
Tiwi memeluk buku rekening itu dengan erat, ia tertawa sendiri dan berguling-guling seperti orang gila. Tokkk...tokkk..tokk.. suara ketukan pintu dari kamar Tiwi. Tiwi langsung bangkit dan merapikan pakaian nya.
"Ada apa?!" Teriaknya dari dalam kamar.
"Nyonya, ada yang mencari anda." Jawab pembantu rumah Tiwi.
Tiwi pun membuka pintu, Cklekk.. "Siapa?" Tanya Tiwi.
"Dua orang anak muda, mereka mengaku sebagai wartawan." Jawab pembantu itu.
"Suruh masuk dan bilang untuk tunggu sebentar." Ujar Tiwi.
"Baik Nyonya." Jawab pembantu dan ia langsung berlalu pergi ke depan rumah untuk bertemu 2 anak muda itu.
"Wartawan? Apa mereka mau mewawancarai ku soal desain pakaian terbaru ku? Aahh lebih baik aku siap-siap dulu." Ujar Tiwi dengan senyum yang mengembang.
Tiwi pun sudah bersiap-siap ia mengenakan dress merah maroon selutut yang sangat cantik dikenakan di tubuhnya yang langsing, rambut di kuncir satu dan menambah kan aksesoris kalung. Walaupun sudah cukup berumur Tiwi tetap menjaga kebugaran badannya dan masih sangat terlihat cantik.
Didepan sudah ada 2 orang anak muda yang tak lain adalah Lucas dan Sindy, mereka menunggu di teras rumah besar itu. "Gila, gede banget rumah nya! Benar-benar berbanding terbalik sama rumah temannya dulu." Kata Sindy mengedarkan pandangan nya ke penjuru rumah besar itu.
"Kita harus tuntaskan masalah nya hari ini, kita harus meneruskan perjalanan kita ke kampung halaman ku." Kata Lucas.
"Sipp, semua data nya udah siap kok. Hari ini pasti beres." Kata Sindy. Cklekk.. pintu rumah besar itu pun dibuka.
"Mas, mbak kata Ibu Tiwi masuk dulu dan tunggu sebentar, beliau sedang siap-siap." Kata Pembantu rumah itu.
"Baik, makasih Bu." Jawab Lucas, mereka pun di persilahkan duduk.
"Selamat Siang." Terdengar suara perempuan di belakang mereka. Lucas dan Sindy pun langsung menoleh ke belakang dan sudah berdiri Tiwi disana.
"Selamat siang, benar ini Ibu Tiwi?" Tanya Sindy.
"Benar sekali, silahkan duduk kita ngobrol santai aja." Jawab Tiwi dengan senyum nya yang ramah.
"Kalau boleh tahu, mas dan mbak ini wartawan dari mana ya?" Tanya Tiwi.
"Kami dari majalah investigasi misteri Bu." Jawab Sindy.
"Investigasi misteri? Majalah apaan itu? Kalau kalian dari majalah nggak jelas lebih baik pergi saja, ngak ada misteri apa-apa yang bisa saya ceritakan.! Saya kira kalian ini dari majalah fashion." Ujar Tiwi dengan nada kesal dan marah, ia melipat kan tangan nya ke dada.
"Tetapi kejadian itu berhubungan langsung dengan anda, tentang kematian teman anda. Bu Rena Kusuma yang meninggal di tahun 1995 yang diakibat kan terjepit pintu lift." Jawab Lucas dengan tegas.
DEGG!! Kaget bukan kepalang yang dirasakan Tiwi, ia meneguk saliva nya. "La-lantas masalah nya sama saya apa? Kita dulu memang satu pekerjaan dan dia kecelakaan semua itu sudah takdir! Sudah tidak ada hubungannya sama saya, lebih baik mas dan mbak ini pergi saja saya masih banyak urusan." Usir Tiwi kepada Lucas dan Sindy.
"Apa anda tahu kepada siapa uang kematian dan asuransi nya dititipkan? Waktu itu anaknya sebatang kara dan tinggal di panti asuhan. Sampai sekarang dia dewasa pun, dia tidak pernah menerima nya sama sekali." Tanya Lucas perihal uang asuransi nya Bu Rena.
