JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA

JENDRAL! JANGAN SAMPAI JATUH CINTA
Bantu Are buat tugas!


__ADS_3

"Loh, kalian kenapa berkumpul disini?" Dengan tersenyum polos, Arezh melihat orang-orang yang berkumpul didepan toilet sekolah.


Tidak ada yang menjawab satu pun, mereka semua masih tidak percaya Arezh keluar dari sana tanpa terluka sedikit pun.


Bunyi berisik terdengar dari ujung lorong itu, ternyata Jendral yang tengah berlari ke arah mereka.


"Kakak kenapa berlari-larian seperti itu? Nanti jatuh loh" ujar Arezh menatap Jendral yang telah berdiri di depan dia.


"Lo nggak papa kan? ada yang terluka?" Tanya Jendral dengan sok perhatiannya itu.


Arezh menggeleng, lalu berputar menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. "Nggak ada yang luka kan, badan Are masih imut seperti biasanya. Maafin Are ya, karena Are membuat kakak khawatir."


Jendral bergeming. Rencana kali ini sangat hancur. Ingin sekali dia berteriak keras didepan Arezh tapi demi menjaga reputasinya dia hanya berpura pura lega dan bahagia.


"Syukurlah, tapi dimana Alea?"


Baru saja Jendral bertanya, sedetik kemudian Alea dan gengnya keluar dengan kepala tertunduk.


"Ka-kami pergi dulu Nona" ucap Alea lalu dengan segera pergi dari sana.


"Nona?" batin mereka semua.


"Apa yang terjadi?" Tanya Jendral bingung. Kenapa Alea seperti takut kepada anak bau kencur ini?"


"Nggak ada apa-apa kok, duh waktu istirahat udah hampir habis. Sayang sekali ya Kak, kita nggak bisa makan bersama."


Jendral yang tersadar dari lamunannya, tersenyum tipis. "Nggak papa, masih bisa lain kali. Sekarang kita balik kelas masing-masing aja ya." Tanpa menunggu jawaban Arezh, Jendral langsung pergi dari sana, diikuti juga oleh siswa lainnya.


Ketika semuanya pergi, Arezh tersenyum lebar. "Hihihi, tidak semudah itu menghancurkan Aku, Kakak" Gumamnya, lalu berjalan kembali ke kelas nya.


......-----......


"Gimana sekolahnya hari ini sayang?"


Jendral mengehentikan gigitan rotinya, melirik was-was ke arah Arezh, takut anak ini akan menceritakan kalau dia hampir kena bully.


Arezh tersenyum lebar, berbanding terbalik dengan Jendral yang sudah merasa sesak. "Menyenangkan Ami, Are udah dapat teman di kelas, mereka semua baik banget."

__ADS_1


"Tapi tugasnya susah banget Ami apalagi pr-nya Are nggak paham."


Jendral menghela napas lega. Entah apa yang ada dipikiran anak ini karena tidak menceritakan hal itu. Jendral sedikit curiga, tapi karena dia kira Arezh nggak akan macam-macam, dia melanjutkan makanannya dengan tenang.


"Syukurlah, Ami takut, kamu nggak dapat teman. Kalau soal gituan, kamu jangan segan-segan minta bantuan ke Jendral ya."


Jendral yang sedang menikmati roti selainya, menatap Ami bingung. "Lah, kok Jendral? Jenderal nggak mau ah, kan Jendral juga punya tugas."


"Ya, terus kesiapa lagi? ke tukang kebun sekolah?" Tanya Bunda setengah tertawa, membuat Jendral mendengus.


"Jenderal nggak mau titik nggak pake koma." Ucapan Jendral itu membuat Bunda menggeleng pasrah. Karena menjadi canggung dengan cepat Arezh mengalihkan pembicaraan.


"Papi pulang telat lagi malam ini Mi?" Tanya Arezh menatap salah satu kursi di meja makan ini yang kosong tidak ada penghuninya.


"Iya sayang. Tapi jangan khawatir, Ami selalu mengirimkan makanan yang sehat untuk Papi mu."


Setelah mereka selesai makan, mereka semua beranjak keruang keluarga. Disana mereka akan menceritakan semua yang terjadi hari ini.


"Ami tau nggak tadi di sekolah Are terjadi sesuatu" ucap Arezh melirik Jendral.


Jendral yang mendengarnya sangat terkejut dan berkeringat dingin. Melirik kesal ke Arezh yang mengungkit-ungkit kejadian itu supaya membuat dia takut.


Ami yang salah mengira melihat Are tertawa mengira ada ada sesuatu hal yang lucu dan dia merasa sangat tertarik lalu menanyakan ke Arezh apa yang sebenarnya terjadi membuat Jendral semakin terguncang.


