Jilbabmu Menghangatkanku

Jilbabmu Menghangatkanku
Bab 31 Lamaran Tak Terduga, Membuatku Dilema


__ADS_3

Aku gak tau apa yang akan Ricardo lakukan sampai mengajakku ke rumah sakit, tapi.... Semoga itu sesuatu hal yang positif.


Keesokan hari nya....


Pagi yang sangat cerah dan kicauan burung yang sangat merdu, aku membuka jendela kamar ku dan tanpa sengaja aku melihat James sedang lari-lari kecil di taman, dia melihat ke arah ku dan melambaikan tangan nya padaku.


"Gisele sini, ayo kita lari!" Teriak nya, kamar apartemen Rahma berada di lantai 3 tapi teriakannya sangat keras, dan sedikit membuat ku malu.


"Iya tunggu," aku balas tapi aku tidak berteriak gak tau James dengar atau tidak itu tidak terlalu penting untukku.


Aku mandi dan setelah nya memakai baju traning ku, kerudung hitam, dan sepatu kets putih.


Aku pergi keluar kamar dan melihat Rahma sedang tidur di sofa sambil laptop yang masih menyala, mungkin dia nonton drakor sampai ketiduran gitu.


Aku meninggalkan Rahma begitu saja.


Sesampai nya di depan pintu Lobi apartemen ku lihat James sedang menunggu ku,


Aku sedikit canggung di buat nya.


"Ayo lari Gisele!" Ajak nya.


Kami pun berlari lari kecil di taman, tapi aku salah fokus, karena melihat James yang semakin tampan.


"Gisele, sebentar lagi bulan Romadhon kan? Aku ingin ngajak kamu sahur bareng ngabeubeurang bareng, ngabuburit bareng sampai buka bareng boleh? Aku senang kamu mau jadi teman ku"


Dia tersenyum, tapi kenapa harus selalu bareng? Aku hanya temannya bukan istri atau pacar nya.


"Kalau harus sampai sedetail itu mungkin aku gak bisa, tapi kalau buka bersama mungkin bisa, tapi tidak setiap hari juga, emang nya kita pasangan pengantin baru?!"


Aku tertawa sedikit bercanda, tapi James tidak ikut tertawa, dia malah memasang muka serius,


Dan menatap ke arah ku mendekat kan wajah nya ke wajah ku sampai tersisa beberapa inci jarak antara kami.


"Bagaimana jika aku menjadi suami mu? Bukan teman mu? Jika kau setuju, hari ini juga aku akan membawamu ke KUA untuk menikahi mu" bisik nya dengan nada serius?


"Tolong jangan bercanda sesuatu hal yang serius seperti itu!" Aku memalingkan muka ku.


Lalu melihat lagi ke arah nya dia menundukkan wajah nya dan berkata.


"Aku serius Gisele, aku ingin bersama denganmu, bahkan tiap detik, tiap menit, tiap jam, tiap hari, aku ingin kamu jadi milikku"


"Maksudmu kamu benar melamar ku pada saat kondisi seperti ini? Di saat lari pagi begini?"


"Ya... Aku tidak terlalu peduli bagaimana cara ku mengungkapkan apa yang ku ingin kan, tapi aku ingin kamu tau kalau kamu selalu ada di pikiran ku, menghantuiku setiap waktu, aku takut kamu di rebut sama laki- laki tempo hari yang merebut mu dari ku saat kita sarapan bersama, aku takut Gisele!"


Dia terdengar sangat serius.


"Apa kamu cemburu?" Tanya ku

__ADS_1


"Iya aku cemburu berat!" Dia cemberut dan itu membuat nya sangat manis.


Baru kali ini ada yang membuat ku goyah selain Ricardo, tapi aku sudah mencintai Ricardo terlebih dulu, dan ada kemungkinan Ricardo juga mau berubah dan masuk Islam setelah kejadian di masjid kemarin.


Aku sedikit bingung apa aku memang lemah pada orang-orang yang sangat tampan melebihi batas normal? Mereka berdua seperti bidadara yang turun dari langit.


Satu nya orang Korea, satu nya orang bule blasteran. Tapi aku harus menenangkan James, jangan terlalu memberinya harapan.


