
♥♠ happy reading
"Nah, sekarang ayo buka mulutnya Kak, aaaaaa." Arezh mengarahkan sendok yang berisi bubur ke arah mulut Jendral.
Jendral menutup rapat mulutnya, menatap bubur itu seolah-olah ada racun didalamnya.
Ayah yang melihat hal itu, menegur Jendral. "Jen kamu kenapa gitu? nggak baik loh, Are udah baik mau menyuapi mu. Cepat makan, kita harus pulang."
Jendral menatap tajam ke Arezh yang masih tersenyum lebar ke arahnya.
"Gua bisa makan sendiri!" Jendral mau merebut sendok yang ada ditangan Arezh, namun kalah cepat karena Arezh langsung menjauhkan sendok itu.
"Ets, ngak boleh. Tubuh kakak masih lemah, tadi kakak pingsan hampir satu jam karena terlambat makan dan kakak seperti nya tadi makan yang nggak sehat. Dan sekarang biar aku, adik mu yang paling cantik ini menyuapi Kak Jendral."
"Ayo makan Kak, kalau Kakak sakit, aku jadi sedih loh."
Jendral menatap ragu kebubur itu. Akhirnya, karena tidak mau memperlama dia disini, Jendral mau membuka mulutnya.
"Aaa pintar sekali," ucap Arezh riang.
Jendral menelan paksa bubur itu, rasa buburnya pahit.
"Bunda mana?" Tanya Jendral yang tidak melihat eksistensi Bunda disekelilingnya.
"Bunda ada di mobil, karena itu habiskan bubur itu dengan cepat!"
"Pi, Ami kan sendiri di mobil, kalau gitu kenapa Papi nggak nemenin Bunda aja, buburnya sedikit lagi juga habis," ujar Arezh memberi saran.
"Emang nggak papa?"
"Nggak papa kok, nanti kalau Kak Jen ngak kuat jalan biar Arezh yang gendong."
Perkataan Arezh itu membuat Ayah tertawa. Mengusap rambut Arezh dengan lembut, Ayah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Yaudah, tapi cepat ya," ucap Ayah sebelum benar-benar meninggalkan mereka berdua.
"Ayok, Kak satu suap lagi."
"Lo Ngak usah sok baik deh," ucap Jendral menepis tangan Arezh.
"Are nggak sok baik Kak," ucap Arezh dengan air mata yang berlinang.
"Cih, sejak kapan Lo jd cengeng, mana sikap Lo yg pongah dulu itu. Gaya Lo sok-sokan jadi malaikat gitu, mana keluarga Lo? Apa Lo udah di usir dari rumah ya, memang sih mana ada yang kuat serumah sama Lo." Jendral memandang rendah Arezh yang hanya menundukkan kepalanya.
"kenapa? sakit hati ya," ujar Jendral.
Arezh tidak mengatakan apa-apa pun, tapi Jendral yakin Arezh sedang menangis terlihat pundaknya yang bergetar.
"Jangan nge-drama deh, nggak mempan air mata buaya Lo itu."
"hiks hiks hiks, nhnhnhnhnhn"
Jendral menatap Arezh dengan aneh. Dia tidak tau kenapa Arezh tiba-tiba saja seperti ingin tertawa.
Arezh mengangkat kepalanya, menatap Jendral dengan pandangan mengejek. "HAHAHAHAHHA, Apa yang kau pikirkan Kak? Aku menangis? hiks hiks hiks, HAHAHAHAHHA." Arezh tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Awas aja gua akan buat Lo nggak tahan tinggal di rumah gua." Jendral memandang bengis ke arah Arezh.
Arezh menatap polos Jendral. "Kakak tolong jangan takuti adik Mu ini."
Arezh berdiri dari duduknya, mendekat ke Jendral sehingga mata mereka berdua bertemu.
"Jangan sombong, Kau masihlah bodoh seperti dulu." Arezh tersenyum pongah.
"KAU!!-"
Yahoo
Nada dering handphone Arezh berbunyi. Dengan segera Arezh mengangkat nya.
"Waalaikumsalam, Ami. Ya, Kak Jen udah selesai makan kok, ini kami baru mau pergi. Ya, Mi. Assalamualaikum." Arezh memasukkan handphonenya ke dalam tasnya.
"Tadi kak Jen bilang, Kakak akan buat aku nggak tahan di rumah kan? Tapi, kita lihat saja nanti, siapa yang tidak tahan di rumah kita." Arezh menjauh dari wajah Jendral. Mengulurkan tangannya untuk membantu Jendral berdiri.
