JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA

JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA
Beri Pelajaran


__ADS_3

Jendral mengacak-acak rambutnya secara kasar. Dia sedikit depresi dengan kejadian tadi pagi. Ingin sekali dia menggunting bibir Arezh yang tersenyum lebar ke arahnya itu.


Jendral kira, Arezh lah yang buat nasi goreng itu, ternyata cewek nyebelin itu hanya buat roti bakar dan teh untuk mereka semua. Ini juga salah Bundanya, kenapa Bundanya berbicara seolah-olah bahwa si cewek nyebelin itu yang membuat nasi gorengnya.


Jendral memijat kepalanya, memikirkan hal itu membuatnya sedikit pusing.


''Nanti gua harus benar-benar minta maaf ni ke Bunda," Batin Jendral mengingat tadi dia hanya bisa minta maaf sekedarnya karena dia udah telat ke sekolah.


"Oy Jen! Lo kenapa?" Tanya Kevin—sahabat Jendral lewat jalur karma.


"Gua pusiiiiiing banget nih, karena kedatangan si nyebelin itu," ujar Jendral menjelaskan.


Saat ini hanya ada mereka berdua dikelas karena saat ini jam istirahat.


Kevin mengangguk-angguk. "Oh gua tau, orang yang membuat ortu Lo ngizinin Lo libur kemaren kan."


"Iya, karena kedatangan si nyebelin itu, membuat gua selalu disalahin."


Kevin mengangguk-angguk,lagi. "Gua paham, pasti rasanya nyebelin banget kan, kita terus di marahin hanya karena orang asing."


Jendral hanya diam lelah, situasinya saat ini lebih sulit dari pada pelajaran hari ini yang seluruh jam pelajarannya ada ulangan harian.


"Bagaimana kalau gua bantu? Kesihan juga gua ngeliat lu prustasi hanya karena seseorang yang baru satu hari di rumah loh."


"Yang bener?!! Makasiii banyak Kevin, nanti gua traktir Lo dah." Secerah harapan menghiasi wajah Jendral.


"Tapi gimana caranya?" Tanya Jendral, membuat mereka berdua terdiam sejenak.


BANG!!


Jendral terlonjak kaget, saat Kevin tiba-tiba saja mengebrak meja.


"Eh, monyet. Eh, Astaghfirullah, Lo kenapa anjir." Jendral mengusap-usap dadanya.


Senyum Kevin tiba-tiba melebar. "Gua tahu!!"


"Tau apa?" Tanya Jendral bingung.


"Bagaimana kalau kita ngasih dia pelajaran!" Kevin menaik-turunkan alisnya.


Jendral mengerutkan dahinya. "Ngasih dia pelajaran? Untuk apa? Untuk apa kita buat di makin pinter? dan dia juga cukup pinter kok, nanti gawat dong kalau dia lebih pinter dari pada gua."


Ucapan Jendral itu benar-benar menguji kesabaran Kevin. Jendral ini lebih pinter dari pada Kevin tapi kalau di saat-saat begini Jendral kelihatan lebih bego dari pada dia.


"Ya ampun Jen, ngucap gua ngucap. Maksud gua itu, kita buat dia nyesel, gitu loh. Gimana ya maksudnya, tapi—kek gitu lah."


Jendral membulatkan mulutnya. "Ooh gitu, bilang dari tadi kek."


"Gua lempar juga ni kursi ke muka Lo," ucap Kevin kesal dengan mengangkat kursi kayu yang dia duduki.


"Maapin gue, maapin gue."


...-----...


"Orang tua Lo beneran nggak ada di rumah saat ini kan?" Kevin bertanya dengan suara pelan.


Kevin yang menatap pintu rumahnya yang tertutup, mengangguk. "Beneran, kalau saat ini Ayah gua masih di kantornya dan Bunda gua palingan saat ini masih arisan."


"Bagus-bagus, kalau ada Bunda bisa berabe kita," ujar Kevin, Kevin memang sangat dekat dengan keluarga Jendral sebab mereka dulu adalah tetangga sebelum Kevin pindah ke kompleks sebelah. Dan karena itu lah Kevin memanggil orang tua Jendral juga dengan sebutan Ayah dan Bunda.

__ADS_1


"Tapi jangan pake kekerasan ya" Jendral memberi peringatan, walaupun dia ini jahat tapi dia tetap tidak ingin melukai seorang wanita, itu sangat bertentangan dengan prinsip dia dan Ayahnya.


"Iya-iya, tenang aja."


