Jejak Buku Mistis

Jejak Buku Mistis
PROLOG


__ADS_3

"Tempat apa ini?" Di suatu Padang ilalang yang luas, Lucas mengedarkan pandangan mengira dimana ia sebenarnya.


"Apakah aku sedang bermimpi? Dimana aku?" Lucas berjalan tak tau arah karena disekeliling nya hanya ada rumput liar yang telah menjulang tinggi.


"Hikss..hikss... Hikss.." terdengar dari kejauhan suara anak kecil yang sedang menangis, Lucas pun mengikuti arah suara tersebut.


Dibawah pohon yang mati ada seorang anak kecil perempuan kuncir dua berpita memakai gaun kuning dan dipundak nya ada tas selempang bergambar boneka. sedang memeluk lutut nya sambil menangis, Lucas pun menghampiri. "Gadis kecil, kamu kenapa menangis?" Tanya Lucas.


"Kamu mencari orang tuamu? Atau kamu tersesat?" Tak ada jawaban dari anak itu, anak itu hanya menangis sembari menutup wajah nya dengan tangan mungilnya.


"Mau aku bantu carikan?" Tawar Lucas. Tiba-tiba anak kecil itu berdiri dan menggenggam tangan Lucas. Anak kecil itu berlari seakan menyuruh Lucas untuk mengikuti nya.


"He-hei! sebentar kita mau kemana?!" Lucas yang kaget karena tangan nya yang ditarik anak itu dan berlari mengikuti langkah anak kecil itu.


"Hei, jawab aku jangan diam aja!" Seketika anak kecil itu berhenti, dan menunjuk ke arah sebuah rumah besar yang usang yang dimana sekeliling rumah itu ditumbuhi rumput liar. Lucas dan anak itu menuju rumah itu, di atas rumah itu ada sebuah papan yang bertuliskan 'PANTI ASUHAN KASIH IBU'.


"Panti Asuhan? Gadis kecil ini tempat tinggalmu?" Anak kecil itu hanya mengangguk, dan menggenggam tangan Lucas untuk masuk bersama nya kerumah itu.


"Ka-kamu mau aku masuk juga?" Cuma anggukan yang diterima Lucas.


"Kamu bisa ngomong ngak sih?" Tak ada jawaban. Anak kecil itu hanya berjalan memasuki teras rumah itu.


"Yaudah aku anterin kamu sampai depan pintu." Lucas pun mengetuk pintu rumah besar itu.


"Permisi!!" tak ada tanda-tanda kehidupan disana, Lucas penasaran apakah anak kecil itu benar-benar tinggal disini. Karena yang dilihat Lucas rumah ini tak layak dihuni.


'Apakah anak ini tinggal bersama orang tua nya?' tanya Lucas dalam hati.


Krekkkk!! Anak itu membuka daun pintu dan masuk kerumah itu.


"Dia udah masuk, sebaik nya aku langsung pergi." Lucas pun berbalik dan ingin pergi dari sana. Tiba-tiba ada beberapa tangan yang besar menarik Lucas masuk ke dalam rumah itu.


"Arghhhhhhhhh...!!" Brukkkk!! Lucas terjatuh.


''Krekkkk!!!" Pintu itu tertutup dengan keras. Badan Lucas yang sakit itu terpaksa berdiri dan berusaha untuk membuka pintu itu. "Sial pintunya tidak bisa dibuka!". Berkali-kali Lucas menarik handle pintu itu.


"Apasih yang sebenarnya terjadi?" Dan tempat apa ini? Panti Asuhan, tapi kenapa seram begini?" Pandangan Lucas mengitari di seluruh sekeliling nya.


"Gadis kecil tadi pergi kemana ya?" Lucas pun berjalan kedalam rumah.

__ADS_1


"Gadis kecil kau dimana?" Panggil Lucas tapi tak ada sahutan dari siapapun.


Lucas terus berjalan sepanjang rumah, sepertinya itu adalah ruang tamu karena ada sofa dan meja di tengah-tengah ruangan itu, tidak banyak benda yang ada disana hanya ada beberapa foto yang terpajang di dinding ruang tamu itu. Lucas masih berjalan dirumah luas itu dan memandangi setiap sudut rumah. Mata Lucas melihat salah satu foto disana, dan foto itu seperti tidak asing bagi Lucas.


Foto keluarga yang terdiri dari sepasang orang tua yang menggendong 2 orang anak laki-laki dan perempuan. "Eh, ini foto orang tuaku kan? Kenapa terpajang disini?" tanya Lucas dengan heran, kenapa foto dirinya dan orang tuanya ada di Panti Asuhan ini.


Di foto itu Ayah Lucas sedang menggendong anak laki-laki, anak laki-laki itu adalah Lucas, sedang kan ibu sedang menggendong anak perempuan lain, tapi foto anak itu tercabik yang membuat Lucas bingung siapa anak perempuan itu.


"Dan foto siapa yang tercabik ini?." Asyik memikirkan siapa anak yang didalam foto itu, tiba-tiba ada suara yang memanggil Lucas.


"Lucas!... Lucas!.." Lucas mencari asal suara itu.


"Gadis kecil kau kah itu?" Tanya Lucas. Lucas pun mulai berjalan lagi memasuki koridor rumah itu, rumah yang remang-remang karena hanya ada sinar bulan yang masuk melalui celah-celah dinding yang usang itu.


"Gadis kecil itu kira-kira kemana ya?" Lucas mengedarkan pandangan nya ke seluruh koridor itu.


