Jejak Buku Mistis

Jejak Buku Mistis
Bab 2. Lift lantai 4


__ADS_3

BRUKKK!! Lucas yang kaget melihat kepala yang terputus itu langsung terjatuh, dada nya berdegup kencang melihat hal yang terjadi didepannya.


"Sial, tubuhku tidak bisa bergerak!." Lucas berusaha untuk berdiri tapi seolah-olah badan nya kaku dan tidak bisa digerakkan.


Drapp... Drappp.. Drapp.. suara langkah kaki yang mendekat ke arah Lucas. "Lucas?" Suara wanita, tapi karena ketakutan Lucas menyilangkan kedua tangan nya ke wajahnya.


"Pergilah, pergilah kau! Kumohon jangan kalian ganggu kehidupan ku lagi!!" Teriak Lucas.


Plakk!! Tangan seseorang menepuk pundak Lucas. "Lucass!! Lucas, ini gue Sindy!." Lucas menoleh ke belakang, yang menepuk pundak nya adalah seorang wanita berambut ikal pendek, berkacamata, mempunyai lesung pipi di pipi kirinya, dan berbadan putih dan tinggi. Ia teman Lucas tak lain adalah Sindy.


"Lu kenapa sampe kaget gitu? Kayak habis liat setan." Tanya Sindy yang heran.


"Si-Sindy! Ta-tadi ada kepala.. ada kepala hantu disini! Kemana dia?!" Tanya Lucas yang mencari-cari kepala hantu tadi.


"Hah? Hantu kepala apaan? Dih, siang-siang udah ngigo masih ngantuk kali lu mah." Ujar Sindy sambil menoyor kepala Lucas.


"Bangun dong, malah tiduran disitu ntar dikira gue apa-apain lagi." Titah Sindy.


Lucas segera berdiri, tapi ia masih mengingat-ingat kejadian yang barusan ia alami. Lucas masih ingat dengan jelas wajah dan kepala yang terputus itu tepat di hadapan nya.


"Idih, malah diem lagi. Ayo buruan!" Sindy mendorong Lucas ke arah lift.


"Lagian Kas, kenapa lu malah ke lantai 4, kan gue bilang janjian nya di lantai 6, di ruang kerja gue." Sindy dan Lucas masuk kedalam lift.


"Lah.. lift nya malah rusak lagi, Kas kepaksa kita naik pake tangga aja." Ajak Sindy. Mereka langsung menaiki tangga. Tapi di sepanjang mereka menaiki tangga Lucas tak berbicara sedikit pun.


"Lu diem aja dari tadi, bingung gue. Lu baik-baik aja kan?" Tanya Sindy yang heran melihat tingkah laku Lucas yang hanya diam sedari tadi.


"Sin, nanti aku jelaskan pas udah nyampe ke ruanganmu aja jangan disini, cepetan jalan nya! Entar ada yang nyusulin." Jelas Lucas yang masih shock dengan kejadian tadi. Sedari tadi Lucas merasa ada yang mengikuti nya.


"Hah siapa? Ga jelas banget ni orang!" Bingung Sindy. Mereka tetap melanjutkan jalan ke ruangan Sindy.


Mereka sampai diruang kerja Sindy. "Jadi gimana ni kas, udah berbulan-bulan ngerjain novel nya cuma selesai satu bab. Mau beres kapan?" Ucap Sindy sambil duduk di sofa. Diikuti oleh Lucas, kelihatan jelas dari raut wajah nya kalau Lucas tengah takut sekarang.

__ADS_1


"Deadline perilisan nya sebentar lagi loh! Untung aja lu teman dekat gue dari SMP, jadi gue masih baik ngasih perpanjang waktu. Tapi kalo gini terus gue takut atasan bakal marah dan novel lu batal terbit. Kan sayang, dari dulu lu berjuang banget buat nyampe sini, tapi pas udah kecapai kerjaan lu malah berantakan.!" Omel Sindy panjang kali lebar.


"Maaf Sin, beberapa Minggu ini aku write blok gak bisa nulis apapun. Aku insomnia berat." Jelas Lucas sambil memijit pelipis nya.


"Tidur cuma sejam itupun malah dapat mimpi buruk." Ya kelihatan dari mata Lucas yang kurang tidur.


"Emangnya lu punya masalah apa sampe jadi insomnia gini?" Tanya Sindy yang merasa kasihan melihat Lucas.


"Hmmm, jadi sebenarnya.." Lucas pun menceritakan kejadian mimpi buruk yang selama ini muncul terus di mimpinya. Dan Lucas juga menceritakan ia bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata. Lucas juga menceritakan pengalaman sewaktu ia masih kecil dulu.


"Ahh, yang bener lu? Masa lu bisa liat setan kayak gitu?!" Seru Sindy.


"Bukan hanya itu, kadang aku bisa lihat masa lalu atau masa depan walaupun itu hanya sekilas." Terang Lucas.