"Nah, sekarang Lo lebih baik ngumpet dah" Perintah Kevin yang langsung dipatuhi Jendral dengan ngumpet di balik kebun bunga bundanya.


TOK


TOK


TOK


"ASSALAMUALAIKUM" Teriak Kevin dari luar rumah.


Jendral diam-diam kagum kepada Kevin. Saat ini Kevin benar-benar keren. Kevin Aprilio memang terkenal akan ke-premanannya di sekolah dan sekitar tempat tinggal mereka.


"WOI BUKA PINTUNYA!!! GUA TAU LO ADA DI RUMAH, DASAR ANAK PUNGUT!!!!"


"WOI LO BUDEG, ANAK PUNGUT!!! BUKA PINTUNYA!!! ATAU NGGAK GUA DOBRAK NIH!!!"


"WOI BUK--"


Suara Kevin tiba-tiba saja tidak terdengar membuat Jendral yang sudah gatal-gatal karena di gigit serangga menjadi kebingungan.


"Lah, dia kemana sih?"


BUGH


Jendral membulatkan mulutnya terkejut. "Lah, bukannya kita udah setuju ya kalau nggak ada kekerasan. Mungkin Kevin hanya memberi bentakan sedikit" gumam Kevin yang mencoba berpositif thinking.


"Lah kak Jen ngapain jongkok disini? ngeliat bunga sedang bercocok tanam kah? Uuuu Kakak mesum sekali."


Kevin berdecak kesal, menolehkan kepalanya ke belakang benar-benar membuat dia jantungan. "SIAPA YANG MESUM BANG--- loh Arezh? kenapa Lo disini? Bukannya Lo sedang di beri pelajaran sama si Kevin?"


Arezh yang sedang menyiram tanaman juga terkejut. "Lah kasih pelajaran apa? Kevin siapa? Harusnya Are yang bertanya, ini masih jam sekolah loh, kenapa Kak Jen ada disini? Nggak takut Bunda marah?"


"Tu-tunggu!! jadi bukan Lo yang ngebuka tu pintu?"


"Bukanlah, kan Are ada disini."


Wajah Jendral memucat. "Terus yang ngebuka tu pintu siapa? Kalau Lo ada disini berarti yang ngebuka tu pintu---" Jendral menutup matanya, tangannya tiba-tiba saja berkeringat dingin.


"Ah sial!! Mati gua kali ini."


Aura hitam terasa sangat pekat mendadak mendekati Jendral. Jendral sangat-sangat tau siapa pemilik dari aura itu.


Dengan wajah yang pucat dan badan yang tiba-tiba meriang, Jendral pelan pelan membalikkan badannya menghadap ke sang pemilik aura hitam itu.


"Se-selamat pa-pagi Bunda, hehe" Jendral berbicara terbata-bata, apalagi melihat sapu lidi yang ada di genggaman tangan kiri sang Bunda.


Bunda tersenyum, kali ini bukan senyuman yang membuat hati tenang tapi kali ini senyuman yang membuat dirinya seperti akan meet and great sama Tuhan.


"Selamat pagi juga anakku tercinta."


BUGH


...-----...


"ASTAGHFIRULLAH!!! APA YANG KALIAN PIKIRKAN SIH?!!!! UDAH LAH BOLOS MALAH BIKIN KERIBUTAN PULA, KALIAN PIKIR SIKAP KALIAN INI HEBAT?!!" Bentakan Bunda mengisi seluruh ruang keluarga.

__ADS_1


Jendral dan Kevin menunduk menyesali perbuatan mereka dengan bagian tubuh mereka telah mendapat ciuman manis dari sapu lidi milik Bunda.


"DAN KAMU KEVIN!! SIAPA NGAJARIN KAMU NGOMONG KAYAK GITU?! BUNDA TAU KALAU KAMU INI PREMAN YANG DITAKUTI BANYAK ORANG, TAPI NGAK SEPERTI INI JUGA!! NGAK SOPAN!! BUNDA DAN MAMA MU NGGAK PERNAH NGAJARIN KALIAN BERDUA KAYAK GITU!!!"


"Ma-maafkan kami Bunda," ucap Kevin dengan penuh penyesalan. Dia benar-benar kapok kali ini, tubuhnya nyut-nyutan karena sapu lidi legendaris milik keluarga BARAAQ.


"KAMU PUN BEGITU JENDRAL!!"


Jendral bergeming. Sekarang ini adalah gilirannya.


"KAMU KENAPA BISA BOLOS HA?!! KAMU NGGAK KASIHAN SAMA AYAH KAMU YANG TELAH BEKERJA KERAS?!! KALAU KAMU NGGAK NIAT SEKOLAH, BILANG!! BIAR BUNDA DAN AYAH CARI ANAK YANG BENAR-BENAR INGIN SEKOLAH!!"


