Jejak Buku Mistis

Jejak Buku Mistis
Bab 4. Lift lantai 4 (Part 3)


__ADS_3

"Hantu lift ini...." Lucas pun menceritakan bayangan yang diperlihatkan hantu itu, kejadian mengerikan yang dialami wanita berambut pendek itu. Wajar saja kalo wanita itu ingin diungkapkan kasus atas meninggalnya karena kejadian nya begitu naas.


"Kayaknya karena hal itu dia meminta bantuan ku, tapi kita harus ke ruangan kerja mu dulu, aku masih shock." Ujar Lucas.


"Oke-oke. Ayo buruan." Sindy menarik tangan Lucas agar mengikutinya.


Setelah sampai keruangan kerja Sindy, Sindy membuat kan Lucas teh anget untuk meredam kan ketakutan yang dialami Lucas.


"Ni Kas mending lu minum dulu." Sambil menyerahkan teh kepada Lucas. Lucas segera mengambil teh dari tangan Sindy dan ia langsung meminum nya.


"Gue nggak ngerti, bantuan apa yang dia butuhin? Kalau buat mecahin kasus pembunuhan nya, kan lebih baik diserahkan sama polisi." Ujar Sindy.


"Kamu kira hantu bisa berkomunikasi sama polisi.!" Sambil menjitak kepala Sindy. Mana mungkin polisi percaya apa yang dikatakan Lucas kalau tidak ada bukti, itu yang ada dipikiran Lucas setelah mendengar pertanyaan Sindy.


"Ya.. bisa aja kita bilang kalo hantu itu ngehubungi kita, supaya kasusnya di selidiki." Kata Sindy yang tak mau kalah sambil mengusap-usap kepalanya.


"Emang bakal ada yang percaya? Paling nanti kita yang disebut orang gila. Lagian kita nggak punya bukti yang faktual kalau dulu wanita itu dibunuh." Terang Lucas.


"Terus gimana dong?" Tanya Sindy.


"Terpaksa kita yang harus menyelidikinya, mengumpulkan bukti dan mengungkap kasus itu kembali." Jawab Lucas.


"Merepotkan juga, jadi kita harus jadi detektif hantu gitu kayak di film-film? Lagian aku takut banget sama hantu atau setan." Kata Sindy sambil memeluk badan nya sendiri.


"Kalau kamu nggak mau, nggak usah maksain. Aku akan menyelidiki nya sendiri, daripada hidupku ngak tenang dihantui dia terus, siapa tau ini ada hubungan nya sama mimpi burukku." Terang Lucas.


"Oke deh kalo gitu, gue juga akan bantu. Makin cepat ini kelar makin cepat juga novel lu jadi. Terus mulai penyelidikan nya dari mana?" Tanya Sindy.


"Sekarang aja, lebih cepat lebih baik. Ayo kita cari di internet kejadian naas di lift itu tahun 1995." Lucas langsung duduk didepan komputer yang ada di ruangan kerja Sindy, Lucas langsung mengetik di komputer itu. Tahun 1995 berdirinya kantor itu, jadi kejadian nya beberapa bulan setelah kantor itu selesai dibangun.


"Sayang banget di internet infonya ngak jelas, malah masuk ke website misteri. Infonya juga banyakan hoax ngak jelas." Rutuk Sindy karena yang mereka dapat hanya artikel-artikel yang tidak mengarah ke kantor itu.


"Mungkin kasusnya udah lama banget, jadi orang-orang udah pada lupa. Lagian mereka pikir itu hanya sebuah kecelakaan, masih banyak kasus heboh yang lainnya." Ujar Lucas sambil memijit pelipis nya.


"Hmmm Sin, gimana kalo kita cari aja dokumen karyawan kantor bekas tahun 1995, siapa tau masih ada." Ajak Lucas ke Sindy, pikir Lucas kalo mereka menemukan dokumen karyawan itu akan jadi lebih muda untuk mengupas kejadian ini.


"Lu gila apa ya? Harus ngecek dokumen dari jaman baheula! Mana ada.!" Kaget Sindy, untuk mencari dokumen itu pasti tidak cukup waktu 1 hari, apalagi kejadian itu bertahun-tahun yang lalu.


