku hanya menawarkan bila kau tak mau iya tidak papa, tapi kalau kau berubah pikiran silakan kau katakan saja, tenang setiap tindakkan pasti ada harganya kok, aku pastikan harganya sebanding." Mengatakan dengan sangat sombong.


Kini Zie benar-benar sangat marah.


"Aku gak akan mau, kecuali aku sudah gila baru aku mau melakukannya padamu. Dasar orang stres." Zie langsung meninggalkan Suga, bukan hanya pergi menjauh tapi pergi keluar dari aprtemen itu, dia tak peduli dengan ruang kerja Suga yang belum bersih.


Di jalan Zie ngomel-ngomel gak jelas.


"Ada orang kayak gitu iya, mesum pada hal masih SMA ajah, ihhh pengen banget aku kutuk kau jadi kodok jelek."


"Bib... bib.. " Notifikasih dari ponselku.


"Ruanganku belum selesai kau besihkan." Pesan dari sang tuan.


"Bodoh amat." Menutup ponselku tanpa membalas pesan itu.

__ADS_1


__ADS_2