
Arezh segera meninggalkan Kevin dan temannya ketika dia mendengar kalau Jendral tersesat.
"Nanti, kirim lokasi kita berkumpul ya!" Teriak Arezh seraya berlari.
Kevin dan teman Arezh yang hanya tinggal berdua, merasa canggung.
"Kita mencarinya dari arah sana yuk" ucap Kevin menunjuk ke arah berlawanan dari arah Arezh.
"Oke Bang."
Arezh menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal. Sudah 20 menit dia mencari Jenderal tapi dia belum menemukan di mana kakaknya itu berada. Setelah dia tahu bahwa Jenderal tersasar lagi dia merasa panik.
Karena dia merasa merasa sangat lelah Arezh berjalan ke arah bangku yang ada di taman. Dia melihat handphonenya lagi dan mencoba menghubungi nomor Jenderal kembali. Jangan ditanya bagaimana dia bisa mendapatkan nomor Jenderal walaupun cowok itu sangat menjaga keprivasiannya.
setelah dua kali mencoba tapi, tetap saja tidak terhubung ke nomor Jenderal dan Arezh merasa pasti Jenderal kehabisan baterai lagi.
Setelah merasa cukup untuk beristirahat, Arezh segera berdiri lagi dan mulai mencari kembali keberadaan jenderal. Dia tidak lupa melihat handphonenya lagi apakah ada Kevin yang memberi kabar tentang Jendral, kalau dia telah menemukan Jenderal atau tidak.
Syukur saja konser belum berakhir jadi dia tidak terlalu berdesak desakan dengan yang lainnya. Setelah merasa kalau Jendral tidak ada disana, Arezh mulai mencari ketempat lain. Saat ini langit telah berpihak ke Arezh. Ketika mau kembali ke tempat yang dia janjikan dengan Kevin, Arezh tiba-tiba melihat siluet yang dia cari-cari
Senyuman bahagia mengembang lebar, akhirnya pencariannya tidaklah sia-sia. Didepan sana, dia melihat Jendral yang sedang melihat-lihat rute taman bermain ini.
Dengan satu tarikan nafas Ares memanggil Jenderal.
"JENDRAAAALLLLL"
Teriakkan itu cukup membuat Jenderal yang sedang termenung melihat papan yang menjulang itu bagaikan kambing congek, terkejut.
Ketika Arezh dengan bersemangat untuk menyusul ke tempat Jenderal tiba-tiba saja pandangannya tiba-tiba menjadi buram. Jenderal yang melihat gelagat berbeda dari Arezh dengan segera dia berlari ke sana dan untung saja dia segera menangkap tubuh Arezh yang belum seluruhnya jatuh ke tanah.
"Arezh?!!! Woy, bangun!! anjirlah Lo kenapa? Lo nggak kenapa-napa kan?!! Jendral berucap dengan nada yang sangat panik.
Arezh hanya tersenyum tipis dengan bibir yang memucat dan matanya pun mulai sayu dia dengan sekuat tenaga berbicara kepada jenderal.
"Are nggak kenapa-napa, Are hanya pusing, kita duduk di bangku itu yuk, Are hanya lelah kok" ujar Arezh.
Jenderal langsung memopong tubuh Arezh dan beranjak ke bangku yang ada di dekat mereka.
Jendral duduk dekat ujung bangku taman sedangkan Arezh tiduran dengan kepalanya yang ada di paha jenderal.
Hening sesaat melanda mereka. Ketika Jendral terfokuskan pada wajah Arezh, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan handphone Arezh yang berbunyi.
Jendral melihat nama Kevin yang tertera di nomor itu dengan segera Jenderal langsung mengangkat nomor itu dengan perasaan sedikit tidak senang.
"Halo Arezh!! Udah ketemu Jendral belum? Gue udah capek keliling nih tapi enggak ketemu-temu aja tuh anak" ucap Kevin dari seberang sana.
"Lo aja yang payah nyarinya" balas Jendral ketus.
"Loh, kok suara cowok? Eh Lo Jenderal ya!! Lo dari tadi kemana aja njir."
"Berisik!! cepatan ke sini Arezh dia udah kelelahan nih. Sebelum kemari jangan lupa beli minum. Cepetan ya!! lokasinya nanti gua kirim."
"Oh, oke. Tunggu disana-"
Belum sempat Kevin menyelesaikan ucapannya, Jendral segera menghentikan panggilan tersebut.
__ADS_1
Setelah mengirim lokasi dirinya dan Arezh ke Kevin. Jenderal kembali menatap wajah Arezh yang telah lebih baik dari sebelumnya.
Saat enak-enaknya melihat wajah Arezh, Jendral melihat tanda aneh yang ada di leher Arezh. Ketika dia mau menelisik lebih dalam, dia dikejutkan dengan suara Kevin yang telah berada di dekatnya.
"Arezh cantik ya."
Jenderal yang terkejut dengan segera mengalihkan pandangannya dari wajah Arezh. Kevin yang melihat itu hanya ter-kikik kecil.
"Cantik dari mana?!" ucap Jendral nyolot.
"Jujur aja Jen."
