Jejak Buku Mistis

Jejak Buku Mistis
Bab 8. Ruang Jenazah (Part 1)


__ADS_3

  Setelah kejadian sosok Rena yang mereka tangani, Lucas dan Sindy berencana akan pergi menuju ke kampung halaman nya Lucas untuk bertemu dengan Pak Bayu.


  "Sin, kenapa berangkat nya subuh begini? Ini baru jam 4 pagi masih gelap loh." Tanya Lucas, karena Sindy sudah menjemput nya subuh-subuh. Untung saja Lucas sudah menyiapkan barang-barang nya tadi malam.


  "Biar nyampe ke kampung halaman elu nya ngak kemaleman." Jawab Sindy sambil ia membantu Lucas memasukan barang-barang nya ke mobil.


  "Terus, selama perjalanan kalo ada tempat yang bagus mau gue dokumentasiin dulu. Lagian dua hari setelah memecahkan kasus hantu lift itu, gue jadi ngak tidur nyenyak. Kemaren gue tidur seharian jadi nya gue seger lagi deh. Lu gimana bisa tidur nyenyak ngak?." Tanya Sindy ke Lucas.


  "Lumayanlah, tapi aku kepikiran terus mengenai buku yang diberikan sosok Rena di mimpiku." Kata Lucas.


  "Huh, buku apaan?" Tanya Sindy.


  "Nanti deh aku ceritain, ayo berangkat." Jawab Lucas, ia segera mengajak Sindy untuk berangkat.


  Drttt... Drttt... Getaran handphone Sindy di saku jaket yang dikenakan nya. "Bentar gue angkat telpon dulu." Kata Sindy.


  "Halo ada apa mbak?" Tanya Sindy ke si penelpon.


  "Lu kemana? Pergi kok ngak bilang-bilang . Awas lu pergi dengan cowok yang ngak jelas.!!" Kata si penelpon.


  "Iya tau.. gue mau adventurean sama Lucas." Jawab Sindy.


  "Oohh, sama Lucas, yaudah kalo kayak gitu." Kata Si penelpon.


  "Yaudah gue mau cabut ni." Sindy langsung mematikan sambungan telpon nya.


  "Siapa sin? Kakak kamu?" Tanya Lucas.


  "Iya ni, sibuk banget." Rutuk Sindy.


  "Hehe, pantesan cerewet nya sama." Kekeh Lucas. Mereka pun langsung masuk kedalam mobil.


  "Sin, lapar nih cari sarapan dulu yuk." Ajak Lucas ke Sindy.


  "Oke, kita pasar subuh aja biasanya disana udah banyak yang dagang." Kata Sindy. Mereka pun lalu melaju ke pasar subuh untuk membeli sarapan.


  Setelah sampai di pasar, mereka melihat ada warung yang sangat ramai. "Warung nya rame banget padahal masih subuh udah jualan aja. Kayanya makanan nya enak, kita makan disitu aja yuk." Ajak Sindy ke warung yang bertuliskan Warung Pak Ejo.


  Warung itu sangat ramai Lucas dan Sindy pun harus berhimpitan untuk masuk ke warung itu. Setelah masuk Lucas melihat banyak sekali makhluk yang tak kasat mata disana, ia melihat orang-orang yang sedang menikmati santapan nya itu diduduki sama makhluk yang besar tinggi, air liur makhluk itu masuk kedalam makanan yang dimakan orang-orang itu.


  "Sin, jangan disana! Tempat makannya udah kepenuhan kita cari tempat lain aja." Kata Lucas, Sindy yang baru ingin memesan kan makanan pun langsung ia urungkan.


  "Ok deh, lagian harus ngantri juga, lu pasti udah laper banget." Mereka berdua pun keluar dari warung itu.


  "Makan disitu aja deh." Kata Lucas, ia menunjuk ke salah satu warung yang sepi.


  "Pak nasi uduk nya 2 ya, pake ayam goreng sama teh anget nya juga 2." Kata Sindy setelah mereka telah duduk di warung pilihan Lucas.


  "Siap neng." Kata bapak pemilik warung.

__ADS_1


  Tak lama dari itu pesanan mereka sudah siap. "Terimakasih ya pak." Kata Lucas.


  "Wah, warung didepan itu rame, penasaran sama makanan nya. Tapi aneh nya warung-warung disebelah nya sepi banget." Kata Sindy sambil menunjuk warung yang mereka kunjungi tadi.


