JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA

JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA
Tersesat


__ADS_3

Jendral menguap lebar. Rasa kantuk tiba-tiba saja menyerangnya. Masih ada setengah jam lagi untuk menunggu 'adik' barunya.


Jendral mendengus kasar. Dia ingin berputar-putar untuk menghilangkan rasa kantuknya namun Bundanya ini tidak mengizinkannya dan ingin minta tolong ke Ayahnya tapi Ayahnya yang tampan itu masih pulas tidurnya.


Dan lihatlah sekarang, baterai handphone nya hanya tinggal 19 persen. Dia lupa untuk membawa power bank yang telah dia siapkan tadi.


"Bunda, Jendral lapar, Jendral mau beli makanan" Rengek Jendral. Sudah berapa jam mereka mendekam di ruangan ini dan tidak ada satu pun dari orang tuanya yang merasa lapar.


"Emang kamu mau jajan dimana? emang kamu kira ini sama kayak terminal bus?"


Jendral menghela nafas sabar. "Bunda Ku yang paling cantik se-Play Store, apakah Bunda tahu fungsi dari yang namanya kantin?" ujar Jendral dengan menekankan kata 'kantin.'


"Ya udah kalau gitu, kamu nunggu disini aja. Biar Bunda yang pergi."


Jendral menolak dengan cepat. "Eh, ngak usah. Biar Jendral sendiri aja, Jendral juga mau ke kamar mandi kok."


Bunda memandang serius ke Jendral. "Yakin? kamu ngak akan pergi ke tempat lain kan? Nanti tersesat loh."


Jendral mengangguk mantap. "Yakin Bunda, setelah ke kamar mandi dan ke kantin, Jendral akan kembali kesini. Janji Jendral adalah janji seorang pelaut."


"Baiklah, tapi hati-hati. Jangan keluyuran." Bunda mewanti-wanti.


"Iya-iya, Bunda mau nitip?"


"Nggak, cemilan Bunda masih banyak."


"Ya udah, Jendral pergi dulu ya. Assalamualaikum." Jendral berjalan cepat setelah mendapat izin dari sang Bunda.


Jendral tidak berbohong, setelah dia pergi dia benar-benar pergi ke kamar mandi untuk cuci muka lalu pergi ke kantin.


Setelah membeli makanan yang cukup banyak, disinilah tabiat asli yang sangat menjengkelkan dari seorang anak muncul.


Bukannya balik lagi ke tempat penjemputan, Jendral malahan pergi mengelilingi bandara. Seraya mendengarkan musik yang tersambung ke earphone nya, Jendral sangat menikmati perjalanan nya kali ini.


"Sakit hatiku, galau jiwaku, saat kau katakan putus dengan aku, treng teng teng~" Jendral menyanyikan sepenggal lagu berjudul GALAU yang dinyanyikan oleh band FIVE MINUTES.


Tanpa sadar, Jendral telah pergi terlalu jauh. Jendral tidak tau dia tiba dimana, yang pastinya tempat ini sangat ramai. Membuatnya seketika panik.


Jendral langsung mengambil handphone yang ada di saku celananya, mencari nomor sang Bunda. Apa pun masalah nya tetaplah Bunda yang akan dia cari.


Sayang sekali, saat ini semesta tidak berpihak kepada nya. Sedetik lagi dia mau menekan nomor sang Bunda, handphone nya kehabisan baterai.


Jendral merutuk dirinya sendiri. Tidak patah semangat Jendral mencoba untuk memutari kembali jalan yang dia lalui dan tetep saja dia malah kesasar ke tempat lain.


Jendral mendongakkan kepalanya, untuk melihat dimana dia berada sekarang, dan tetap saja itu tidak membantu.


Rasanya saat ini Jendral rasanya mau nangis saja. Perutnya tiba-tiba merasakan rasa sakit.


Kalau sesuai perkiraan Jendral, saat ini 'adik' nya pasti telah mendarat.


"a-duh, nyesel banget ngak dengerin omongan Bunda" batin Jendral, dengan perlahan dia berpindah mencari tempat yang agak sepi.


"Hei, apa kau baik-baik saja." Terdengar suara lembut seseorang yang berada dibelakang Jendral.

__ADS_1


Jendral mematung. Seperti nya dia kenal dengan suara ini. Walaupun suaranya sedikit berubah, tapi Jendral yakin bahwa dia lah orang nya.


Orang yang membuat dia menjadi setampan ini.


Jendral membalikkan tubuhnya, dan terlihat lah gadis manis yang tersenyum lebar.


