
"AARRRRGHHHHHHH LEPAS KANN!! AARRRGGGHH!!! Teriak Tiwi dengan Nyaring.
Tiwi terjatuh tetapi ia tetap memegang erat buku rekening itu. "Tidak, Tidak!! Semua ini tidak nyata!! Hantu itu cuma khayalan dari rasa takut ku saja. Aku tidak akan menyerah dengan harta yang ku kumpulkan sejak dulu.!" Kata Tiwi sambil mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru kamar nya.
Ia bangkit dari posisi nya dan berteriak dengan lantang. "HEIII RENA, KAU KIRA AKU AKAN TAKUT PADAMU HA? SEKARANG KAU SUDAH MATI!! KAU SUDAH TIDAK BISA APA-APA LAGI.!" hardik Tiwi dengan nyaring.
Lucas mengetok pintu kamar Tiwi karena mereka mendengar suara Tiwi yang berteriak. Tokkk..tokkk.. "Bu Tiwi menyerahlah, anda tidak mau kan menjalani kehidupan dengan rasa bersalah selamanya?!" Kata Lucas.
"Aku harus mencegah nya masuk kesini." Kata Tiwi setelah mendengar suara Lucas dari luar kamar nya.
Tiwi mendorong meja riasnya untuk menjadi pengganjal pintu. Lalu Tiwi duduk di tepi ranjang tidur nya, kotak yang berisikan buku rekening itu pun tak lepas dari tangan nya.
"Setelah mereka pergi jauh dari rumah ku, aku juga harus pergi dari sini." Kata Tiwi.
Di bawah kolong ranjang tidur Tiwi muncul kedua tangan, tangan itu lalu memegang kedua kaki Tiwi. Tiwi yang tak sadar dan masih asyik dengan pikiran nya, bahwa ada sesuatu di kolong ranjang nya dan memegang kakinya. Kedua tangan itu pun menarik kaki Tiwi sampai Tiwi terjatuh. "Aaahhhhhh.." Bruughh.. suara hentakan keras di lantai.
"Arghhh!!" Ringis Tiwi, ia lalu menoleh kebelakang nya dan menendang-nendang kan kaki nya ke bawah kolong itu.
"Ini nggak nyata! Ini nggak nyata!." Ia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi di hadapannya, ia pikir ini hanya halusinasi semata.
"Tidak ada apa-apa dibawah, ini pasti hanya khayalan ku saja." Tiwi menunduk dan melihat ke bawah kolong ranjang nya.
"Sudahlah, aku harus segera berkemas." Tiwi langsung bangkit bediri.
Diluar kamar nya Tiwi, ada Lucas, Sindy, Pak Nugroh dan pembantu Tiwi yang sedang menunggu di luar kamar. "Aku akan mendobraknya." Kata Lucas, ia segera mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu.
BRAKKK... BRAKKK... Lucas mendobrak, menendang. "Tidak bisa, sepertinya dia menghalangi pintu nya dari dalam." Ujar Lucas , karena pintu itu tak mau terbuka walau sudah sekeras tenaga Lucas lakukan.
"Emmm, Buk apa ada jalan lain untuk menuju ke kamarnya?" Tanya Lucas ke pembantu Tiwi.
"Nggak ada mas, karena kamarnya ada dilantai 3 jadi ngak ada jalan lain untuk masuk kesana." Jawab Pembantu Tiwi.
"Aduhhh, polisi juga lelet amat sih datang nya, padahal gue udah nyerahin bukti-bukti nya Berjam-jam yang lalu." Rutuk Sindy.
"Kita tungguin aja dia nyerah, dia ngak bisa selamanya disana kan? Karena aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi didalam." Kata Lucas ke Sindy.
__ADS_1
"Iya suaranya gaduh, seperti sedang berbicara sama seseorang." Jawab Sindy, karena didalam kamar Tiwi seperti ada kegaduhan yang terjadi.
"Apa jangan-jangan ada sosok Rena disana? Aku merasa ada yang aneh terjadi." Tanya Lucas dengan dirinya tapi didengar oleh Sindy.
"Serem banget berduaan ama setan didalam kamar, kalo gue mah mendingan menyerah aja." Kata Sindy sambil memeluk badan nya sendiri.
Sementara itu didalam kamar Tiwi, Tiwi segera mengambil tas dan memasukan barang-barang berharga nya ke dalam tas itu. "MENYERAHLAH TIWI!!!..." Suara sosok Rena kembali terdengar.
Tiwi tak menggubris, ia langsung mengendong tas itu dan berjalan ke arah pintu, tanpa ia sadari bahwa tas itu mengalir cairan kental berwarna merah.
Tiwi merasa bahwa tas itu sangatlah berat, Ia dengan sekuat tenaga menggendong tas itu. "Menyerah Lah!!.." Suara Sosok Rena terdengar kembali.
"Kok berat banget ini tasnya." Kata Tiwi ia sambil menyeret tas itu kelantai.
Ia lalu berhenti menyeret tas itu, ia langsung melihat isi dari tas itu. "A-apa ini? Rambut si-siapa ini banyak sekali." Saat Tiwi membuka tas itu ia melihat ada banyak sekali rambut di tas itu.
