Jilbabmu Menghangatkanku

Jilbabmu Menghangatkanku
Bab 22 Terbang Lepas Landas


__ADS_3

"Kita perlu memastikan Kamu benar-benar menarik untuk malam ini, kencan pertama dalam hidup mu harus berkesan" katanya dengan tekad.


Oh tidak... sepertinya ini akan memakan waktu, dan sangat memalukan aku kurang suka dengan makeup.


"Aku hanya punya waktu satu jam untuk bersiap-siap karena sebelum nya aku harus kerja di Unisoviet seperti biasa."


"Gak masalah waktu satu jam cukup bagi ku untuk mengubah mu. Ayo!" Rahma meraih tanganku dan membawaku ke kamar tidurnya.


Hari terasa begitu cepat saat bekerja di Unisoviet meskipun seharian ini kami sibuk. Aku harus menghabiskan dua jam untuk mengisi kembali rak setelah toko tutup.


Ini pekerjaan yang tidak masuk akal, dan memberi ku terlalu banyak waktu untuk berpikir. Aku tidak benar-benar memiliki kesempatan sepanjang hari.


Di bawah instruksi Rahma yang tak kenal lelah seluruh tubuh ku digosok, di lulur, ini kan cuma kencan bukan nya mau menikah, tapi aku menurut aja sama dia. Itu merupakan pengalaman yang menyenangkan bersama sahabatku satu-satu nya.


Tetapi dia meyakinkan ku, Ricardo akan suka dengan hasil nya nanti. Untuk beberapa alasan aneh, dia tidak mempercayai Ricardo, mungkin karena dia sangat kaku dan formal. Dia bilang dia tidak bisa menjelaskannya, tetapi aku telah berjanji untuk mengiriminya pesan ketika aku tiba di Jakarta nanti.


Aku belum memberitahunya tentang helikopter itu, dia mungkin bisa tak sadarkan diri kalau sampai mengetahui nya.


Aku juga belum menyelesaikan masalah ku dengan Rahadian.


Dia meninggalkan tiga pesan dan tujuh panggilan tak terjawab di ponselku.


Dia juga menelepon ke rumah dua kali. Rahma tidak tau bagaimana Ricardo menyelematkan ku dari ciuman pertama yang berharga untuk ku.


Aku masih terlalu marah pada Rahadian.


Ricardo menyebutkan semacam dokumen tertulis, dan aku tidak tahu apakah dia bercanda atau apakah aku harus menandatangani sesuatu.


Itu membuatku sangat frustasi jika harus mencoba menebak apa yang akan terjadi. Dan di atas semua kecemasan itu, aku hampir tidak bisa menahan kegembiraan atau kegugupan yang ku rasakan.


Malam ini adalah malam kencan pertama ku. Yang paling penting aku harus bisa menjaga diri...!


Setelah sekian lama aku menjomblo, apakah aku siap untuk malam ini? Entahlah karena aku selalu menutup diri pada siapa pun, hanya Ricardo yang mampu mengetuk hati ku.


Aku memakai gaun gamis yang lumayan mewah berwarna pink dan memakai hijab dengan model ala-ala hijabers. Rahma merias wajahku dengan tipis, karena aku tidak suka dengan dandanan yang terlalu menor.


Dia datang tepat waktu, tentu saja dia selalu tepat waktu karena kedisiplinannya. Dia menggunakan pakaian formal berjas hitam dan berdasi ala-ala CEO di komik gitu, dan dia menungguku sampai aku selesai kerja.


Dia membukakan pintu dan tersenyum hangat padaku.


"Selamat malam, Nona Gisele," katanya.


"Tuan Ricardo." Aku mengangguk sopan padanya saat aku naik ke kursi belakang mobil. Ren duduk di kursi pengemudi.


"Halo, Ren," kataku.


"Selamat malam, Nona Anastasya" suaranya sopan dan profesional. Ricardo naik ke sisi lain dan memegang ujung baju di lenganku.

__ADS_1


"Kamu cantik malam ini..." Kata Ricardo


"Hem iya terimakasih". Aku tersenyum sambil menundukkan kepala ku.


"Aku ingin sekali menggenggam tangan mu, tapi aku tau kamu pasti tidak akan mengijinkan ku" kata Ricardo dengan sedikit senyuman manis di wajah nya.


"Ya.... Kamu tau itu" aku membalas senyuman nya.


"Bagaimana pekerjaannya?" dia bertanya.


"Sangat lama," jawabku, dan suaraku serak, terlalu rendah dan mungkin karena terlalu gugup.


"Ya, ini juga hari yang panjang bagiku."


Nadanya serius.


"Apa yang kamu lakukan hari ini?" Aku akhir nya bisa bertanya tentang hari nya.


"Aku pergi hiking di puncak Lembang dengan Ehsan" Ricardo mengepalkan lengan nya dan paha nya tak bisa berhenti bergetar, mungkin dia juga merasakan kecemasan sama seperti ku.


Aku senang mengetahui dia sama bereaksi saat di dekat ku.


Perjalanan ke heliport sangat singkat dan tanpa kusadari aku sampai ke tempat itu. Aku ingin tahu di mana helikopter yang seperti di dalam dongeng itu berada.


Kami berada di area kota yang dibangun dan bahkan aku tahu helikopter membutuhkan ruang untuk lepas landas dan mendarat. Ren parkir, keluar, dan membuka pintu mobil untuk mempersilahkan ku keluar. Ricardo ada di sampingku dalam sekejap dia meraih ujung baju lenganku lagi.


"Siap?" dia bertanya. Aku mengangguk dan ingin mengatakan apapun, tapi aku tidak bisa mengucapkan kata-kata karena aku terlalu gugup, terlalu bersemangat.


