
Sudah satu Minggu dari kejadian Jendral mengosongkan baju seragamnya sendiri. Karena hal itu Jendral harus memakai kembali bajunya yang telah sempit.
Hari ini pula adalah hari pertama Arezh masuk sekolah. Seperti biasanya dia bangun pukul 4 pagi.
"Loh Jen, tumben sekali kamu bangun sendiri, ada apa ini?" Tanya Ayah keheranan melihat Jendral yang telah bersiap-siap untuk shalat hanya menunggu azan berkumandang.
"Nggak ada alasan khusus. Jendral sengaja bangun pagi." Kilah Jendral, padahal dia menghindari untuk dibangunkan oleh Arezh yang selalu bertugas untuk membangunnya setiap pagi.
"Karena setiap Arezh yang membangunkan Jendral, Jendral jadi cepat bangun. Nggak kayak sama Bunda, walaupun udah bunda siram kamu pakai air segalon pun kamu nggak akan bangun-bangun."
Itulah yang dikatakan oleh Bundanya ketika dia bertanya kenapa harus Arezh yang membangunkannya.
Setelah mandi dan shalat subuh, Jendral mempersiapkan buku pelajarannya. Setelah itu dia turun kebawah untuk sarapan.
Jendral melihat Arezh yang telah memakai seragam sekolah. Seragam itu sedikit besar bagi Arezh sehingga lekuk tubuh Arezh tidak akan terlihat.
Mereka sarapan seperti biasa. Jendral makan nasi goreng dan teh, Bundanya makan roti yang dibaluri selai coklat, sementara Arezh dan Ayahnya sarapan roti panggang, dan segelas susu.
Setelah mereka sarapan, Jendral dan Arezh berangkat ke sekolah yang diantar oleh Ayah.
"Jendral jaga Arezh ya. Jangan lupa bantu Arezh." Pesan Bunda sebelum dia masuk kedalam mobil.
Jendral hanya mengangguk mengiyakan. Padahal dia berencana untuk membuat Arezh sengsara di sekolahnya. Bahkan ketika Arezh bertanya dimana letak kelas Jendral, dia malah memberi alamat palsu.
"Kak, letak kelas Kakak dimana?"
"Diujung, kamu ikuti aja ujung lorong sekolah kita nanti ketemu kok," ucap Jendral sambil menyeringai. Tempat yang dia katakan adalah gudang sekolah. Dia tidak terlalu khawatir dengan Ayahnya sebab Ayahnya itu tidak pernah datang ke kelasnya, jangankan ke kelas masuk ke gerbang sekolahnya aja belum pernah.
Arezh mengangguk senang. Dia tidak curiga sedikitpun.
"Kalian baik-baik di sekolah ya. Nanti ada yang menjemput kalian," ucap Ayah ketika mereka telah sampai didepan gerbang sekolah.
"Baik, Pi. Are pergi dulu. Assalamualaikum." Arezh keluar dari mobil mengikuti Jendral yang telah keluar lebih dulu.
Arezh mengejar Jendral yang tidak mau berhenti. Setelah berhasil menyusul Jendral, Arezh langsung bertanya dimana ruang kepala sekolah.
Semua mata menuju kearah mereka berdua. Bertanya-tanya apa hubungan cewek rambut pendek dengan baju kebesaran itu dengan Jendral. Sejak dulu, Jendral tidak mau mendekati atau pun didekati oleh para cewek sebab katanya dia masih terlalu muda, dia tidak mau membebani pikirannya dengan hal percintaan.
Karena tidak mau berlama-lama dengan Arezh, Jendral langsung menunjuk ke arah bagian kanan sekolah.
"Ikuti aja tu lorong, nanti ketemu kok."
"Letaknya disebelah mana?" Tanya Arezh soalnya penunjuk arah Jendral masih terasa ambigu olehnya.
"Ikuti aja, liat pintunya, kalau gede dan bagus berarti itu." Jendral menjelaskannya dengan nada malas.
Jendral langsung berjalan meninggalkan Arezh yang masih mau bertanya lagi. Bodo amat dia sama Arezh.
Jendral tidak berbohong soal letak ruang kepala sekolah, arahnya memang kearah yang dia tunjuk tapi dia tidak bilang bahwa Arezh harus berbelok ke arah kanan bagian ujung. Jarang ada murid yang lewat sana sebab ruang kepala sekolah letaknya lumayan jauh, ruang kepala sekolah itu punya bangunan sendiri.
Jendral tersenyum puas. Arezh akan bingung dimana letak ruang kepala sekolah dan disaat istirahat dia juga akan bingung mencari letak kelasnya.
"hehehe, rasain Lu!! Walaupun ini bukanlah hal besar tapi gua senang, Lo akan kebingungan."
...-----...
"Halo Kak! Kakak udah siap belajarnya kan
Gimana kalau kita makan bersama," ucap Arezh riang didepan meja Jendral.
Jendral benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Ini belum 7 menit sejak bel berbunyi tapi mengapa Arezh telah berdiri didepannya.
"Lo benar-benar ngajak dia?" bisik Kevin ke Jendral yang masih syok.
__ADS_1
Jendral menggeleng pelan. "Nggak ada anjir."
"Bagaimana Lo tau dimana kelas gua?" Tanya Jendral dingin.
