
"Kenapa Zie jam segini udah ke sini ajah? Gak sekolah apa?" Jin nyung yang mulai menarik satu-satu adeknya apalagi Jimin, V dan JK yang sangat susah di ajak kalau sudah nonton telivisi.
"Lagi pengen bolos kak." Jawab Zie blak-blakkan.
"Usssttt...." Jin nyung langsung membuat jari telunjuknya ke mulut agar Zie diam.
Serentak Jimin, V dan JK melihat Zie dengan sangat antusia.
"Wauuu... Keren nuna, berani bolos." Jimin dan JK memang masih 3 SMP sedangkan V sudah 3 SMA dan yang lain kuliah ataupun sudah lulus.
"Upppssss maaf kak." Ujar Zie merasa bersalah mengajarkan hal yang tak baik pada 2 orang ini yang umurnya di bawah dia.
"Udah-udah V, Jimin ayo makan, Jk panggil nyung-nyungmu."
"Kok Jk sih, V ajah sana." Jk merengut.
"Jk." Jin nyung menatap tajam Jk.
"Iya..., iya." Akhirny Jk pergi memanggil hyungnya yang lain.
"Makan Zie, ini nyung sendiri yang masak. Gak usah takut Suga marah." Jin nyung menawari Zie.
Zie bingung bagaimana menolaknya, dia gak mungkin menerima tawaran itu apa lagi dengan kata lain dia harus membuka maskernya.
"Gak usah kak, Zie buruh-buruh mau nyelesaikan kerjaanku mau ada urusan setelah ini. Permisi kak." Zie langsung kabur agar Jin nyung tak curiga.
Mungkin karena kecapekan dan sesak pakai masker Zie tanpa sadar membuka maskernya ke bawah.
Di situ juga ada Jin nyung yang melihat wajah Zie seperti bekas di pukul langsung ingin menghampiri Zie.
"Jangan, dia dari tadi menyembunyikannya pasti dia akan menutupinya kalau aku datang kesana." Jin mengurungkan niatnya.
Jin mangambil gambar Zie tanpa sepengetahuan Zie.
Lalu mengirim ke Suga.
.
Suga yang memang sedang asik main di ponselnya mendapat notifikasi dari nyungnya langsung membukanya.
Terlihat foto Zie yang sebelah wajahnya terluka.
"Suga, dia kenapa? Bukan kau kan yang buat hal itu?" Jin nyung.
__ADS_1
"Bukan nyung, aku akan pulang ajak yang lain ke luar dulu." Suga
"Oke." Itu adalah percakapan Jin dan Suga di chatingan.
"Sebenarnya Zie kenapa sampai ke gitu, kasihan mukanya yang cantik itu." Jin nyung akhirnya pergi meninggalkan Zie dengan beralasan mau jalan-jalan rekreasi di indonesia.
"Zie jaga apartemen ini iya nyung dan yang lain mau jalan-jalan selagi di Indonesia." Mereka sudah siap tapi dengan wajah yang tidak semangat apa lagi Jhope dan RM yang tadi sibuk olaraga dan main game.
"Siap kak Jin."
Zie melanjutkan pekerjaannya, tak berapa lama Suga datang dan langsung masuk.
"Lo udah pulang, bukannya masih ada kelas iya jam segini." Zie bingung kenapa Suga sudah ada di sini.
Suga masih diam, dia melemparkan sepatu, dan tasnya ke sembarang tempat.
"Kenapa nih anak, kesurupan apa iya dari mulai masuk dia diam dan pandangannya sangat benci atau dia habis berantem." Membatin dalam hati, mengambil tas dan sepatunya untuk membereskan ke tempat yang seharusnya.
"Lo..."Menatap Zie dan diam sejenak.
"Emmhh...," Menatap balik Suga dengan masih menggunakan masker.
Tatapan emosi yang terlihat kini memudar berubah menjadi tatapan tenang seperti biasa.
"Apa yang kau lakukan ?" Mencoba menghentikan Suga tapi melihat mata Suga yang seakan mengatakan semua akan baik-baik saja Zie menyerah hanya dengan tatapan itu.