  "Warung-warung disebelah nya udah di taburin dengan tanah kuburan, jadinya sepi. Terkadang sama orang lain warung itu tidak kelihatan ditutupin sama makhluk ghaib." Kata Lucas, karena Lucas melihat warung yang sepi itu ditungguin pocong didepan nya, jadinya warung-warung yang sepi itu kelihatan suram.


  "Eh, seriusan? Kayak pesugihan gitu ya? Gue pernah dengar sih, tapi gue kira cuma di film-film aja ada yang kayak begituan. Curang banget, pasti yang ngelakuin nya warung yang rame itu." Rutuk Sindy.


  "Iya, hanya saja karena hal ghaib , ngak akan ada yang bisa ngebuktiin." Jawab Lucas.


  "Bener juga, emang main hal ghaib tuh ngak adil nya disitu. Korban sama sekali ngak sadar kalo ada yang jahatin dia. Yaudah, gue mah cukup tau aja, untung lu nahan gue dan gak jadi makan disitu Kas." Kata Sindy.


  "Tapi ngak semua warung pake pesugihan, tergantung harga dan kualitas nya juga." Terang Lucas.


  "Bentar gue mau ambil sambal dulu, gue titip tas gue ya." Sindy lalu bangkit berdiri dari kursi nya.


  Lucas pun melahap makanan nya, krsskkkk...krrssskkk...krrsskkk.. tiba-tiba terdengar suara didekat tas Sindy, Lucas pun menoleh kesamping nya ada sosok tuyul yang ingin membuka tas Sindy.


  "Mau ngapain?" Tanya Lucas, ia lalu menarik tas Sindy dan memindahkan kesebelahnya.


  "Duit..duit..." Jawab tuyul itu, tuyul itu mempunyai kepala yang besar, mata yang besar, dan badan yang kecil. Sedangkan di leher nya ada rantai yang mengikat leher tuyul itu.


  "Ngak boleh, ini punya temenku.!" Kata Lucas.


  "Lucas? Kamu Lucas? Lucas sudah datang, Lucas sudah datang. Benar kata kuncir dua Lucas akan datang hihihii.." Riang si Tuyul ia berputar-putar layaknya seorang anak kecil yang mendapat kan mainan.


  "Cepat.. cepat datang ke panti asuhan, panti asuhan." Kata Tuyul itu kembali.


  "Bos datang.. bos datang.." Kata si Tuyul.


  "Bos siapa?" Tanya Lucas.


  Si Tuyul pun langsung berlari ke arah yang dia sebut bos. "Tu-tunggu maksudmu yang tadi apa?" Tanya Lucas, tapi Tuyul berlari dan menghampiri bosnya. Ia menghampiri seorang lelaki muda yang sangat stylish, dari tampang nya lelaki ini pasti sangat kaya.


  "Apakah yang dimaksud adalah panti asuhan yang ada didalam mimpiku." Tanya Lucas di dalam hati. Ia kembali mengingat mimpinya itu.


  "Kas, kenapa melamun?." Tanya Sindy yang datang membawa sambal nya.


  "Sin, kamu tahu ngak dimana panti asuhan Kasih Ibu?" Tanya Lucas, ia kepikiran dengan perkataan si Tuyul tadi.


  "Ngak tau, kenapa emang?" Tanya Sindy.


  "Kita harus menemukan tempat itu dan secepatnya kesana, sepertinya disana menyimpan rahasia soal mimpi ku." Terang Lucas.


  "Sebentar kita coba cek di internet." Sindy lalu mengeluarkan handphone nya. Sindy langsung mengetik di pencarian tentang Panti Asuhan Kasih Ibu.


  "Kayaknya banyak banget panti asuhan yang namanya Kasih Ibu." Kata Sindy. Ia masih mencari sesuai lokasi di kampung halaman Lucas.


  "Di mimpi lu mirip ngak sama panti asuhan ini?" Sindy memberikan handphone nya ke Lucas, karena lokasi nya tepat di kampung halaman Lucas.

__ADS_1


  "Sepertinya mirip dengan panti asuhan ini bangunan nya. Tapi di mimpiku panti asuhan nya sudah rusak di makan usia." Jawab Lucas, ia masih mengingat-ingat gambaran mimpinya tentang Panti asuhan itu.


  "Ini lokasinya di kampung halaman lu Kas, setelah kita nemuin Pak Bayu kita langsung ketempat ini aja." Ujar Sindy.