Jendral menyipitkan matanya, menerka-nerka di manakah dia pernah melihat gadis ini.


"A-aku baik-baik saja" gugup Jendral.


"Ternyata kau masih sama seperti dulu ya, udah tau buta arah tetap saja keluyuran," ucap gadis itu.


Senyum Jendral langsung pudar, keringat dingin membasahi keningnya, suaranya tiba-tiba parau.


"A-A-AREEEEEEZHHHHH"


Gadis itu hanya ter-kikik geli. Lalu menggerakkan tangannya seakan menyapa Jendral.


"Yo!"


"Lo kenapa-"


Bugh


"Aaauu"


Jendral memegang kepala belakangnya. Rasanya sakit sekali mendapat tabokan. Ini bukan dari gadis yang dia panggil Arezh, tapi dari sang Bunda yang telah datang dengan wajah merah padam.


"Kan sudah Bunda bilang, jangan keluyuran!! Ini telinga apa fungsinya?" Bunda menjewer telinga Jendral dengan keras.


"Ami, jangan gitu. Intinya kan kita udah ketemu sama kakak, kesian kakak Mi" Arezh berujar lembut membuat Bunda langsung melepas jewerannya dari telinga Jendral.


"Ha? Kakak? Ami?" Beo Jendral.


Bunda tersenyum bahagia. "Iya, mulai sekarang dia adalah bagian dari keluarga kita." Bunda memeluk Arezh dengan kuat.


Bunda dan Ayah terlihat sangat bahagia sedangkan berbanding terbalik dengan Jendral yang cengo.


"A-aduh." Jendral meringis sakit. Perutnya terasa sakit kembali, dan kepalanya pun terasa berat.


"eh eh, kamu kenapa, Jendral." Bunda terdengar panik dengan segera menyuruh Ayah menahan tubuh Jendral yang hampir jatuh.


Sebelum menutup matanya, Jendral melihat siluet tubuh yang mendekap dirinya dan membisikkan sesuatu yang terdengar sangat pelan.


"Ternyata kau masih bodoh"


..._____...


"Jelek."


"Dasar bodoh."


"Sini! udah tau buta arah tetap aja keluyuran."

__ADS_1


"Jangan ngerepotin orang tua, dengan keluyuran kayak gini."


"Jangan nangis! masak cowok nangis."


"Ku pastikan ketika kita bertemu kembali-"


"Kau akan jatuh cinta padaku."


"GYAAAAAA"


Jendral berteriak kaget. Peluh membasahi tubuhnya. Napasnya sesak dan jantungnya berdetak cepat.


"astaghfirullah, mimpi apa itu tadi. Amit-amit jabang bayi." Jendral menetralkan napasnya.


"Ini, minum dulu"


Tanpa melihat siapa yang mengasih gelas itu, Jendral langsung meminumnya dengan cepat.


"Makasi-"


Jendral hampir saja melempar gelasnya ketika melihat Arezh yang duduk manis disampingnya.


"Lo kena-"


"sshst." Arezh menempelkan jari telunjuknya ke depan bibirnya, menyuruh untuk diam. Dengan perlahan Arezh mendekat ke Jendral.


Jendral kelabakan, wajah mereka sangat dekat, sampai membuat mereka bisa merasakan deru napas masing-masing.


"Lo jangan macem-macem ya."


Arezh tidak mendengarkan, didorong nya sedikit kepala Jendral ke depan sehingga kening mereka bersentuhan.


"Ngak panas" Gumamnya, lalu menarik tubuhnya kebelakang.


"hei, ngak usah masang tampang kayak gitu" ujar Arezh ketika melihat wajah memerah Jendral.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun Jendral." Suara Ayah tiba-tiba terdengar. Ayah yang membawa satu keranjang buah, tersenyum lebar.


"Tadi kami semua panik sekali loh, ya kan Re." Ayah melirik Arezh.


"Benar sekali Pi" ucap Arezh riang.


Mendengar panggilan Arezh untuk Ayahnya, membuat Jendral akan sadar Arezh sebagai apa dikeluarga mereka.


"Ja-jadi dia benar-benar menjadi anggota keluarga kita?" Tanya Jendral.


"Iya dong." Ayah berucap bangga.


"Dan kamu akan ikut menjaganya."


Jendral memandang benci ke arah Arezh, sedangkan Arezh yang melihat itu hanya ter-kikik geli.


"Tolong jaga aku ka.kak"

__ADS_1


Sialan kehidupannya yang damai akan terancam.


__ADS_2