"Nah, sekarang. Mari kita pulang, kak Jendral ku tersayang."
''BRENGSEK!''
...-----...
"Mulai saat ini, Are akan tidur disini." Bunda menunjukkan ruangan yang hampir serba pink itu kepada Arezh.
"Gimana? Suka?"
"Are suka sekali Ami. Aaa makasih Amiiii, Ku yang cantik." Arezh memeluk erat Bunda yang tertawa.
"Papi juga bantu nyiapin kamar Are juga loh," ucap Ayah membuka suara.
"Makasih juga untuk Papi ku yang tampan."
Kemudian mereka bertiga tertawa bersama.
Jendral memandang kesal melihat Arezh sangat berbahagia.
"Bunda dan Ayah kenapa harus repot-repot nyiapin kamar sebagus ini sih?."
"Kamar macam apa ini, pink semua. Nggak malu apa udah gede," ujar Jendral berkomentar.
"JENDRAL!!! Kenapa kamu ngomong seperti itu? Nggak baik loh," Ayah menegur. Sedangkan Jendral hanya menanggapinya dengan cuek.
"Aduuh sayang, Maafkan Kakak Kamu ya." Bunda mengusap pipi tembem Arezh.
Arezh menggeleng kecil. "Nggak Ami, Arezh nggak sakit hati, tapi Arezh merasa sedih karena perkataan Kak Jen seakan-akan membuat semua hal yang telah disiapkan Ami dan Papi adalah sesuatu hal yang tidak berguna. Are sedih, Kak Jendral tidak menghargai yang Ami dan Papi siapkan. Padahal Are sangaaaaat suka sekali." Arezh menggenggam tangan Bunda yang masih menyentuh pipinya.
"Ami dan Papi jangan sedih ya. Kak Jen ngomong gitu mungkin karena Kak Jen kesal sebab Are mengambil perhatian Ami dan Papi." Bunda langsung memeluk erat Arezh dan Ayah yang juga langsung mengusap rambut Arezh.
"Aaaaaa, sayang Ami, jangan ngomong gitu. Ami ngak sedih kok dan Are nggak pernah mengambil perhatian Ami dan Papi kepada Jendral. Jendral!! segera minta maaf ke Arezh!" Perintah Bunda tanpa melihat Jendral.
Arezh melihat Jendral yang tengah memandang nya kesal. Tersenyum penuh kemenangan, Arezh membuat Jendral seperti akan meledak.
"BAJINGAN!!! KENAPA GUA YANG SEOLAH-OLAH SALAH SIH!"
__ADS_1
...-----...
"Jen..."
"Jendral!!!"
"GYAAAAAAAAA."
Jendral melotot kan matanya, terkejut akan kehadiran Arezh yang tepat sedang menatap nya tepat didepan wajahnya.
"Selamat pagi."
"Nga-ngapain Lo dikamar gua?!!!!!"
"Untuk membangunkan Kakakku yang tersayang agar segera bangun dan shalat subuh."
"ALASAN!!"
"Kalau ngak percaya tanya aja sama Ami sana. Are kan sedih melihat Ami yang susah membangunkan Kak Jendral yang kalau tidur kayak simulasi meninggal," ucap Arezh mengejek.
Perkataan Arezh itu membuat Jendral melempar bantal yang ada disampingnya ke arah Arezh, namun dengan sigap Arezh menghindarinya.
"Sayang sekali, ngak kena. Sebaiknya Kakak harus belajar bagaimana cara melempar barang dengan baik."
"PERGI LO DARI KAMAR GUA!!!"
Arezh menghela nafas. "Iya iya, nggak usah ngebentak bisa nggak sih?" Arezh berjalan kearah pintu kamar Jendral.
"Cepatlah bersiap-siap Kakakku tersayang."
.
.
.
"Gimana, enakkan sarapan kita hari ini," Bunda bertanya kepada Jendral.
"Enak," ujar Jendral seadanya.
"Arezh tadi ikut masak untuk kita loh."
Ayah mengehentikan suapannya. "Yang benar? Wah pintar sekali Putri cantik Papi ini."
Jendral berhenti makan, menatap nasi gorengnya. "Nggak enak," ucap Jendral.
Jendral menatap Arezh, ingin melihat bagaimana wajah Arezh saat ini.
Tersenyum puas lah Jendral yang melihat ekspresi Arezh yang murung.
"Padahal yang buat nasi goreng itu Ami."
"Rasain-" "APAAA??!!"
Sekarang gantian ekspresi Arezh yang tersenyum puas.
__ADS_1
vote♣
komen♦