  "Oke Sin, sekarang kita lanjut sarapan dulu terus lanjutin perjalannya." Kata Lucas.


  Lagi lahap mereka berdua sarapan, Lucas menoleh ke samping ia melihat Sindy menuang begitu banyak sambal ke piringnya.


  "Sin, itu sambel nya banyak banget loh, awas nanti magh mu kambuh." Ingat Lucas ke Sindy, karena sambal yang Sindy taruh ke piring nya itu cukup banyak. Lucas tau kalo Sindy mempunyai sakit magh.


  "Tenang magh gue udah sembuh kok." Kata Sindy dengan keyakinan. Mereka melanjutkan sarapan, selesai sarapan mereka langsung bergegas ke mobil dan melaju ke arah tujuan mereka saat ini.


  20 menit setelah itu, Sindy tiba-tiba menepikan mobil nya ke pinggir jalan. "Aduhh Kas, perut gue sakit banget." Sindy memegang perut nya, keringat dingin itulah yang dirasakan Sindy.


   "Kita kerumah sakit sekarang, gue yakin ini magh kamu pasti kambuh. Didepan sana ada rumah sakit, kamu masih kuat nyetir ngak Sin?" Tanya Lucas, karena rumah sakit tak jauh dari mereka sekarang.


   "Iya gue masih bisa tahan kok." Sindy lalu menghidupkan kembali mesin mobil nya dan melaju ke arah rumah sakit.


   Setelah sampai dirumah sakit, Sindy di bawah ke ruang UGD. "Sorry, gue kira magh gue udah sembuh hehe." Kata Sindy sambil cengengesan, ia sudah di tangani sama dokternya.


   "Baru aja dibilangin, kamu ngeyel sih. Tapi kamu udah ngak kesakitan lagi kan?" Tanya Lucas.


   "Udah ngak apa-apa, gue juga udah tiduran dan disuntik, tinggal nebus obat ke apotek. Tapi Kas, gue pengen ke toilet ni. Pinjemin sendal jepit dong, enggak enak ke toilet pake sepatu." Ujar Sindy.


   "Minjem kemana disini sepi ngak ada pasien lain. Yaudah bentar ya aku cariin dulu." Lucas pun keluar ruangan untuk mencari sendal jepit untuk Sindy.


   "Pake aja yang ini, kayanya punya pasien yang ketinggalan, nanti kalo mau pulang simpan lagi." Kata Lucas yang sudah mendapatkan sendal jepit dari depan ruangan kamar sebelah.


   "Oohh.. oke." Jawab Sindy.


   Sindy lalu mengambil sendal itu, di kedua sendal itu ada tulisan SARI. "Sari? Ini pasti nama yang punya sendal." Sindy pun langsung memakai sendal itu.


   "Sin, mau kuanter?" Tanya Lucas.


   "Ihh ogah, takut lu ngintip." Jawab Sindy sambil berlalu ke luar ruangan menuju toilet.


   "Dasar, siapa juga yang tertarik." Lucas pun duduk kembali di kursi disamping ranjang Sindy.


   Setelah melepaskan hajat nya Sindy pun mencuci tangan nya di wastafel. "Ternyata udah jam 6 sore lama juga gue tidur." Sindy membuka handphone nya untuk melihat jam.


   "Hadeehh seandainya gue nggak cari penyakit, pasti udah lama sampe ke kampung halaman nya Lucas, dia pasti sekarang kesel banget sama gue." Ujar Sindy dengan perasaan bersalah.


   Tak sengaja Sindy melihat sekelebat bayangan di belakang nya lewat kaca. Sindy pun langsung menoleh kebelakang. "Kayak ada orang barusan, mungkin cuma imajinasi gue aja." Setelah selesai mencuci tangan dan muka nya Sindy pun langsung ke luar dari toilet.


   "Dingin banget udaranya." Sindy mengusap-usap pundak nya sendiri, ia terus berjalan menuju ke ruangan nya.


   "Kok, malah kesini?" Tanya Sindy dengan heran, Sindy yakin kalo dia jalan ke arah ruangan nya, tapi ini malah keruangan jenazah.


   "Gue yakin kalo gue nggak salah arah ke ruang UGD, tapi kok malah ke kamar jenazah, bikin ngeri aja." Omel Sindy, ia pun heran.

__ADS_1


   Tanpa ia sadari ada sosok lain di belakang nya.


Bersambung...


__ADS_2