__ADS_1
"Terus apa hubungannya sama saya!! Kalian kesini mau memfitnah saya mengambil uang nya si Rena?" Murka Tiwi ke Lucas.
"Kami tidak mengatakan anda yang mengambil nya, kami cuma menanyakan nya." Jawab Lucas.
"Apa memang anda merasa menggunakan nya?" Kata Sindy dengan sinis.
"Hahh, kalian adalah tamu yang tidak sopan, baru bertemu sudah menuduh orang sembarangan!! Akan aku tuntut kalian!!" Marah Tiwi sambil menunjuk ke arah Lucas dan Sindy.
"Maaf Bu, apakah anda kenal dengan Pak Nugroh?" Tanya Sindy.
"Nu-Nugroh?" Jawab Tiwi dengan terbata, ia terkejut mendengar nama itu.
"Pak Nugroh lagi menunggu di luar." Kata Lucas.
"Sindy, telepon Pak Nugroh suruh dia masuk kesini." Kata Lucas ke Sindy. Sindy pun langsung mengangguk dan mengeluarkan handphone nya, Sindy langsung menelpon Pak Nugroh.
Tak lama dari itu muncul lah seorang Pria tua yang diperkirakan usia nya 65 tahun, dengan menggunakan pakaian kemeja terlihat masih sangat gagah. "Lama tak jumpa Tiwi." Ujar Pak Nugroh.
"P-Pak Nu-Nugroh, a-ada apa bapak ke-kesini?" Tanya Tiwi dengan terbata-bata.
Satu jam sebelumnya.
"Sin, sebelum kita kerumah Buk Tiwi kita harus mencari bukti-bukti yang kuat mengarah padanya. Gimana kalo kita kerumah mantan kepala HRD nya dulu, di dokumen ini ada alamatnya." Kata Lucas sambil melihat dokumen, mereka berada didalam mobil setelah dari rumah Pak Herman.
"Ok, semoga rumah nya tidak pindah dan orang nya masih ada." Kata Sindy.
"I-iya benar, tapi kalian mau info apa ya dari saya? Masuk dulu deh kita ngobrol didalam aja." Kata Bapak itu.
"Sebelum itu perkenalkan dulu Pak, nama saya Lucas." Ucap Lucas sambil menjabat kan tangan nya ke bapak itu.
"Saya Nugroh, silahkan duduk." Ucap Pak Nugroh sambil menerima uluran tangan Lucas.
"Eh, apa ini." Ucap Lucas dalam hati. Saat ia berjabatan tangan dengan Pak Nugroh Lucas melihat bayangan masa lalu nya Pak Nugroh. Di dalam bayangan itu ada 2 orang, laki-laki dan perempuan disebuah ruangan kerja.
"Pak Nugroh, si Rena itu yatim piatu, dia tidak mempunyai siapa-siapa. Sedangkan anaknya masih kecil dan suami nya juga sudah meninggal." Kata perempuan itu, ya perempuan itu tak lain adalah si Tiwi.
"Bagaimana jika uang nya dalam jumlah besar ini kita kelola dan bagi dua? Jika anak nya sudah besar kita kembalikan lagi, aku takut kalau uang itu di salahgunakan oleh orang lain." Kata Tiwi sambil memainkan kancing kemeja Pak Nugroh. Terlihat dari kedua nya sepertinya mereka berdua sedang menjalin asmara.
"Hehe, gimana ya?" Tanya Pak Nugroh dengan ragu.
"Tenang yang tahu cuma kita berdua aja. Semuanya pasti aman!" Kata Tiwi sambil memeluk lengan Pak Nugroh.
Lucas kembali tersadar dari bayangan masa lalu nya Pak Nugroh.
"Kami menerima info dari anak Bu Rena langsung bahwasanya dia tidak pernah menerima uang kematian dan asuransi dari pihak perusahaan. Nah dengan ini kami ingin memecahkan misteri kemana hilang nya uang itu." Kata Sindy dengan berani.
__ADS_1
"Kebetulan memang saya yang mengurus semua masalah kematian Rena. Sa-saya memberikan uang itu ke-kepada sa-saudara nya." Kata Pak Nugroh dengan terbata-bata.
"Beliau yatim piatu, tidak ada keluarga yang bisa mengklaim uang kematiannya." Kata Lucas.