"James kita baru bertemu, kamu tidak kenal aku seutuh nya, aku juga belum mengenal mu"


"Aku tidak masalah, karena aku yakin seratus persen kamu yang terbaik untukku sejak pertama kali aku bertemu dengan mu di terminal, kita bisa pacaran setelah menikah kan? Itu lebih indah"


Ada orang yang sangat jujur seperti James, tapi memang dia seperti itu sejak pertama kita bertemu dia selalu mengungkapkan kata semau nya, kadang tanpa saringan.


Aku setuju dengan nya pacaran setelah menikah itu lebih indah, tapi masalah nya bukan itu....!


"Jangan terlalu dipikirkan Gisele, aku juga tidak ingin terlalu memaksa mu, tapi aku ingin kamu tau perasaanku pada mu,


Aku mencintaimu Gisele"


Tambah James.


"Baiklah, bahas yang lain aja lah, itu membuat ku gagal fokus!"


"Hahaha .... Aku senang kalau aku bisa mempengaruhi pikiran mu, mungkin aku punya sedikit kesempatan, Ya udah, kita bahas hal lain aja, kamu kuliah di Bandung?"


"Aku baru mau lulus dan rencana kerja di Jakarta"


"Aku juga belum tau baru lamar sana sini, gak tau mana yang mau menerimaku"


"Aku yakin kamu keterima dimana pun" ucap James meyakinkan ku.


"Haha kamu bisa tau dari mana?"


"Karena gak mungkin ada orang yang menolak gadis secantik kamu"


"Hahaha... Kamu ini, masa lamar kerja tergantung pada cantik atau gak nya? Tapi yang di lihat, cocok atau gak nya dalam bidang yang akan dia ambil" jawab ku.


"Eh jangan salah, cantik juga menentukan loh...!"


James sedikit kocak, dia selalu bisa menghiburku, beda dengan Ricardo yang kaku tapi mencuri hati ku.


"Nanti siang apa kamu ada waktu?" Tanya James.


"Hem. Maaf aku udah ada janji, memang nya mau apa?"


"Ada janji dengan siapa?"


"Dengan seorang teman" ya aku tidak salah menyebut Ricardo teman, karena hubungan kami memang tidak begitu jelas.

__ADS_1


"Apa teman yang kamu maksud, pria kemarin yang merebut mu dari ku?"


James sedikit peka atau terlalu peka, dia sedikit cemberut.


"Iya..." Jawab ku jujur...


"Kenapa aku selalu kalah satu langkah oleh nya...!" Rajuk James.


"Mungkin lain waktu, lagi pula kamu sekarang lari pagi bersama ku" aku sedikit menghibur nya.


"Ya kamu benar, aku bisa terus lari pagi sama kamu"


Senyum James kembali... Mungkin bisa dia menjadi teman lari pagi ku, selama aku masih di Bandung di apartemen ini, dan selama dia masih di Bandung juga.


Tapi aku gak bisa janji bisa tiap hari....


Waktu berlalu Ricardo memberiku sebuah pesan.


'aku sudah di depan apartemen'


'oke' jawab ku.


Aku memakai baju gamis seadanya setelan warna pink dan sedikit merias wajah ku.


Sesampai nya di pintu Lobi, Ricardo memakai setelan jas rapi, seperti seorang CEO, tapi memang dia seorang CEO sih...


Dan dia terlihat sangat tampan...


Benar ... Aku memang lemah dengan orang-orang tampan...


"Ayo masuk..." Ricardo membukakan pintu mobil nya untuk ku. Dia sedikit lebih lembut sekarang menurut ku.


Kami pun ke rumah sakit.


Selama perjalanan ke rumah sakit, suasana canggung dan tidak sepatah kata pun terucap.


Sesampai nya di rumah sakit, Ricardo menanyakan sesuatu ke resepsionis.


"Ruang mana, jika kita ingin melakukan khitan?"


Resepsionis wanita itu tersipu, dan aku juga sedikit kaget, apa Ricardo belum berkhitan? Tapi aku kurang tau gimana agama nya, biasa nya khitan di agama Islam, di lakukan pada saat masih usia anak-anak.


"Anda bisa menemui dokter Romy pak"


Jawab Resepsionis Rumah sakit itu.


Kami pun ke ruang yang di tunjukkan,


Aku menunggu di luar ruangan....

__ADS_1


Apa dia serius, mau masuk Islam? Soal nya kemarin pak ustadz bilang syarat untuk masuk Islam salah satu nya adalah berkhitan.


Mungkin benar, semoga saja benar.


__ADS_2