"Ya udah, aku pergi sendiri aja, kalau bisa minjem kunci gudang ke satpam. Lagian disana mungkin isinya file-file yang sudah ngak kepake pasti diizinin masuk." Ujar Lucas dengan wajah yang ditekuk.

__ADS_1


"Oke-oke gue ikut, jadi cowok sensian amat sih." Pasrah Sindy.


"Nah gitu dong." Senyum Lucas sambil ngerangkul pundak Sindy. Mereka lalu keluar dan menemui satpam untuk meminjam kunci gudang, setelah mendapatkan kunci mereka lalu pergi ke gudang.


"Sin, kayaknya listrik nya mati, pake senter hp aja." Mereka telah sampai di gudang setelah sampai dan membuka pintu gudang listrik nya dalam keadaan padam. Mereka lalu berjalan ke arah lorong-lorong yang penuh banyak dokumen-dokumen yang sudah bertahun-tahun tak dipakai.


"Gimana ngeceknya kalo dokumen nya banyak banget gini? Ampe tua juga nggak kelar-kelar." Rutuk Sindy, baru lihat dokumen sebanyak itu udah bikin kepala Sindy pusing.


"Udah kerjain aja, kalau ngomong terus kapan selesainya?" Ujar Lucas sambil mencari dokumen-dokumen tahun 1995.


"Lu cari tuh di tempat yang paling buluk gue cari disini aja." Kata Sindy, ia mencari tak jauh dari pintu masuk gudang. Mereka mulai berpencar dan mencari dokumen-dokumen yang mengarah ke arah kejadian itu atau data keryawan pada masa itu.


"Anjir tu setan ngerepotin gue aja, udah 2 jam gue disini gak Nemu tu dokumen nya.!" Rutuk Sindy, ia meregangkan otot-otot tangan nya setelah itu ia membaca lagi dokumen yang ada ditangan nya.


"Pegel kaki gue, mana lapar lagi." Sambil memegang perut nya, dibelakang Sindy ada sebuah kursi kayu lalu Sindy langsung menduduki kursi kayu itu tanpa ia melihat ada sosok hantu wanita dibelakang nya.


"Kenapa dingin banget ni kursi?" Yang Sindy duduki tak lain adalah sosok hantu wanita berambut pendek itu.


Seketika Sindy langsung menoleh kebelakang. "AAAHHHHHHHHH!!!!." Teriak Sindy dengan kencang, karena ia melihat hantu wanita itu memegang kepala nya dan seolah-olah ingin memberikan nya kepada Sindy.


BRUKKK!! Sindy terjatuh dari kursi dan ia pingsan. Lucas yang mendengar teriakan kencang itu langsung menghampiri Sindy.


"Sin, Sindy bangun sin, kamu kenapa?" Lucas sambil menepuk-nepuk pelan pipi Sindy. Lucas melihat ada kacamata dan beberapa dokumen yang berantakan di dekat Sindy, hp yang tergeletak dalam keadaan flash nya masih menyala. Tapi flash hp Sindy itu mengarah ke salah satu dokumen yang terbuka, tak sengaja Lucas melihat sekilas ada foto seorang wanita di dokumen itu.


"Aku harus bawa Sindy ketempat yang aman dulu." Lucas lalu menggendong Sindy ala bridal style dan langsung keluar dari gudang.


Tibalah Lucas di pos satpam yang tak jauh dari gudang, gudang terletak di lantai 1 kantor itu. "Neng Sindy nya kenapa mas?" Tanya satpam yang melihat Sindy di gendong oleh Lucas.


"Ngak tau pak, kayanya dia pingsan karena kecapean." Jawab Lucas, ia langsung masuk ke pos satpam dan meletakan Sindy ke sofa yang ada di pos satpam itu.


"Sindy saya letakan disini ngak apa ya pak?" Tanya Lucas setelah meletakan Sindy ke sofa.


"Iya disitu aja mas." Jawab pak satpam.


"Nitip dulu sebentar disini ya pak, saya mau ngambil barang yang ketinggalan dulu di gudang." Kata Lucas.


