
Usai melakukan percintaan panas dengan Havana, Russell seakan menemukan lagi cintanya yang hilang. Berulang kali ia mencium pipi Havana gemas.
"Baby...! Mengapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Bukankah tadi kamu pamit ingin tidur duluan?" Tanya Russel yang merasa sangat puas dengan permainan panas Havana padanya.
"Aku ingin kamu segera masuk menemui ku karena aku sangat iri dengan langit yang kamu pandang terus menerus walaupun tidak ada taburan bintang malam ini." Ucap Havana dengan panah asmaranya.
"Bintangnya sudah ada dalam pelukanku saat ini. Jangan pernah berubah sayang! Aku sangat merindukan kamu yang seperti ini." Ujar Russell seakan jiwa istrinya yang saat ini ia peluk.
Havana menarik nafasnya panjang. Ia merasa sudah sangat tergantung pada suami adiknya bahkan ia mulai jatuh cinta pada Russell. Tapi ia tidak mungkin selamanya menyusup dalam tubuh Claire selamanya.
"Apakah aku harus jujur pada Russell bahwa aku adalah Havana yang menyusup ke dalam tubuh Claire? Apakah dia akan mempercayai perkataanku?" Batin Havana.
"Apakah kamu sangat merindukan aku baby?" Tanya Russel.
"Aku hanya ingin kamu tahu satu hal bahwa aku tidak selamanya menjadi diri orang lain seperti yang kamu inginkan. Apa lagi saat ini aku sedang hamil. Permainan yang kita lakukan tadi sangat berbahaya yang akan mengakibatkan keguguran." Ucap Havana.
"Aku akan tetap melakukannya hati-hati sayang. Jangan terlalu kuatir. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu pada bayiku." Ucap Russell.
"Russel...!"
"Iya sayang."
"Apakah beberapa hari Ini aku sangat membuatmu bosan?" Tanya Havana mewakili Claire.
"Iya sayang. Sudah berulang kali aku meminta kamu untuk bercinta seperti tadi kita lakukan tapi permainan kamu sangat monoton dan itu membuat aku sangat gusar." Ucap Russell apa adanya.
"Apakah aku boleh minta tolong padamu sayang?"
"Apa Claire?"
"Jika kamu ingin aku melakukan percintaan panas sesuai yang kamu inginkan, cobalah buat rekamannya dengan begitu aku akan tahu bagaimana cara memuaskan kamu jika aku lupa." Ucap Havana agar Claire tahu bagaimana ia melayani Russell.
"Itu ide yang sangat bagus dan terdengar sangat menggairahkan sayang." Bisik Russel nakal.
Russel mempersiapkan kamera untuk merekam lagi permainan panas mereka dengan kamera yang sudah mulai diaktifkan.
__ADS_1
Havana yang memegang kendali permainan panas itu. Ia mengeluarkan jurus terbaiknya untuk memuaskan Russell. Sementara Russell menikmati setiap sentuhan Havana yang membuatnya makin candu dan tak ingin berhenti bercinta dengan Havana.
Sepanjang permainan panas itu, Russell terus menerus memuji Havana penuh cinta. Sementara dengan Claire Russel tidak begitu menikmati permainan istrinya.
Hingga permainan itu berakhir, Russell terlihat sangat puas hingga ia tidak segan membenamkan wajahnya di pangkal paha istrinya.
Hal ini yang sangat dinikmati Havana hingga ia menjerit kecil sambil menjambak rambut Russel yang makin memperdalam hisapannya.
...----------------...
Pagi yang cerah. Havana melihat lagi dunianya melalui mata Claire. Entah mengapa hatinya sangat merindukan putranya hingga ia nekat mendatangi rumahnya di saat Russel sudah berangkat ke perusahaannya.
Havana membawa mobilnya sendiri menuju ke kediaman suaminya yang saat itu belum berangkat kerja. Melihat kedatangan Claire, Rommy sudah curiga kalau Havana lah yang berada di dalam tubuh Claire saat ini.
Claire turun dari mobilnya sambil memanggil nama putranya dan Cavin seketika berlari begitu mendengar namanya dipanggil oleh ibunya.
"Cavin....!"
