Jilbabmu Menghangatkanku

Jilbabmu Menghangatkanku
Bab 21 Aku Senang Dia Menghargaiku


__ADS_3

Ketika kami di baluti dengan keheningan karena sama-sama tersipu, tiba-tiba iPhone Ricardo berdering memecah keheningan di antara kami. Ricardo mengangkat telpon itu dengan speaker.


"Ricardo," bentaknya. Dia sangat kasar.


"Tuan Cafrio, ini Willy di sini. Saya punya informasi yang Anda perlukan."


Suara serak dan tanpa tubuh terdengar dari speaker.


"Bagus. Email kan ke saya. Ada yang ingin ditambahkan?"


"Tidak pak."


Dia menekan tombol, lalu panggilan pun berhenti. Tidak ada selamat tinggal atau terima kasih. Aku sangat senang bahwa aku tidak pernah berpikir serius untuk bekerja untuknya.


Aku bergidik pada gagasan itu. Dia terlalu mengontrol dan dingin dengan karyawannya. Tak lama ada panggilan masuk lagi.


"Ricardo"


"Informasinya telah dikirim melalui email kepada Anda, Tuan Cafrio." Suara seorang wanita.


"Kerja bagus, Debora."


"Selamat siang, Tuan."


Ricardo menutup telpon. Tak lama panggilan masuk kembali lagi. Astaghfirullah apakah ini hidupnya, panggilan telepon datang tiada henti dan terus-menerus mengganggu nya?


"Ricardo" bentaknya.


"Hai, Ricardo, apakah kamu bersenang-senang dengan gadis berkerudung itu?"


"Halo, Ehsan....aku menggunakan speaker phone, dan aku tidak sendirian di dalam mobil," desah Ricardo


"Siapa yang bersama kamu?"


Ricardo memutar matanya.


"Gisele Anastasya"


"Hai, Gisele!"


Gisele!


"Halo, Ehsan."


"Aku Mendengar banyak tentangmu," gumam Ehsan, sedikit menjahili, Ricardo mengernyit.


"Jangan percaya sepatah kata pun yang dikatakan Rahma!"


Ehsan tertawa.


"Aku mengantar Anastasya sekarang." Ricardo memperingatkannya.


"Haruskah aku menjemputmu?"

__ADS_1


"Tentu."


"Sampai jumpa." Ricardo menutup telepon,


"Kenapa kamu bersikeras memanggilku Anastasya?"


"Karena itu namamu."


"Aku lebih suka di panggil Gisele."


"Apakah kamu sekarang sedang merajuk?" gumamnya.


Kami hampir sampai di apartemenku. Tidak butuh waktu lama.


"Anastasya" renung nya. Aku cemberut padanya, tapi dia mengabaikan ekspresiku.


"Sampai jumpa."


Dia berhenti di luar apartemen. Aku terlambat menyadari dia tidak bertanya di mana aku tinggal, namun dia tahu.


Tapi aku teringat kalau dia pernah mengirimkan buku-buku itu, tentu saja dia tahu di mana aku tinggal. Apa yang tidak bisa dia lakukan, pelacakan ponsel, punya surat ijin untuk memiliki helikopter, bisa jadi mungkin dia memang penguntit?


Dia keluar dari mobil, berjalan dengan kaki panjang yang anggun di sisiku untuk membuka pintu, selalu menjadi pria yang terhormat .... kecuali mungkin di saat-saat langka ketika dia lengah.


"Aku menyukai ketika kamu memberikan perhatian lebih untuk ku," bisikku saat aku sampai tepat di depan apartemen ku.


Seperti nya aku mendengar dia terengah-engah seperti sedang gugup, tapi aku memilih untuk mengabaikannya dan menaiki tangga ke pintu depan.


Aku punya rencana untuk mereka. Dia memiliki seringai paling konyol di wajahnya, dan Rahma terlihat kacau. Ricardo mengikuti ku ke ruang tamu, dan Rahma tersenyum mengejekku.


"Hai Gisele" Rahma melompat untuk memelukku, lalu memegang ku sejauh lengan agar dia bisa memeriksaku.


Dia mengerutkan kening dan menoleh ke arah Ricardo


"Selamat pagi, Ricardo," sapanya, dan nadanya sedikit bermusuhan.


"Halo, Nona Susilawati ," katanya dengan gaya formal yang kaku.


"Ricardo namanya Rahma," Ehsan menggerutu.


"Rahma." Ricardo memberinya anggukan sopan dan memelototi Ehsan yang menyeringai dan bangkit untuk menyapaku, dan tanpa basa basi Ehsan terlihat akan memeluk ku, tapi aku menghindari nya dan Ricardo juga menghadang Ehsan.


