Jilbabmu Menghangatkanku

Jilbabmu Menghangatkanku
Bab 32 Salam Pertama Yang Dia Ucapkan Setelah Menjadi Seorang Mu'alaf.


__ADS_3

Setelah selesai Ricardo keluar dari ruangan dokter. Aku bingung mau nanya apa, tapi dia kelihatan baik-baik saja, perasaan kalau anak kecil selesai khitan mereka suka pakai sarung aja gitu, tapi dia biasa aja,


"Apa terasa sakit?" Tanya ku.


"Tidak sama sekali hanya seperti digigit semut" Ricardo tersenyum pada ku,


"Apa kamu ingin melihat nya?" Tambah Ricardo,


"Ti...tidak sama sekali, bercanda mu gak lucu!"


"Tapi kamu pasti akan tau, setelah kamu jadi istriku, eh..."


"Maksud mu?" Tanya ku dengan bingung.


"Tidak apa-apa lupakan saja" jawab Ricardo.


"Aku akan mempersiapkan dokumen, apa kamu mau mengantarku bertemu ustadz Rahman kembali?"


"Oke..nanti sore biasa nya ustadz Rahman senggang."


Kami pun pulang dari rumah sakit, Ricardo mengantarku ke apartemen. Sesampainya di apartemen, aku melihat Rahma sedang nonton drakor, tiada hari tanpa nonton drakor dasar Rahma!


Ngomong-ngomong mulut ku gatal ingin bergosip dengan Rahma tapi apa hal ini pantas untuk disebar luaskan? Aku mengurungkan niat ku, mungkin kalau soal Ricardo mau masuk Islam itu bukan sesuatu yang buruk.


"Gisele, kamu mungkin benar-benar sudah gila!" Rahma menegur ku yang senyum-senyum sendiri karena akhir nya Ricardo mau masuk Islam sesuai dengan harapan ku dulu, semoga ini adalah awal yang baik untuk kita.


Kita? Emang nya kita punya hubungan? Dia terlihat suka tapi tidak membahas status, entahlah...! Yang terpenting sekarang aku sangat senang.


"Rahma sini deh...!"


Aku menyuruh Rahma mendekatiku.


"Ada kabar apa nih? Apa kamu mau cerita, bagaimana kamu bisa berubah menjadi gila seperti sekarang ini?"


"Hehe... Sebenarnya, ada kejadian yang aneh akhir-akhir ini, di mulai dengan kejadian yang membuatku kaget, sampai di lamar bule, selebih nya hal yang paling membuat ku senang adalah Ricardo mau masuk Islam"


"Hah...?!?! Apa kamu serius? Di lamar bule? Siapa? Terus Ricardo mau masuk Islam? Kalau Ehsan sampai tau dia pasti akan pingsan"


Aku tidak memperkirakan soal keluarga nya, tapi Ricardo sudah dewasa, dia bisa memilih apa yang dia mau untuk hidup nya, apa yang terbaik untuk nya. Semoga saja itu tidak menjadi masalah di masa depan.

__ADS_1


"Ya benar, soal si bule, nama dia James. Orang nya tampan sih bahkan sangat tampan, mungkin aku sedikit goyah oleh nya, dia orang yang mudah mengakrabkan diri, dan sok dekat gitu, mungkin bisa di bilang aneh."


"Wah aku jadi ingin bertemu dengan nya, lalu soal Ricardo?"


"Ada sesuatu hal yang membuatku ingin mempertemukan Ricardo dengan paman mu ustadz Rahman, aku ingin pak ustadz me ruqyah nya, belum sempat di ruqyah sih, cuma setelah aku selesai shalat Maghrib dia berubah, dan tiba-tiba ingin masuk Islam, aku juga kurang tau sebab nya."


"Ya Alhamdulillah, dia mungkin mendapatkan hidayah, dan beruntung nya jika dia mau menjadi seorang mualaf, sebentar lagi kan bulan Ramadhan, bulan penuh berkah."


"Ya kamu benar Rahma, aku sangat Rindu bulan Ramadhan, tinggal menghitung hari saja"


"Aku berdo'a yang terbaik untuk mu sahabatku" Rahma ikut senang dan memeluk ku.