"Mommy...!" Tawa ceria Baby Cavin yang sangat merindukan ibunya.
"Ummm...! Mommy sangat kangen sama kamu sayang." Ucap Havana sambil menempelkan pipi putranya ke pipinya.
"Apa kabar sayang...!" Rommy langsung mengecup bibir Havana membuat Havana tiba-tiba tidak begitu suka dengan perlakuan suaminya.
"Maaf Romy ...! Tolong jaga sikapmu karena ini adalah tubuh Claire bukan milikku." Ketus Havana.
"Apakah kamu sedang cemburu aku mencium bagian tubuh adikmu, sayang?" Tanya Romy sambil mengulum senyum.
Havana terdiam. Ia begitu bimbang dengan sikapnya, apakah saat ini dua cemburu pada Claire ataukah memang ia enggan untuk dicium oleh suaminya.
Tapi ia juga tidak mau melihat Romy kecewa, dengan cepat ia mengatakan kalau saat ini ia memang sedang cemburu.
"Aku harap kamu mengerti Romy. Kalau aku hanya memanfaatkan tubuh Claire karena ingin bertemu dengan kalian terutama putraku Cavin. Saat ini Claire sedang hamil dan aku tidak mau Russell marah besar jika melihat tubuh istrinya di sini dekat denganmu. Ternyata laki-laki itu sangat menakutkan kalau sudah marah apa lagi cemburu."
Ucap Havana apa adanya pada Rommy yang memahami situasi istrinya ditubuh Claire.
__ADS_1
"Tapi selama kamu bersama Russell di kamarnya, dua tidak mengajak kamu bercinta bukan?" Tanya Rommy penuh selidik.
Duarrrr....
Wajah Havana tersentak mendengar pertanyaan Romy." Kamu sedang bicara apa Rommy. Jika ada Russell aku tidak akan menyusup ditubuh Claire, sayang." Ucap Havana.
"Semoga saja perkataanmu benar Havana dan satu lagi aku mau tanya, apakah kamu sudah tahu di mana tubuhmu saat ini?" Tanya Romy.
Deggggg....
"Untuk apa kamu tanyakan itu Romy?"
"Karena tidak mungkin kamu akan terus hidup di dalam tubuh saudaramu itu. Sekarang katakan di mana tubuhmu agar aku bisa menjemputmu sekarang." Ucap Romy dengan wajah serius.
Deggggg....
"Aku ada di salah satu rumah sakit di negara bagian Amerika serikat." Ucap Havana.
"Kalau begitu bersiaplah. Aku ingin kamu masuk lagi ke tubuhmu sebelum aku ceritakan semua pada Russell." Ancam Romy.
"Aku tidak bisa pergi denganmu tanpa Russell. Ia akan salah paham pada Claire dan itu akan membuat Claire terluka." Sergah Havana.
"Apa maksudmu ...?"
"Jika Russell cemburu atau tidak suka sesuatu diluar kehendaknya, dia tidak segan menyakiti Claire dengan mencekik istrinya hampir mati kehabisan nafas. Dan aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa kejamnya Russell pada Claire." Lanjut Havana.
"Sekarang bagaimana caranya kamu menunjukkan kepadaku di mana jasad mu sekarang ini Havana? Kamu tahu, kalau aku sangat merindukanmu, sayang." Ucap Romy dengan wajah sendu.
"Aku tahu Romy perasaanmu. Kita harus menyusun rencana agar bisa mengajak Claire dan Russell serta kedua orangtuaku untuk menjemput jasadku." Ucap Havana.
"Baiklah. Aku menunggu kabar baik itu. Aku tidak sabaran lagi untuk melihat lagi wujud mu yang sebenarnya bukan kamu dalam tubuh Claire." Ucap Rommy.
Tanpa di duga keduanya, Russell datang dengan mobilnya yang langsung menginjak rem hingga bunyi ban mobil dan aspal itu menyatu membuat telinga yang mendengarnya seakan sangat ngilu. Romy dan Claire sama-sama tersentak saling menatap dan keluar bersamaan melihat gerangan tamu yang datang pagi itu.
"Russel....!" Gumam Havana terlihat pucat saat melihat wajah suaminya terlihat murka menatapnya.
__ADS_1