
Jendral menutup buku tugas ilmu pengetahuan alam nya. Berdiri dari tempat dia belajar di ruang keluarga, Jendral berjalan ke ruang makan.
"Ini juga cantik Ami. Apalagi kalau Ami yang makai pasti makin cantik."
Jendral mendengus ketika mendengar Arezh mengombali Bundanya. Makin kesal lagi melihat Bundanya yang tersipu malu bagaikan anak muda. Jendral sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka lihat di laptop bewarna pink itu. Tapi, Jendral yakin pasti hal itu berhubungan dengan "fashion."
Mengambil botol air di kulkas, Jendral langsung meneguknya seraya memperhatikan Arezh dan Bunda yang sedang duduk di meja makan.
"Lihat ini sayang, imut sekali warnanya. Ami yakin kamu akan terlihat gemoy pakai gaun ini."
"Ehehe, Ami jangan gitu. Are jadi malu ni," ucap Arezh tersipu malu.
Jendral merinding ketika melihat Arezh bersikap seperti itu. Nggak cocok baginya.
"Ami beli ya."
Arezh menolak dengan cepat. "Jangan Mi, gaunnya mahal. Gaun Arezh kan udah banyak Ami beliin."
"Nggak papa sayang. Untuk kamu mah, walaupun harga gaunnya harus menjual ginjal pun, Ami beliin."
Jendral geli ketika mendengar kalimat Bundanya. Sejak kapan Bundanya itu bisa menggombal seperti itu. Bahkan kalau Ayahnya yang menggoda Bunda, pasti Bundanya itu hanya menatap datar ke Ayahnya lalu melenggang pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Setelah tenggorokannya terasa lega, Jendral meninggalkan mereka berdua. Kembali ke ruang keluarga Jendral mengambil alat belajarnya, tidak lupa mematikan televisi lalu pergi ke kamarnya tercinta.
Jendral menerawang jauh. Memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk mengerjai Arezh. Sudah berapa kali dia mengerjai cewek nyebelin itu tapi tetap saja semua hal itu kembali ke dirinya.
Entah keberuntungan apa yang menyertai cewek nyebelin itu.
Disaat Jendral sedang berpikir keras, tiba-tiba saja handphonenya berdering.
"Nomor yang tidak dikenal?" gumam Jendral, membaca pesan masuk di handphonenya.
Halo ganteng♥
Kamu block nomor ku ya, Aku nggak papa kok. Jangan lupa makan ya, sayangku.
Sayangku tadi aku mendengar ada cewek centil yang genit padamu. Jangan dekat-dekat ya, nanti aku marah.
Dari Pacarmu yang tidak engkau anggap♥
"Astaghfirullah, jangan-jangan ni dari si lintah basi itu lagi."
Jendral tentu tahu siapa yang mengirimnya pesan seperti ini. Orang itu adalah Alea, cewek yang terkenal akan kekayaannya itu, sangat terosebsi kepada dirinya.
Ini sudah berlangsung selama 2 tahun. Semua cara cewek itu telah lalukan untuk menarik perhatiannya dari membelikannya Silverqueen yang paling gede, boneka beruang limited edition, bunga mawar dari luar negri dan vila mewah atas namanya. Namun, tetap saja Jendral menolaknya.
Dari dalam hati Jendral sih, dia mau menerima hadiah yang diberikan oleh si Alea. Soalnya hadiah Alea itu enak-enak semua dan kita tidak boleh menolak rezeki, tapi karena kalau diterima sama saja menerima perasaan si lintah basi tentu saja Jendral menolaknya.
Ketika Jendral mau menghapusnya, mendadak ide cemerlang melintas di kepalanya. Sebuah ide yang akan membuat Arezh bagaikan sampah tak berguna.
"Alea suka sama gua. Dia juga seorang pembuli. Dia pencemburu. Arezh selalu dekat-dekat sama gua. Jadi----" Senyum iblis Jendral muncul.
__ADS_1
"Hehehehe. Tunggu saja besok Are, kau akan mati."
Jendral menggerakkan jarinya untuk menghapus pesan Alea. Meletakkan handphonenya diatas meja nakas, Jendral tidur dengan perasaan berbunga-bunga.
"Selamat pagi Arezh," sapa Jendral dengan nada manis.
Jendral berjalan ke meja makan, duduk di kursi yang berhadapan dengan Arezh yang hanya menatapnya cengo.
"Kamu kenapa? Are mau makan apa?" Tanya Jendral mempertahankan senyuman manisnya.
Semua orang yang ada dimeja makan itu bergidik ngeri melihat sikap Jendral. Terlalu menyeramkan.