"Jangan pernah menyentuh nya!" Ricardo dengan marah memberi peringatan pada adik nya itu.


"Oke...oke...Hai, Gisele," dia tersenyum, mata birunya berbinar seperti kakak nya, dan aku menyukai keramahtamahan nya. Dia jelas tidak seperti Ricardo yang kaku, walaupun sebenarnya mereka bukan saudara kandung tapi mereka terlihat akrab.


"Hai, Ehsan," aku tersenyum padanya.


"Ehsan, sebaiknya kita pergi." kata Ricardo dengan nada santai. Emosinya berubah-rubah dan sulit di tebak.


"Tentu." Dia menoleh ke Rahma dan menariknya ke dalam pelukannya dan memberinya ciuman di pipi Rahma.


Astaghfirullah.... Baru kenal sebentar tapi Rahma sudah kepincut dengan ketampanan Ehsan, meskipun tak bisa ku pungkiri, aku juga begitu dengan Ricardo, tapi aku tak berani sampai melakukan hubungan fisik yang berlebihan, karena kita bukan muhrim.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Ricardo, dan dia menatapku dengan saksama, lalu aku menundukkan kepala ku dan tersenyum kecil.


"Sampai jumpa lagi sayang," Ehsan menyeringai pada Rahma dengan satu kedipan mata genit nya.


Rahma terlihat meleleh. Aku belum pernah melihatnya meleleh .... kata-kata cantik dan patuh muncul di benak ku. Rahma yang penurut itu terlihat sangat mustahil.


Ricardo memutar matanya dan menatapku, ekspresinya tidak terbaca. Dia memegang ujung kerudung ku di dekat dahi, entah apa maksudnya tapi Nafasku tercekat saat dia melakukan itu, seperti adegan sakura dengan sasuke di film anime Naruto shippuden, dan aku menundukkan kepala ku.


Matanya melembut, dan dia memberikan senyuman nya yang termanis. Darahku mendidih di pembuluh darahku.


"Sampai jumpa lagi cantik," bisiknya, dan aku terasa ingin tertawa karena itu sangat berbeda dengan image yang biasa dia lakukan. Tapi meskipun begitu aku senang mendengar nya.


"Aku akan menjemputmu jam enam" Dia berbalik untuk pergi, membuka pintu depan dan melangkah ke beranda.


Ehsan mengikutinya ke mobil tapi berbalik dan memberi Rahma ciuman lagi, dan aku merasakan kecemburuan yang tidak diinginkan, mereka terlalu mengekspos nya.


"Jadi, bagaimana?" Rahma bertanya saat kami melihat mereka naik ke mobil dan pergi, rasa ingin tahu yang membara terlihat jelas dalam suaranya.


"Tidak, terjadi apa-apa" kataku dengan nada yang sedikit keras dan berharap itu akan menghentikan pertanyaan. Kami kembali ke apartemen.


"Tapi kau jelas kepincut oleh nya." Aku sedikit mengejek Rahma. Dia selalu berhasil menjerat pria. Dia tak tertahankan, cantik, seksi, lucu.....semua hal yang bukan aku.


"Dan aku bertemu dengannya lagi malam ini." Dia bertepuk tangan dan melompat-lompat seperti anak kecil. Dia tidak bisa menahan kegembiraan dan kebahagiaannya, dan aku tidak bisa tidak merasa bahagia untuknya. Rahma yang bahagia... Itu terlihat sangat menarik.


"Ricardo akan membawaku ke Jakarta Pusat malam ini."


"Jakarta?"


"Ya."


"Mungkin kamu bisa saja tidak bisa menolak apa yang akan terjadi nanti kan?"


"Oh, tidak aku akan berusaha menjaga diriku, aku sudah dewasa dan aku yakin dia juga bisa menjaga ku, kalau memang dia suka, dia akan menghargai apa keputusan ku."


"Kalau begitu kau menyukainya?"


"Ya."


"Sangat menyukainya?"


"Ya. Tapi aku berharap dia bisa memeluk agama Islam seperti ku agar masa depan kami jelas."


Dia mengangkat alisnya.


"Wow. Seorang Gisele akhirnya jatuh cinta pada seorang pria, dan itu adalah Ricardo miliarder tertampan di Indonesia, mungkin di dunia, karena memang dia sangat tampan."


"Hem." Aku menyeringai, dan kami berdua tertawa cekikikan.


"Apakah itu baju baru?" dia bertanya, dan aku membiarkan dia mengetahui semua detail yang terjadi.


"Dia benar-benar tidak melakukan apa-apa?" dia bertanya sambil membuat jus jeruk kesukaannya.


"Tidak, ....! dan aku senang dia menghargai ku."

__ADS_1


__ADS_2