"Ini hanya tiga lantai," katanya datar.


"Ya.." aku menjawab nya dengan singkat.


Aku mencoba untuk menjaga wajahku tanpa ekspresi saat kami memasuki lift.


Pintu tertutup, dan di sanalah, daya tarik listrik yang aneh berderak di antara kami aku sangat lemah jika hanya berdua bersama nya di ruang kecil tertutup, aku takut hilang kendali. Untung saja dalam beberapa detik kemudian pintu terbuka ke atap gedung. Dan itu dia, sebuah helikopter putih dengan nama Cafrio Enterpreneur Group. tertulis dengan warna merah menyala dengan logo perusahaan di sampingnya.


Tentunya ini adalah penyalahgunaan properti Perusahaan.


Dia membawa ku ke sebuah kantor kecil tempat seorang pengatur waktu, duduk di belakang meja.


"Ini rencana penerbangan Anda, Tuan Cafrio. Semua pemeriksaan eksternal sudah selesai. Sudah siap dan menunggu, Pak. Anda bebas berangkat."


"Terima kasih, Rud" Ricardo tersenyum hangat padanya.


Oh. Seseorang yang pantas mendapatkan perlakuan sopan dari Ricardo, biasanya dia tidak mengucapkan kata terimakasih pada sembarang orang, mungkin dia bukan seorang karyawan biasa. Aku menatap lelaki tua itu dengan kagum.


"Ayo pergi," kata Ricardo, dan kami berjalan menuju helikopter. Ketika jarak ku dengan helikopter itu dekat, itu jauh lebih besar dari yang ku kira. Aku berharap ini adalah versi roadster untuk dua orang, tapi setidaknya ada tujuh kursi. Ricardo membuka pintu dan mengarahkan ku ke salah satu kursi paling depan.

__ADS_1


"Duduk - jangan sentuh apa pun," perintahnya saat dia memanjat di belakangku.


Dia menutup pintu dengan bantingan. Aku senang area tersebut diterangi lampu sorot, jika tidak aku bisa dimakan oleh nafsu yang tak terbendung.


Dia begitu dekat jadi aku meletakan tas kecil ku untuk membuat jarak dengan nya. Dia hanya tersenyum menanggapi apa yang ku lakukan padanya.


Dia berbau, bersih, segar, sangat harum, dan aku terikat dengan aman di kursiku dan benar-benar tidak bisa bergerak. Dia sangat menggoda. Aku menahan napas saat dia menarik salah satu tali atas sabuk pengamanku.


"Kau aman, heli ini tidak akan tiba-tiba jatuh karena pilot nya terlatih" bisiknya, matanya membara.


"Bernafas, Gisele" tambahnya dengan lembut. Dia memberikan ku sebuah kedipan mata genit seolah mengejek ku yang sedang gugup di buat nya.


Tapi aneh nya aku suka, dia berusaha tidak terlalu kaku di dekat ku.


"Aku suka baju gamis ini, kamu tertutup dan membuat orang penasaran."


Dia duduk di sampingku dan mengikatkan diri di kursinya, kemudian memulai prosedur yang berlarut-larut untuk memeriksa alat pengukur dan membalik sakelar dan tombol dari rangkaian tombol dan lampu serta sakelar yang membingungkan di depanku.


Lampu kecil berkedip dan berkedip dari berbagai dial, dan seluruh panel instrumen menyala.Aku tak menyangka dia orang yang serba bisa, sampai menjadi pilot pun bisa.


"Pakai phone mu" katanya sambil menunjuk satu set headphone di depanku. Aku menyalakannya, itu sangat membuat telingaku sakit. Dia memakai headphone dan terus membalik berbagai tombol.


"Aku hanya melakukan semua pemeriksaan pra-penerbangan." Suara tanpa tubuh Ricardo ada di telingaku melalui headphone. Aku berbalik dan menyeringai padanya.


"Apakah kamu tahu apa yang kamu lakukan?" Aku bertanya. Dia berbalik dan tersenyum padaku.


"Aku sudah menjadi pilot yang memenuhi syarat selama empat tahun, Gisele, kau aman bersamaku." Dia memberiku seringai serigala.


"Yah, selagi kita terbang," tambahnya dan mengedipkan mata padaku.


"Apakah kamu siap?"


Aku mengangguk dengan mata terbelalak.


"Oke, tower. PDX ini Loly Bandung- Horizon Hotel Jakarta, siap untuk lepas landas.


Tolong konfirmasi, selesai."


"Loly - terkonfirmasi dengan jelas. PDX , lanjutkan ke satu dua ribu, menuju nol satu nol, ganti."


"Siap tower, Loly siap, maju dan mundur. Ini dia," tambahnya padaku, dan helikopter naik perlahan dan lancar ke udara.


Bandung menghilang di depan kami saat kami menuju ke wilayah udara,. Wah! Semua lampu terang menyusut hingga berkelap-kelip manis di bawah kami.


Ini seperti melihat keluar dari dalam mangkuk ikan. Begitu kita lebih tinggi, benar-benar tidak ada yang bisa dilihat. Gelap gulita, bahkan bulan pun tak ada yang menerangi perjalanan kami. Bagaimana dia bisa melihat ke mana kita pergi?


"Mengerikan bukan?" Suara Ricardo ada di telingaku.

__ADS_1


"Bagaimana kamu tahu kamu berjalan di jalan yang benar?"


"Di Sini." Dia mengarahkan jari telunjuknya yang panjang ke salah satu pengukur, dan itu menunjukkan kompas elektronik.


__ADS_2