
Lucas dan Sindy masih mencari info di dalam dokumen karyawan yang ditemukan Lucas. "Kas, hantunya ada yang mirip mereka berdua ngak?, Kayanya receptionist nya cuma ada 2 deh." Tanya Sindy sambil menunjuk ke arah dokumen itu. Ia menunjuk ke foto Rena dan Tiwi.
"Meskipun wajahnya berubah, kayanya memang hantu itu mirip dengan orang ini." Lucas menunjuk ke arah foto Rena.
"Bearti benar itu hantu nya dia. Kira-kira dia minta bantuan apa ya?" Tanya Sindy sambil berpikir.
"Kita cari info ke rumah nya dulu deh, kalau ngak ada kita ke temen nya yang ada di dokumen ini." Jelas Lucas.
"Ok, besok gue jemput elu, gue bawa mobil sendiri. Sekarang kita pulang aja udah mau malam." Kata Sindy.
"Kamu udah ngak apa Sin, di kostan sendirian?" Tanya Lucas dengan khawatir.
"Gue mau nginep dirumah kakak gue aja. Sekarang ambil barang-barang kita dulu yuk, sekalian gue mau pesan taxi online." Kata Sindy. Mereka pun membereskan barang-barang mereka, lalu mereka berjalan keluar pos satpam, tak lupa mereka mengucapkan terimakasih kepada bapak satpam.
Mereka berdua berpisah di depan kantor setelah Lucas menunggu taxi online pesanan Sindy barulah Lucas pergi ke halte menunggu bis. Tak berapa lama bis pun datang dan Lucas pun langsung naik bis untuk menuju ke rumah nya. Lucas harap semua ini cepat berakhir dia harus beristirahat setelah sampai rumah nanti, itulah yang dipikiran Lucas sekarang.
Keesokan paginya, Sindy telah sampai di depan rumah Lucas. Sesuai perjanjian Sindy, ia akan membawa mobil nya. "Kas, lu aja yang nyetir, gue mau tiduran, semalem ngak bisa tidur ingat wajah setannya huapppp" Kata Sindy sambil menguap dengan lebar.
"Aku nggak punya SIM, lagian aku belum mahir nyetir." Jawab Lucas sambil nyengir.
"Hadeehh, untungnya rumah nya dekat, abis ini gue mau langsung tidur aja." Kata Sindy sambil menghidupkan mesin mobil.
Mereka pun mulai menuju ke lokasi, alamat rumah nya Rena Kusuma. Setelah tiba di lokasi rumah nya kelihatan sudah usang tapi kelihatan bersih dan rapi.
"Ini beneran rumah nya Kas?" Tanya Sindy.
"Bener, sesuai alamat di dokumen, ini bener sih alamat nya, coba kita ketuk dulu." Jawab Lucas.
Tok.. tokk.. tokkk.. "Permisi, Assalamualaikum." Salam Lucas sambil mengetuk pintu.
Cklekkk.. "Waalaikumsalam." Jawab seorang lelaki yang membuka pintu diperkirakan usia nya 30an.
"Maaf, siapa ya?" Tanya bapak itu.
"Maaf pak, apa benar ini rumah nya Ibu Rena Kusuma?" Tanya Lucas dengan sopan.
"Be-benar, tapi ada apa? Beliau sudah lama meninggal." Jawab bapak itu dengan terkejut.
"Oh maaf pak sebenarnya kami sudah tahu. Kami kesini untuk mencari informasi tentang dirinya. Tapi bapak ini siapa nya?" Tanya Lucas.
"Kebetulan saya anaknya, lebih baik kalian masuk dulu, kita mengobrol di dalam saja." Ujar bapak itu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Mari silahkan duduk, maaf ya disini tidak ada sofa, hanya alas tikar." Kata bapak itu dengan senyum. Rumah yang hanya sedikit dengan barang tapi sangat bersih.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak." Jawab Sindy.
"Buk, buatin teh buat tamu ayah." Kata bapak itu ke seorang wanita yang sedang menggendong bayi.
"Iya yah, tunggu sebentar ya." Jawab ibu itu, ia lalu menaruh bayi itu ke dalam ayunan.
Setelah ibu itu pergi ke dapur, tak sengaja Lucas melihat ke arah ayunan itu, DEGGG jantung Lucas langsung berdegup cepat, karena ia melihat ada sosok Rena disana, tapi Rena berubah penampilan tidak menyeramkan seperti yang ia lihat di lift waktu itu. Penampilan Rena saat ini sangat cantik dengan rambut pendek nya, dan ia mengenakan baju panjang bewarna putih. Sosok Rena sedang mengayunkan sang bayi itu.
"Ngomong-ngomong kalian ada perlu apa menanyakan ibu saya?" Kata bapak itu, yang seketika Lucas langsung tersadar dan menoleh ke arah bapak itu.
"Maaf pak, kalau kami tiba-tiba menanyakan ibu bapak yang sudah meninggal, kami turut prihatin. Sebelumnya perkenal kan dulu saya Lucas dan ini teman saya Sindy." Lucas memperkenal kan dirinya begitu juga Sindy ia langsung mengganguk kan kepala nya dengan sopan.
"Saya Herman, yang tadi itu istri saya Lastri." Kata bapak itu.
"Saya akan ceritakan semua yang saya alami pak, saya harap bapak percaya." Terang Lucas.
