JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA

JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA
Mau untung malah buntung


__ADS_3

"Anjir, tubuh gua penuh dengan tanda ciuman," ucap Kevin seraya menyentuh lembut bagian atas lengan kanannya.


Jendral yang sedang mengeringkan rambutnya,menyahut. "Iya, ciuman sapu lidi, Hahahaha."


Kevin tergelak, merasa lucu atas kejadian hari ini. Seperti Jendral, dia tidak marah atas apa yang dilakukan oleh Bunda. Menurutnya ciuman sapu lidi kali ini tidak sesakit dahulu. Kalau dulu pasti dia akan menangis diam-diam.


Apakah Mama Kevin marah? Tentu tidak. Bahkan menurut Kevin, Mamanya itu lebih keras dari pada Bunda Jendral. Mamanya itu pensiunan anggota kepolisian karena itu dia didik sedikit keras.


"Hadeh, pasti kita besok disuruh ke ruang guru. Mana kita ada hutang 3 buah ulangan lagi," ucap Kevin lelah.


Jendral hanya menatap iba ke Kevin. Kalau baginya 3 buah ulangan itu bukanlah apa-apa bagi dirinya. Terlalu mudah.


"Kita bukannya untung malah buntung," ujar Jendral mengingat mereka berdua tidak jadi memberi pelajaran kepada Arezh melainkan mereka hanya mendapat gebukan.


"Ya, mo gimana lagi kan. Itu kan salah Lo, kenapa tadi Lo bilang kalau Bunda nggak ada di rumah."


"Gua juga nggak tau kalau Bunda di rumah. Terlalu mengejutkan gua."


"Lo bilang gua nggak terkejut juga, mana Bunda tanpa ampun nge-gebukin gua lagi." Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi gimana nih?" Tanya Kevin yang berdiri didepan pintu kamar Jendral yang terbuka setengah.


"Gimana apanya?" Tanya Jendral yang berjalan mengikuti Kevin.


"Lo udah nggak mau memberi pelajaran ke si cewek nyebelin itu, siapa nama tu anak? Arezh kan."


"Iya, namanya Are. Mana mungkin gua berhenti disini. Gua akan membuat dia kapok. Gua belum menyerah untuk balas dendam ke si Arezh."


Kevin manggut-manggut. "Tenang aja, gua akan selalu ngebantu Lo."


"Tapi jangan lupa traktirannya ya. Tadi kan Lu bilang kalau mau mentraktir gua."


"Traktir? Kan udah dapet tuh, ciuman sapu lidi," ujar Jendral seraya berjalan mendahului Kevin yang tergelak lagi.


Acara makan siang berjalan sangat lancar dan pun Bunda sudah kembali ke sifat malaikat nya.


Setelah makan siang, mereka semua berkumpul diruang keluarga lagi untuk berbincang-bincang.


"Oh iya, beberapa hari lagi Arezh akan sekolah ditempat kalian. Kalian mau membantu Are beradaptasi di sana kan."


Jendral yang sedang memijat kaki Bunda dan Kevin yang asik ngemil saling bertatapan lalu tersenyum misterius. Tiba-tiba saja pikiran mereka sudah merancang sesuatu yang menyenangkan.


"Oh tentu mau Bunda, bahkan kami sangaaaaat mau. Ini pun sebagai bentuk maaf kami berdua, iya kan Kev."


"Iya Bunda, Kevin juga sangat mau ngebantu kok," ujar Kevin lalu kembali fokus pada cemilannya.

__ADS_1


Jendral melirik Arezh yang tengah tersenyum kepadanya.


"Terimakasih ya Kak, Kalian baik sekali," ucap Arezh ramah.


"Sama-sama."


...----...


Kevin telah pulang ke rumahnya sejak tadi. Saat ini Jendral dan Ayah sedang menonton televisi yang menampilkan MotoGP. Bunda yang lagi memasak dan Arezh yang sedang menyetrika baju.


"Kalian udah pada shalat?" Tanya Bunda yang baru keluar dari dapur.


"Udah." ucap mereka serempak, setelah itu Bunda kembali ke dapur.


"Are kamu sibuk nggak sayang?" Tanya Bunda dari arah dapur.


"Nggak Ami, ini Are udah selesai kok nyetrikanya" Balas Arezh.


"Boleh Ami minta tolong?"


Arezh segera berdiri dari duduknya setelah ia memutar suhu ke paling rendah. "Iya, Ami ada apa?"