"Sa-saya benar-benar tidak tahu." Jawab Pak Nugroh.
"Hmmmm, tidak tahu ya? Lalu bagaimana dengan uang yang anda bagi dua dengan Ibu Tiwi?" Tanya Lucas sambil memegang dagunya.
"Saya rasa harusnya anda tahu siapa yang berhak menerima nya. Apa kalian tahu betapa sulit kehidupan anaknya sekarang" Sambung Lucas.
"Ba-bagaimana kalian bisa tahu?" Tanya Pak Nugroh dengan terkejut. Ia keceplosan mengatakan hal itu tak sadar bahwa Sindy sudah merekam semua pembicaraan mereka.
"Sipp, sudah ku rekam. Dengan berkata begitu , Anda secara tidak langsung mengakui nya." Kata Sindy sambil menunjuk kan handphone nya.
"Tidak adanya saksi dan bukti bahwa Bu Rena punya saudara yang Anda berikan hak atas uang kematian dan asuransi nya. Kasus ini bisa dibuka kembali dan Anda akan dituntut atas penggelapan uang." Terang Sindy sambil menggebu-gebu.
"Hahh.. Anda enak sekali menikmati uang dari seorang anak yatim piatu, sedangkan yang punya hak sekarang hidup menderita dan membutuhkan biaya untuk operasi anaknya. Dasar manusia-manusia BRENGSEK!!!" Tunjuk Sindy ke Pak Nugroh.
Pak Nugroh yang mendengar Sindy sangat terkejut, ia sangat merasa bersalah. "Sin, tenanglah." Kata Lucas ke Sindy.
"Kesel gue liatnya." Jawab Sindy sambil melipatkan tangan nya ke dada.
Terlihat raut wajah Pak Nugroh bahwa ia merasa takut dan bersalah, mereka akhirnya lanjut membicarakan hal ini.
Sekarang beralih ke rumah Tiwi, munculnya Pak Nugroh membuat peluh Tiwi bercucuran. "Tiwi, menyerahlah sudah lama kita memakan harta anak yatim. Meskipun kita kaya, kita tidak pernah bahagia. Rasa bersalahku selalu menghantuiku." Kata Pak Nugroh ke Tiwi.
"Selama ini aku merasa bahwa Rena selalu mengawasi ku, aku takut, aku takut mati dengan rasa bersalah ini." Sambung Pak Nugroh.
"Anda juga yang mendorong nya saat kalian berada di lift?!" Tanya Sindy sambil menunjuk Tiwi.
"TIDAK KALIAN SEMUA SUDAH GILA, AKU TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA! SEMUA HARTA INI ADALAH MILIKKU!!!" Teriak Tiwi.
"Kenapa dengan si Rena sudah matipun masih menggangu ku, dia itu sudah mengambil semuanya dari ku. Cari muka dihadapan semua orang, semua orang memuji nya. Kalian dengar ya!! HARTA INI SEMUANYA ADALAH MILIKKU!!" Teriak Tiwi dengan lantang.
"BRENGSEKK!! Kalian sama saja seperti dia, pergi kalian semua dari rumah ku!!" Usir Tiwi kepada mereka bertiga. Tiwi pun langsung berlari dan menuju ke kamarnya.
"Bu Tiwi!! Tunggu!" Teriak Lucas.
Tiwi pun sampai kekamar nya ia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras. "Tak akan kubiarkan harta ku diambil oleh mereka." Tiwi langsung berjalan ke arah meja rias nya yang dimana kacanya telah berserakan di lantai, ia mengambil kotak yang berisikan buku rekening dan kartu nya.
"Uang ku, uang ku, tidak ada yang boleh menyentuhnya." Kata Tiwi sambil memeluk buku rekening itu. Tanpa ia sadari bahwa ia telah di awasi sosok Rena.
"Tertangkapp Hihiiiiiiii...." Sosok Rena keluar dari pecahan kaca itu, dan memegang leher Tiwi. Tiwi yang terkejut pun langsung terjatuh.
"AARRRRGHHHHHHH LEPAS KANN!! AARRRGGGHH!!! Teriak Tiwi dengan Nyaring.
__ADS_1
Bersambung...