"Iya mas, silahkan." Lucas langsung keluar dari pos satpam dan berjalan langsung ke arah gudang.


Setelah sampai digudang Lucas langsung menghidupkan senter yang ada di hpnya. Ia berjalan ke arah Sindy pingsan tadi. Lucas penasaran dokumen yang ia lihat tadi, setelah mendapatkan dokumen itu Lucas kaget setelah melihat siapa yang ada di dokumen itu. Lucas segera membereskan dokumen yang lain dan mengambil kacamata dan hp Sindy tak lupa ia membawa dokumen yang ia temui tadi.

__ADS_1


Lucas segera keluar dari gudang dan langsung menuju ke pos satpam. Setelah ia masuk ia melihat Sindy sudah siuman dan sedang minum air putih yang diberikan pak satpam.


"Sin! Syukurlah kamu udah sadar." Lega Lucas.


"Gila lu Kas! Gue pingsan malah ditinggal gitu aja." Cemberut Sindy, Sindy kesal saat ia bangun dari pingsan nya ia melihat hanya ada pak satpam yang lagi jaga.


"Ya maaf, ini kacamata kamu." Ucap Lucas seraya memberikan kacamata ke Sindy. Sindy mengambil kacamatanya lalu langsung memakainya.


"Aku juga bawa ini dari gudang." Kata Lucas sambil menunjukan dokumen ditangannya.


"Btw kamu kenapa bisa pingsan Sin?" Tanya Lucas.


"Gue liat setan seram banget, sampe sekarang badan gue masih gemetaran gini." Kelihatan dari raut wajah Sindy dan badan nya yang masih menahan getar menunjukkan bahwa ia memang benar-benar ketakutan sekarang.


"Setan yang kepala nya copot bukan?" Tanya Lucas dengan gampang nya.


"Ih jangan diingetin, bisa pingsan lagi gue kalo inget bentukan nya." Ucap Sindy sambil memeluk badan nya sendiri.


"Sin, kayanya tu hantu malah bantuin kita buat nyari dokumen, tadi aku nemuin dokumen tahun 1995 ini didekat kamu yang lagi pingsan tadi." Lucas membuka lembaran di dokumen itu.


"Tetap aja kenapa bantuin nya sambil nakutin.! Terus Kas kita mau ngapain lagi sekarang?" Tanya Sindy.


"Kita cek dokumen ini dulu, ntar aku anterin kamu pulang." Ujar Lucas ia langsung duduk ke sofa di samping Sindy.


"Anterin gue ke rumah kakak gue aja serem kalo pulang ke kostan sendirian." Kata Sindy karena ia masih takut dengan hantu yang ia temui tadi.


Mereka masih di ruangan pos jaga satpam, mereka masih asyik mencari-cari data yang berkaitan dengan kasus kematian yang dialami wanita berambut pendek itu. "Nggak salah lagi, name tag nya kaya yang aku liat di bayangan waktu itu." Kata Lucas setelah menemukan nama-nama orang yang ia lihat di bayangan nya.


"Korban nya Rena, tapi kira-kira siapa yang udah ngebunuh dia.?" Tanya Sindy. Ya nama hantu berambut pendek itu adalah Rena. Rena Kusuma ia adalah pegawai di kantor itu sebagai receptionist.


"Berdasarkan dibayangan ku, seperti nya Tiwi ini yang mendorong nya." Jawab Lucas. Sambil menunjuk ke arah foto di dokumen itu, Wanita berambut panjang ikal bewarna cokelat itu Tiwi. Tiwi Permata Indah adalah teman satu profesi Rena.


"Tapi belum tau juga, soalnya kan itu cuma bayangan yang aku lihat, takut nya malah jadi fitnah kalo nggak ada bukti konkrit." Sambung Lucas.


"Gimana kalo besok kita pergi kerumahnya? Sesuai alamat disini, siapa tau mereka belum pindah." Ujar Sindy yang memberikan ide.


"Oke besok kita mulai menginvestigasi nya." Kata Lucas dengan semangat. Tanpa Lucas dan Sindy sadari di belakang mereka ada Rena yang mengikuti mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2