"Makasii sayang. Jendral kamu nggak ada kerjaan kan? Kalau gitu kamu setrika baju kamu sana!" Perintah Bunda.


"Nanti aja ya Bunda" Tolak Jendral.


Jendral dengan segera bangkit dari duduknya. Mengambil pakaian tertumpuk di dalam keranjang yang disediakan untuk pakaiannya yang telah dicuci. Walaupun dari dulu dia sudah menyetrika pakaiannya sendiri namun tetap saja dia masih belum terbiasa dengan hawa panas yang dipancarkan oleh benda mati itu.


Jendral menyetrika pakaiannya dengan tekun, sekali-kali melirik kearah televisi. Ketika acara menyetrikanya hampir selesai, Jendral melihat satu seragam sekolah yang kusut di sampingnya. Jendral sangat yakin kalau seragam ini adalah seragam baru dan Jendral tahu siapa pemilik dari seragam ini.


"Teledor sekali, melupakan seragam Mu ini, tapi tak apa hihihi."


Jendral tersenyum iblis, diputar lagi suhu setrika ke yang paling tinggi. Seragam yang kusut itu dia ambil lalu meletakkan nya dibawah setrika yang bersuhu tinggi.


Setelah itu, Jendral berpura-pura mengambil minum ke arah dapur. Bunda terlihat sibuk dengan kerjaan memotong sayur-sayuran, sementara Arezh sedang fokus mengaduk-aduk sambal di kuali.


"Besok Lo udah sekolah kan Are?" Jendral membuka suara sambil mengambil air di kulkas.


"Belum," jawab Arezh yang masih fokus pada sambal nya.


"Lah, kalau gitu kapan?"


"Nggak tau, palingan ada 4 atau nggak seminggu lagi, kan Ami."


Bunda mengangguk singkat. "Iya, Karena masih banyak yang harus diurus."

__ADS_1


"Lah kalau gitu dari mana dapet seragam sekolah nya?" Tanya Jendral yang kebingungan.


"Seragam? seragam apa?" Tanya Arezh.


"Seragam sekolah dong, Lo udah dapet kan."


Arezh menggeleng. "Belum ada, mendaftar nya aja belum, gimana mau dapat seragamnya."


Jendral terkejut. "Lah, terus seragam baru yang terletak ditempat setrikaan itu punya siapa?"


"Punya kamu lah, emang punya siapa lagi?" Sahut Bunda.


Kerongkongan Jendral mendadak kering. "Punya Jendral? Setau Jendral seragam putih Jendral nggak kayak gitu."


"Itu kan seragam baru yang Bunda belikan untuk Mu. Jendral kan selalu mengeluh kalau baju seragam sekolah jendral udah sempit, karena itu Bunda belikan yang baru. Kamu udah coba itu baju?"


Jendral tidak menjawab pertanyaan Bunda. Dengan tergesa-gesa dia kembali ke tempa setrika itu.


"AAAAAAA BUNDA BAJUNYA BOLONG!!" Teriakkan Jendral mengejutkan mereka semua.


"Ya ALLAH. Kenapa bisa gosong gitu?" Tanya Bunda yang baru keluar dari dapur terburu-buru.


"Kamu lupa matiin setrikanya?" Tanya Bunda, mengambil seragam itu dari Jendral.


"Mana bolongnya gede lagi," ucap Jendral.


"Itu kan salah mu. Ceroboh!" ujar Ayah yang kembali fokus ke televisi.


"Jadi gimana ni Bunda?" Tanya Jendral dengan wajah murungnya.


"Ya, ngak gimana-gimana. Pakai aja seragam lama mu itu."


"Sabar ya Kak Jen," ucap Arezh yang baru keluar dari dapur. Jendral menatap tajam ke Arezh, entah kenapa dia menjadi kesal melihat wajah Arezh yang sepertinya mau meledeknya.


"Diam Lo!"


"Kamu kenapa marah ke Arezh? Itu kan salah kamu sendiri." Bunda menggelengkan kepalanya lalu kembali lagi ke dapur.


"Pptf- kasian" ledek Arezh yang dengan cepat lari kearah dapur menghindari amukan Jendral.


Jendral mengepalkan kedua tangannya.


"Sial banget gua hari ini! Mau untung malah buntung."


**vote♠

__ADS_1


komen♦**


__ADS_2