"Beneran aku nggak bohong, siapa juga yang mau lihat begituan terus di gangguin." Melihat Sindy yang kelihatan nya tidak percaya.


"Padahal sejak SD mata batinku udah ditutup, tapi entah kenapa malah balik lagi!" Sambung Lucas.


"Gawat juga ya kalo sampe tu setan ngeganggu kerjaan lu. Jadi lu rencana nya mau ngapain Kas biar tu setan ngak gangguin lu lagi?" Tanya Sindy.


"Aku pengen nyari tau juga kenapa mereka selalu datang ke mimpiku seolah meminta pertolongan." Sambung Lucas.


"Hmmm, nanti deh gue bicarain sama bos, emang kalo masalah nya kaya gini gak bisa dipaksa buat kerja juga." Sindy yang akhirnya paham tentang masalah yang tengah di hadapi Lucas.


"Tapi kayanya mimpi lu penuh misteri gitu, gue jadi tertarik nyari jawaban nya juga heheehe. Oohh iya, gini aja Kas gue ikut sama lu buat nyari jawaban nya." Tawar Sindy akan idenya.


"Tapi kan kamu kerja?" Tanya Lucas.


"Gue bilang aja sama bos buat bimbing lu dan kerjaan yang lain bisa gue kerjain sembari online, pokoknya bos tahu beres, pasti di izinin." Ide cemerlang dari Sindy.


"Beneran mau ikut? Tapi aku nggak tanggung jawab loh, kalo seandainya di jalan kita ketemu setan soalnya mereka juga kadang suka iseng nampakin diri." Ujar Lucas.


"Tenang aja, kan ada elu, kalo ada penampakan lu kasih tau gue biar gue gak lihat. Tapi Kas, gue serius loh pengen tahu lu tadi ketemu setan yang kaya gimana?" Tanya Sindy tentang yang dialami Lucas tadi.

__ADS_1


"Hantu cewek, kayanya make pakaian receptionist, terus kepala nya copot makanya aku kaget." Ingat Lucas tentang penampakan hantu tadi.


"Ahhh, yang bener lu Kas, serem amat." Sindy mengusap-usap pundak nya, bulu kuduk nya seketika merinding.


Sindy langsung berlari ke belakang Lucas ia langsung memegang tangan Lucas di dari belakang. "Tapi konon dulu pas kantor ini baru jadi, katanya sistem lift nya rusak. Orang-orang yang ada di lift itu berhamburan keluar. Tapi, ada satu orang yang terjebak di pintu itu, dan terhimpit pintu lift sampai kepala nya putus, terbawa sampai ke lantai 4." Cerita Sindy yang banyak tahu dari kabar kantor itu.


"Kapan itu terjadinya Sin?" Tanya Lucas.


"Entahlah mungkin belasan tahun yang lalu, kantor ini juga sudah beberapa kali di renovasi, katanya sering banget lift nya eror ke lantai 4." Terang Sindy.


"Duh kas gue jadi merinding ni, mana nanti pulang malam lagi udah ah jangan ngomongin setan lagi." Takut Sindy sambil mengusap-usap bahu nya.


"Lah kan lu yang nanya tadi, takut tapi lu sendiri yang cerita hehe." Ketawa Lucas, yang buat Sindy mengerucutkan bibirnya.


"Ooh iya, kita nanti pergi ke desa-desa kan?, Gue suka motoin view pedesaan." Sindy mengambil kamera di dalam tas nya.


"Dikampung biasanya view-nya indah-indah, lu liat sendiri deh hasil jepretan gue." Tunjuk Sindy ke Lucas.


"Mana sini coba gue liat." Lucas mengambil kamera dari tangan Sindy. Sambil menggerak-gerakkan jari melihat hasil potretan Sindy.


"Gimana keren-keren kan?" Tanya Sindy.


"Lumayan juga Sin." Lucas terus melihat hasil foto Sindy. Saat sedang asyik melihat hasil foto, Lucas melihat ada yang tidak asing dari salah satu foto itu.


"Sin, lu pernah motoin lift lantai 4?" Tanya Lucas yang kaget saat melihat foto itu.


"Ye.. ngapain gue motoin lift kurang kerjaan banget." Elak Sindy.


"Coba liat nih." Tunjuk Lucas dengan Sindy.


"Eh.. foto apa ini? Coba lu zoom Kas yang merah hitam itu apaan?" Suruh Sindy ke Lucas.


Saat kamera di zoom Lucas, mereka melihat ada sebuah tulisan merah di pintu lift dengan tulisan TOLONGG!! Dan saat mereka lebih melihat lagi foto itu bergerak-gerak seperti hidup.

__ADS_1


"Ke-KEPALAA!!!!" Serempak mereka yang kaget dengan apa yang ada di foto itu.


Bersambung...


__ADS_2