Jendral membuka suara. "Jen-Jendral niat sekolah kok Bunda. Maafin Jendral, Jendral janji nggak akan mengulangi hal ini."


Bunda hanya diam tanpa mengatakan sepatah apa pun. Bunda memilih duduk di kursi karena sudah merasa lelah.


"Ami, Ami jangan marah-marah nanti sakit loh, Ami tenang ya." Arezh mencoba menenangkan Bunda yang sedang tersulut emosi.


Arezh menatap Jendral yang sedang menunduk, mencolek rambut Jendral sedikit membuat Jendral memberi tatapan tajam ke arahnya.


"Ambilin Ami minum." Arezh berkata tanpa bersuara hanya menggerakkan mulutnya yang masih bisa dipahami sama Jendral.


Dengan sigap Jendral pergi ke dapur, mengambil air putih untuk Bunda. Jendral tidak marah atau pun kesal ke Bundanya, karena dia tahu kejadian ini sepenuhnya adalah salah dia dan Kevin.


Setelah selesai mengambil air putih, Jendral langsung memberikannya kepada sang Bunda, lalu duduk di lantai lagi untuk merenungi kesalahannya.


"Gimana? Ami udah tenang? Jangan marah lagi ya."


Bunda meletakkan gelas yang telah kosong itu ke atas meja.


"Gimana Ami nggak marah, mereka mengatakan kalau kamu adalah anak pungut dan budeg. Hati Ami rasanya sangat sakit, karena Ami tidak menyangka kalau itu berasal dari anak-anak Ami sendiri."


Arezh tersenyum menenangkan. "Ami tau nggak, walaupun kesannya nggak sopan, saat ini Are merasa sedikit bahagia karena Ami membela Are. Sudah lama Are tidak merasakan kehangatan seorang ibu."


"Ami, Jika seorang anak terluka, janganlah salahkan benda yang melukainya itu ataupun membentak sang anak, tapi bimbing dan nasehatilah dia supaya menjadi lebih berhati-hati."


"Seperti Kak Jendral dan Kak Kevin, mereka memanglah salah, dan Ami sebagai seorang ibu memanglah harus menegur mereka. Ami juga boleh marah. Namun, Ami juga harus bertanya kenapa mereka melakukan hal ini? Pasti ada yang salah sehingga mereka melakukan hal ini, walaupun semua alasan itu tetaplah tidak dibenarkan. karena itu Ami harus berbicara dari hati ke hati kepada mereka dan dengan pikiran yang telah tenang."


"Jangan karena kemarahan Ami nanti ada penyesalan. Nanti kalau Ami salah ucap dan saat itu pintu langit terbuka dan di ijabah sama Tuhan, bagaimana? Penyesalan selalu datang di akhir kan."


Semuanya hanya terdiam. Terlebih Jendral yang tidak menyangka kalimat itu bisa terlontar dari seorang cewek sadis. Untuk beberapa detik, dia benar-benar terpesona dengan Arezh. Walaupun, dengan cepat dia menepis pikirannya itu.


"Are benar. Bunda terlalu disulut emosi tadi." Bunda melihat kebawah, melihat Jendral dan Kevin yang curi-curi pandang ke mereka.


"Ya udah, sekarang Bunda memaafkan kalian, tapi jangan di ulangi ya! Untuk kali ini Bunda nggak akan menanyakan alasannya, nah sekarang pergilah mandi dan siap-siap untuk makan siang bersama."


Jendral dan Kevin tersenyum lebar.


"Bunda serius nih udah nggak marah ke Aku sama Jendral?"


"Bunda serius."


"Aaaaa makasiii Bunda, Kevin nggak akan mengulangi lagi." Dengan cepat Kevin keluar dari ruangan itu dan berlari ke arah kamar Jendral.


Sedangkan Jendral dan Arezh masih diam ditempat.


Arezh mendekat ke Jendral, menatap telak mata Jendral uang berwarna coklat gelap.


"Gimana? Baguskan kalimat aku tadi," ucap Arezh seraya meng-wink kan matanya.

__ADS_1


"Gua berterimakasih atas bantuan Lo. Tapi ingat ya!! Bukan berarti gua udah maafin segala perilaku Lo yang dulu kepada gua," ucap Jendral dengan pipinya yang sedikit merona dan setelah itu Jendral langsung berlari meninggalkan tempat.


"benar-benar sesuatu yang menyenangkan."


__ADS_2