"Kan kakak sendiri yang ngasih tau."
Arezh duduk di salah satu kuris kosong yang ada didepan Jendral.
"Nggak ada gua ngasih tau."
"Ada, di mobil tadi pagi."
"Itu jalan ke gudang," ucap Jendral spontan.
''Upps."
Arezh menutup mulutnya tak percaya, Jendral tau bahwa Arezh pura-pura terkejut.
"Jadi, Kakak bohongi Arezh? Kenapa? Apa salah Arez? Padahal Arezh sangat mau makan bersama Kakak, hiks hiks hiks hiks." Arezh menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Lo ngapain? Astaghfirullah," ucap Jendral panik dengan nada pelan. Entah kenapa kelasnya ini malah ramai bagaikan hanya ada satu orang yang pergi ke luar. Semua orang melihatnya dengan pandangan berbeda-beda.
"Dia buat cewek cantik nangis."
"Sejak kapan Raja sekolah kita kayak gitu?"
"Jendral kok jadi jahat ya. Padahal kalau yang gua dengar, itu adiknya loh."
Itulah beberapa bisik-bisik di kelasnya. Jendral menatap kesal ke Arezh sedangkan Arezh tersenyum kemenangan di sela-sela jarinya. Tidak mau semakin runyam, Jendral menyuruh Arezh duduk.
Senyum Arezh langsung berubah menjadi ceria lagi.
"Lo ngapain?"
"Untuk Kak Kevin ada juga loh," ucap Arezh memberi kotak bewarna hijau ke Kevin.
Kevin yang menerimanya langsung nyengir lebar.
"Ternyata Are baik juga loh," bisik Kevin ke Jendral.
"Baik dari Hongkong."
"Gua nggak mau makan," tolak Jendral.
"Nanti Kakak bisa sakit loh."
"Itu bukan urusan Lo."
Arezh menghela nafas sabar. Hanya satu cara membuat Jendral mau memakan bekal yang dia berikan.
"Tapi ini dari Ami."
Setelah itu, Jendral langsung memakan bekalnya.
...-----...
"Assalamualaikum Ami. Kami pulang."
Hening.
Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Jendral pikir mungkin Bunda sedang tidak ada di rumah.
Arezh langung melesat ke arah dapur sementara Jendral langsung pergi ke arah kamarnya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Apa?" Tanya Jendral yang lagi membuka seragamnya.
"Kak Jen, bisa bantu Are?"
"Nggak!"
"Are lapar Kak, buatin makanan dong" Pinta Are.
"Buat aja sendiri! Cewek kok nggak bisa masak," caci Jendral yang sudah selesai mengganti pakaiannya.
"Nggak boleh sama Ami."
Jendral mendengus kesal dengan jalan yang sedikit dikeraskan dia berjalan ke arah pintu.
Jendral membuka pintunya lalu menatap datar ke Arezh yang memegang panci. "Ngerepotin aja Lo. Tinggal idupin kompor aja, masak, langsung selesai deh."
"Gua nggak peduli mau Lo lapar atau nggak! Awas sana, ganggu aja Lo." Jendral kembali menutup pintunya.
Jendral mendengar langkah kaki Arezh yang menjauhi kamarnya. Merebahkan tubuhnya ke kasur nan empuk, Jendral mulai mengantuk.
BOOM
Mata Jendral yang setengah mengantuk, terbelalak lebar. Jantungnya pun terasa mau copot ketika mendengar dentuman keras itu.
Jendral langsung berlari menuju kearah dapur. Betapa terkejutnya melihat panci yang telah gosong dengan Arezh yang berdiri mematung.
"ASTAGHFIRULLAH!!! LO MAU NGEHANCURIN NI RUMAH?" Teriak Jendral yang dibalas gelengan sama Arezh.
"Kan tadi udah Are bilang, kalau Are nggak boleh masak."
Jendral mendekat ke arah Arezh. "Emang Lo nggak pernah masak, walaupun ditempat Lo dulu?"
"Nggak pernah, kata mereka Arezh nggak boleh masak nanti takut kalau Arezh terluka." Arezh menjelaskan.
"Keknya alasannya bukan itu deh. Jangankan Lo yang terluka yang ada semua orang di rumah ini yang tiada karena olah Lo."
Batin Jendral ketika melihat panci yang telah gosong itu.
Grooww
Perut Jendral berbunyi. Arezh yang mendengarnya tertawa.
"Diem!!" Seru Jendral.
"Yaudah, biar gua masak. Ingat ya, gua masak untuk kebaikan diri gua sendiri!! Bukan untuk Lo. Saat gua masak Lo bersihin ni tempat!"
Arezh mengangguk semangat. Setelah itu mereka melakukan pekerjaan masing-masing. Arezh yang membersihkan kekacauan dan Jendral yang memasak makanan untuk mereka berdua.
Sesekali Arezh akan menjahili Jendral, dan Jendral akan membalasnya dengan menyiram percikan air yang ada di baskom.
Masakan Jendral benar-benar sangat enak. Arezh menatap Jendral dengan pandangan bahagia.
"Makasii ya. Makanannya enak sekali." Arezh tersenyum manis.
Saat, itu jantung Jendral berdetak lebih kencang dari pada sebelumnya.
**vote ♣
__ADS_1
komen ♦**