"Hmmm, Jendral. Kamu kenapa nak?" Tanya Bunda, menatap Jendral dengan pandangan khawatir.
"Emang Jendral kenapa Bunda? Jendral sehat kok. Are mau roti panggang kah? Ini kakak ambilin." Jendral menaruh sepotong roti panggang dipiring Arezh.
Arezh tidak bisa menolak, dia masih belum bisa menerima apa yang dia lihat.
"Kenapa semua diam? Ayo makan," ajak Jendral yang sudah memulai sarapan paginya.
"Astaghfirullah. Kenapa ni anak?"
"Jen, Bunda sama Ayah minta maaf ya, atas semua sikap buruk yang disengaja maupun tidak."
...-----...
Semua orang yang baru tiba di sekolah Khatulistiwa, menatap horor melihat sikap Jendral kepada Arezh.
"Nanti jangan lupa ya, ke kelas Kakak," ujar Jendral yang hanya mendapat anggukan jijik dari Arezh.
Tanpa disadari ada seseorang yang menatap mereka berdua dengan tatapan mau membunuh.
"Jendral, ini benar-benar Lo? Lo sakit? Demam?" Tanya beruntun Kevin yang baru datang dari kantin. Dia sendiri juga terkejut mendapati Jendral yang berubah total.
Jendral menolehkan kepalanya ke Kevin. "Emang gua kenapa?"
"Nggak sikap Lo aneh?"
Jendral tersenyum tipis. "Aneh gimana?"
"HIIIII, ngeri gua. By." Kevin langsung meninggalkan Jendral.
"JENDRAL!!!" Panggil ketua kelas dengan berlari cepat ke arah Jendral.
"Ada apa?" Tanya Jendral bingung, melihat ketua kelas mereka terlihat panik.
"A-adik Lo!! dia mau dihiat sama sama si Alea!!"
dihiat: ucapan yang sering digunakan apabila
Alea sedang mau membuli seseorang.
__ADS_1
"Mampus Lo Arezh. Hahahaha."
"Astaghfirullah. Adik gua!!"
Jendral segera bangkit dari duduknya, memasang wajah khawatir Jendral berlari meninggalkan kelas.
Sementara itu, di toilet wanita.
"Gileee, tu Jendral salah makan ya," gumam Arezh ngeri. Demi apapun, dia lebih memilih Jendral untuk mengerjainya dari pada melihat Jendral bersikap seperti itu.
Arezh melihat cermin. Setelah merasa penampilannya terlihat sempurna, Arezh berencana pergi ke kelas Jendral.
Baru saja dia mau membuka pintu toilet, tiba-tiba segerombolan anak mendorongnya masuk kembali dan mengunci pintu toilet itu.
Arezh memundurkan langkahnya. Matanya melihat kesekitar, menyadari bahwa dia tidak memiliki jalan keluar.
Dari segerombolan itu, keluar lah seorang cewek yang terlihat lebih glamor dari pada yang lain. Seragam ketat, lengan baju digulung Keatas, kancing baju 2 buah teratas dibuka, lipstik menor dan pipi berdempul. Arezh tebak dia adalah ketuanya.
"Alea, huh" batin Arezh melihat name tag di seragam cewek itu.
"HEI LO, CEWEK KAMPUNGAN," ucap Alea dengan suara keras.
"I-iya ada apa Kak?" Arezh menunduk takut. Dia harus berpura-pura menjadi lemah dahulu. Semua ini untuk mengetahui bagaimana sikap Alea, dia harus mempelajari tentang Alea terlebih dahulu. Dan alasannya yang paling kuat adalah dia masih sangat mau bersenang-senang.
"Lo berani sekali ya deketin Jendral!!"
"Sa-saya nggak ada deketin Kak Jendral, kok Kak."
"Lo jangan bohong ya!! Gua lihat pake mata kepala sendiri!!"
"Tapi, Kakak Jendral itu kakak saya."
"Lo hanya adik angkat dia!!! Jangan macem-macem ya. Gua tahu isi pikiran Lo!"
Alea mendorong keras bahu Arezh.
"Dia tipe berani." Batin Arezh melihat bahunya yang terasa sakit.
"Gua nggak akan biarin Lo ngerebut Jendral gua!"
Alea mau menyiram Arezh dengan air kloset yang telah dia siapkan namun dengan segera ditahan sama Arezh.
Dia tidak bisa berlama-lama dengan mereka.
"Coba aja kalau kau bisa. Nona cantik," ujar Arezh dengan nada dingin, mencengkram erat lengan Ale.
**vote ♣
komen ♦
assalamualaikum**
__ADS_1