JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR

JIWA ISTRIKU YANG TERTUKAR
23. Tidak Rela


__ADS_3

Sebelum berangkat menuju rumah sakit, tempat Havana dirawat, Russell seolah tidak rela Havana meninggalkan dirinya untuk kembali ke tubuhnya.


Russel yang selama ini menjaga kesucian cintanya pada Claire, ternyata goyah juga pada jiwa Havana dalam tubuh istrinya Claire. Hanya Havana yang mampu memuaskan imajinasi liarnya yang tidak bisa ia dapatkan pada diri Claire.


Ia mulai cemburu pada pada Romy yang pasti sangat bahagia hidup berumah tangga dengan Havana yang mampu membuat Romy menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia ini memperistrikan Havana.


Hentakan terakhir dengan pekikan kepuasan menggelar di kamar yang cukup luas itu. Russel seakan tidak puas bercinta dengan Havana walaupun senjatanya sudah menyerah karena kehabisan amunisi.


"Havana..!" Apakah kamu akan melupakan aku saat kamu kembali lagi pada tubuhmu?" Tanya Russel yang tidak rela kehilangan Havana.


"Entahlah sayang. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu karena aku tidak tahu bagaimana reaksi tubuhku saat menerima jiwaku lagi." Sahut Havana.


"Bagaimana caranya aku bisa meyakinkan dirimu bahwa kita sering bercinta seperti ini?"


"Hanya ada satu cara yaitu kamu merekam pengakuanku tentang hubungan kita dengan keadaan kita saat ini." Ucap Havana.


Russel tersenyum menyetujui ide gila Havana. Ia menyalakan video dari ponselnya siap merekam perkataan Havana tentang percintaan panas mereka.


Kata-kata fulgar dengan gerakan erotis Havana lakukan hingga Russel kembali terangsang." Terimakasih sayang aku pasti sangat merindukan momen bahagia percintaan panas kita, aku Havana sangat mencintaimu Russell. Aku yang menginap dalam tubuh istrimu Claire dan sebentar lagi aku akan kembali dalam tubuhku sendiri. Selamat tinggal Russell dan jangan lupakan aku." Ucap Havana membuat Russell kembali menyerangnya.


"Jangan ucapkan salam perpisahan denganku sayang! Aku mencintaimu Havana...!" Ucap Russel yang kembali gila menggasak tubuh Havana.


Mereka menghabiskan waktu yang tersisa dengan bercinta dan bercinta seakan tidak ada lagi kegiatan lain yang mereka lakukan selain bercinta.


"Havana...! aku tidak akan pernah melupakanmu walaupun suatu saat nanti kamu akan menolakku atau melupakan aku." Batin Russell yang sibuk mendalami ciumannya pada pada bibir istrinya.


"Russel. Aku tidak bisa membedakan antara cinta dan hasrat, tapi aku menikmati hari-hari kebersamaan kita walaupun nanti aku mungkin tidak bisa mengingatmu lagi. Terimakasih sudah mencintaiku." Batin Havana.

__ADS_1


...----------------...


Perjalanan yang cukup melelahkan bagi keluarga besar tuan Brian untuk membawa pulang putrinya Havana dengan mobil karena Havana di rawat di daerah pedalaman berdasarkan informasi dari mulut Havana sendiri.


Walaupun kedua orangtuanya belum tahu jika didalam tubuh Claire bersemayam jiwanya Havana, putri pertama mereka. Rupanya Russell membawa pengawalnya yang cukup banyak untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan.


Apa lagi mereka mendatangi tempat orang asing yang tinggal di daerah pedalaman. Entah bagaimana ceritanya, Havana bisa sampai ke tempat itu.


Suku itu terkenal dengan kepercayaan animisme yang cukup kental. Perangai mereka yang terkesan bar-bar yang membuat Russel harus waspada demi kenyamanan Havana saat raganya dipertemukan lagi dengan jiwanya.


"Apakah mereka akan mempercayai kita kalau kita adalah keluarga Havana?" Tanya tuan Brian cemas.


"Tidak usah kuatir ayah, Romy sudah menyiapkan dokumen pribadi milik Havana begitu juga pernikahan kami yang menunjukkan keabsahan kami sebagai suami istri. Saya juga sudah menghubungi polisi setempat untuk mengawasi kita saat menjemput Havana." Ucap Romy.