Sore hari nya Ricardo menjemput ku dia menunggu di depan lobi apartemen.


Aku sedikit kaget, melihat Ricardo yang memakai baju Koko, lalu memakai peci,


Sungguh seperti bidadara yang turun dari surga, meskipun proses masuk islam belum dia lakukan, tapi terpancar cahaya yang terang di wajah nya, dia tersenyum sangat manis menyapa ku.


"Hai Gisele, terimakasih"


Kata Ricardo.


"Iya.." jawab ku singkat, aku bingung harus bicara apa.


"Terimakasih" ucap ku.


Kami pun jalan ke masjid al-mukaramah, di jalan Ricardo bertanya pada ku


"Gisele, apa yang kamu lakukan setelah pulang dari rumah sakit?"


"Aku hanya bercengkrama bersama Rahma, kalau kamu?"


"Aku banyak mempelajari soal agama Islam, dan setelah aku mengetahui nya itu suatu hal yang sangat luar biasa, hati ku menjadi lebih tenang" jelas Ricardo.


"Syukurlah jika itu baik untuk mu" aku menanggapi nya.


Tak terasa kami pun sampai di masjid Al-mukaramah, pak ustadz sedang menunggu kami, karena memang aku telah memberi kabar bahwa kami akan datang menemui beliau dan mengutarakan niat baik kami.


Pak ustadz menyambut kami dengan senyuman.

__ADS_1


Ricardo menyerahkan dokumen persyaratan untuk menjadi seorang mu'alaf dan membawa seorang saksi pria bersama nya, aku tidak tau dia siapa, tapi katanya itu saksi.


Lalu pak ustadz menyerahkan sebuah formulir pada Ricardo, untuk di tanda tangani di atas materai, sebelum proses pengislaman di mulai, Ricardo mengikuti pembinaan yang di lakukan oleh orang-orang masjid, kurang lebih 4-6 jam aku menunggu, sampai malam tiba, di selang shalat Maghrib dan isya.


Setelah shalat isya, pak ustadz membimbing Ricardo untuk membacakan dua kalimat syahadat dan akhir nya Ricardo resmi menjadi seorang mu'alaf.


Aku sangat senang melihat semua proses itu berjalan dengan lancar, semoga ini adalah awal yang baik.


Setelah selesai proses yang lumayan memakan waktu, Ricardo mengantar ku pulang, sesampai nya di apartemen, Ricardo memberitahukan sesuatu hal yang membuatku bingung.


"Gisele, apa kamu mau ikut bersamaku?"


"Kemana?"


"Besok apa kamu ada waktu lagi?"


"Hem, ya mungkin aku bisa"


"Besok malam aku jemput kamu di apartemen mu, terimakasih untuk semua nya, assalamualaikum"


Aku sedikit kaget, itu adalah salam pertama yang dia ucapkan setelah menjadi seorang mu'alaf,


"Waalaikumussalam" jawab ku.


Aku tersenyum pada nya, dan dia juga tersenyum padaku.


Dia meninggalkan apartemen dengan membalikkan kepala nya beberapa kali.


Sambil melambaikan tangan nya.


Mungkin dia masih ingin bersamaku, tapi aku juga ingin bersama nya.


Semoga saja kami bisa bersama terus suatu saat nanti...


Aku memasuki apartemen dan tidak menemukan Rahma, mungkin dia belum pulang. Aku sampai lupa makan malam, aku membuat sebuah mie instan di dapur setelah selesai, aku memakannya sambil menonton tv.


Hari yang baik, dan sangat menyenangkan, aku teringat tentang ajakan Ricardo,


kira-kira apa yang akan dia lakukan besok? kemana dia akan mengajakku? aku harap kejadian tempo hari yang membuatku syok tidak terjadi lagi.

__ADS_1


Karena sekarang dia telah masuk Islam, ku harap dia juga berubah menjadi seorang yang lebih lembut, dan tidak akan berani menyiksa atau menyakiti orang lagi. Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana dia bisa mencambuk ku dengan rantai-rantai yang ada di apartemen mewah nya.


Semoga saja hal itu menjadi sebuah mimpi buruk yang tak kan pernah terulang lagi.


__ADS_2