Tak lama itu Istri Pak Herman datang sambil membawakan teh dan gorengan. "Maaf ya, kami cuma bisa menyuguhkan ini." Kata Bu Lastri.
"Ngak apa buk justru kita yang terimakasih." Jawab Sindy.
"Gimana tadi nak Lucas, kamu ingin menceritakan apa?" Tanya Pak Herman.
"Jadi sebenarnya..." Lucas pun mulai menceritakan tentang penglihatan yang diberikan sosok Rena kepadanya, Lucas juga menceritakan bahwa ia mempunyai kemampuan untuk melihat masa lalu seseorang dan bisa melihat makhluk-makhluk yang tak kasat mata.
"Soalnya waktu ibu saya meninggal umur saya masih 9 tahun jadi terpaksa saya dititipkan di panti asuhan. Ayah saya juga sudah meninggal di kala usia saya 4 tahun, karena ibu saya juga yatim piatu jadi tidak ada sanak saudara yang bisa mengurus saya." Terang Pak Herman terlihat dari raut wajah Pak Herman bahwa ia tengah bersedih sekarang.
"Apa ada pesan atau kejadian aneh yang bapak tahu setelah Ibu Rena meninggal?" Tanya Sindy.
"Nggak ada, cuma saya dapat rumah ini saja. Nggak ada hal yang aneh." Jawab Pak Herman.
"Sin, biasanya orang yang meninggal karena kecelakaan di kantor, mendapatkan uang asuransi kerja dan uang kematian kan?" Tanya Lucas setelah ia berpikir.
"Harusnya sih kaya gitu." Jawab Sindy.
"Apa bapak ngak dapet?" Tanya Sindy ke Pak Herman.
"Nggak ada, saya dari kecil hidup susah ngak nerima bantuan apapun." Jawab Pak Herman.
"Kalaupun ada mungkin saya bisa ngobatin anak saya." Sambung Pak Herman.
"Maaf, anak bapak kenapa?" Tanya Sindy.
"Sejak lahir anak saya ada kelainan jantung, seharusnya sudah bisa dioperasi tapi kami tidak ada biaya." Jawab Pak Herman dengan raut wajah yang sedih.
__ADS_1
"Kami turut prihatin pak." Kata Lucas.
"Kalau begitu, kami permisi dulu pak buk, nanti saya hubungi lagi jika sudah ada titik terang nya." Pamit Lucas sambil berdiri.
"Baik nak terimakasih, saya ngak tahu maksud ibu saya meminta tolong pada kalian itu buat apa, tetapi saya doakan semoga kalian bisa membuka tabir misteri ini." Ujar Pak Herman dengan ramah.
"Iya pak doakan kami." Jawab Lucas.
"Kita pamit ya Pak Buk, Assalamualaikum." Salam Lucas.
"Waalaikumsalam." Jawab Pak Herman dan Buk Lastri. Lalu mereka keluar dari rumah dan langsung menjalankan mobil.
"Miris banget liat keadaannya, gue hampir aja nangis disana." Kata Sindy sambil nyetir.
"Sin, apa ada yang nilep uang asuransi dan kematiannya, mungkin hantu itu pengen anaknya bahagia, tapi uang nya diambil orang lain. Soalnya aku liat hantu itu lagi ngasuh cucunya." Kata Lucas masih berpikir soal kemana uang asuransi sosok Rena.
"He.. kok serem sih untung aja gue nggak liat apa-apa." Kata Sindy dengan kaget.
"Nggak serem kok, malah kayaknya dia sayang banget sama cucunya." Kata Lucas.
"Apa dia, pengen kita bantu cucunya berobat?" Tanya Sindy.
"Kayanya sih begitu, cuma bukan itu saja ini ada sangkut paut nya sama kematian nya juga. Aku lihat ada yang sengaja membuat nya terjatuh." Kata Lucas.
"Si-siapa?" Tanya Sindy.
"Dugaanku teman satu pekerjaannya, tapi kita perlu cukup bukti." Kata Lucas, ia sangat yakin dengan pemikirannya.
Di tempat lain, di sebuah rumah yang cukup mewah ada teriakan yang sangat kuat. "AAHHHHHHHHH!!!!!!!!! Pergi, jangan ganggu aku lagi, PERGIIII!!!!" Amuk wanita itu di sebuah kamar yang sangat berantakan. Penampilan seperti orang gila dan rambut yang awut-awutan.
"TIWIII KEMBALIKAN PUNYAKU... HIHIIII HIHIIII.." suara sosok wanita. Tapi tidak ada siapapun disana kecuali dirinya.
"Hentikan, aku tidak punya apa yang kamu minta." Ucap Tiwi. Iya dia Tiwi Permata Indah, diperkirakan umur nya sekarang kurang lebih 60an. Badan yang sudah kurus tapi masih kelihatan cantik.
"Hahh.. hahh hentikan." Tiwi mengambil nafas nya perlahan.
PRANNNGGG!!! Tiwi kaget mendengar suara pecahan kaca, ia melihat kaca rias nya telah pecah dengan sendirinya.
BRAKKK!! Diatas meja rias nya ada sebuah kotak pink yang terjatuh. Tiwi langsung mengambil kotak itu, isi dalam kotak itu ada buku dan kartu rekening. Tiwi membuka buku rekening itu ia sambil tertawa seperti orang gila.
"Ini, ini semua milikku, MILIKKUUUU!! HAHAHAHAA!!"
Bersambung...
__ADS_1