"Apa yang terjadi sehingga putri cantik ibu ini tertawa seperti itu?"


Baru saja Arezh mau membuka mulutnya, tiba-tiba saja Jendral berdiri dan membekap mulut Arezh.


"Hmm, A-Are bukannya Lo punya PR ya? Pasti susah kan, sini biar gua bantu."


"Tapi kan-"


Jendral menarik tangan Arezh. "Tugas itu nggak boleh ditunda karena itu bukan hal yang baik. Bunda kita keatas dulu, ya."


"Tadi katanya nggak mau" goda Bunda.


"Hehehe, Jendral kan ingin menjadi Kakak yang baik."

__ADS_1


Bunda yang melihat kedekatan mereka berdua merasa kalau jenderal telah menerima keberadaan Arezh membuat dia merasa sangat bahagia.


Bunda berdiri dari duduknya dan berjalan kearah dapur untuk membuat sesuatu untuk mereka berdua.


Ketika mereka sampai di kamar Arezh. Jenderal langsung memojokkan Arezh ke arah dinding dan menatap intimidasi ke arah Arezh. Dia sangat geram Kenapa Arezh seperti senang sekali mempermainkannya.


"Lo itu seneng banget ya membuat gua kayak gini? Lo itu kenapa ingin sekali sih ngebuat gua selalu kena marah sama Bunda? jangan jadi sok jagoan deh! ini ngebuat gue benci sama lo."


"Kalau ditanya senang pasti senang lah dan Are suka melihat wajah Kakak ku yang ganteng ini terlihat sangat panik di hadapan Bunda, Are bukannya sok jagoan Kak, kalau Kakak sangat membenci aku, ya mau gimana lagi kan." Arezh tersenyum pongah.


Jendral yang sudah geregetan dikejutkan oleh Bunda yang mendadak mengetok pintu. Dengan sedikit kesal Jendral membuka pintu itu.


"Bunda ngapain di sini?" Tanya Jendral dengan ramah.


"nggak ngapa-ngapain ini, Bunda bawa cemilan untuk kalian supaya belajarnya semakin semangat, Bunda sangat senang loh Jen, ini baru putra Bunda yang baik mau mengajari adiknya belajar, jangan bertengkar ya."


Setelah memberikan nampan yang penuh cemilan ke Jendral, Bunda langsung melenggang pergi.


beberapa detik Jendral dan Arezh diam-diaman. Melihat nampan itu, Arezh bertanya ke arah jenderal.


"Jadi gimana nih? Kakak benar-benar mau ngebantu Arezh?"


"Ya nggak lah, enak aja. Buat sendiri."


"Kalau seperti itu Kakak sama saja menghianati Bunda yang telah berekspektasi tinggi terhadap kakak, nanti Kakak dapat dosa gede banget. Ayo lho dua orang yang kakak ah tidak 2 orang aku sama bunda. Dan juga Kakak bohong sama Tuhan, kalau kakak ku yang ganteng ini katanya akan membantu adiknya ngebuat tugas ternyata tidak."


Jenderal menatap geram ke arah Arezh, dia tidak bisa membalas sedikitpun perkataan Arezh sebab semuanya benar dan dengan menghentakkan kakinya Jenderal segera pergi ke tempat arah meja belajar Arezh.


"sini cepetan katanya mau belajar kalau enggak terpaksa mana mau gua ajarin dulu."


Dengan perasaan berbunga-bunga Arezh mendekat kearah Jenderal dan duduk di kursinya sedangkan Jendral berdiri di sampingnya.


"Baca doa dulu," ujar Jendral melihat Arezh yang sudah mau menulis. Arezh patuh, dia letakkan kembali pensil itu lalu mulai berdoa.


Dalam mengerjakan tugas itu ada 3 jam mereka habiskan. Sebenarnya sih bisa cepat selesai kalau Jendral langsung ngasih jawabannya, tapi Jendral nggak mau dia lebih memilih mengajarkan Arezh satu demi satu apa yang tidak diketahui oleh anak itu, dia tidak ingin Arezh menjadi manja dan walaupun dia membenci Arezh bukan berarti pula dia akan memberi pelajaran sesat kepada cewek nyebelin itu, karena ilmu itu bukan sebuah permainan.


Cemilan di bawakan Bunda pun sudah ludes mereka makan sedikit demi sedikit dan pada akhirnya tugas itu terselesaikan walaupun dengan Arezh yang sekuat tenaga menahan rasa kantuknya.

__ADS_1


"Terima kasih Kak."


"Nhnn" balas Jendral seraya pergi dari kamar Arezh.


__ADS_2