"Jujur apa, emang wajahnya nggak cantik kok."
Karena kegaduhan tersebut membuat Arezh menjadi terbangun.
"Kamu udah bangun Re" ucapan teman Arezh tersebut membuat perdebatan Jendral dan Kevin terhenti.
"Udah sehat kan!! cepat beranjak dari paha gua! kepala Lo berat" ujar Jendral.
Arezh menggeleng kecil lalu tersenyum. "Hehehe, bentar lagi ya, kepala Are masih pusing."
"Kamu sakit Rezh?" Tanya Kevin khawatir.
"Nggak Kak. Tenang aja, Arezh hanya kelelahan kok karena dari tadi Arezh berlari terus."
Kevin menghela napas lega. "Kita pulang aja yuk, udah sore nih dan Arezh harus istirahat."
Ucapan Kevin itu langsung ditolak oleh Arezh.
Dira—Teman sekelas Arez, menolak.
"Jangan Re, Lo harus lebih banyak beristirahat."
"Tapi—"
"Nggak ada tapi-tapian!! Lo mau dimarahi sama Bunda."
Melihat wajah Jendral yang terlihat serius, membuat Arezh akhirnya mengalah.
Dengan wajah cemberut, Arezh menyetujuinya. "Iya, Are ngalah. Kita pulang."
"Dira, kamu ke rumah kami aja dulu ya."
"Oke" ucap Dira setuju.
Setelah beristirahat selama 10 menit mereka akhirnya mulai bergerak. Baru selangkah Arezh berjalan, tubuhnya langsung sempoyongan, melihat hal itu Jenderal langsung menggendong Arezh di belakang punggungnya.
"eh?" gumam mereka serempak.
Kevin dan Dira yang melihatnya hanya bisa senyum-senyum sedangkan Arezh masih syok atas apa yang dilakukan oleh jenderal.
"Ekhem ehkem, Cie yang katanya benci" ucap Kevin menggoda.
Jenderal hanya diam, menghiraukan perkataan Kevin. Alasan dia melakukan ini hanya untuk sebagai balas budi karena Ares telah membantu mencarinya.
__ADS_1
"Dia lagi sakit, kalau dia pingsan terus Bunda ngeliat bagaimana? bisa dimutilasi nanti gua sama Bunda" ujar Jendral membela diri.
"iya iya kita mah setuju aja" ucap Kevin pura-pura percaya.
"Ini beneran Kak Jen? Are udah bisa jalan kok."
"Kalau Lo jalan sendiri yang ada kita seminggu lagi tiba di rumah. Udah Lo diem aja lah."
Dalam diam Arezh tersenyum, entah kenapa rasanya dia mau menangis.
"Sabarlah Sebentar lagi Kak. Setelah semua ini berlalu, Kakak akan terbebas dari semua ini."
"Ha?! Apa! Lo bilang apa tadi?" Tanya Jendral yang tidak terlalu mendengar kalimat yang diucapkan Arezh.
"Nggak ada."
Setelah itu hanya terdengar dengkuran halus dari belakang Jendral.
Akhirnya mereka sampai di rumah Jendral. Kevin yang telah sangat lelah itu langsung mengajak Dira masuk. Kevin benar-benar telah mengganggap bahwa rumah itu adalah rumahnya sendiri.
Di dalam rumah ada Bunda yang sedang bersiap-siap membuat makan malam. Ketika Bunda melihat anak-anak telah pulang, dia tersenyum ramah.
"Arezh kenapa Jen?" Tanya Bunda khawatir.
"Nggak kenapa-napa Bunda, Arezh hanya tidur."
Bunda hanya mengangguk, walaupun tidak dengan wajahnya yang terlihat khawatir.
"Jendral, mau bawa Arezh dulu keatas." Jendral langsung berjalan ke kamar Arezh.
Bunda yang melihatnya hanya tersenyum. Lalu mengalihkan pandangannya ke dua orang yang satu santai bagaikan di pantai dan satu lagi berdiri canggung.
"Bagaimana mainnya hari ini?" Tanya Bunda mencairkan suasana.
"Menyenangkan Bunda" jawab Kevin seraya duduk di sofa.
"Kamu nak Dira ya, istirahat disini aja dulu. Jangan lupa kabari orang rumah kamu dulu ya."
Dira tersenyum canggung. "Iya Tante, Dira udah nelfon orang rumah kok.
...------...
Jendral membuka pintu kamar Arezh dengan mudahnya. Dia membaringkan tubuh Arezh secara perlahan-lahan ke ranjang.
Ketika mau menyelimuti tubuh Arezh, tiba-tiba saja dia teringat dengan tanda aneh yang ada di tubuh Arezh.
Secara perlahan, dia menaikkan lengan baju Arezh. Tidak mungkin kan, dia membuka baju Arezh nanti yang ada dia digebukin.
"Apa-apaan ini?"
Jendral melotot kaget, ternyata tanda yang dia kira aneh itu adalah bekas luka bakar. Baru saja dia mau pergi Jendral dikejutkan lagi oleh Arezh yang telah menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
"Puas melihatnya Kak?"
Deg.
__ADS_1