'Tap! Tap!' bunyi langkah kaki dibelakang Lucas. Lucas berbalik badan dan melihat anak kecil itu berjalan dengan cepat.


"Eh, tunggu!!" Lucas mengikuti anak kecil itu tapi langkah anak kecil itu begitu cepat.


"Tadi dia jalan arah sini kan?" Ada pintu yang terbuka dan Lucas pun masuk kepintu itu. Terdapat lorong yang panjang Lucas pun mengikuti lorong itu.


Diujung lorong ada sebuah pintu yang tertutup. "Pintu dari ujung lorong ini, dia pasti lari kesini." Lucas pun membuka daun pintu itu.


Kreekkkk!!! Pintu itu terbuka, bau yang anyir yang menyengat dan hawa dingin yang gelap dirasakan Lucas saat membuka pintu itu.


Di atap-atap rumah itu Lucas melihat ada beberapa boneka-boneka yang sengaja digantung. "Kenapa boneka-boneka ini digantung?" Tanya Lucas yang heran melihat semua boneka itu.


"Tempat apa ini sebenarnya? Ahh sebaiknya aku harus cepat keluar dari sini!." Lucas bergegas ingin meninggalkan ruangan yang aneh itu. Saat baru ingin melangkahkan kaki nya Lucas mendengar suara tangisan lagi.


"Hikss..hikss..hikss.." Lucas berbalik badan. Suara tangisan itu semakin lama semakin kencang.


"Hikss..hikss..hikss.." Lucas mengedarkan pandangan nya ke kiri dan kekanan. "Kalian ini kenapa? Jawablah!!" Teriak Lucas.


"Lucas..Hiksss.. Lucas.. Hikss..hikss.!" Lucas mencari asal suara itu tapi ia tak menemukan ada orang disana.


Tiba-tiba tangan Lucas dipegang erat oleh anak kecil yang tadi. "Lucas.. Akhirnya kita bertemu!! Hi hi hi.."


Anak kecil itu menghadap ke arah Lucas, Lucas melihat kedua mata anak kecil itu bolong dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.

__ADS_1


"LUCASSSSSS!!"...


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


"Arghhhhhh!!!"


"Hah, hah, hah mimpi itu lagi, mimpi yang terulang setiap malam!." Yang Lucas alami tadi hanya mimpi.


Lucas heran kenapa mimpi itu selalu muncul setiap malam. Lucas yang tadinya ingin mengerjakan novel nya yang akan terbit malah ketiduran di depan laptop nya.


Lucas meraih gelas yang berisikan air putih di samping laptop nya langsung meneguk air itu sampai kandas. "Ada apa ini sebenarnya? Mustahil aku selalu mimpi yang sama dan berulang-ulang setiap malam." Lucas menutup laptop nya dan kembali kekasur untuk tidur. Kepala Lucas pusing kerjaan belum kelar tapi mimpi itu terus datang terus.


Pagi hari telah tiba, Lucas yang susah tidur sejak semalam itu terbangun karena alarm nya telah berbunyi. Lucas bergegas mandi dan setelah itu sarapan.


Didapur Lucas sedang menyeduh kopi sachetan. Untuk mengurangi rasa kantuk nya. "Sial!! Gara-gara mimpi yang terus berulang itu, aku jadi ngak bisa tidur. Novel Romansa ku harus segera rilis." Seru Lucas yang merutuki mimpi nya yang semalam.


"Obat tidur pun tidak mempan untuk insomniaku, kerjaanku malah semakin berantakan!!" Lucas melihat ke arah jendela sambil menyeruput kopi buatan nya itu.


"Padahal menjadi penulis adalah impianku, tapi aku malah jadi tidak bisa menulis.. kalau seperti ini terus bisa kacau hidupku!!" Oceh Lucas yang lagi-lagi merutuki mimpi itu.


Drtttt...Drtttt..Drttt.. getaran Hp Lucas di atas meja, tertulis nama 'Sindy' di layar Hp itu. "A-ahh-a i-iitu.. ma-maaf baru selesai satu bab." Jawab Lucas cengengesan. Ia langsung buru-buru menjauhkan handphone itu dari telinganya.


"APPAAAAA!!!!! BARUU SATU BAB?!!" sepertinya penelpon itu sedang marah karena dari intonasi nada nya.


"Maaf Sindy!" Jawab Lucas.


"Aduhhh Lucas, Bentar lagi Novel lu udah mau tayang, dan lu baru selesai satu bab!! Arghhh! Kacau ni, kok lu jadi begini sih Luc!! Padahal dulu lu semangat biar novel lu bisa terbit. Lah pas mau terbit malah jadi lelet kayak gini. Perjuangin dong Lucas!!" Omel Sindy.


"Udah segini juga, lu punya masalah?!!" Sambung Sindy.


"Iya, sebenarnya.. mmhhhm.." Ctakk!! Ctak! Laptop Lucas tiba-tiba mengetik sendiri. Lucas yang kaget tidak langsung menjawab pertanyaan Sindy.


"Halo Lucas.. lu kenapa?" Tanya Sindy di seberang telepon.


Ctak!! Ctak!! Ctak!! "Halo Lucas.. kedengaran ngak?!" Tak ada jawaban dari Lucas, Lucas memperhatikan setiap ketikan yang ada di laptop itu.


Ctak!! Ctak!! Ctak!! Peluh Lucas menetes, Lucas melihat dengan seksama ketikan itu.


TOLONG KAMI LUCAS!!!

__ADS_1


__ADS_2