Mendengar perkataan Rommy tentang status pernikahan Havana dengan dirinya, membuat Russell terbakar api cemburu. Lagi-lagi ia tidak rela untuk berpisah dengan Havana tapi mereka sudah sepakat untuk menjemput wujud Havana sesungguhnya.


Havana memeluk ibunya. Walaupun nyonya Kellen tidak mengetahui bahwa dalam tubuh Claire adalah Havana tapi Havana tidak mempermasalahkan itu. Baginya melihat lagi kedua orangtuanya adalah hal terindah yang selama ini ia rindukan.


Seakan mengetahui kedatangan jiwa Havana, seorang dukun yang memiliki kekuatan supranatural langsung bangkit dan keluar dari rumahnya.


Ia pun mengabarkan kepada keluarganya jika ada tamu yang datang membawa jiwanya Havana. Ternyata apa yang dikatakan Havana jika ia berada di rumah sakit adalah salah.


"Wahai saudaraku. Jiwa pemilik tubuh wanita telah datang. Sebentar lagi tubuhnya akan menyatu dengan jiwanya. Untuk itu jangan berbuat ulah atas kedatangan keluarganya atau wanita ini akan mati sia-sia setelah menunggu kedatangan jiwanya." Ucap kakek Hendrikus.


"Tapi kakek, aku sangat mencintai gadis ini, aku tidak rela gadis ini dikembalikan kepada keluarganya." Protes Martin.


"Jangan keras kepala! Untuk apa kita merawat gadis ini di sini seperti mayat hidup. Apakah kamu mau berurusan dengan kepolisian, hah?" Bentak kakek Hendrikus.

__ADS_1


"Tapi aku mencintainya kakek."


"Jangan terlalu percaya diri anak muda. Dia belum tentu menyukaimu apalagi mencintai kamu." Balas kakek Hendrikus setengah mencibir cucunya.


Tubuh Havana justru berada di rumah dukun itu setelah seorang pemuda yang sedang berlayar berlabuh di sebuah pulau, tidak sengaja menemukan tubuh Havana tergeletak di pinggir pantai.


Iapun segera membawa Havana ke tempat keluarganya yang bisa menyembuhkan Havana. Pemuda yang bernama Martin itu berharap Havana akan menjadi jodohnya.


Itulah sebabnya ia menyembunyikan keberadaan Havana agar tidak diketahui oleh pemerintah jika Havana adalah korban dari kecelakaan pesawat yang terjadi beberapa bulan yang lalu.


Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi segera tiba. Russel yang sudah memberikan obat tidur pada Havana agar jiwanya segera keluar agar bisa masuk ke tubuhnya sendiri.


Sesaat kemudian, Claire yang baru bangun dari tidur panjangnya nampak heran saat dirinya sudah berada di dalam mobil bersama keluarganya.


"Apa yang terjadi Russel? Kita berada di mana?" Tanya Claire setengah berbisik.


"Kita sedang menjemput kakakmu Havana, sayang." Bisik Russel.


Claire akhirnya mengerti dan tersenyum bahagia karena ia sudah bersama lagi dengan suaminya tanpa dibayang-bayangi oleh kehadiran jiwa Havana.


"Akhirnya kamu menemukan tubuhmu, Havana. Semoga saat kamu bangkit nanti kamu tidak akan mengingat apapun tentang suamiku karena aku Isa membunuhmu." Batin Claire.


Tiga mobil berhenti tepat di depan rumah milik tuan Hendrikus. Jiwa Havana mencari tubuhnya. Sebelumnya itu, ia menatap wajah tampan Russell untuk terakhir kalinya.


Russel yang tampak murung turun dari mobil itu berjalan dengan gontai seakan kehilangan gairah hidup. Ia tidak tahu kalau saat jiwa Havana sedang berdiri di sebelahnya dan mencoba mengaitkan jarinya pada Russel. Entah mengapa ia bisa merasakan genggaman tangan Havana.


"Havana...! Apakah kamu berada di sisiku?" lirih Russell namun ia tidak bisa mendengar balasan dari Havana. Hanya tangan Havana yang bisa ia rasakan menekan kuat tangannya.

__ADS_1


"Selamat datang di kediamanku Tuan-tuan dan nyonya-nyonya!" Ucap tuan Hendrikus menyambut tamunya dengan hormat walaupun mereka belum saling mengenal satu sama lain.


__ADS_2