Saat ia memegang rambut itu, muncul kepala dan langsung menghadap ke Tiwi, kepala itu adalah Rena. "Arghhhhh!!!" Tiwi sangat terkejut ia langsung menyingkir dari tas itu.
"Halusinasi, ini pasti halusinasi." Ia kembali lagi ke tas itu, dan ingin menutup kancing tas itu. Namun tiba-tiba kepala Rena keluar dan langsung meloncat ke arah paha Tiwi.
Tiwi langsung keluar dari kamar dan meringkuk di samping pintu kamar, dengan wajah yang pucat dan peluh. Ia seperti orang kesetanan menggigit jari nya sendiri dan menggelengkan kepala nya beberapa kali.
"Gimana..gimana caranya lepas dari dia?" Tanya Tiwi yang menangis.
"Aku mohon, tolong keluarkan aku dari neraka ini, aku sudah tidak kuat lagi." Tiwi langsung meraih tangan Lucas.
"Ambil semua yang kalian mau, tapi jauhkan dia dari ku, aku mohon." Sambung Tiwi dengan tangis yang semakin menjadi.
"Menyerah Lah nanti ke polisi." Jawab Lucas.
Tiba lah polisi, Lucas dan Sindy pun menceritakan keseluruhan nya. Tiwi dan Pak Nugroh pun akhirnya mengakui semuanya. Mereka berdua segera di amankan polisi.
"Terimakasih nak Lucas dan nak Sindy, saya sangat berterimakasih kepada kalian berdua, berkat kalian saya bisa mengoperasikan anak saya, dan ibu saya juga tenang disana di sisi Allah SWT." Kata Pak Herman anak nya sosok Rena.
"Sama-sama pak." Jawab Lucas dan Sindy barengan.
__ADS_1
"Ha akhirnya selesai juga kasusnya, kalau ngak dibantu hantu itu mungkin kita sulit menangkap Ibu Tiwi." Kata Lucas ke Sindy setelah mereka telah berada di teras rumah itu.
"Berarti Kas, hantu itu bisa nyelesain masalah nya sendiri dong, kenapa nyuruh kita sih?" Kata Sindy.
"Emangnya, hantu bisa ngumpulin bukti-bukti kayak kita? Lagian kemunculan mereka bisa kuat karena adanya rasa takut dari diri kita sendiri, semakin kita takut keberadaan nya semakin kuat." Terang Lucas.
"Bener juga, kalo gue takut sosoknya malah semakin mengerikan. Kayaknya gue harus belajar mengatasi rasa takut gue, melihat kejadian ini kayaknya gue bakal sering ketemu setan-setan lainnya." Kata Sindy.
"Habis ini kita mau ngapain lagi Kas.?" Tanya Sindy.
"Kita pulang aja, udah malam. Sekarang kasusnya udah ditangani polisi dan anaknya Buk Rena." Jawab Lucas.
"Hoammmmm, ya udah gue anterin lu balik abis itu gue mau tidur dirumah kakak gue, hari ini capek banget." Kata Sindy, mereka langsung masuk mobil dan melaju ke arah rumah Lucas.
Lucas telah sampai dirumah nya, ia lalu membersihkan diri dan langsung beristirahat. Tak lama dari Lucas pun terlelap ia benar-benar capek hari ini.
"Lucass.. Lucas.." seorang wanita memanggil Lucas.
Lucas pun menoleh dan ia melihat ada sosok Rena disana. Penampilan nya tidak seram seperti sebelumnya, penampilan nya kini sangat cantik.
"Ini, ambil lah untuk mu." Kata Rena sembari memberikan sebuah buku bersampul warna merah.
"Buku? Buku apa ini?." Tanya Lucas ia menerima buku itu.
"Buka lah buku itu, suatu saat kau akan membutuhkan nya." Kata Rena. Lucas pun membuka halaman pertama buku itu, buku itu kosong tapi lama kelamaan muncul gambar lilin di buku itu.
"Aku pamit Lucas, terimakasih atas semuanya. Kini aku akan menuju perjalanan panjang yang baru." Ucap Rena sambil tersenyum, ia lalu berbalik badan dan berjalan ke arah cahaya yang tiba-tiba muncul dibelakang nya. Lucas yang bingung dengan buku itu pun, ingin bertanya dengan Rena, tapi ternyata Rena sudah pergi.
Seketika Lucas terbangun, ternyata tadi hanya lah sebuah mimpi. Lucas pun langsung duduk dan ingin mengambil minum, tapi ia urungkan niat nya karena ia melihat di samping bantal nya ada sebuah buku yang persis diberikan Rena di dalam mimpi nya.
"Ini? Bukunya benar-benar ada? Dan ini bukan mimpi?." Tanya Lucas yang bingung.
"Sebenarnya buku apa ini? Huftt.. misterius banget." Lucas pun membuka halaman pertama, dan yang ia lihat ada sebuah gambar lilin yang telah dinyalakan api di buku itu.
"Ini sama dimimpi ku tadi." Setelah Lucas melihat gambar lilin itu, ia langsung berdiri dan berjalan ke meja belajar nya. Lucas lalu menulis di sampul berwarna merah itu 'Jejak Buku Mistis'.
__ADS_1
Bersambung...