"Sakit...?" Tanya Suga lalu menyentuh wajah yang sakit itu dengan sangat perlahan bagaikan benda yang dia sentuh adalah benda yang paling rapuh.
Zie yang mendapat perlakuan itu dari seorang Suga tak mampu mengerti dan mematung seketika.
Hingga terasalah dingin yang menjalur ke seluruh tubuh saat tangan Suga sepenuhnya menyentuh pipiku yang terluka itu.
"Semua akan baik-baik ajah." Kini Suga sedikit senyum.
Tapi senyum itulah yang membuat bencana dalam hidupku.
Otakku tak berpikir dengan baik, jantungku memompa lebih cepat, hatiku bergetar tak karuan, akal sehatku mulai hilang.
Bagaimana tidak, sepertinya aku menyukai manusia es ini.
"Kenapa dia bisa seperti ini ?" Menatap Suga dengan lebih dalam.
"Gak usah di lihati terus, gue tau gue ganteng." Suara Suga yang serak terdengar sangat seksi.
__ADS_1
"Apa aku sudah gila, kenapa aku berpikir suaranya terdengar begitu seksi." Zie mencoba menyadarkan diri dengan menampar diri sendiri dengan pikiran bertolak.
"Gak usah sok ganteng, kepedeanmu itu kayak penyakit tau." Zie malingkan mukanya agar pandangan mereka tak begitu dekat.
"Zie, tidakkah yang bisa aku bantu." Melirik wajah Zie yang sedang dicompres dengan tangan dingin Suga.
"Maaf, ini urusanku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Zie melepaskan tangan Suga lalu pergi menjauh.
Ini hidupku Suga, kamu gak akan tau bagaimana dan dengan cara apa aku bisa hidup sampai sekarang ini.
Luka ini bisa sembuh dengan berjalannya waktu sedangkan rasa trauma dan malu di pandang kasihan ataupun hina itu yang membuat aku ingin sekali menggantungkan rasa sakit dalam seutas tali yang kokoh.
Suga hanya berjalan bolak balik tak karuan di kamarnya. Dia sangat menyesal mencoba ikut campur terlalu dalam dengan masalah Zie.
Padahal dia sangat paham, kalau rasa sakit dan trauma itu tidak akan cepat sembuh ataupun hilang. Orang seperti itu juga gak pernah gampang percaya pada sembarang orang apa lagi aku adalah sosok yang mungkin dia benci.
"Ehhhh, sial. Kenapa Suga kau bodoh sekali, tidak bisa menahan sedikitpun rasa penasaranmu."
Pikiran Suga semakin kikuk dia tidak tau harus bereaksi bagaimana terhadap Zie nanti kalau mereka bertatap muka.
.
"Aku harus segera keluar dari sini, aku gak mau dia memaksa gue jujur tentang keadaan gue dan dia nanti akan menyebarkannya ke seluruh murid di sekolah, gue gak mau." Zie sangat takut kalau hal yang dia pikirkan akan terjadi apalagi Suga bukanlah teman, lebih tepatnya kayak musuh.
Suga keluar dan melihat Zie yang sedang membelakangi dia.
Suga perlahan menyentuh pundak Zie.
"Ah... Kaget gue." Berbalik dan melihat Suga.
"Gue pelan dan gak ada gue ngageti lo. Jangan lebaylah." Mungkin ini udah sifat dasar Suga yang cuek banget.
"Iya, semua udah selesai gue mau pamit pulang." Jawab singkat tak mau memperpanjang percakapan dan mau cepat-cepat pergi.
Suga melihat sekeliling yang memang sudah bersih dan rapi.
"Oke."
Suga tak punya alasan untuk menahan Zie untuk pergi.
Setelah Zie keluar.
"Astaga ada apa sih denganmu Suga, kok susah banget ngomong maaf tadi udah terlalu ikut campur. Giliran orangnya gak ada gampang banget moncong ini ngomong." Suga kesal sendiri dengan dirinya yang seakan habis kata-kata kalau udah berhadapan dengan Zie.
__ADS_1